Segara Kalbu

Ragaku adalah perahu Yang tak henti mengaru-aru Di bawah bentang segala yang biru Napasku menjadi lagu Menarik dan menguak segala pilu Merajut luka laksana beludru Air mata yang tersipu malu Aku melihat segara kalbu Di atas angin yang tak pernah layu Anak-anak manusia asyik membubu Sebagaimana moyang mereka sejak lalu Demi seribu, seribu, seribu deruLanjutkan membaca “Segara Kalbu”

Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan

Kakiku menapak kembali saat malam berhembus hangat Pandangku mengabur tertutup selaksa keraguan Adakah napas juga telah berpaut dengan ketidakberdayaan Sehingga gita malam tak lagi hinggap hingga ke sudut perhatianku Awan tipis tergopoh riang Tak acuh akan akan ego-ego rendah di bawah yang tak mampu menyentuh hatinya Membawa selapis tipis penghilang dahaga Yang dikumpulkan bagi segenapLanjutkan membaca “Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan”

Siulan Malam

Jangan mencari karena kutakkan mendera Jangan sembunyi karena kutakkan melirik Jangan berlari karena kutakkan memikul Jangan terlelap karena kutakkan tak sekejap Aku suara di antara setiap duka, mengapa juga engkau tetap cari Aku tangis dari setiap rintihan penyesalan, jangan dengar detak jantungku Aku muram yang menjelma kelabu, maka langit tak lagi peduli pada kita AkuLanjutkan membaca “Siulan Malam”

Batik Dari Cinta Satu Bait

Senin siang saya didatangi oleh Ibu Kost, beliau membawa satu buah amplop ukuran folio ganda dan tampak begitu antusias. Pertama kata-kata beliau yang saya tangkap adalah “Ada kiriman…” saya kemudian pikir kenapa kiriman bukannya surat? Lalu lanjutannya, “… dari Pekalongan.” Lalu dengan cepat pikiranku beralih, ah iya, itu sudah jelas. Aku membaca alamat pengirimnya dariLanjutkan membaca “Batik Dari Cinta Satu Bait”

7 Untai Awan Kosong

Bait yang tak pernah ada dasar asa terliar sekali pun Berjingkrak riang bak cahaya tajam di kelebatan sukma Turun senja menguak muram sirna semua 7 untai awan serentak bisu dalam kosong Suka, duka, tawa, sedih, yang hendak menyongsong Remuk redam bersama ruang waktu menyisakan hampa Baru cinta dapat tumbuh dan mengisi dalam nada napas kebebasan

Alfa – Omega

Aku adalah aku… Rerumputan yang menekuk terpatahkan mentari adalah aku… Kehangatan yang menyeruak di pagi hari dan dingin yang menyelimuti di kala malam adalah aku… Akulah hujan yang membasahi dan terik yang mengeringkan… Aku sapi-sapi yang merumput dan burung-burung yang beterbangan… Aku, setiap keelokan yang merekah dan setiap kuntum yang melayu… Akulah cahaya dan jugaLanjutkan membaca “Alfa – Omega”

Gatha Arya Maitreya

Bagaimana kesadaran dan kebijaksanaan dapat berbeda…? Bak si riak gelombang dan sang air yang mereka satu sejatinya. Janganlah membedakan antara pot dan mangkuk emas, Karena pada hakikatnya emas pada keduanya sama jua. Seluruh hakikat kesejatian diri hanyalah tiga dikali tiga. Seuntai serat tipis atau tanduk siput kecil tampak laksana busur nan kokoh bagi mereka yangLanjutkan membaca “Gatha Arya Maitreya”

Menjadi Bebas dan Berkarya

Ketikan orang hendak menuangkan kata-katanya ke dalam tulisan, hendaknya ia menjadi bebas sepenuhnya, dalam pemahaman bebas yang sesungguhnya. Tidak hanya dalam dunia menulis hal ini terjadi, namun dalam berbagai karya yang lainnya. Sebagaimana para pelukis di zaman Tiongkok Kuno, diceritakan mampu duduk berhari-hari di hadapan sebuah pohon sebelum ia melukiskan pohon itu. Ia mengamati denganLanjutkan membaca “Menjadi Bebas dan Berkarya”