Pada tahun 2017, antara April hingga Desember saja, sebanyak 297 dari 362 insiden never event perioperatif yang dilaporkan ke badan keselamatan pasien Inggris berkaitan langsung dengan tindakan bedah — dan ini terjadi di negara yang sudah menggunakan Surgical Safety Checklist WHO selama hampir satu dekade (JAP, 2018). Di Amerika Serikat, studi yang menganalisis data selama 13 tahun menemukan 5.940 kasus wrong-site surgery — termasuk 2.217 kasus operasi pada sisi yang salah dan 3.723 kasus prosedur yang salah (PMC, 2009).
Checklist sudah ada. Protokol sudah ada. Pelatihan sudah dilakukan. Namun never event ini — yang secara harfiah berarti “kejadian yang tidak boleh pernah terjadi” — masih terus terjadi. Pertanyaannya bukan lagi “apakah checklist ini efektif?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Mengapa checklist yang sudah terbukti efektif dalam uji klinis masih gagal mencegah insiden yang seharusnya tidak terjadi?”
Checklist yang Lahir dari Tragedi
Surgical Safety Checklist WHO tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kesadaran yang menyakitkan bahwa kamar operasi adalah salah satu lingkungan paling berbahaya dalam layanan kesehatan — bukan karena kompleksitas teknisnya, melainkan karena kombinasi antara tekanan waktu, hierarki tim yang kaku, komunikasi yang tidak terstruktur, dan asumsi yang tidak terverifikasi.
Uji klinis WHO yang menjadi fondasi checklist ini — dilakukan di delapan negara dengan 3.995 pasien — menunjukkan hasil yang dramatis: mortalitas turun dari 1,5% menjadi 0,8%, dan komplikasi pascabedah berkurang dari 11% menjadi 7% setelah penerapan checklist (Biomedres, 2019). Ini adalah bukti yang kuat. Checklist bekerja — ketika digunakan dengan benar.
Kata terakhir itulah yang menjadi masalah.
Tiga Fase, Tiga Titik Lemah
Surgical Safety Checklist WHO dirancang dalam tiga fase: Sign In sebelum anestesi, Time Out sebelum insisi kulit, dan Sign Out setelah prosedur selesai. Masing-masing fase dirancang untuk memverifikasi informasi kritis pada momen yang paling relevan. Secara desain, ini adalah sistem yang elegan.
Namun dalam praktik nyata, ketiga fase ini memiliki pola kegagalan yang berbeda. Sign In seringkali dikompromikan oleh tekanan waktu dan asumsi bahwa “semua pasti sudah benar.” Time Out adalah fase yang paling dipatuhi secara formal — tetapi sering dilakukan saat anggota tim kunci tidak sepenuhnya hadir atau tidak benar-benar memperhatikan. Dan Sign Out adalah fase yang paling konsisten diabaikan. Pada akhir operasi, ahli bedah meninggalkan kamar operasi untuk istirahat sebelum kasus berikutnya atau mendiktekan catatan, staf perawat sibuk mengemas dan melabeli sampel, sementara bagi anestesiolog ini adalah momen paling kritis. Akibatnya, hal-hal penting untuk pemulihan dan manajemen pascaoperasi pasien sering tidak didiskusikan oleh tim operasi.
Ini bukan kegagalan individu — ini adalah kegagalan sistem yang dapat diprediksi, dan seharusnya sudah diantisipasi dalam desain implementasi.
Fenomena Tick-Box: Ketika Mencentang Kotak Menggantikan Berpikir
Salah satu temuan paling konsisten dalam literatur tentang Surgical Safety Checklist adalah apa yang para peneliti sebut sebagai tick-box compliance — kepatuhan yang berfokus pada menyelesaikan checklist sebagai artefak administratif, bukan pada substansi verifikasi yang dimaksudkan.
Studi menunjukkan bahwa konsep checklist dapat mendorong box-ticking tanpa kesetiaan yang sesungguhnya terhadap aspek komunikasi dan jaminan proses dari checklist itu. Lebih jauh, penggunaan yang diwajibkan oleh lembaga regulasi kadang-kadang gagal menghasilkan perbaikan bermakna dalam luaran bedah.
Wujud konkretnya sangat mudah dikenali oleh siapa pun yang pernah bekerja di kamar operasi: perawat membacakan item checklist dengan nada monoton, dijawab dengan anggukan atau “ya” dari anggota tim yang sedang melakukan hal lain, tanpa ada verifikasi aktual terhadap isi pertanyaannya. Checklist WHO dapat diperlakukan sebagai latihan tick-box, pemeriksaan dihilangkan — terutama sign out — ahli bedah dan anestesiolog menunjukkan bahwa pemeriksaan menyebabkan keterlambatan, klinisi senior memberikan respons yang meremehkan, atau pemeriksaan dilakukan ketika orang-orang kunci tidak hadir. Digunakan dengan cara ini, checklist tidak akan menguntungkan pasien.
Inilah paradoks yang menyakitkan: angka kepatuhan tinggi — checklist dilakukan di 95% kasus — tetapi wrong-site surgery masih terjadi. Karena angka kepatuhan mengukur apakah checklist diselesaikan, bukan apakah ia digunakan dengan penuh kesadaran.
Hierarki Kamar Operasi: Hambatan yang Tidak Tertulis
Ada faktor lain yang sangat jarang diakui secara terbuka dalam diskusi tentang keselamatan bedah: hierarki tim di kamar operasi adalah salah satu hierarki paling kaku dalam seluruh ekosistem rumah sakit. Dan hierarki ini secara langsung merusak efektivitas checklist.
