Mengunjungi XT Square

Ada sebuah pusat wisata budaya, kuliner dan belanja baru di Yogyakarta (mungkin tidak terlalu baru), yang dibuka pada pertengehan bulan Desember ini; XT Square (belum memiliki situs web resmi, tapi dapat ditemukan di foursquare). Malam ini di antara hujan rintik, saya sempat mengunjunginya setelah menikmati jagung bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Awalnya raguLanjutkan membaca “Mengunjungi XT Square”

Sebelumnya, Saya Tidak Percaya UFO Ada

Mungkin Anda sebagaimana saya juga adalah penggemar novel fantasi ilmiah tentang penjelajahan angkasa luar, bertemu mahluk dari ektreterestrial dan sebagainya, termasuk kendaraan antar galaksi mereka yang dikenal luas sebagai UFO, atau mungkin umum disebut “the flying saucer” – si piring terbang. Meskipun laporan tentang keberadaan si UFO sudah ada sejak milenium yang lalu, termasuk hinggaLanjutkan membaca “Sebelumnya, Saya Tidak Percaya UFO Ada”

Sekadar Menengok Jogja Java Carnival

Malam ini saya iseng menengok Jogja Java Carnival. Hanya sekadar ingin tahu seperti apa, karena tahun depan mungkin saya tidak bisa melihatnya lagi. Ternyata lumayan seru juga, mengingatkan saya pada karnival Rio de Jenairo di Brazil, bahkan musiknya pun agak mirip dengan bernada samba itu. Ini karnival yang menyenangkan, hanya saja memang susah mendapatkan tempatLanjutkan membaca “Sekadar Menengok Jogja Java Carnival”

Bernostalgia Dengan Rembulan Raksasa

Yogyakarta semenjak kemarin sore diguyur hujan lebat dengan puluhan rangkaian petir di langit, semuanya gelap, dan saya merebahkan diri di dalam kamar yang gelap. Saya merasa ide saya untuk melihat bulan malam ini akan sia-sia. Entah berapa lama sore itu saya terlelap, dan terbangun cukup malam karena lambung saya mulai merintih. Seperti hewan nokturnal yangLanjutkan membaca “Bernostalgia Dengan Rembulan Raksasa”

Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan

Kakiku menapak kembali saat malam berhembus hangat Pandangku mengabur tertutup selaksa keraguan Adakah napas juga telah berpaut dengan ketidakberdayaan Sehingga gita malam tak lagi hinggap hingga ke sudut perhatianku Awan tipis tergopoh riang Tak acuh akan akan ego-ego rendah di bawah yang tak mampu menyentuh hatinya Membawa selapis tipis penghilang dahaga Yang dikumpulkan bagi segenapLanjutkan membaca “Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan”

Siulan Malam

Jangan mencari karena kutakkan mendera Jangan sembunyi karena kutakkan melirik Jangan berlari karena kutakkan memikul Jangan terlelap karena kutakkan tak sekejap Aku suara di antara setiap duka, mengapa juga engkau tetap cari Aku tangis dari setiap rintihan penyesalan, jangan dengar detak jantungku Aku muram yang menjelma kelabu, maka langit tak lagi peduli pada kita AkuLanjutkan membaca “Siulan Malam”