Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudahLanjutkan membaca “Tanah, Leluhur dan Dewata”

Sia-Sia Saja

Alkisah seorang perempuan tua di sebuah desa yang menjual sebidang tanah kecilnya untuk membeli 4 buah gelang emas. Dua gelang di masing-masing tangannya tampak bergemerlapan. Dengan gembira ia berkeliling desa dengan memamerkan gelang-gelang emasnya, ia merasa amat bangga. Namun tak lama berselang, kebanggaannya berganti kekecewaan. Jangankan untuk mengagumi gelangnya, bahkan tidak ada satu pun wargaLanjutkan membaca “Sia-Sia Saja”

Menabur Garam Ke Lautan

Tentunya Anda pasti sudah paham jika saya mengutip salah satu peribahasa ini, menabur uang, eh…, garam ke lautan – bermakna memberikan sesuatu pada yang memiliki lebih banyak daripada kita. Dan percayalah, lautan memang memiliki garam lebih banyak daripada yang ada di dapur kerajaan sekali pun, apalagi dapur kita. Pagi ini saya membaca tulisan “Anggaran Beramal”Lanjutkan membaca “Menabur Garam Ke Lautan”

Sebuah Hidup akan Kesempurnaan

Adakah di sini sebuah jalan di mana kita dapat mengakhiri konflik dan penderitaan tanpa menghancurkan kecerdasan yang kreatif dan keutuhan yang sempurna? Dapatkah bisa hadir kehidupan yang nir pilihan, itu dia, dapatkah di sini ada sebuah aksi tanpa keinginan penyangkalan atau agresif? Dapatkah hadir tindakan yang begitu spontan dan semuanya itu bebas dari konflik yangLanjutkan membaca “Sebuah Hidup akan Kesempurnaan”

Pilihan Dharmaraja

Suatu ketika Yaksha (mahluk setengah dewa) mencegat dan menghentikan Pandawa bersaudara ketika hendak minum air dari sebuah danau. Satu per satu para Pandava yang datang bergiliran mendapatkan pertanyaan dari Yaksha, dan karena tidak mampu menjawab dengan tepat, maka satu per satu mereka mati. Datanglah Dharmaraja yang paling sulung di antara kelima Pandawa terakhir kali. DanLanjutkan membaca “Pilihan Dharmaraja”

Gerbang Sebuah Kerajaan

Zaman dahulu kala, dikisahkan hiduplah seorang raja yang bergelar Satya Wratha – yang bermakna kebenaran adalah jalan, tujuan dan guru kehidupannya. Hidup dalam kebenaran memberikannya sebuah kehidupan yang berbahagia dengan memberikan segenap perhatiannya pada kebenaran. Suatu pagi, beberapa saat sebelum fajar merekah di ufuk Timur, sekitar waktu Brahmamuhurta (waktu yang dipersembahkan bagi Tuhan melalui meditasi),Lanjutkan membaca “Gerbang Sebuah Kerajaan”

Percakapan Si Bodoh (bag. I)

Setiap orang mungkin tahu bahwa sesungguhnya dia tidaklah begitu bodoh, walau tentu ia bukan juga dikategorikan sebagai makhluk yang cerdas. Namun karena beberapa hal, dia memiliki tempat tertentu di masyarakat, sebutlah ia sebagai si bodoh. Hari ini kebetulan si bodoh akan diwawancarai oleh seorang wartawan pemula (sebenarnya karena baru pertama kali terjun ke lapangan untukLanjutkan membaca “Percakapan Si Bodoh (bag. I)”

Mencari Titik Pandangan Tuhan

Terkisahlah empat orang sahabat karib yang memulai usahanya untuk berdagang kapas. Usaha mereka maju, kini mereka memiliki gudang sendiri untuk menyimpan kapas-kapas mereka dalam jumlah besar sebelum disalurkan ke pembeli atau pedagang lainnya. Usaha mereka cukup lancar hingga suatu ketika, tampaknya kapas-kapas yang mereka simpan di gudang mengundang si hewan pengerat tikus untuk datang, danLanjutkan membaca “Mencari Titik Pandangan Tuhan”

Taneshah Bharata oleh Tenali Ramakrishna

Suatu ketika Raja Taneshah dari Delhi meminta kehadiran 8 orang pujangga termasyhur dari wilayah Vijayanagar di istananya. Beliau meminta agar kedelapan pujangga dan penyair ini menguraikan secara terperinci apa saja keistimewaan yang terdapat dalam kisah Mahabarata. Maka diuraikan satu per satu keindahan dalam kisah Mahabarata oleh para penyair ini pada Taneshah. Tampaknya Taneshah begitu tertarikLanjutkan membaca “Taneshah Bharata oleh Tenali Ramakrishna”