A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Facebook adalah salah satu jejaring sosial di internet yang paling terkenal saat ini. Bahkan walau orang tidak punya email, bisa jadi dia sudah punya akun di facebook. Yah, banyak orang getol dengan facebook, sampai-sampai dulu sempat tersebar isu bahwa facebook bisa menggusur banyak fitur lain di internet seperti forum, milis, dan blog.

Harus diakui bahwa facebook telah menghadirkan layanan jejering sosial yang paling mudah diakses saat ini dan paling menyenangkan, orang sekadar nimbrung, berkenalan, bermain game daring, atau mengikuti forum atau group yang mirip forum dan group lain di internet.

Saya bukanlah penggemar berat facebook, walau saya punya akun facebook saya. Jejering sosial hanya menjadi sebatas keperluan, semisal ada undangan dari sahabat jauh yang tidak mungkin mengirim lewat pos, maka undangan dikirim lewat facebook sehingga lebih menghemat waktu dan biaya.

Sayangnya isu keamanan di facebook sendiri tidak semakin membaik, walau tentu ini bukan kesalahan si empunya facebook itu (maksudnya penyedia jasa). Keamanan dunia internet selalu berperang melawan berbagai ancaman seperti virus dan pencurian identitas yang sering melompat-lompat riang di halaman jejaring sosial.

Saya baru saja bermain-main ke forum antivirus avast, dan menemukan pembicaraan yang berjudul “Virus in Facebook”. Orang menjadi khawatir karena keamanan kita bisa terancam di mana saja. Pencurian identitas mungkin bukan masalah bagi saya yang bukan siapa-siapa ini. Namun bagi mereka yang berusaha lewat dunia maya, memiliki lalu lintas perbankan secara daring, melakukan transaksi jual beli di internet, atau pun para tokoh publik, pencurian identitas akan sangat merugikan. Kalau saya paling khawatirkan masalah serangan virus yang bisa menghancurkan zero boot di diska keras.

Sebenarnya ancaman seperti ini adalah masalah klasik yang selalu muncul berulang-ulang. Hal sama pernah mendera situs jejaring sosial lainnya, dan tunggu tidak hanya situs jejaring sosial, situs-situs lainnya berpotensial terkena ancaman yang sama.

Biasanya mereka akan menyusup melalui aplikasi-aplikasi di facebook. Jika kita pernah menerima undangan dari teman, “ayo bermain XYZ di facebook” dan menyetujuinya, kita yang buta rekayasa perangkat lunak akan sulit menduga apakah itu aplikasi yang aman atau dia telah memasang semacam keylogger ke dalam komputer kita. Jadi apakah kamu si macan aplikasi facebookers yang menderita infeksi sejuta keylogger?

Beberapa waktu yang lalu seorang teman saya mengirimi saya email dan menanyakan mengapa facebook mengiriminya email untuk reset ulang kata sandi, padahal dia tidak pernah meminta. Saya hanya berkata hapus saja, dan tidak usah dipikirkan. Ya memang, terkadang beberapa serangan semacam itu bisa terjadi, walau bisa jadi juga itu ulah orang yang iseng membuka paksa akun facebook-nya.

Jadi memang harus ada universal precautions bagi pengguna facebook, seperti tidak menerima teman yang tidak dikenal, apalagi tidak ada fotonya, atau fotonya mencurigakan karena menggunakan fotomu sendiri, he he. Pastikan aplikasi yang digunakan aman, dan ingat untuk membersihkan aplikasi yang sudah lama tidak diperdayakan lagi. Aplikasi-aplikasi mungkin ada yang terinfeksi virus, perangkat mata-mata atau perangkat jahat lainnya. Memang menjadi tanggung jawab si empunya akun untuk lebih waspada, lha facebook kan tidak bisa dituntut kalau kita terinfeksi virus karena kita menyetujui penggunaan suatu aplikasi oleh kesadaran kita sendiri.

Aih…, terkadang aku berpikir terlalu repot mengurus sebuah jejaring sosial seperti itu, apalagi dengan jatah internet yang pas-pasan. Lebih baik menggunakan jejaring sosial buatan sendiri seperti blog ini, bisa memastikan keamanannya sendiri, mengelola sendiri, menampilkan sesuai selera sendiri dan hemat jatah internet.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar dinda27
    dinda27

    Terima kasih atas masukkannya.Salam.

    1. Avatar Cahya

      Mbak Dinda,Saya yakin pihak/pemilik Facebook pasti berusaha memperbaiki sistem keamanan mereka :)Tapi kita juga mesti hati-hati, he he…, mungkin karena terlalu hati-hati banyak temen-temen yang protes saya tidak menerima invitasi aplikasi mereka di facebook.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca