Di hampir setiap ruang rapat komite mutu rumah sakit, ada papan atau poster yang menampilkan diagram lingkaran dengan empat segmen berwarna: Plan, Do, Study, Act. Kadang labelnya berbunyi PDCA — dengan Check menggantikan Study. Ia terpasang rapi, sering dilaminasi, kadang diberi bingkai. Dan di banyak tempat, ia berhenti di sana — menjadi dekorasi, bukan alat kerja.
Ini bukan tuduhan. Ini adalah masalah sistemik yang diakui bahkan dalam literatur ilmiah internasional, dan memahami mengapa hal ini terjadi adalah langkah pertama menuju praktik peningkatan mutu yang benar-benar menghasilkan perubahan.
Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan PDSA?
Siklus PDSA — Plan-Do-Study-Act — dikembangkan dari tradisi ilmiah yang jauh lebih tua dari dunia kesehatan. Akarnya berasal dari pemikiran W. Edwards Deming dan Walter Shewhart tentang pengendalian kualitas industri di pertengahan abad ke-20, sebelum akhirnya diadopsi secara luas ke dalam layanan kesehatan melalui kerangka Model for Improvement yang dipopulerkan oleh Institute for Healthcare Improvement (IHI).
Idenya sederhana dan elegan: daripada mengubah sistem secara besar-besaran sekaligus — yang berisiko tinggi dan sulit dievaluasi — lakukanlah uji perubahan dalam skala kecil terlebih dahulu. Rencanakan perubahan (Plan), jalankan (Do), pelajari hasilnya secara kritis (Study), lalu putuskan tindak lanjutnya (Act): apakah perubahan itu diadopsi, dimodifikasi, atau ditinggalkan. Kemudian mulai siklus baru dengan pengetahuan yang lebih baik (IHI, 2025).
Dalam konteks akreditasi rumah sakit di Indonesia, standar PMKP (Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien) dalam STARKES secara eksplisit mensyaratkan penggunaan metode perbaikan yang teruji seperti PDSA atau PDCA sebagai bagian dari siklus perbaikan berkelanjutan, dilengkapi dengan bukti kesinambungan data dari pengumpulan hingga tindak lanjut perbaikan (Kemenkes RI, 2022). Artinya, secara regulasi, kerangkanya sudah ada. Masalahnya bukan pada kerangka, melainkan pada caranya dijalankan.
Masalah Fidelitas: Ketika Nama Sama, Praktik Berbeda
Dalam ilmu implementasi, ada konsep yang disebut fidelity — seberapa setia sebuah metode dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip dasarnya. Dan di sinilah PDSA menghadapi krisisnya yang paling mendasar.
Sebuah studi retrospektif yang menganalisis 421 siklus PDSA dari 39 tim perbaikan lini pertama di layanan kesehatan Inggris menemukan bahwa meskipun terjadi peningkatan kecil yang bermakna secara statistik, fidelity keseluruhan terhadap metodologi PDSA tetap rendah sepanjang tiga tahun program berlangsung. Tantangan yang diidentifikasi mencerminkan masalah pada tiga lapisan sekaligus: pemahaman metodologi, niat untuk menggunakannya dengan benar, dan aplikasi aktual di lapangan (McNicholas et al., 2019).
Lebih jauh, sebuah artikel konseptual yang diterbitkan di BMJ Quality & Safety secara langsung menyebut masalah ini sebagai penyederhanaan berlebihan (oversimplification) dari metode PDSA ketika diterjemahkan ke dalam layanan kesehatan. Artikel itu berpendapat bahwa kegagalan bukan pada konsepnya, melainkan pada kegagalan investasi dalam aplikasi yang ketat dan disesuaikan dengan konteks (Reed & Card, 2016). Dengan kata lain, PDSA diperlakukan sebagai checklist yang diselesaikan, bukan sebagai proses berpikir yang dijalani.
Apa wujudnya di lapangan? Sebuah tim mutu unit mengisi lembar PDSA, menulis rencana intervensi di kolom Plan, mencatat bahwa intervensi sudah dijalankan di kolom Do, mengisi angka indikator di kolom Study — lalu berhenti. Kolom Act kosong, atau diisi dengan frasa umum seperti “dilanjutkan” atau “dipertahankan”. Siklus berikutnya tidak pernah dimulai. Loop tidak pernah ditutup.
Empat Titik Kegagalan yang Paling Umum
Memahami di mana siklus PDSA sering kandas membantu kita mengenali masalah ini lebih awal. Ada empat titik kegagalan yang paling konsisten muncul dalam literatur.
Titik pertama adalah perencanaan yang dangkal. Fase Plan yang baik memerlukan investigasi mendalam tentang akar masalah sebelum intervensi dirancang. Namun yang sering terjadi adalah intervensi dirancang berdasarkan asumsi atau solusi yang sudah ada di benak tim, tanpa analisis proses yang memadai. Hasilnya, uji perubahan yang dilakukan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya (Christoff, 2018).
Titik kedua adalah skala yang terlalu besar sejak awal. Salah satu prinsip inti PDSA adalah memulai dari skala kecil — satu pasien, satu hari, satu staf — untuk belajar dengan cepat dan risiko minimal. Yang sering dilakukan justru sebaliknya: intervensi langsung diimplementasikan di seluruh unit atau seluruh rumah sakit, sehingga ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, sulit untuk mengidentifikasi apa yang perlu diperbaiki dan terlalu mahal untuk diubah.
Titik ketiga adalah tidak adanya pengukuran yang memadai. Siklus PDSA membutuhkan data yang dikumpulkan secara cukup sering untuk mendeteksi perubahan yang nyata. Sebuah tinjauan sistematis terhadap proyek-proyek QI berbasis PDSA menyimpulkan bahwa jika pengumpulan data tidak dilakukan dengan frekuensi yang cukup, jika siklus iteratif terlalu sedikit, dan jika tidak tampak perubahan sistemik sebagai hasil dari siklus-siklus tersebut, maka pekerjaan peningkatan mutu itu kecil kemungkinannya berhasil (Knudsen et al., 2019). Tanpa data yang memadai, fase Study menjadi sekadar kesan, bukan evaluasi.
Titik keempat dan paling kritis adalah tidak menutup loop di fase Act. Fase ini bukan sekadar memutuskan “lanjut” atau “stop”. Ia adalah momen di mana pembelajaran dari siklus sebelumnya dimasukkan ke dalam desain siklus berikutnya. Tanpa ini, tidak ada akumulasi pengetahuan, tidak ada perbaikan yang berkembang — yang ada hanyalah serangkaian eksperimen yang berdiri sendiri-sendiri tanpa arah.
Mengapa Budaya Organisasi Memperburuk Masalah Ini
Ada alasan struktural mengapa PDSA sulit dijalankan dengan benar di rumah sakit. Rumah sakit adalah organisasi dengan tekanan operasional yang sangat tinggi, di mana prioritas harian hampir selalu mengalahkan prioritas jangka panjang. Kultur inilah yang oleh Reed & Card (2016) disebut sebagai frenetic culture — budaya organisasi yang terlalu sibuk sehingga membuat keterlibatan deliberatif dalam proses PDSA menjadi sangat sulit dipertahankan.
Di atas itu, ada tekanan akreditasi yang membalikkan logika PDSA. Dalam logika PDSA yang benar, siklus dijalankan karena ada masalah mutu yang nyata ingin dipecahkan, dan hasilnya tidak pasti — bisa berhasil, bisa perlu dimodifikasi, bisa gagal. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Namun dalam logika akreditasi yang berorientasi survei, ada tekanan implisit untuk menunjukkan keberhasilan — sehingga siklus PDSA seringkali hanya didokumentasikan untuk masalah yang sudah diketahui solusinya, bukan untuk menguji perubahan yang belum pasti hasilnya.
Ini adalah distorsi yang dalam. Bukannya menjadi alat eksplorasi, PDSA menjadi alat konfirmasi.
Apa yang Membuat PDSA Benar-Benar Bekerja?
Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PDSA yang efektif memiliki beberapa karakteristik konsisten. Pertama, ada tujuan perbaikan yang spesifik dan terukur sejak awal — bukan “meningkatkan mutu pelayanan” melainkan “menurunkan angka kesalahan pemberian obat di bangsal A dari 3,2% menjadi di bawah 1% dalam 3 bulan”. Kedua, siklus dijalankan secara iteratif dengan skala yang dimulai kecil dan diperluas secara bertahap seiring bertambahnya keyakinan dan pengetahuan. Ketiga, ada komitmen untuk mengumpulkan data secara teratur — run chart mingguan lebih berguna daripada laporan bulanan yang tebal.
Yang tidak kalah penting adalah menciptakan ruang psikologis yang aman untuk melaporkan bahwa sebuah siklus tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan. Dalam sistem mutu yang sehat, siklus yang gagal bukan kelemahan — ia adalah informasi berharga tentang apa yang tidak bekerja di konteks spesifik tersebut.
Pada akhirnya, PDSA bukan tentang mengisi diagram lingkaran. Ia adalah tentang cara berpikir: bahwa perubahan yang baik dibangun di atas pengujian yang jujur, bukan asumsi yang nyaman. Dan cara berpikir seperti itu tidak datang dari poster di dinding — ia datang dari latihan, dari pendampingan, dan dari budaya organisasi yang menghargai belajar lebih dari sekadar terlihat baik.
Referensi
Christoff, P. (2018). Creating effective PDSA cycles. Healthcare, 5(1–2), 12–16. https://doi.org/10.1016/j.hjdsi.2017.11.003
Institute for Healthcare Improvement. (2025). Model for improvement. https://www.ihi.org/library/model-for-improvement
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.
Knudsen, S. V., Laursen, H. V. B., Johnsen, S. P., Bartels, P. D., Ehlers, L. H., & Mainz, J. (2019). Can quality improvement improve the quality of care? A systematic review of reported effects and methodological rigor in plan-do-study-act projects. BMC Health Services Research, 19(1), 683. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4482-6
McNicholas, C., Lennox, L., Woodcock, T., Bell, D., & Reed, J. E. (2019). Evolving quality improvement support strategies to improve Plan–Do–Study–Act cycle fidelity: A retrospective mixed-methods study. BMJ Quality & Safety, 28(5), 356–365. https://doi.org/10.1136/bmjqs-2017-007605
Reed, J. E., & Card, A. J. (2016). The problem with Plan-Do-Study-Act cycles. BMJ Quality & Safety, 25(3), 147–152. https://doi.org/10.1136/bmjqs-2015-005076
Reed, J. E., & Howe, C. (2019). The foundations of quality improvement science. Future Hospital Journal, 6(2), 99–105. https://doi.org/10.7861/futurehosp.6-2-99

Tinggalkan komentar