My Bleeding Heart

Ah, my “bleeding heart”, it’s so wonderful! – Jika saya berkata demikian banyak orang yang mungkin salah sangka, bahkan sepertinya terdengar seperti masochist saja. Dulu nenek mengatakan pada ibu saya bahwa namanya adalah “Kembang Nyonya”, ya memang demikian dikenal umum, di Jawa mungkin dikenal dengan nama “Kembang Nona Makan Sirih“. Berasal dari genus Clerodendrum denganLanjutkan membaca “My Bleeding Heart”

Menyandi Hati Menyirat Sari

Dulu, pernah kubisikkan padamu, sederetan desah nirlanggam dari kalbuku – sebagaimana jua mereka telah terwariskan padaku oleh para pengelana yang telah lama menyusur cakrawala kata adimakna. Saya lupa kapan diskusi itu berlangsung, karena saya jarang sekali kembali menulis hal yang sama saat ini. Karena puisi itu menyandikan isi hati dan hanya mengungkapkan sedikit sarinya, makaLanjutkan membaca “Menyandi Hati Menyirat Sari”

Bahasa Bunga Mawar

Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa saya bukan tipe orang yang romantis. Tapi setidaknya saya tahu jika seseorang memberikan saya hadiah setangkai atau beberapa tangkai bunga, ada maksud apa di baliknya. Bukan artinya maksud yang terselubung, namun kata-kata apa yang tidak ia bisa sampaikan hingga harus hadir melalui bunga-bunga. Anda mungkin sering mendengar bahwa mawar adalahLanjutkan membaca “Bahasa Bunga Mawar”

Percakapan Si Bodoh (Bag. III)

Saat itu pertengahan musim gugur, sore dengan suhu udara dan kelembaban yang seakan bersaing menuju tangga terbawah, matahari tampak meninggalkan singgasana keemasannya nan jauh di Barat Daya. Daun maple pun sudah tidak lagi menyisakan kecerahan di awal musim. Dua orang pemuda sedang berjalan menyusuri trotoar kecil di kota kecil mereka. Pemuda pertama berbadan lebih tinggiLanjutkan membaca “Percakapan Si Bodoh (Bag. III)”

7 Untai Awan Kosong

Bait yang tak pernah ada dasar asa terliar sekali pun Berjingkrak riang bak cahaya tajam di kelebatan sukma Turun senja menguak muram sirna semua 7 untai awan serentak bisu dalam kosong Suka, duka, tawa, sedih, yang hendak menyongsong Remuk redam bersama ruang waktu menyisakan hampa Baru cinta dapat tumbuh dan mengisi dalam nada napas kebebasan