Di Pucuk Kesendirian

Ada kesunyian mencakup nan mendekap erat sayap-sayap kecilnya, angin pun enggan menunjuk cakrawala yang telah ia benamkan dalam mimpi-mimpi tak terungkapkan. Aku mendengar rayuan sunyi mengantarkan buluh-buluh kehidupan yang telah menua di antara ranting-rantingnya, sebuah gita yang tertawan oleh canda di balik kemesraan yang sirna. Kini, adakah kesendirian meruam sunyi di antara kelembutan sayap-sayap mungilnya?Lanjutkan membaca “Di Pucuk Kesendirian”

Percakapan Si Bodoh (bag. II)

Pertama-tama ini tidak berhubungan dengan episode “Percakapan Si Bodoh – Bagian Pertama”, namun jika Anda tertarik untuk menghubungkannya, saya rasa saya tidak dapat melarangnya. Karena mungkin ada beberapa kisah orang bodoh di blog ini, dan tidak semuanya saling berhubungan. Namun jika Anda percaya setiap insan di dunia saling terhubungkan dalam arti tertentu, tentu saja ituLanjutkan membaca “Percakapan Si Bodoh (bag. II)”

Sang Permulaan

Mungkin inilah kisah yang mendahului semua tulisan terbaruku setelah masa-masaku meninggalkan dunia sastra yang umum diperbincangkan, seakan mencari sebuah Solitudine fortezza yang kini menjadi bagian dari sebuah asimilasi bentuk yang sama sekali baru dalam ke bentuk sastraku. Ini sepenggal kisah antara yang menjadi yang awal…, Pemikiran awal … Terkadang aku menemukan banyak hal yang sulitLanjutkan membaca “Sang Permulaan”

Petang dan Rembulan

Aku ada dalam sebuah suasana yang tak terkata, menawan hati dalam temaram membuai hingga ke dalam sanubari. Petang ini menampakkan langit nan galang dan gulungan awan yang seputih siannya walau berbalut dalam kelam yang malu-malu. Pucuk dan batang pepohonan telah menggelap, namun entah mengapa deru ringan bersayupan di dalam hatiku seakan memanggil kembali apa yangLanjutkan membaca “Petang dan Rembulan”

Pintu Sebuah Rumpun

Saya berdiri menatap sesuatu yang mulai pudar di kejauhan sana, dengan perlahan bayang-bayang semakin memanjang menyelimuti daratan yang adalah persawahan sederhana dengan batang-batang pada yang telah cukup berusia. Beraneka burung senja dalam kawanannya kembali ke pucuk-pucuk tertinggi di mana kehangatan angin masih mampu mengangkat sayap-sayap mereka, celoteh-celoteh dalam bahasa yang tak termuat dalam logika. TepatLanjutkan membaca “Pintu Sebuah Rumpun”