Di sebuah puskesmas di Buleleng, Bali, seorang pasien datang dengan keluhan mata iritasi. Dokter meresepkan obat tetes mata yang sesuai. Namun obat yang diterima pasien bukan obat tetes mata — melainkan obat lain yang kemasannya sangat mirip. Ketika obat itu diteteskan, mata pasien semakin perih. Setelah ditelusuri, obat yang diterima pasien adalah obat yang salah akibat kemiripan kemasan — sebuah kesalahan yang berakar dari masalah LASA yang tidak tertangani dengan baik.
Ini bukan kasus yang luar biasa. Ia adalah representasi dari ancaman yang setiap hari menghuni rak-rak farmasi rumah sakit dan apotek di seluruh Indonesia: obat-obat yang tampak mirip, terdengar mirip, dan terlalu mudah tertukar satu sama lain.
Apa Itu LASA dan Mengapa Ia Berbahaya
Look-Alike Sound-Alike (LASA) — atau dalam terminologi Indonesia dikenal sebagai NORUM, singkatan dari Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip — adalah kelompok obat-obatan yang memiliki kemiripan dalam penampilan fisik, nama, atau pengucapannya sehingga berpotensi menyebabkan kekeliruan dalam seluruh rantai penggunaan obat: dari peresepan, penyimpanan, penyiapan di farmasi, hingga pemberian kepada pasien.
Obat look-alike tampak secara visual sama dalam hal kemasan, bentuk, warna, dan ukuran, sementara obat sound-alike memiliki kemiripan dalam fonetik nama, dosis, dan kekuatan sediaannya. Kebingungan dapat terjadi antara nama merek dengan merek lain, merek dengan generik, atau generik dengan generik.
Skalanya jauh lebih besar dari yang banyak disadari. LASA merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh kesalahan pemberian obat — perkiraannya berkisar antara 6,23 hingga 14,7% — sehingga menjadi ancaman yang signifikan terhadap keselamatan pasien. Di Indonesia sendiri, sebuah studi di rumah sakit Yogyakarta menemukan bahwa 8,5% dari seluruh dispensing error di rawat jalan disebabkan oleh obat-obat golongan LASA. Dan seperti hampir semua data insiden keselamatan pasien di Indonesia, angka ini hampir pasti merupakan undercount dari realitas yang sesungguhnya.
Tiga Kategori LASA yang Perlu Dipahami
Memahami LASA secara lebih spesifik membantu kita mengenali di mana sistem paling rentan. Ada tiga kategori utama yang secara konsisten muncul dalam penelitian dan laporan klinis.
Kategori pertama adalah nama yang terdengar mirip saat diucapkan. Ini adalah sumber kebingungan yang paling sering terjadi dalam komunikasi verbal — misalnya saat dokter mendiktekan resep melalui telepon atau staf menyampaikan permintaan obat secara lisan. Contoh yang sering dikutip secara global adalah vortioxetine (antidepresan) dengan ticagrelor (antiplatelet) yang nama dagangnya sangat mirip — sebuah kekeliruan yang berpotensi fatal. Dalam sebuah studi in-depth tentang kesalahan LASA di sebuah rumah sakit 200 tempat tidur, kebingungan nama obat menyumbang 64,62% dari seluruh kesalahan LASA yang teridentifikasi.
Kategori kedua adalah kemasan yang tampak mirip — ukuran, warna, dan desain ampul, vial, atau blister yang hampir identik meskipun isinya berbeda. Ini adalah bahaya yang sangat nyata di lingkungan dengan pencahayaan yang kurang optimal atau ketika staf bekerja dengan kecepatan tinggi. Di Indonesia, masalah ini diperkuat oleh fakta bahwa banyak obat generik dari produsen berbeda menggunakan desain kemasan yang hampir seragam.
Kategori ketiga — dan yang paling sering diabaikan — adalah nama sama dengan kekuatan sediaan berbeda. Sebuah penelitian di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta mengidentifikasi ini sebagai salah satu kategori LASA yang paling banyak ditemukan: misalnya Glimepiride 1 mg dan Glimepiride 2 mg, Metformin 500 mg dan Metformin 850 mg, atau Crestor 10 mg dan Crestor 20 mg. Pada obat psikotropika dan narkotika yang memiliki dampak langsung terhadap sistem saraf pusat, risiko akibat kesalahan pemberian obat dalam kategori ini tergolong sangat tinggi.
Apa yang Sudah Ada dan Mengapa Belum Cukup
Rumah sakit terakreditasi di Indonesia diwajibkan memiliki daftar obat LASA sebagai bagian dari standar pengelolaan obat dalam STARKES. Hampir semua rumah sakit yang terakreditasi memiliki daftar ini. Label LASA terpasang di rak. Stiker berwarna menandai obat-obat tertentu. Tall Man Lettering — teknik penulisan sebagian nama obat dengan huruf kapital untuk membedakan pasangan yang mirip, misalnya CISplatin dan CARBOplatin — diterapkan di formulir dan label.
Namun seperti yang sudah berulang kali muncul dalam seri ini, ada gap antara keberadaan sistem dan efektivitasnya.
Sebuah tinjauan sistematis tentang strategi label untuk mencegah look-alike error menemukan bahwa meskipun Tall Man Lettering adalah strategi yang paling banyak diteliti, hasilnya tidak konsisten: dalam enam studi ditemukan tingkat kesalahan yang lebih rendah dengan strategi Tall Man Lettering, tetapi satu studi justru menunjukkan tingkat kesalahan yang lebih tinggi. Sebuah studi dalam setting rumah sakit nyata tidak menunjukkan efek pengurangan terhadap tingkat potensi kesalahan LASA setelah penerapan Tall Man Lettering.
Ini adalah peringatan penting: Tall Man Lettering dan label LASA adalah alat yang berguna tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Organisasi perlu secara proaktif merancang dan mengimplementasikan strategi untuk mengidentifikasi kesalahan obat LASA dan membangun sistem yang kokoh untuk mencegatnya sebelum mencapai pasien. Kata kuncinya adalah “sistem” — bukan sekadar daftar dan label.
Faktor Penyebab yang Melampaui Kemiripan Nama
Penelitian tentang akar penyebab kesalahan LASA secara konsisten mengidentifikasi faktor-faktor yang jauh melampaui sekadar kemiripan nama obat itu sendiri. Faktor penyebab kesalahan pada obat-obat LASA meliputi tulisan tangan yang tidak jelas, pengetahuan yang tidak lengkap tentang nama obat, produk baru yang tersedia, kemasan atau pelabelan yang serupa, bentuk sediaan, dan frekuensi pemberian yang mirip, serta penggunaan klinis yang serupa.
Yang paling penting dari daftar ini adalah faktor sistemik: pengetahuan yang tidak lengkap dan konteks kerja yang tidak mendukung kewaspadaan. Kesalahan antisipatif sering terjadi selama periode sibuk, yang dapat menyebabkan detail kritis seperti kekuatan sediaan terlewatkan. Ini adalah realita kamar farmasi dan bangsal rumah sakit setiap hari: ketika beban kerja tinggi, ketika waktu terbatas, ketika pikiran sedang di tempat lain — itulah saat sistem pertahanan terlemah, dan itulah saat LASA paling berbahaya.
Ada satu temuan lagi yang layak diperhatikan dengan serius: penelitian tentang pengetahuan apoteker tentang obat LASA menemukan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pengetahuan dan pengelolaan obat LASA, dan tidak ada hubungan bermakna antara pengelolaan dan kesalahan dalam praktiknya. Ini adalah sinyal yang kuat bahwa pelatihan pengetahuan saja tidak cukup mengubah perilaku. Yang mengubah perilaku adalah desain sistem yang membuat kesalahan sulit terjadi — bukan sekadar membuat staf “lebih tahu.”
Strategi yang Melampaui Daftar dan Label
WHO dalam publikasinya tentang keselamatan obat LASA merekomendasikan pendekatan berlapis yang tidak bergantung pada satu intervensi tunggal. Strategi yang dapat diimplementasikan dalam jangka pendek dan menengah mencakup: konfigurasi layar komputer dan menu drop-down dalam sistem peresepan agar nama LASA tidak muncul berdekatan satu sama lain sehingga menghindari kesalahan; desain label yang lebih jelas dengan diferensiasi visual yang kuat; serta pendekatan penyimpanan yang memisahkan obat-obat LASA secara fisik.
Di Indonesia, pemisahan fisik obat LASA sudah menjadi persyaratan standar — obat LASA harus disimpan tidak berdekatan satu sama lain, dengan jarak minimal dua kotak dari pasangan LASA sejenis. Namun implementasinya sangat bervariasi. Sebuah studi tentang penyimpanan obat LASA di gudang obat salah satu rumah sakit nasional menemukan bahwa meskipun di depo farmasi sudah diterapkan, di gudang induk penandaan Tall Man belum konsisten dilakukan karena lokasi penyimpanan yang berpindah-pindah mengikuti jumlah barang yang dibeli.
Ini menunjukkan bahwa tantangan bukan hanya pada kebijakan, melainkan pada kepraktisan implementasi dalam kondisi nyata — dan bahwa solusi harus dirancang dengan mempertimbangkan kondisi operasional aktual, bukan kondisi ideal.
Dari Daftar Statis ke Sistem Dinamis
Salah satu kelemahan terbesar dalam pengelolaan LASA di banyak rumah sakit adalah daftarnya bersifat statis — sekali dibuat, jarang diperbarui. Padahal formularium obat terus berubah: produk baru masuk, produsen berganti kemasan, nama generik baru terdaftar. Daftar LASA yang tidak diperbarui secara berkala adalah daftar yang semakin kehilangan relevansinya setiap tahun.
Membangun dan mempertahankan budaya keselamatan pasien harus dianggap sebagai strategi global top-down yang melibatkan semua elemen dalam sistem — mulai dari badan regulasi, produsen dan pemasok, hingga fasilitas layanan kesehatan di lini terdepan. Ini adalah pengakuan bahwa masalah LASA bukan hanya tanggung jawab apoteker atau perawat yang menyiapkan obat — ia adalah tanggung jawab sistem, dari hulu ke hilir.
Dalam konteks akreditasi rumah sakit, ini berarti standar LASA yang bermakna bukan hanya menanyakan “apakah daftar LASA ada?” tetapi “apakah daftar itu diperbarui secara berkala, apakah staf tahu cara menggunakannya dalam kondisi kerja nyata, dan apakah sistemnya dirancang untuk membuat kesalahan sulit terjadi?” Ketiga pertanyaan itu memerlukan jawaban yang jauh lebih substansial dari sekadar menunjukkan binder berisi daftar obat berlabel kuning.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.
Kemenkes RI. (n.d.). Penanganan obat-obat high alert di fasilitas pelayanan kesehatan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/172/penanganan-obat–obat-high-alert-di-fasilitas-pelayanan-kesehatan
Lizano-Díez, I., et al. (2020). Prevention strategies to identify LASA errors: Building and sustaining a culture of patient safety. BMC Health Services Research, 20(1), 69. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6988319/
Merative. (2025). How can clinicians improve medication safety for look-alike and sound-alike (LASA) drugs? https://www.merative.com/blog/medication-safety-for-look-alike-sound-alike-drugs
Narotama, A. P. (2022). Gambaran penyimpanan obat LASA di Gudang Obat Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta. Karya Tulis Ilmiah, RSPON.
Nguyen, H. T., et al. (2024). Look-alike/sound-alike medication errors: An in-depth examination through a hospital case study. Pharmacy Practice, 22(2). https://www.pharmacypractice.org/index.php/pp/article/view/2959
Pertiwi, Y., et al. (2023). Profil penyimpanan obat LASA. Jurnal Farmasi Indonesia. https://jfi-online.org/index.php/jfi/article/view/97
Stienen, M. N., et al. (2018). A systematic literature review on strategies to avoid look-alike errors of labels. European Journal of Clinical Pharmacology, 74(8), 985–993. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6061459/
World Health Organization. (2023). Medication safety for look-alike, sound-alike medicines: WHO Technical Series on Medication Safety Solutions. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240058897

Tinggalkan komentar