Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudahLanjutkan membaca “Tanah, Leluhur dan Dewata”

Haruskah Diaspal?

Malam itu Nang Lecir bersuara lantang di forum rembuk desa, dia adalah yang mewakili sedikit dari segelintir orang yang menyatakan tidak pada wacana bahwa jalan persawahan mereka akan diaspal. Sedikit aneh memang, karena umumnya sudah banyak sawah di desa-desa tetangga yang memiliki jalan utama yang sudah diaspal, dan hal ini memudahkan transportasi keluar masuk persawahan.Lanjutkan membaca “Haruskah Diaspal?”

Nang Olog tak Punya yang Sukla

Dalam budaya Bali dikenal kata/istilah sukla, yang berarti sesuatu yang masih murni/baru. Semisal buah yang baru dipetik kemudian digunakan dalam persembahyangan, maka buah itu disebut sukla. Kebalikannya adalah carikan, yaitu sesuatu yang sudah bekas, semisal nasi yang sudah dimakan, sisanya disebut carikan. Pengertian sukla dalam budaya kemudian meluas. Seperti piring sukla, atau bokoran sukla, gelasLanjutkan membaca “Nang Olog tak Punya yang Sukla”