Percakapan Si Bodoh (Bag. IV)

Setelah dua puluh menit berkuda, melewati padang rumput dengan perpaduan antara warna langit yang mulai menjingga dan domba-domba yang nyaris seperti gerumulan beribu kapas putih di antara pandangan mata. Dia masih ragu, dan melihat kembali peta lusuh dan kompas tua yang diberikan sebagai bagian dari kesepakatan kali ini, tentu saja di benaknya dia masih merasaLanjutkan membaca “Percakapan Si Bodoh (Bag. IV)”