Hierarki di antara personel kamar operasi bertindak sebagai hambatan utama dalam keberhasilan implementasi checklist. Ini termanifestasi dalam bentuk yang sangat spesifik: perawat yang enggan menghentikan prosedur untuk mempertanyakan identitas pasien karena dokter bedah sudah mulai bergerak; residen yang tidak berani menyuarakan keraguan tentang sisi operasi karena senior sudah tampak yakin; anestesiolog yang memilih diam daripada mengkonfrontasi ahli bedah yang terburu-buru.
Tantangan terkait kepatuhan dihubungkan dengan budaya keselamatan organisasi dan dapat mencakup struktur hierarkis, sikap meremehkan, ketidakhadiran anggota tim kunci, dan tergesa-gesa dalam pemeriksaan. Dan yang memperburuk dinamika ini adalah kenyataan bahwa mereka yang berada di puncak hierarki tidak mau mengubah praktik mereka untuk mengakomodasi mereka yang berada lebih rendah.
Ini adalah masalah budaya yang tidak bisa diselesaikan dengan memperbarui format checklist.
Checklist Saja Tidak Cukup — tapi Bukan Berarti Checklist Tidak Berguna
Penting untuk tidak menyimpulkan terlalu jauh dari semua ini. Surgical Safety Checklist WHO adalah intervensi yang terbukti dan bernilai. Masalahnya bukan pada checklist-nya, melainkan pada cara ia diimplementasikan dan pada asumsi yang mengelilinginya — bahwa sekadar memiliki checklist sudah cukup untuk mencegah wrong-site surgery.
Implementasi, ketika dilakukan dengan penuh pertimbangan dan dengan memahami konteks lokal, menghasilkan perbaikan bahkan di rumah sakit yang sudah berkinerja tinggi. Pendekatan bertahap yang berfokus pada pemanfaatan kemampuan checklist untuk mendorong dinamika tim yang mendukung keselamatan bedah dapat menggerakkan perubahan dan menghasilkan pengurangan cedera yang berkelanjutan.
Apa yang membedakan implementasi yang efektif dari yang hanya tick-box? Penelitian secara konsisten menunjuk ke beberapa faktor: keterlibatan aktif dokter bedah dan anestesiolog senior sebagai champion — bukan sekadar “mengizinkan” checklist dijalankan, tetapi secara aktif memimpin dan memodelkannya; adaptasi lokal yang membuat item checklist terasa relevan dengan konteks unit tersebut; dan budaya di mana setiap anggota tim — termasuk yang paling junior — merasa aman untuk menghentikan prosedur jika ada yang tidak benar.
Item terakhir itu adalah yang paling sulit dibangun dan paling jarang ada: budaya di mana perawat instrumen dapat berkata kepada dokter bedah senior, “Dokter, kita belum menyelesaikan time out” — dan dokter itu merespons dengan menghentikan tangannya, bukan dengan tatapan yang membungkam.
Universal Protocol dan Konteks Indonesia
Dalam standar akreditasi Indonesia, Surgical Safety Checklist masuk ke dalam Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) keenam tentang pengurangan risiko infeksi dan lebih luas dalam standar PKPO dan PMKP yang berkaitan dengan prosedur invasif. Secara regulasi, penggunaannya diwajibkan. Namun seperti yang sudah dibahas panjang lebar dalam seri ini — regulasi yang mewajibkan tidak otomatis menghasilkan praktik yang bermakna.
Yang diperlukan bukan lebih banyak sosialisasi tentang apa item dalam checklist — staf sudah tahu. Yang diperlukan adalah investasi dalam bagaimana menciptakan kamar operasi di mana setiap anggota tim merasa memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sama untuk menghentikan prosedur ketika sesuatu tidak benar — terlepas dari pangkat dan senioritas.
Seorang pasien yang naik ke meja operasi menaruh kepercayaan yang tidak terbatas pada tim di sekelilingnya. Ia tidak sadar, tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri, tidak bisa mempertanyakan apakah ini sisi yang benar atau prosedur yang benar. Satu-satunya yang berdiri di antara dia dan never event adalah tim yang menggunakan checklist bukan sebagai ritual administratif, melainkan sebagai tindakan nyata perlindungan terhadap seseorang yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Referensi
Haynes, A. B., et al. (2009). A surgical safety checklist to reduce morbidity and mortality in a global population. New England Journal of Medicine, 360(5), 491–499. https://doi.org/10.1056/NEJMsa0810119
Journal of Anaesthesia Practice. (2018). Barriers to the implementation of the Surgical Safety Checklist. https://japractice.co.uk/2018/10/barriers-implementation-surgical-safety-checklist/13010
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.
Pugel, A. E., et al. (2015). Use of the surgical safety checklist to improve communication and reduce complications. Journal of Infection and Public Health, 8(3), 219–225. https://doi.org/10.1016/j.jiph.2015.01.001
PSNet — AHRQ. (2019). Wrong-site, wrong-procedure, and wrong-patient surgery. https://psnet.ahrq.gov/primer/wrong-site-wrong-procedure-and-wrong-patient-surgery
Ramsay, G., et al. (2019). Ten years of the Surgical Safety Checklist. British Journal of Surgery, 106(1), 1–3. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6032919/
Treadwell, J. R., et al. (2014). Surgical checklists: A systematic review of impacts and implementation. BMJ Quality & Safety, 23(4), 299–318. https://doi.org/10.1136/bmjqs-2012-001797
Vats, A., et al. (2010). Practical challenges of introducing WHO surgical checklist: UK pilot experience. BMJ, 340, b5433. https://doi.org/10.1136/bmj.b5433
World Health Organization. (2009). WHO surgical safety checklist and implementation manual. WHO. https://www.who.int/teams/integrated-health-services/patient-safety/research/safe-surgery

Tinggalkan komentar