A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Di balik daun telinga yang tampak tenang, tersimpan ruang kecil bernama telinga tengah — rongga berisi tiga tulang terkecil dalam tubuh manusia yang bertugas meneruskan getaran suara. Ruang ini dijaga ketat oleh selaput gendang telinga. Namun, ada kondisi berbahaya yang bisa mengacaukan tatanan anatomis ini secara diam-diam: kolesteatoma.

Kolesteatoma bukan kanker, tetapi jangan remehkan ia hanya karena demikian. Kolesteatoma adalah pertumbuhan kulit yang abnormal dan bukan kanker yang dapat muncul di bawah gendang telinga, di bagian tengah telinga. Yang membuatnya berbahaya adalah sifatnya yang destruktif: reaksi peradangan yang ditimbulkannya melepaskan enzim litik, faktor pertumbuhan, dan sitokin yang dapat merekrut osteoklas untuk memulai pengrusakan tulang di sekitarnya. Dengan kata lain, kolesteatoma adalah massa yang secara perlahan memakan tulang.


Bukan Penyakit Langka, Tapi Sering Luput dari Perhatian

Kolesteatoma jauh lebih umum dari yang banyak orang bayangkan. Diperkirakan sekitar 0,5% hingga 30% populasi dunia mengalami otitis media kronis, dan dari jumlah ini, sekitar seperempat atau sekitar 5 juta orang di seluruh dunia mengidap kolesteatoma.

Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, angkanya cukup mengkhawatirkan. WHO mencatat bahwa negara-negara Asia Tenggara memiliki prevalensi chronic suppurative otitis media (OMSK) sebesar 0,9% hingga 7,8%. Data dari penelitian Mahadevan dkk. (2012) yang dikutip dalam literatur lokal menyebutkan prevalensi OMSK di Indonesia mencapai 5,4%. Penelitian Anggraeni dkk. melaporkan bahwa 3,4% dari 7.005 anak-anak di Indonesia menderita OMSK.

Kolesteatoma umumnya dijumpai sebagai komplikasi OMSK. OMSK diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu tipe aman tanpa kolesteatoma dan tipe berbahaya yang disertai kolesteatoma. Inilah mengapa dokter THT sering menyebut OMSK dengan kolesteatoma sebagai “OMSK tipe maligna” — bukan karena ganas secara onkologis, melainkan karena potensinya untuk menimbulkan kerusakan serius.


Dari Mana Kolesteatoma Berasal?

Untuk memahami asal-usul kolesteatoma, kita perlu memahami satu prinsip dasar biologi: setiap jaringan punya “rumahnya” sendiri. Sel-sel kulit (squamous epithelium) yang melapisi permukaan luar gendang telinga normalnya hanya ada di situ — tidak di dalam rongga telinga tengah. Masalah bermula ketika sel-sel ini berpindah atau tumbuh ke tempat yang tidak semestinya.

Secara garis besar, kolesteatoma diklasifikasikan menjadi tiga jenis: kongenital, primer yang didapat, dan sekunder yang didapat.

Kolesteatoma kongenital terjadi saat bayi masih dalam kandungan. Sisa-sisa sel epitel yang seharusnya menghilang selama perkembangan janin justru bertahan dan membentuk massa di telinga tengah. Kondisi ini biasanya ditemukan pada anak-anak dengan gendang telinga yang utuh, tanpa riwayat infeksi telinga sebelumnya.

Kolesteatoma primer yang didapat adalah yang paling umum. Kolesteatoma primer yang didapat terjadi akibat perubahan tekanan di telinga tengah yang menyebabkan retraksi gendang telinga, yang berpotensi merusak tulang-tulang pendengaran (ossicles) dan mengikis atap rongga mastoid. Ini terjadi ketika saluran Eustachius — penghubung antara telinga tengah dan nasofaring — tidak berfungsi dengan baik, sehingga menciptakan tekanan negatif kronis di telinga tengah. Gendang telinga perlahan tertarik ke dalam membentuk kantung (retraction pocket), dan di sinilah sel-sel kulit mulai menumpuk.

Kolesteatoma sekunder yang didapat berkembang akibat cedera langsung pada gendang telinga, biasanya akibat infeksi atau trauma. Robekan pada gendang telinga memungkinkan migrasi sel epitel ke dalam telinga tengah.

Para ilmuwan juga telah mengidentifikasi beberapa teori mekanisme pembentukan kolesteatoma. Kemungkinan besar prosesnya adalah hibrid dari beberapa teori: akumulasi keratin yang terkelupas dalam kantung retraksi akibat tekanan negatif telinga tengah; migrasi epitel skuamosa dari gendang telinga ke telinga tengah; transformasi mukosa telinga tengah menjadi epitel yang menghasilkan keratin; serta pembentukan mikrokista berisi keratin di dalam lapisan basal gendang telinga yang kemudian menginvasi jaringan di bawahnya.


Bagaimana Kolesteatoma Merusak Telinga?

Kolesteatoma tumbuh secara ekspansif dan destruktif. Ketika sel-sel kulit mati menumpuk, pertumbuhan ini dapat membesar dan menembus jaringan intratemporal, yang menyebabkan berbagai komplikasi intrakranial dan ekstrakranial yang dapat memengaruhi otot wajah, pendengaran, dan keseimbangan.

Mekanisme yang terlibat dalam progresi kolesteatoma mencakup lisis enzimatik, respons inflamasi, dan gangguan neurotrofik. Secara sederhana: kolesteatoma melepaskan zat-zat kimia peradangan yang “memerintahkan” sel-sel pemecah tulang untuk bekerja, secara bertahap menggerogoti struktur tulang di sekitarnya.

Yang paling sering terdampak adalah tulang-tulang pendengaran kecil (ossicles) — maleus, inkus, dan stapes — yang merupakan jembatan mekanis antara gendang telinga dan telinga dalam. Ketika tulang-tulang ini rusak, gangguan pendengaran tipe konduktif terjadi. Penelitian di RSUP Sanglah menemukan bahwa jenis gangguan pendengaran pada kelompok dengan kolesteatoma adalah tipe konduktif dan campuran dengan jumlah yang sama, sedangkan derajat terbanyak adalah gangguan pendengaran sedang hingga berat.


Gejala yang Perlu Diwaspadai

Kolesteatoma sering kali berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum menimbulkan gejala yang jelas. Gejala yang paling khas adalah keluarnya cairan berbau dari telinga (otore). Tidak seperti otitis media biasa, cairan dari kolesteatoma umumnya berbau busuk dan bersifat kronis.

Jika tidak diobati, kolesteatoma dapat mengikis area yang terkena dan menyebabkan gangguan pendengaran permanen, vertigo, tinitus, perforasi gendang telinga, kelumpuhan wajah, meningitis, abses otak, bahkan kematian.

Kelumpuhan wajah terjadi karena saraf fasialis berjalan tepat di dekat telinga tengah dan dapat tertekan atau terinfeksi oleh kolesteatoma yang membesar. Sementara itu, komplikasi intrakranial seperti meningitis dan abses otak terjadi ketika kolesteatoma menghancurkan dinding tulang yang memisahkan telinga tengah dari rongga tengkorak.

Dalam anamnesis, pasien dapat mengalami gejala seperti penurunan fungsi pendengaran, keluarnya cairan dari liang telinga, tinitus, rasa penuh di telinga, dan dapat disertai otalgia serta demam tinggi yang mengindikasikan komplikasi.


Diagnosis: Lebih dari Sekadar Melihat ke Dalam Telinga

Diagnosis kolesteatoma dimulai dari pemeriksaan fisik yang cermat. Dokter akan menggunakan otoskop untuk melihat langsung ke dalam liang telinga. Temuan khas berupa massa putih seperti mutiara di belakang atau melalui gendang telinga, atau kantung retraksi yang dalam di bagian atas gendang telinga (pars flaccida), sudah mengarahkan kecurigaan ke kolesteatoma.

Namun, konfirmasi diagnosis dan perencanaan operasi membutuhkan pencitraan. Computed tomography (CT) adalah modalitas pencitraan pilihan untuk lesi ini, karena dapat mendeteksi defek tulang yang halus. Temuan pencitraan dapat mencakup jaringan lunak berkepadatan non-dependen, biasanya dengan keterlibatan epitimpanum dan ruang Prussak.

Selain CT, kolesteatoma didiagnosis melalui pemeriksaan otoskopi, CT, MRI, serta tes timpanometri dan audiometri. MRI semakin berperan penting karena kemampuannya mendeteksi sisa kolesteatoma pasca-operasi — sesuatu yang sulit dilakukan oleh CT saja. Temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa deteksi dan intervensi dini sangat penting dalam mencegah komplikasi serius seperti infeksi intrakranial dan gangguan pendengaran, dan penelitian menekankan pentingnya mengintegrasikan kemajuan pencitraan ke dalam pengambilan keputusan klinis.


Satu-satunya Solusi: Operasi

Berbeda dari banyak penyakit yang bisa diobati dengan obat-obatan, kolesteatoma tidak bisa diatasi dengan pendekatan non-bedah. Tidak ada pengobatan medis yang dapat menyembuhkannya — tata laksana bedah mutlak diperlukan.

Tujuan operasi adalah menghilangkan seluruh jaringan kolesteatoma, mengendalikan infeksi, serta mempertahankan atau memulihkan fungsi pendengaran. Pemantauan dan tata laksana jangka panjang sangat penting mengingat risiko kekambuhan dan potensi komplikasi.

Dua teknik bedah utama yang digunakan adalah tympanoplasty (rekonstruksi gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran) dan mastoidectomy (pengangkatan sel-sel udara dalam tulang mastoid yang terinfeksi atau yang mengandung kolesteatoma). Dalam studi retrospektif terhadap 580 pasien selama 20 tahun (2003–2023), tata laksana bedah terutama melibatkan tympanoplasty dan mastoidectomy, dengan tingkat kekambuhan sebesar 1,55% dalam dua tahun.

Angka kekambuhan yang relatif rendah ini hanya dapat dicapai jika operasi dilakukan oleh tim bedah THT yang berpengalaman dan diikuti dengan pemantauan berkala. Inilah mengapa pengawasan pasca-operasi jangka panjang — termasuk pemeriksaan klinis dan pencitraan MRI berkala — menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata laksana kolesteatoma modern.


Kapan Harus ke Dokter?

Pesan terpenting dari artikel ini adalah: infeksi telinga kronis tidak boleh diabaikan. Pasien dengan infeksi telinga berulang perlu dievaluasi untuk kemungkinan kolesteatoma. Jika Anda atau anggota keluarga mengalami cairan berbau dari telinga yang tidak kunjung sembuh, penurunan pendengaran progresif, atau rasa penuh dan nyeri di telinga yang persisten, segera konsultasikan ke dokter spesialis THT.

Di layanan primer, dokter umum berperan penting dalam mengenali gejala awal dan melakukan rujukan tepat waktu. Sesuai Panduan Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Kemenkes RI tentang tata laksana OMSK, deteksi dini dan rujukan segera ke spesialis THT adalah kunci mencegah perburukan.

Kolesteatoma mengajarkan kita bahwa “jinak” tidak selalu berarti “tidak berbahaya”. Dalam kedokteran, ukuran bahaya sebuah penyakit tidak hanya ditentukan oleh sifat sel-selnya, tetapi juga oleh apa yang dilakukannya pada jaringan di sekitarnya — dan kolesteatoma, jika dibiarkan, mampu melakukan kerusakan yang jauh melampaui batasnya yang kecil.


Referensi

Kennedy, K. L., & Singh, A. K. (2023). Middle ear cholesteatoma. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448108/

Pachpande, T. G., & Singh, C. V. (2022). Diagnosis and treatment modalities of cholesteatomas: A review. Cureus, 14(11), e31153. https://doi.org/10.7759/cureus.31153

Popescu, C., Văruț, R. M., Puticiu, M., Belghiru, V. I., Banicioiu, M., Rotaru, L. T., Popescu, M., Cosmin, A. C., & Popescu, A. I. S. (2024). Comprehensive management of cholesteatoma in otitis media: Diagnostic challenges, imaging advances, and surgical outcome. Journal of Clinical Medicine, 13(22), 6791. https://doi.org/10.3390/jcm13226791

Sade, J., Fuchs, C., & Luntz, M. (2022). Epidemiology of middle ear and mastoid cholesteatomas: Study of 1146 cases. PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9443752/

Santos-Cortez, R. L. P., Chiong, C. M., & Ryan, A. F. (2022). Microbiota associated with cholesteatoma tissue in chronic suppurative otitis media. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 12, 746428. https://doi.org/10.3389/fcimb.2022.746428

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana otitis media supuratif kronik. Kemenkes RI.

Anggraeni, R., dkk. (dalam Hmpublisher, Archives of The Medicine and Case Reports). Prevalence data of CSOM in Indonesian children. Archives of The Medicine and Case Reports. https://hmpublisher.com/index.php/AMCR/article/download/175/296

Komang, I., & Naftali, Z. (2020). Jenis dan derajat gangguan pendengaran pada pasien otitis media supuratif kronik dengan dan tanpa kolesteatoma yang menjalani operasi di RSUP Sanglah. Medicina, 51(1). https://www.medicinaudayana.org/index.php/medicina/article/view/834

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar