Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui: 12 Oktober 2026. Tulisan ini pertama kali saya buat pada 2009, ketika masih menjalani kepaniteraan klinik di bagian pediatri. Dalam sebuah sesi bimbingan, Prof. A. Samik Wahab mengingatkan kami betapa pentingnya ASI bagi bayi dan balita. Saya masih ingat pemandangan di bangsal waktu itu: ibu yang tidak dapat menyusui dan bayi yang tidak mendapat ASI, dengan berbagai sebab. Di sinilah saya belajar bahwa hal yang paling sederhana sering kali justru yang paling mudah terlupakan. Kini isinya saya perbarui dengan bukti terbaru.

Ilustrasi tetesan kolostrum keemasan dikelilingi ikon perisai, molekul, dan sel pelindung dalam warna teal dan krem
Ilustrasi: kolostrum, ASI pertama yang kaya zat pelindung. Dibuat dengan AI untuk legawa.com.

Sebuah Gambaran dari Puskesmas

Bayangkan seorang ibu muda di sebuah Puskesmas di pinggiran Kupang. Bayinya baru berusia dua hari dan ibu itu cemas: ASI-nya baru keluar sedikit, kuning dan agak kental. Seorang tetangga menyarankan agar cairan itu dibuang saja dan bayi diberi susu botol dulu. Ini cerita rekaan sebagai ilustrasi, tetapi situasi serupa sangat nyata di banyak daerah, dari Sragen sampai Banjarmasin. Cairan kuning kental itu adalah kolostrum, dan membuangnya berarti melewatkan bekal imun pertama bayi.

Apa Istimewanya Kolostrum?

Kolostrum (colostrum) adalah ASI yang diproduksi pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Jumlahnya sedikit, tetapi kepekatan zat pelindungnya tinggi. Menurut tinjauan Palmeira dan Carneiro-Sampaio (2016) tentang imunologi ASI, beberapa komponen utamanya adalah:

  • Secretory IgA (sIgA), yang menyusun 80–90% dari seluruh imunoglobulin ASI. Sebagian besar bekerja di permukaan saluran cerna bayi, hanya sekitar 10% yang masuk ke aliran darah. Jadi, perlindungannya terutama bersifat lokal, tepat di tempat kuman biasanya masuk.
  • IgM, imunoglobulin terbanyak kedua pada kolostrum, dan IgG dalam jumlah kecil.
  • Laktoferin dan lisozim, protein dengan sifat antibakteri; laktoferin mencapai sekitar 7 g/L pada kolostrum.
  • Oligosakarida ASI, yang sekitar 22 g/L pada kolostrum, berfungsi sebagai makanan bagi bakteri usus yang baik dan membantu menghalangi kuman menempel pada dinding usus.
  • Sel darah putih, yang jumlahnya paling tinggi pada kolostrum lalu menurun selama bulan pertama.
KomponenKolostrumASI matur
Laktoferin± 7 g/L± 1 g/L
Oligosakarida± 22 g/L± 12 g/L
Sel darah putihTertinggiJauh lebih sedikit
Perbandingan sebagian komponen imun kolostrum dan ASI matur. Sumber: Palmeira & Carneiro-Sampaio, 2016.

Bayi baru lahir belum memiliki sistem imun yang matang. Kolostrum dan ASI selanjutnya berfungsi seperti “pinjaman” pertahanan dari ibu sampai sistem imun bayi mampu bekerja sendiri. Karena itu, ASI sering disebut sebagai vaksin alami pertama, meskipun ia tentu tidak menggantikan imunisasi.

Manfaat ASI yang Didukung Bukti

Menurut lembar fakta WHO tentang pemberian makan bayi dan anak (4 Agustus 2026), menyusui membantu mencegah pneumonia dan diare, dan bayi yang tidak disusui atau hanya disusui sebagian menghadapi risiko kematian akibat penyakit infeksi yang lebih tinggi. Anak yang disusui juga lebih kecil kemungkinannya mengalami kelebihan berat badan dan obesitas, dan bagi ibu, menyusui yang lebih lama berkaitan dengan risiko kanker payudara dan kanker ovarium yang lebih rendah serta jarak kehamilan yang lebih panjang. WHO memperkirakan hampir 400.000 kematian anak di bawah lima tahun setiap tahun dapat dicegah dengan pemberian ASI yang optimal.

Semua manfaat itu tersedia secara alami dan tanpa biaya pembelian, sehingga ASI memang nutrisi terbaik yang murah meriah, sebagaimana saya tulis di versi awal artikel ini.

Bagaimana dengan Alergi dan Asma?

Dalam tulisan 2009 saya menyebut bahwa ASI eksklusif melindungi bayi dari alergi, bahkan mengaitkan asma pada bayi tiga bulan dengan riwayat ASI. Setelah memeriksa bukti yang lebih baru, bagian ini perlu diluruskan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Lodge dan kawan-kawan (2015) di Acta Paediatrica menemukan bahwa:

  • ada bukti yang cukup bahwa menyusui melindungi dari asma pada usia 5–18 tahun;
  • bukti perlindungan terhadap eksim (usia ≤ 2 tahun) dan rinitis alergi (usia ≤ 5 tahun) lebih lemah dan berkualitas rendah;
  • tidak ditemukan hubungan antara menyusui dan alergi makanan.

Artinya, ASI bukan jaminan anak bebas alergi, dan orang tua tidak perlu menyalahkan diri bila anak yang disusui eksklusif tetap mengalami alergi. Alasan untuk menyusui tetap kuat karena manfaat lainnya, tetapi klaim “mencegah alergi” sebaiknya disampaikan dengan hati-hati.

Rekomendasi dan Situasi di Indonesia

WHO dan UNICEF merekomendasikan menyusui dalam satu jam pertama setelah lahir, ASI eksklusif selama enam bulan tanpa makanan atau minuman lain, lalu dilanjutkan bersama makanan pendamping yang memadai sampai usia dua tahun atau lebih. Menurut WHO Indonesia (Agustus 2025), pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah enam bulan meningkat dari 52% pada 2017 menjadi 66,4% pada 2024. Kemajuan ini patut disyukuri, tetapi masih ada pekerjaan rumah, terutama dukungan konseling menyusui yang terampil, penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui di fasilitas bersalin, serta kebijakan ramah keluarga di tempat kerja seperti ruang laktasi.

Untuk pembahasan istilah ASI eksklusif dan PASI serta kerangka hukumnya (PP 28 Tahun 2024), silakan baca artikel pendamping ASI, Hak Pertama Bayi. Untuk konteks Pekan Menyusui Sedunia, lihat tulisan Pekan Menyusui Sedunia 2026, dan untuk bayi kuning pada bayi yang disusui, baca Menyusui, Ikterus dan Taurin.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Ibu: jangan membuang kolostrum. Susui bayi sesegera mungkin setelah lahir dan sesering bayi mau.
  • Keluarga: dukungan praktis dan emosional dari suami dan keluarga besar sangat menentukan, sering lebih dari informasi teknis.
  • Ibu yang kesulitan menyusui: temui bidan, dokter, atau konselor laktasi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Kesulitan menyusui umumnya ada jalan keluarnya.
  • Tenaga kesehatan: berikan informasi yang akurat dan tanpa menghakimi, baik kepada ibu yang menyusui maupun yang tidak dapat menyusui.

Dahulu saya menulis bahwa menyusui adalah tugas ibu yang tidak tergantikan. Kini saya lebih memilih berkata bahwa menyusui adalah tugas kita bersama: ibu yang menyusui, dan seluruh lingkungan yang membuatnya mungkin.


Rujukan

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca