A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan seseorang yang dua bulan lalu masih tampak sehat tiba-tiba kehilangan ingatannya, berbicara kacau, tubuhnya bergetar tanpa henti, dan tak lama kemudian jatuh ke dalam kondisi koma. Bukan karena stroke. Bukan karena tumor otak. Melainkan karena protein-nya sendiri berkhianat, melipat diri menjadi bentuk yang salah dan melumat otak dari dalam.

Inilah gambaran penyakit Creutzfeldt-Jakob (Creutzfeldt-Jakob disease, CJD), sebuah penyakit neurodegeneratif yang langka namun selalu berakhir fatal. Di antara semua bentuk demensia yang dikenal, CJD adalah yang paling ganas dan paling cepat membunuh.


Seabad Setelah Ditemukan: Apa Itu CJD?

CJD pertama kali dideskripsikan pada tahun 1920 oleh neurolog Jerman Hans Gerhard Creutzfeldt, kemudian oleh Alfons Maria Jakob pada 1921 dan 1923. Penyakit ini masuk dalam kategori transmissible spongiform encephalopathies (TSE) atau ensefalopati spongiformis yang dapat ditularkan, bersama dengan kuru pada manusia, bovine spongiform encephalopathy (BSE) atau penyakit sapi gila pada ternak, serta scrapie pada domba.

CJD adalah kondisi neurodegeneratif yang berkembang pesat, langka, dapat ditularkan, dan secara seragam berakibat fatal, yang disebabkan oleh protein prion. Yang membedakannya dari semua penyakit otak lainnya adalah penyebabnya: bukan virus, bukan bakteri, bukan jamur — melainkan protein yang salah lipat.


Prion: Agen Penyakit Tanpa DNA

Untuk memahami CJD, kita perlu mengenal prion (proteinaceous infectious particle). Protein prion normal (PrP) adalah protein neuron dengan komposisi heliks-α dan kumparan acak yang dominan. Partikel infeksius yang dikenal sebagai “prion” adalah protein yang memperbanyak diri tanpa memiliki asam nukleat, dan terutama terdiri dari agregat lembaran-β yang resisten terhadap proteinase K.

Secara sederhana, protein prion normal ada di otak kita semua dan tidak berbahaya. Masalah muncul ketika protein itu berubah bentuk menjadi konfigurasi yang abnormal. Prion bereproduksi dengan berasosiasi dengan isoform PrP seluler normal, mengubah heliks-α menjadi lembaran-β yang tidak dapat dicerna. Lebih mengerikan lagi, prion yang salah lipat ini akan “menginfeksi” protein prion normal di sekitarnya — seperti satu domino yang menjatuhkan seluruh barisan. Agregat lembaran-β yang sangat stabil secara kimiawi ini menyebabkan gangguan pada pelipatan protein intraseluler, ubikuitinasi, dan lalu lintas pada neuron yang terkena, hingga akhirnya terjadi neurodegenerasi.

Hasil akhirnya adalah otak yang secara harfiah berlubang-lubang seperti spons — inilah asal kata “spongiformis.”


Empat Tipe CJD: Dari Mana Datangnya?

CJD dapat diklasifikasikan berdasarkan moda transmisi. CJD sporadis adalah tipe paling umum (sekitar 85%) dan disebabkan oleh misfolding protein PrP normal tanpa pemicu yang jelas. CJD genetik adalah tipe kedua paling umum (sekitar 10–15%) dan muncul dari mutasi genetik yang dapat diturunkan. CJD infeksius menyumbang kurang dari 1% kasus dan terjadi akibat transmisi prion dari sumber eksternal.

CJD Sporadis adalah yang terbanyak. Usianya umumnya menyerang orang di rentang 55–75 tahun, dan tidak ada yang tahu dengan pasti mengapa misfolding itu terjadi. Rasio pria terhadap wanita pada CJD sporadis adalah 1:1. Sekitar 1 hingga 2 kasus CJD sporadis baru terjadi per 1.000.000 individu di seluruh dunia setiap tahun.

CJD Genetik berkaitan dengan mutasi pada gen PRNP yang diwariskan secara autosomal dominan. Subjenisnya mencakup CJD familial, fatal familial insomnia (insomnia keluarga yang fatal), dan sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker.

CJD Iatrogenik terjadi melalui prosedur medis — misalnya dari transplantasi kornea, transfusi darah, atau penggunaan elektroda bedah saraf yang terkontaminasi. Kasus historis yang terkenal adalah puluhan orang di seluruh dunia yang terinfeksi melalui suntikan hormon pertumbuhan yang diekstrak dari kelenjar pituitari jenazah manusia pada era 1950-an hingga 1980-an.

CJD Varian (vCJD) adalah tipe yang paling banyak dipublikasikan media. Varian CJD berkaitan dengan konsumsi daging sapi yang terjangkit BSE (bovine spongiform encephalopathy atau penyakit sapi gila); makan daging yang terinfeksi dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Berbeda dari CJD sporadis yang menyerang lansia, vCJD umumnya memengaruhi orang yang lebih muda dengan gejala awal berupa masalah psikiatri, perubahan perilaku, dan sensasi nyeri. Hingga 2024, total 233 kasus vCJD telah dilaporkan secara global. Sebagian besar kasus terjadi di Inggris Raya dan Perancis, terkait dengan wabah BSE yang melanda Eropa pada era 1990-an.


Gejala: Demensia yang Berlari, Bukan Berjalan

Yang membedakan CJD dari demensia biasa seperti Alzheimer adalah kecepatan progresivitasnya yang luar biasa. Alzheimer berkembang dalam hitungan tahun; CJD bisa menghancurkan fungsi otak hanya dalam beberapa minggu hingga bulan.

Pada stadium awal CJD sporadis, pasien mungkin mengalami gejala tidak spesifik seperti vertigo, sakit kepala, kelelahan, dan gangguan tidur. Namun masalah memori, agitasi, iritabilitas, depresi, apatis, perubahan suasana hati, dan perubahan sensorik seperti gangguan penglihatan juga dapat terjadi. Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami kebingungan yang memburuk dengan cepat, disorientasi, dan masalah kognitif.

Sebagian besar pasien menunjukkan kelainan koordinasi dan gerakan, termasuk ataksia, gerakan menyentak tak disengaja, mioklonus, kekakuan otot, dan kedutan otot tak disengaja. Mioklonus menetap selama tidur dan dapat diprovokasi oleh suara keras atau cahaya terang.

Gejala kognitif dan perilaku mendominasi, termasuk psikosis yang terjadi pada 68% kasus. Inilah mengapa CJD sering kali pada awalnya didiagnosis sebagai gangguan psikiatri atau demensia biasa, memperlambat diagnosis yang tepat.

Kematian terjadi pada hampir 70% pasien dalam satu tahun sejak onset. Rerata kelangsungan hidup CJD sporadis adalah 4 hingga 8 bulan, dengan 90% pasien meninggal dalam setahun.


Diagnosis: Tantangan di Balik Kelangkaan

Mendiagnosis CJD adalah ujian bagi klinisi. Gambaran klinis yang sangat bervariasi pada onset penyakit mengharuskan banyak dokter spesialis untuk menyadari keberadaan penyakit ini dan merujuk pasien ke neurolog untuk evaluasi lengkap.

Beberapa modalitas diagnostik yang digunakan:

MRI Otak adalah yang paling andal. MRI mengungkap kelainan pada semua kasus, paling sering berupa cortical ribboning (pola pita kortikal) yang ditemukan pada 93% kasus. Pola ini menggambarkan pembatasan difusi di korteks serebri akibat kematian sel neuron masif.

EEG menunjukkan pola gelombang tajam periodik yang khas, terutama pada CJD sporadis stadium lanjut.

Cairan Serebrospinal (CSS) dapat diperiksa untuk biomarker seperti protein 14-3-3 dan tau. Dalam cairan serebrospinal, protein prion dapat dideteksi menggunakan uji RT-QuIC (real-time quaking-induced conversion), disertai kadar protein tau dan 14-3-3 yang meningkat.

RT-QuIC adalah terobosan diagnostik terpenting dekade ini. RT-QuIC mendeteksi fibril amiloid yang terbentuk dari protein prion rekombinan yang salah lipat. Studi validasi mengonfirmasi nilai tinggi RT-QuIC kulit untuk diagnosis CJD dengan sensitivitas 89% dan spesifisitas 100%, mendukung penggunaannya dalam praktik klinis. Kemampuan mendeteksi prion bahkan dari biopsi kulit membuka era diagnosis CJD yang jauh lebih praktis dan tidak invasif.

Kriteria diagnostik telah diperbarui berdasarkan kemajuan signifikan dalam penelitian patogenesis dan identifikasi biomarker yang andal. Diagnosis definitif masih memerlukan konfirmasi neuropatologis pascamortem atau biopsi otak.


Pengobatan: Perang yang Belum Bisa Dimenangkan

Fakta yang menyedihkan: hingga saat ini tidak ada obat untuk CJD; tata laksana hanya bersifat simtomatis. Namun ini bukan berarti dunia penelitian berdiam diri.

Pengetahuan yang terakumulasi tentang patogenesis telah mengarah pada identifikasi serangkaian target terapeutik yang potensial, meskipun mengingat insidens yang rendah dan perjalanan penyakit yang sangat cepat, evaluasi keamanan dan efikasi strategi terapeutik ini merupakan tantangan tersendiri.

Beberapa pendekatan yang sedang dieksplorasi meliputi:

  • Terapi gen: menargetkan gen PRNP untuk mencegah produksi protein prion abnormal
  • Imunoterapi: menggunakan antibodi untuk menetralisir prion patologis
  • Senyawa kimia: beberapa molekul kecil telah menunjukkan kemampuan menghambat propagasi prion di tingkat laboratorium

Penelitian saat ini mengeksplorasi diagnostik yang lebih baik dan potensi terapi gen atau imunoterapi. Kabar menggembirakan datang baru-baru ini: per Maret 2026, setidaknya dua uji klinis manusia untuk penyakit prion sedang berlangsung, termasuk uji coba NN112/PRiSM dari Broad Institute — sebuah langkah maju yang bersejarah dalam sejarah penelitian CJD.


CJD dan Keamanan Pangan: Pelajaran dari Krisis BSE

Wabah BSE di Inggris pada 1980-an hingga 1990-an yang memicu munculnya vCJD menjadi peringatan global tentang keamanan rantai pangan. Lebih dari 180 orang di Inggris Raya meninggal akibat vCJD. Krisis ini mendorong reformasi besar dalam sistem pengawasan pangan, penanganan hewan ternak, dan regulasi penggunaan produk hewani dalam pakan ternak.

Kini ancaman serupa muncul dari chronic wasting disease (CWD), penyakit prion pada rusa dan elk yang endemik di Amerika Utara. Meski hingga saat ini belum ada kasus manusia yang terkonfirmasi, penelitian aktif terus dilakukan mengingat potensi transmisi zoonosis yang tidak dapat sepenuhnya diabaikan.


Epidemiologi Global dan Relevansinya bagi Indonesia

CJD adalah penyakit prion yang fatal dengan progresi cepat, memengaruhi 1–2 orang per juta penduduk per tahun, tanpa pengobatan. Di Indonesia, data surveilans CJD secara nasional belum tersedia secara sistematis, berbeda dengan negara-negara maju yang telah memiliki sistem pelaporan khusus. Hal ini bukan berarti kasus tidak ada, melainkan mencerminkan tantangan diagnosis dan pelaporan di negara berkembang.

Beban nyata CJD mungkin diremehkan, khususnya di negara-negara yang tidak memiliki sistem surveilans yang kuat atau pusat rujukan khusus. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini diperparah oleh terbatasnya akses MRI difusi, belum tersedianya uji RT-QuIC secara luas, serta rendahnya indeks kecurigaan klinis terhadap penyakit yang sangat langka ini.

Ironisnya, insidens CJD tampaknya meningkat, meskipun angka yang semakin tinggi ini mungkin berkaitan dengan alat diagnostik yang semakin baik. Semakin baik kemampuan diagnostik suatu negara, semakin banyak kasus yang teridentifikasi.


Penutup: Tentang Protein yang Tidak Kita Kendalikan

CJD mengajarkan kita sebuah kerendahan hati: betapa tubuh kita sendiri bisa menjadi musuh yang paling sulit dilawan. Tidak ada pilihan gaya hidup yang bisa mencegah CJD sporadis. Tidak ada vaksin. Tidak ada obat yang menyembuhkan.

Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan klinis — agar setiap kasus demensia yang berkembang sangat cepat pada lansia tidak begitu saja dilabeli “pikun biasa.” Serta mendorong investasi dalam sistem surveilans penyakit prion di Indonesia, agar saat seorang pasien datang dengan demensia yang berlari seperti petir, kita tidak kehilangan diagnosis yang, meski tidak bisa disembuhkan, setidaknya bisa ditegakkan dengan bermartabat.


Referensi

Hall, W. A., & Masood, W. (2025). Creutzfeldt-Jakob disease. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507860/

Jurcau, M. C., Jurcau, A., Diaconu, R. G., Hogea, V. O., & Nunkoo, V. S. (2024). A systematic review of sporadic Creutzfeldt-Jakob disease: Pathogenesis, diagnosis, and therapeutic attempts. Neurology International, 16(5), 1039–1065. https://doi.org/10.3390/neurolint16050079

Lizarazo, J., Vargas, A. X., Olarte, R., & Lizarazo, D. A. (2024). Determination of prion proteins in the diagnosis of Creutzfeldt-Jakob disease using RT-QuIC: A case report from northeastern Colombia. Biomédica, 44(Supl.2). https://doi.org/10.7705/biomedica.7352

Noor, H., Baqai, M. H., Naveed, H., Naveed, T., Rehman, S. S., Aslam, M. S., Lakdawala, F. M., Memon, W. A., Rani, S., Khan, H., Imran, A., & Farooqui, S. K. (2024). Creutzfeldt-Jakob disease: A comprehensive review of current understanding and research. Journal of the Neurological Sciences, 467, 123293. https://doi.org/10.1016/j.jns.2024.123293

Perez-Nieto, R. O., Guerrero-Gutiérrez, M. A., Lopez-Fermin, J., Carbajal-Mendoza, R., & Tello-Mendez, D. (2025). Incidence of Creutzfeldt-Jakob disease in a tertiary care referral center in Mexico City. Annals of Clinical and Translational Neurology. https://doi.org/10.1002/acn3.70061

Rasheed, U., Xin, L., Kim, Y.-C., & Jeong, B.-H. (2024). A systemic analysis of Creutzfeldt-Jakob disease cases in Asia. Prion, 18(1), 11–27. https://doi.org/10.1080/19336896.2024.2311950

Tiple, D., Baiardi, S., Capellari, S., Vignoli, A., Franceschini, A., Parchi, P., & Rossi, M. (2020). Detection of prions in skin punch biopsies of Creutzfeldt-Jakob disease patients. Annals of Clinical and Translational Neurology, 7(5), 764–773. https://doi.org/10.1002/acn3.51013


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan masyarakat. Bukan merupakan panduan diagnosis atau tata laksana klinis.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar