A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang perempuan paruh baya datang ke klinik dengan keluhan nyeri di telapak kaki kanan yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Ia menunjuk satu titik kecil di bawah jari kelingking kakinya — benjolan keras seukuran kancing, berwarna kekuningan, dan terasa seperti menginjak kerikil setiap kali ia melangkah. Di bagian lain telapak kakinya, terdapat area kulit tebal yang lebar dan kasar, namun tidak nyeri. Dua lesi yang tampak serupa, tetapi berbicara tentang dua kondisi yang berbeda: yang pertama adalah clavus (mata ikan), yang kedua adalah callus (kapalan).

Kedua kondisi ini adalah gangguan kulit yang paling sering ditemui pada praktik rawat jalan, namun seringkali disepelekan sebagai persoalan estetika semata. Padahal, keduanya dapat menjadi gerbang komplikasi serius, terutama pada kelompok dengan penyakit penyerta tertentu.


Apa Itu Mata Ikan dan Kapalan?

Secara ilmiah, mata ikan disebut clavus (jamak: clavi) atau heloma — berasal dari bahasa Yunani yang berarti “paku.” Sesuai namanya, clavus adalah penebalan epidermis yang terlokalisasi dengan batas yang jelas, memiliki inti kerucut (conical core) dari keratin yang menancap ke dalam lapisan kulit di bawahnya. Inilah yang membuat tekanan dari luar — seperti saat berjalan — terasa menyakitkan, karena inti tersebut menekan jaringan dermis dan saraf di bawahnya (Pennycook & McCready, 2023).

Kapalan, yang secara medis disebut callus atau tyloma, adalah kondisi yang berbeda. Kapalan juga merupakan lesi hiperkeratotik kulit, namun dengan batas yang tidak tegas, dan tidak memiliki inti kerucut yang nyeri seperti pada clavus. Kapalan paling sering muncul di tangan dan kaki. Kapalan adalah respons perlindungan tubuh terhadap gesekan atau tekanan berulang yang tersebar lebih merata di satu permukaan.


Mengapa Kulit Menebal?

Mekanisme dasar keduanya adalah mechanical hyperkeratosis — penebalan lapisan terluar kulit (stratum corneum) akibat tekanan atau gesekan mekanis yang berulang. Clavus merupakan akibat dari mikrotrauma pada epidermis, umumnya berupa tekanan atau gesekan berulang pada area yang terdampak. Faktor lain seperti aktivitas fisik, alas kaki yang tidak sesuai, dan deformitas kaki yang menyebabkan tonjolan tulang (bony prominences) turut berkontribusi dalam pembentukannya.

Pada tingkat seluler, stimulasi mekanis yang terus-menerus mendorong keratinosit untuk memperbanyak diri dan memperlambat proses pengelupasan sel kulit mati. Akibatnya, lapisan stratum corneum menumpuk secara progresif. Pada kapalan, penumpukan terjadi secara difus dan berfungsi sebagai bantalan pelindung yang adaptif. Namun pada mata ikan, penumpukan terfokus di satu titik dan membentuk inti kerucut yang justru berbalik menjadi ancaman — menekan jaringan di bawahnya dan menimbulkan nyeri.


Siapa yang Paling Rentan?

Clavus lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua akibat perubahan epidermis seperti penipisan dan kekeringan kulit, sehingga kulit mereka lebih rentan terhadap tekanan mekanis. Prevalensinya sedikit lebih tinggi pada perempuan, kemungkinan berkaitan dengan kebiasaan memakai alas kaki yang tidak sesuai ukuran.

Studi pada populasi lansia menunjukkan angka yang cukup mengejutkan: dari 301 partisipan berusia 70–95 tahun yang hidup mandiri di komunitas, 60% memiliki setidaknya satu lesi hiperkeratotik plantar. Mereka yang memiliki lesi ini lebih cenderung berjenis kelamin perempuan, mengalami hallux valgus (ibu jari bengkok ke arah jari lainnya) derajat sedang hingga berat, dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam posisi berdiri.

Selain lansia, kelompok berisiko tinggi lainnya meliputi atlet, pekerja yang berdiri dalam waktu lama, dan — yang paling perlu diwaspadai — penderita diabetes serta individu yang terpapar gaya gesekan yang tidak merata atau memiliki kelainan pola berjalan (gait abnormalities).


Mengenal Jenis-Jenisnya

Mata ikan tidak hadir dalam satu wujud tunggal. Secara klinis, terdapat beberapa tipe:

Heloma durum (hard corn) adalah jenis yang paling umum. Permukaannya keras dan kering, sering muncul di permukaan atas atau samping jari-jari kaki, terutama di sendi antara ruas jari (interphalangeal joint) jari kelingking kaki.

Heloma molle (soft corn) memiliki permukaan yang lebih lunak karena kelembapan di antara jari-jari kaki. Soft corn biasanya muncul di antara jari keempat dan kelima kaki, dengan tekstur permukaan yang jauh lebih tipis.

Seed corn adalah tipe yang lebih kecil dan terisolasi, sering ditemukan di telapak kaki pada area yang menopang beban, dan bisa sangat nyeri.

Untuk kapalan, lesi yang muncul di telapak kaki di bawah kepala tulang metatarsal (intractable plantar keratosis/IPK) menjadi perhatian khusus karena umumnya lebih sulit ditangani dan sering kali resistan terhadap terapi konservatif biasa.


Membedakan dari Kutil Plantar

Satu tantangan klinis penting adalah membedakan mata ikan dari kutil plantar (verruca plantaris). Keduanya dapat tampak serupa di telapak kaki. Petunjuk pembeda yang berguna: kutil plantar disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) dan biasanya memperlihatkan titik-titik hitam kecil (kapiler yang trombosis) saat permukaan superfisialnya dikerok, sementara pada mata ikan akan terlihat inti kerucut transparan. Pada kutil, garis-garis kulit normal (dermatoglyphics) terputus, sedangkan pada kapalan dan mata ikan, pola garis kulit tetap terpelihara meski kulit menebal.


Tata Laksana: Dari Mandiri hingga Medis

Prinsip tata laksana untuk kedua kondisi ini bertumpu pada dua hal: menghilangkan sumber tekanan mekanis dan menipiskan penebalan kulit yang sudah terbentuk.

Modifikasi alas kaki adalah langkah pertama dan terpenting. Mata ikan yang disebabkan oleh alas kaki yang tidak tepat sering kali membaik dengan penggantian ukuran sepatu yang sesuai. Bantalan pelindung dapat digunakan untuk memberikan cushioning pada area lesi sementara menunggu penyembuhan. Insole ortopedi prefabrikasi atau custom juga terbukti membantu mendistribusikan beban kaki dengan lebih merata.

Pelembap dan emolien efektif untuk lesi ringan, termasuk penggunaan batu apung (pumice stone) secara hati-hati setelah merendam kaki dalam air hangat. Agen seperti urea topikal, asam laktat, dan emolien lainnya membantu melunakkan dan mengelupas lapisan keratin secara bertahap.

Agen keratolik merupakan andalan terapi farmakologis. Asam salisilat, alpha-hydroxy acid (seperti asam glikolat, malat, atau laktat), dan beta-hydroxy acid merupakan agen yang dapat digunakan untuk membantu debridemen. Sebagian besar sediaan asam salisilat tersedia dalam konsentrasi 10–17%. Konsentrasi tinggi seperti 40% dapat menyebabkan maserasi parah, dan pada pasien diabetes berpotensi memicu ulserasi terbuka pada kaki.

Sebuah studi prospektif multisenter terbaru yang melibatkan 417 partisipan di Prancis mengevaluasi efikasi plester hydrocolloid dalam manajemen mata ikan, kapalan, dan bunion. Di antara partisipan dengan kapalan, 66% melaporkan eliminasi nyeri pada akhir periode pengamatan 21 hari, dengan peningkatan bermakna pada perlindungan dan cushioning yang dirasakan.

Debridemen profesional — pengerokan menggunakan scalpel oleh tenaga kesehatan terlatih — memberikan pengurangan nyeri yang cepat, terutama pada heloma. Prosedur ini tidak boleh dilakukan sendiri dengan benda tajam, terutama bagi mereka dengan diabetes atau gangguan sirkulasi perifer, karena risiko luka dan infeksi yang signifikan.

Tindakan bedah dipertimbangkan sebagai pilihan terakhir, khususnya untuk kasus intractable plantar keratosis yang resistan terhadap terapi konservatif. Prosedur ortopedi seperti osteotomi metatarsal bertujuan mengoreksi distribusi tekanan tulang yang menjadi akar masalah.


Kapalan dan Mata Ikan pada Pasien Diabetes: Waspada Ekstra

Pada populasi tanpa penyakit penyerta, mata ikan dan kapalan jarang menjadi masalah serius. Namun pada penderita diabetes, gambarannya berbeda secara fundamental. Pada kaki diabetik neuropatik, hilangnya sensasi protektif, deformitas kaki, dan kulit kering — bersama dengan aktivitas menopang berat badan sehari-hari — dapat menyebabkan pembentukan kapalan pada titik-titik tekanan plantar. Telah terbukti bahwa pembentukan kapalan menyebabkan peningkatan tekanan plantar dan risiko ulkus kaki diabetik yang lebih tinggi.

Standar perawatan diabetes terkini dari American Diabetes Association 2025 secara eksplisit memasukkan pemeriksaan kaki berkala sebagai bagian dari manajemen neuropati, karena lesi kulit seperti kapalan yang tidak ditangani dapat menjadi prekursor ulkus yang memerlukan amputasi.


Pencegahan: Lebih Baik dari Mengobati

Sebagian besar kasus mata ikan dan kapalan dapat dicegah dengan langkah-langkah sederhana: memilih alas kaki dengan ukuran dan bentuk yang tepat (terutama menghindari sepatu ujung runcing yang menekan jari), menggunakan kaus kaki berbahan breathable yang menyerap keringat, menjaga kelembapan kulit kaki, serta memotong kuku kaki dengan lurus untuk mencegah tekanan tidak merata pada jaringan sekitarnya. Bagi mereka yang aktif berolahraga, penggunaan kaus kaki khusus olahraga dengan bantalan di area tekanan tinggi dapat membantu secara bermakna.

Pada akhirnya, mata ikan dan kapalan adalah sinyal mekanis dari tubuh — peringatan bahwa ada tekanan berlebih yang terjadi berulang di satu titik. Mendengarkan sinyal itu, dan mencari penyebabnya, adalah pendekatan yang jauh lebih bijak daripada sekadar membuang lapisannya dan membiarkan sumbernya tetap berjalan.


Referensi

Al Aboud, A. M., & Yarrarapu, S. N. S. (2023). Corn. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470374/

American Diabetes Association Primary Care Advisory Group. (2025). Standards of care in diabetes—2025 abridged for primary care professionals. Section 12: Retinopathy, neuropathy, and foot care. Clinical Diabetes, 43(2), 217–218. https://doi.org/10.2337/cd25-as12

Bajjani, J. Z., Auzou, P., Paniez, H., Katsogiannou, M., Chapalain, V., Pierre, C., Wiederkehr, S., Gauchoux, R., Gauthier, M., & Artus-Arduise, C. (2025). Pain relief and protection of corns, calluses and bunions using COMPEED® foot care hydrocolloid plasters: A prospective non-interventional study in primary care/community pharmacies. Medical Devices: Evidence and Research, 18, 213–231. https://doi.org/10.2147/MDER.S498499

Menz, H. B., Zammit, G. V., & Munteanu, S. E. (2007). Plantar pressures are higher under callused regions of the foot in older people. Clinical and Experimental Dermatology, 32(4), 375–380. https://doi.org/10.1111/j.1365-2230.2007.02413.x

Pennycook, K. M., & McCready, T. A. (2023). Clavus. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK546598/

Reilly, I. N., Longhurst, B., & Vlahovic, T. C. (2023). Surgical excision of intractable plantar keratoses (corns) of the foot: A scoping review. Journal of the American Podiatric Medical Association, 113(6). https://doi.org/10.7547/22-032

Rodríguez-Sanz, D., Tovaruela-Carrión, N., López-López, D., Palomo-López, P., Romero-Morales, C., Navarro-Flores, E., & Calvo-Lobo, C. (2018). Foot disorders in the elderly: A mini-review. Disease-a-Month, 64(3), 64–91. https://doi.org/10.1016/j.disamonth.2017.08.001

Spink, M. J., Menz, H. B., & Lord, S. R. (2009). Distribution and correlates of plantar hyperkeratotic lesions in older people. Journal of Foot and Ankle Research, 2, 8. https://doi.org/10.1186/1757-1146-2-8

Vorvick, L. J. (2025, April 1). Corns and calluses. UF Health / MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/001232.htm

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar