A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Prompt tulisan harian
What’s a lesson you’ve learned recently that shifted your perspective?

Parabel: Sumur di Desa Ngadirojo

Di sebuah desa yang tak tercatat dalam peta mana pun, hiduplah seorang lurah bernama Kertapati. Ia bukan orang jahat—hanya seorang yang terburu-buru, yang percaya bahwa kecepatan keputusan adalah tanda kepemimpinan sejati. Ketika sumur desa mulai keruh, para tetua menyarankan agar mereka menggali lebih dalam, mengikuti aliran air ke sumbernya. Kertapati, yang tak sabar dan haus pujian, memerintahkan agar sumur ditutup saja dan dibangun sumur baru di tempat yang lebih dekat rumahnya.

Sumur baru itu memang jernih—selama tiga musim. Pada musim keempat, air itu mulai membawa penyakit, sebab letaknya terlalu dekat dengan kandang ternak yang ia bangun tanpa berkonsultasi pada siapa pun. Anak-anak desa jatuh sakit. Ketika seorang tabib muda bernama Wredha Jiwa mencoba menjelaskan sebab-akibatnya, Kertapati menyingkirkannya, sebab kebenaran itu mengusik kenyamanannya.

Bertahun kemudian, ketika desa itu nyaris kosong—penduduknya pergi mencari sumber air lain—orang-orang baru menyadari: bukan sumur yang membunuh mereka, melainkan keputusan yang dibuat tanpa kedalaman berpikir, oleh tangan yang diberi kuasa tapi tak pernah diuji kebijaksanaannya.

Kisah Kertapati bukan tentang satu orang jahat. Ia tentang bagaimana ketergesaan dan kedangkalan, ketika diberi kuasa, menjadi racun yang bekerja perlahan—dan menimpa mereka yang paling tak berdaya untuk melarikan diri.

I. Kebodohan Bukan Sekadar Kurang Ilmu

Dalam tradisi Yunani, Sokrates mengajarkan bahwa kejahatan terbesar sering lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari amathia—ketidaktahuan yang disertai keyakinan berlebih bahwa seseorang telah tahu. Ini berbeda dari sekadar bodoh. Seorang yang sadar akan batasnya masih bisa diselamatkan oleh kerendahan hati. Yang berbahaya adalah mereka yang berkuasa namun yakin telah memahami segalanya, padahal belum pernah benar-benar merenung.

Aristoteles, dalam Nicomachean Ethics, membedakan antara phronesis (kebijaksanaan praktis) dan sekadar kecerdikan teknis. Seseorang bisa sangat pandai memanipulasi keadaan demi kekuasaan, namun sama sekali tak memiliki phronesis—kemampuan menimbang apa yang benar-benar baik bagi banyak orang dalam jangka panjang. Kuasa tanpa phronesis adalah pisau tajam di tangan yang gemetar.

II. Ajaran Konfusius tentang Junzi dan Kekuasaan

Konfusius, dalam Lunyu (論語), menaruh penekanan besar pada konsep junzi (君子)—manusia unggul yang layak memegang kekuasaan justru karena keutamaan moralnya, bukan karena ambisinya. Ia berkata:

政者,正也

Zheng zhe, zheng ye — “Memerintah berarti meluruskan.” Kekuasaan sejatinya adalah tanggung jawab untuk membetulkan yang bengkok, bukan alat pemuas ego. Ketika yang memerintah sendiri tak lurus, betapa pun rakyat berusaha, arah negeri akan tetap miring.

Mencius (Mengzi), murid tradisi ini, bahkan lebih tegas: seorang penguasa yang mengabaikan kesejahteraan rakyatnya kehilangan Tianming—mandat langit. Kekuasaan, dalam pandangan ini, bukan hak yang melekat abadi, melainkan pinjaman yang bisa dicabut ketika penguasa gagal menjalankan kebijaksanaan.

III. Sufi: Kuasa sebagai Ujian, Bukan Anugerah

Dalam tradisi Sufi, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memperingatkan bahaya al-jahl al-murakkab—kebodohan berlapis, yaitu tidak tahu namun juga tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ini adalah bentuk kebodohan paling berbahaya, sebab ia menutup pintu bagi nasihat dan koreksi.

Rumi, dalam Matsnawi, menuliskan tentang seorang raja yang dikelilingi penjilat, kehilangan kemampuan mendengar suara jujur:

در میان بندگان، آن را که خاست جان فزاید، جان فزودن کار اوست

Dar miyan-e bandegan, an ra ke khast / Jan fazayad, jan fazudan kar-ost “Di antara para hamba, yang bangkit dengan tulus—hidup akan bertambah melaluinya, sebab menumbuhkan kehidupan adalah tugasnya.”

Rumi menegaskan: kepemimpinan sejati diukur dari seberapa besar ia menumbuhkan kehidupan orang lain, bukan seberapa besar ia mengumpulkan pujian bagi dirinya sendiri. Kekuasaan yang dikelilingi kepalsuan akan kehilangan kemampuan menumbuhkan apa pun kecuali kehancurannya sendiri.

IV. Stoisisme: Kekuasaan sebagai Beban Moral

Marcus Aurelius, seorang kaisar yang menuliskan Meditations bukan untuk dibaca publik melainkan sebagai renungan pribadi, menulis:

“Waste no more time arguing what a good man should be. Be one.”

Bagi Stoa, kekuasaan tanpa disiplin batin adalah bahaya besar, sebab ia memperbesar setiap cacat karakter menjadi bencana publik. Epictetus mengingatkan bahwa yang benar-benar dalam kendali kita hanyalah penilaian, kehendak, dan tindakan kita sendiri—namun ironisnya, mereka yang berkuasa sering justru kehilangan kendali atas hal-hal itulah, karena dikelilingi oleh kemewahan yang membutakan penilaian.

V. Vedanta dan Bhagavad Gita: Ketidaktahuan sebagai Sumber Penderitaan

Dalam Bhagavad Gita, konsep avidya (अविद्या)—ketidaktahuan mendasar tentang hakikat diri dan realitas—dianggap sebagai akar segala penderitaan. Krishna berkata kepada Arjuna:

न हि ज्ञानेन सदृशं पवित्रमिह विद्यते

Na hi jñānena sadṛśaṁ pavitram iha vidyate “Sesungguhnya tiada yang lebih mensucikan di dunia ini selain pengetahuan sejati.”

Ketika kekuasaan berada di tangan yang dikuasai avidya, bukan hanya pemimpin itu yang menderita—seluruh sistem yang bergantung padanya ikut terseret dalam kegelapan yang sama.

VI. Arjunawiwaha: Keutamaan yang Diuji sebelum Diberi Kuasa

Dalam kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Arjuna tidak diberi kesaktian atau kedudukan secara instan. Ia harus menjalani tapa yang panjang, diuji oleh godaan para bidadari, sebelum akhirnya dianggap layak menerima senjata dan restu para dewa untuk mengalahkan Niwatakawaca. Pesannya jelas: kekuasaan dan kekuatan sejati hanya pantas diberikan kepada mereka yang telah teruji batinnya—bukan kepada yang sekadar berambisi memilikinya.

Kisah ini menjadi cermin pahit bagi zaman kita: berapa banyak yang naik ke singgasana tanpa pernah menjalani tapa semacam itu—tanpa pernah diuji kerendahan hatinya, tanpa pernah dipaksa berhadapan dengan keterbatasan dirinya sendiri?

VII. Serat Kalatidha: Zaman Edan dan Pilihan untuk Tetap Eling

Pujangga Ranggawarsita, dalam Serat Kalatidha, menuliskan tentang zaman edan—zaman gila, ketika yang tak ikut gila justru dianggap aneh, namun yang paling selamat adalah mereka yang tetap eling lan waspada (ingat dan waspada):

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni Boya kaduman melik, kaliren wekasanipun Ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali Luwih begja kang eling lan waspada

“Menyaksikan zaman gila, sulit bagi budi untuk memilih. Ikut gila tak sanggup hati, namun jika tak ikut bertindak, tak kebagian rezeki, kelaparan akhirnya. Namun atas kehendak Tuhan, sebahagia apa pun mereka yang lupa diri, jauh lebih berbahagia mereka yang tetap ingat dan waspada.”

Ranggawarsita menulis ini di tengah keruntuhan moral zamannya sendiri—ketika kekuasaan berpindah tangan ke mereka yang tak lagi menghargai kebijaksanaan leluhur. Namun ia tak menyerah pada sinisme. Ia memilih eling—kesadaran yang terus terjaga—sebagai satu-satunya jangkar yang tersisa.

VIII. Frankl: Makna di Tengah Absurditas Kekuasaan yang Kejam

Viktor Frankl, yang menyaksikan langsung bagaimana kekuasaan tanpa nurani dapat merenggut jutaan nyawa, menuliskan dalam Man’s Search for Meaning bahwa yang tak bisa dirampas dari manusia adalah kebebasan untuk memilih sikapnya terhadap keadaan—termasuk keadaan yang diciptakan oleh mereka yang berkuasa tanpa kebijaksanaan.

Ini bukan ajakan untuk pasrah pada ketidakadilan, melainkan pengingat bahwa harapan dan tanggung jawab moral tetap bisa dijaga, bahkan ketika struktur kekuasaan di atas kita telah rusak.

Penutup: Kembali ke Sumur Ngadirojo

Desa Kertapati akhirnya bangkit kembali—bukan melalui pemimpin baru yang lebih cerdik, melainkan melalui kesepakatan warga untuk kembali pada rembug desa, musyawarah yang melibatkan banyak kepala, bukan satu tangan yang tergesa. Mereka menggali kembali sumur lama, mengikuti nasihat para tetua yang dulu diabaikan.

Memayu hayuning bawana—menjaga dan memperindah dunia—bukanlah tugas satu orang yang duduk di singgasana, melainkan tanggung jawab kolektif yang lahir dari kerendahan hati untuk mendengar dan diuji. Kekuasaan yang tak ditopang kebijaksanaan, betapapun kuatnya, hanyalah sumur yang menjanjikan air jernih namun diam-diam meracuni sumbernya sendiri.

Dan bagi kita yang menyaksikan zaman ini, satu-satunya jangkar yang tersisa adalah yang selalu diwariskan leluhur Jawa: eling lan waspada—tetap ingat, tetap waspada, tetap menjaga nyala akal sehat, bahkan ketika dunia di sekeliling kita memilih untuk padam.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar