Ringkasan: Brokoli, tomat, dan bawang putih sering disebut penghalau kanker. Bukti terkini menunjukkan perlindungan datang dari pola makan secara keseluruhan, bukan dari satu makanan ajaib. Artikel ini menimbang tujuh makanan dari daftar populer, bahaya suplemen antioksidan dan daging olahan, serta langkah praktis dengan pangan lokal Indonesia.

Ilustrasi meja kayu dengan aneka makanan utuh: brokoli, tomat, bawang putih, stroberi, wortel, bayam, nasi merah dan biji-bijian, serta tempe dan kacang-kacangan
Ilustrasi (dibuat dengan AI): pola makan utuh lebih penting daripada satu makanan tunggal.

Pak Hendra (nama samaran), 56 tahun, sopir antarkota di Lampung, membaca daftar “makanan antikanker” di grup WhatsApp keluarga. Sejak itu setiap pagi ia minum jus tomat dan kapsul bawang putih. Sarapannya tetap lontong dengan sosis goreng, minumnya teh manis dua gelas, dan malam hari sate kambing, sementara sayur nyaris tak tersentuh. Ia bertanya kepada saya, “Dok, kalau saya rajin makan tomat dan bawang putih, aman dari kanker, kan?”

Pertanyaan Pak Hendra (ilustrasi) adalah alasan tulisan ini diperbarui. Versi awalnya, terbit Desember 2009, adalah adaptasi dari sebuah artikel populer berbahasa Inggris tentang tujuh makanan yang disebut membantu menghalau kanker: bawang putih, brokoli, tomat, stroberi, wortel, bayam, dan biji-bijian utuh. Daftar seperti itu tetap menarik, tetapi cara para peneliti memandang pertanyaannya sudah bergeser.

Dari “makanan ajaib” ke pola makan

Pada 2018, World Cancer Research Fund (WCRF) dan American Institute for Cancer Research (AICR) menerbitkan Laporan Ahli Ketiga mereka. Ringkasan dari lembaga kanker Ontario menyebut pergeseran utamanya: dampak terbesar pada profil risiko seseorang datang dari pola diet dan aktivitas fisik secara bersama-sama, bukan dari makanan tunggal (Cancer Care Ontario, t.t.). Rekomendasi diet intinya (National Cancer Institute, t.t.; WCRF/AICR, 2018):

  • jadikan biji-bijian utuh, sayuran, buah, dan kacang-kacangan sebagai bagian besar menu harian (Cancer Care Ontario menerjemahkannya sebagai setidaknya lima porsi sayuran bukan bertepung dan buah per hari);
  • batasi fast food dan makanan olahan lain, serta daging merah dan daging olahan, dengan daging olahan dikonsumsi sangat sedikit bila ada;
  • jangan memakai suplemen untuk pencegahan kanker; cukupi kebutuhan gizi dari makanan.

Berdasarkan artikel di PubMed, dua tinjauan payung tahun 2025 sejalan dengan pergeseran itu untuk kanker payudara. Pola diet “sayur-buah-kedelai” termasuk yang berkaitan kuat dengan insidens kanker payudara yang lebih rendah (estimasi 0,87; IK 95% 0,83–0,92) (Wang et al., 2025, DOI), dan asupan buah dan sayur yang lebih tinggi pada negara berpenghasilan rendah hingga menengah-atas berkaitan dengan odds yang lebih rendah (POR 0,82) (Debela et al., 2025, DOI). Keduanya berasal dari studi observasional, sehingga menunjukkan keterkaitan, bukan bukti sebab-akibat penuh.

Mengapa ini penting di Indonesia

Data GLOBOCAN 2022 mencatat lebih dari 408.000 kasus kanker baru dan sekitar 242.000 kematian di Indonesia, dengan kematian terbanyak akibat kanker payudara, leher rahim, paru, kolorektal, dan hati (Kementerian Kesehatan, t.t.). Di sisi asupan, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 96,7% penduduk usia 5 tahun ke atas kurang mengonsumsi buah dan sayur, sementara 47,5% gemar minuman manis dan obesitas dewasa naik dari 15,4% (2013) menjadi 23,4% (2023) (Metrotvnews.com, 2026). Hanya sekitar 3,3% penduduk yang mengonsumsi sayur dan/atau buah lima porsi atau lebih per hari sesuai anjuran WHO (RRI, 2024).

Tujuh makanan, satu per satu

MakananKlaim pada versi 2009Yang saya temukan pada bukti terkiniKekuatan bukti spesifik*
Biji-bijian utuhSerat dan senyawa pelindungBiji-bijian utuh dan serat makanan menurunkan risiko kanker kolorektal (AICR, t.t.)Lebih kuat
TomatLikopen melawan kanker prostatMeta-analisis 121 studi kohort prospektif: asupan likopen tertinggi berkaitan dengan risiko kanker keseluruhan 5% lebih rendah, hubungan dengan kanker prostat tipis (Balali et al., 2025); meta-analisis lain menemukan asupan likopen lebih tinggi berkaitan dengan risiko kanker prostat lebih rendah (Chen et al., 2015)Terbatas
Brokoli dan sayuran krusiferusSulforafan melindungi dari kankerAsupan sayuran krusiferus sekitar 412,5 g per minggu atau lebih berkaitan dengan risiko kanker kandung kemih lebih rendah, tetapi bukan termasuk temuan berkepastian sedang (Zhang et al., 2025)Terbatas
WortelBeta karoten melindungi selSaya tidak menemukan bukti kuat khusus wortel. Suplemen beta karoten dosis tinggi justru menaikkan risiko kanker paru pada perokok (Albanes et al., 1996)Terbatas
Bawang putihSenyawa sulfur menghentikan zat penyebab kankerTemuan terutama dari sel dan hewan; bukti kuat pada manusia tidak saya temukan. Pedoman WCRF/AICR 2018 menyarankan tidak memakai suplemen untuk pencegahanLemah
Stroberi dan berryAsam ellagat dan antosianinData sebagian besar laboratorium; manfaat realistisnya sebagai bagian dari asupan buahLemah
BayamLutein, folat, dan seratSebagai sayuran hijau ia bagian dari pola sayur; bukti spesifik bayam tidak saya temukanLemah
Tabel 1. Daftar 2009 diperiksa ulang. *Peringkat kekuatan bukti adalah penilaian penulis berdasarkan sumber yang ditelaah, bukan klasifikasi resmi.
Kekuatan bukti spesifik tujuh makananKekuatan bukti spesifik: dari lemah ke lebih kuatBawang putihBayamStroberiWortelBrokoliTomatBiji-bijian utuhLemahLebih kuatPenilaian penulis dari sumber pada Tabel 1; bukan klasifikasi resmi.
Gambar 1. Hanya biji-bijian utuh dan serat yang bukti spesifiknya tergolong lebih kuat.

Pesannya bukan bahwa makanan lain tidak berguna, melainkan bahwa manfaatnya paling masuk akal dibaca sebagai bagian dari pola sayur-buah-biji-bijian, bukan sebagai peluru tunggal. Dan satu hal perlu dikoreksi dari tulisan lama saya: antioksidan dalam makanan tidak sama dengan antioksidan dalam kapsul.

Pelajaran dari beta karoten: suplemen bukan pengganti sayur

Berdasarkan artikel di PubMed, uji acak ATBC melibatkan 29.133 pria perokok berusia 50–69 tahun yang diberi alfa-tokoferol 50 mg, beta karoten 20 mg, keduanya, atau plasebo selama 5–8 tahun. Beta karoten justru dikaitkan dengan kenaikan risiko kanker paru (RR 1,16; IK 95% 1,02–1,33), lebih kuat pada mereka yang merokok minimal 20 batang sehari (RR 1,25), sedangkan alfa-tokoferol tidak berpengaruh. Penulisnya menganjurkan perokok menghindari beta karoten dosis tinggi (Albanes et al., 1996, DOI). Abstrak yang sama menyebut uji CARET menemukan pola serupa. Inilah salah satu alasan pedoman WCRF/AICR berkata: dapatkan nutrisi dari makanan, bukan dari suplemen, untuk pencegahan kanker.

Yang justru lebih jelas: apa yang perlu dikurangi

Versi 2009 sudah menyinggung bahwa ilmuwan lebih tahu apa yang tidak boleh dimakan. Itu tetap benar. Pada 2015, IARC (badan kanker WHO) menggolongkan daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia (Kelompok 1) berdasarkan bukti yang cukup bahwa konsumsinya menyebabkan kanker kolorektal, dan daging merah sebagai kemungkinan karsinogenik (Kelompok 2A). Setiap 50 gram daging olahan yang dimakan per hari meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 18% (IARC, 2015). Kelompok itu menggambarkan kekuatan bukti, bukan besarnya risiko; risiko individual tetap kecil, tetapi naik seiring jumlah yang dimakan. Sosis, nugget, kornet, serta daging yang diasinkan atau diasap termasuk yang perlu dibatasi.

Selain itu, kelebihan lemak tubuh dikaitkan dengan 12 jenis kanker (AICR, t.t.), sehingga mengendalikan berat badan, minuman manis, dan makanan cepat saji sama pentingnya dengan menambah sayur. Menurut ukuran SKI 2023 di atas, itulah titik lemah menu kebanyakan orang Indonesia.

Menerjemahkannya ke dapur Indonesia

  • Sayur di setiap kali makan: bayam, kangkung, daun singkong, sawi, kol, dan brokoli sama baiknya dalam konteks pola makan; targetkan lima porsi sayur dan buah per hari.
  • Biji-bijian dan kacang: nasi merah atau nasi campur jagung, oat, ubi, serta tempe, tahu, dan kacang-kacangan.
  • Kurangi: sosis, nugget, kornet, daging asap atau asin, dan porsi besar daging merah; ganti teh manis dan minuman kemasan manis dengan air putih atau teh tawar.
  • Tomat dan bawang putih tetap boleh: nikmati sebagai bumbu dan lauk dalam masakan, bukan sebagai kapsul atau jus “pelindung”.
  • Jangan berhenti di piring: tidak merokok, bergerak teratur, menjaga berat badan, dan mengikuti skrining kanker sesuai anjuran tenaga kesehatan tidak dapat digantikan oleh makanan apa pun.

Penutup (opini penulis)

Pak Hendra tidak perlu berhenti minum jus tomat. Tetapi ia perlu tahu bahwa tomat bukan tameng, dan bahwa sosis di piringnya mungkin lebih berbicara tentang risiko kankernya daripada jus itu tentang perlindungannya. Daftar “tujuh makanan” memang mudah diingat, tetapi kesehatan jarang bekerja dengan cara itu. Mungkin pesan yang lebih jujur adalah yang paling membosankan: makan lebih banyak yang berasal dari tanaman utuh, kurangi yang diolah berlebihan, dan jangan menunggu suplemen menyelamatkan kebiasaan. Bagian ini pendapat pribadi.

Catatan Transparansi

  • Ini penulisan ulang artikel 13 Desember 2009. Versi lama adalah adaptasi dari sebuah artikel populer berbahasa Inggris; sejumlah klaimnya (misalnya “ratusan studi klinis” tentang brokoli) tidak dapat saya verifikasi sehingga tidak dipakai lagi. Gambar lama dari situs pihak ketiga saya ganti dengan ilustrasi buatan AI.
  • Pak Hendra adalah tokoh ilustrasi, bukan pasien nyata.
  • Peringkat kekuatan bukti pada Tabel 1 dan Gambar 1 adalah penilaian penulis dari sumber yang saya telaah. Pencarian saya tidak sistematis; bukti yang tidak saya temukan tidak berarti tidak ada.
  • Sebagian besar temuan tentang makanan bersifat observasional, sehingga bisa dipengaruhi faktor lain, misalnya orang yang banyak makan sayur cenderung juga tidak merokok dan lebih aktif.
  • Rekomendasi WCRF/AICR 2018 saya baca dari ringkasan pihak kedua (NCI, Cancer Care Ontario, AICR), bukan seluruh laporan; angka lima porsi berasal dari ringkasan Cancer Care Ontario. Uji CARET disebut dari abstrak ATBC, tidak saya baca langsung. Data SKI 2023 dikutip dari pemberitaan yang bersumber dari Kemenkes.
  • Gambar unggulan dibuat dengan AI sebagai ilustrasi, bukan foto.

Referensi

Albanes, D., Heinonen, O. P., Taylor, P. R., Virtamo, J., Edwards, B. K., Rautalahti, M., Hartman, A. M., Palmgren, J., Freedman, L. S., Haapakoski, J., Barrett, M. J., Pietinen, P., Malila, N., Tala, E., Liippo, K., Salomaa, E. R., Tangrea, J. A., Teppo, L., Askin, F. B., . . . Huttunen, J. K. (1996). Alpha-tocopherol and beta-carotene supplements and lung cancer incidence in the Alpha-Tocopherol, Beta-Carotene Cancer Prevention Study: Effects of base-line characteristics and study compliance. Journal of the National Cancer Institute, 88(21), 1560–1570. https://doi.org/10.1093/jnci/88.21.1560

American Institute for Cancer Research. (t.t.). AICR applauds the DGAC for working to develop evidence-based recommendations. https://www.aicr.org/?p=41887

Balali, A., Fathzadeh, K., Askari, G., & Sadeghi, O. (2025). Dietary intake of tomato and lycopene, blood levels of lycopene, and risk of total and specific cancers in adults: A systematic review and dose-response meta-analysis of prospective cohort studies. Frontiers in Nutrition, 12, Article 1516048. https://doi.org/10.3389/fnut.2025.1516048

Cancer Care Ontario. (t.t.). [Ringkasan rekomendasi pencegahan kanker WCRF/AICR 2018]. https://www.cancercareontario.ca/fr/node/57896

Chen, P., Zhang, W., Wang, X., Zhao, K., Negi, D. S., Zhuo, L., Qi, M., Wang, X., & Zhang, X. (2015). Lycopene and risk of prostate cancer: A systematic review and meta-analysis. Medicine, 94(33), Article e1260. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000001260

Debela, M. B., Gonfa, K. B., Hussen, M. M., Zenbaba, D., Kahsay, A. B., Mulugeta, B., Hoque, M., & Abdeta, C. (2025). Breast cancer determinants in low- to upper-middle-income countries: An umbrella review of meta-analyses of observational studies and an urgent call for implementation science. BMC Cancer, 25(1), Article 1096. https://doi.org/10.1186/s12885-025-14499-w

International Agency for Research on Cancer. (2015, 26 Oktober). IARC Monographs evaluate consumption of red meat and processed meat (Siaran pers No. 240). https://www.iarc.who.int/wp-content/uploads/2018/07/pr240_E.pdf

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (t.t.). Kerangka kerja pencegahan dan pengendalian kanker. https://kemkes.go.id/eng/layanan/kerangka-kerja-pencegahan-dan-pengendalian-kanker

Metrotvnews.com. (2026, 11 Juli). Menkes ingatkan pola makan buruk tingkatkan risiko stroke hingga jantung. https://www.metrotvnews.com/read/kM6C4rRo-menkes-ingatkan-pola-makan-buruk-tingkatkan-risiko-stroke-hingga-jantung

National Cancer Institute. (t.t.). WCRF/AICR score. https://epi.grants.cancer.gov/wcrf-aicr-score

RRI. (2024, 20 Juli). Kebiasaan konsumsi buah dan sayur di Indonesia masih rendah. https://rri.co.id/lain-lain/840135/kebiasaan-konsumsi-buah-dan-sayur-di-indonesia-masih-rendah

Wang, Z., Feng, L., Xia, Y., Zhu, Z., Wu, L., & Gao, S. (2025). Risk factors for breast cancer: An umbrella review of observational cohort studies and causal relationship analysis. Frontiers in Oncology, 15, Article 1541233. https://doi.org/10.3389/fonc.2025.1541233

World Cancer Research Fund/American Institute for Cancer Research. (2018). Recommendations and public health and policy implications (Continuous Update Project Expert Report 2018). https://www.wcrf.org/diet-and-cancer/recommendations

Zhang, D., Ren, J., Ye, J., Wu, R., Wang, J., Li, D., Bai, Y., & Han, P. (2025). Bladder cancer risk factors: A comprehensive umbrella review of meta-analyses. International Journal of Surgery, 112(1), 1479–1503. https://doi.org/10.1097/JS9.0000000000003371

Tulisan ini pertama terbit pada 13 Desember 2009 dan diperbarui pada 8 Oktober 2026. Isinya bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

14 tanggapan

  1. Avatar James Riady
    James Riady

    Sekarang roti menjadi hot issue di Amerika ketika org Amerika-pun sekarang ini menjerit: Too Much Bread Improver, Too much Bread softener, Too Much Preservative.

    Pengujian roti di Malaysia menunjukkan bahwa 92% dari roti yang ber-edar (termasuk roti ternama atau roti yang dihidangkan di restoran siap saji) mengandung pengawet hingga 5 kali dari yang dibenarkan oleh undang-undang.
    Diperkira-kan hal yang sama juga terjadi pada industri makanan di Indonesia-pun.

    Di Indonesia makanan basah seperti mie basah, bakso basah, tahu basah, roti, dll, mengandung terlalu banyak pengawet. Dan karena mau murah mereka memakai pengawet yang bukan food grade. Padahal kebanyakan pengawet dihubungkan dengan penyakit ADD hiperaktive. Dan Bread Improver yang terlalu banyak untuk supaya roti dapat mengembang besar sekali bisa menimbulkan kanker (Source Wikipedia: Bread Improver)

    Kemarin ini di sekolah untuk anak kurang mampu, aku lihat anak cewek umur 5 tahun cakep, tapi kalau diperhatikan lagi anak kecil ini terkena penyakit ADD hiperactive(Jadi kerja-nya goyang melulu). Kasihan sekali, ya !!

    Sekarang juga sudah ada pengganti roti yang lebih sehat, yaitu roti beras kering (rice cake).
    Kalau yang buatan Australi nama-nya Sun Rice, kalau yang buatan lokal nama-nya N_asiKriuk Debbie (Tersedia di All Fresh atau Mini market Nano Pluit atau Supermarket Rezeki). Harga-nya juga tidak mahal.
    Rice cake /roti beras kering ini:
    Karena kering, tidak perlu pengawet.
    Karena terbuat dari beras, tidak perlu pengembang yang bisa menyebabkan kanker.
    Karena terbuat dari beras, bukan gandum, rendah kalori-nya, bisa tetap langsing.

    Karena banyak-nya obesitas (kegemukan), org Amerika sekarang juga berpindah dari gandum ke beras (cereal mereka yg pakai beras seperti cocoa puff atau rice krispy).

    Trm kasih.
    James Riady

    1. Avatar Cahya

      James Riady,

      Terima kasih. Saya pernah menonton beberapa kali acara Oprah Winfrey Show menghadirkan pakar-pakar makanan yang menunjukkan bagaimana memilih makanan dari tumbuhan biji-bijan dengan sehat – termasuk gandum.

      Untung di negeri kita, makanan tradisional sudah banyak yang cukup sehat bahkan ada yang sangat sehat. Mungkin karena kita meniru efek menu dunia Barat jadinya banyak masalah kesehatan yang muncul akibat makanan seperti di dunia Barat sana.

  2. Avatar Badruz
    Badruz

    ilimah sekali mas. sangat berguna informasi ini bagi saya sekeluarga. terima kasih.

    1. Avatar Cahya

      Sama-sama Mas,

      Saya hanya menyadur artikel yang kira-kira bisa bermanfaat untuk masyarakat kita.

  3. Avatar hanif
    hanif

    mm,,, begitu yah? baru tahu kalo bawang putih mujarab banget. hehe…
    salam kenal, mampir2 ke blog saya yah.. thx..
    .-= hanif´s last blog ..Weleh, Posesif Buta… =-.

    1. Avatar Cahya

      Hanif,

      Makasih sudah mampir.

      Untungnya di Indonesia bawang putih murah, kalau di luar negeri sudah jadi barang mewah 🙂

      Saya belum bisa berkunjung balik, blog Mas Hanif agak kesulitan saya akses, maklum pakai internet mode Inlemoted. Tapi jika bisa nanti pasti saya kunjungi.

  4. Avatar and1k
    and1k

    wih info yang bagus nih.

    salam kenal

    1. Avatar Cahya

      and1k,

      Terima kasih, salam kenal juga 🙂
      .-= Cahya´s last blog ..Mengunjungi Pantai Depok =-.

  5. Avatar sugeng
    sugeng

    Aku paling suka makan bawang putih mentah langsung ditelan. Tapi ada efek sampingnya kalau makan bawang putih mentah yaitu sering bersendawa. Kadang sendawanya sampai 1 jam-an :-O.

    1. Avatar Cahya

      Kalau yang mentah saya lebih suka bawang merah, bawang putih biasanya (kalau saya sendiri) dimasak lebih lama 🙂

      Wah bahaya tuh Mas Sugeng, kalau habis makan bawang putih – terus – terus-terusan bersendawa di tempat kerja 😀
      .-= Cahya´s last blog ..Mengunjungi Pantai Depok =-.

  6. Avatar PanDe Baik

    BROKOLI masuk daftar ya BLI ? hahaha… ini sih favoritnya Putri Kecil kami, MiRah… ga’tau juga knapa dia justru lebih suka Brokolinya… hehehe…
    .-= PanDe Baik´s last blog ..Nokia E72 si tipis yang PowerFull =-.

    1. Avatar Cahya

      Bli Pande,

      Brokoli itu renyah-renyah gurih gitu…, nyammy… 😀 Apalagi kalau yang masaknya pinter menyajikan 😉
      .-= Cahya´s last blog ..Nang Olog tak Punya yang Sukla =-.

  7. Avatar Telapakkaki
    Telapakkaki

    Dari wikipedia :
    Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan (diperoleh) ataupun diwariskan (mutasi germline).Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantung pada lokasinya dan karakter dari keganasan dan apakah ada metastasis. Sebuah diagnosis yang menentukan biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi. Setelah didiagnosis, kanker biasanya dirawat dengan operasi, kemoterapi dan/atau radiasi.

    Dan Tahitian Noni Juice memperbaiki jaringan yang dirusak dan memperbaiki/mengendalikan/merevitalisasi apa yang salah di dalam inti tubuh manusia 🙂

    Just sharing ya… Heheheheh… Tukaran link dong…
    .-= Telapakkaki´s last blog ..Management Berat Badan dengan Tahitian Noni Juice =-.

    1. Avatar Cahya

      Mas Danu,

      Pertama, terima kasih untuk tambahannya dari Wikipedia 🙂

      Kedua, kalau tidak salah Noni = Mengkudu ya? Kami di kampung halaman banyak memiliki banyak pohon mengkudu, biasanya dibuat rujak atau jus.

      Namun saya sendiri memiliki pandangan yang khusus. Memang banyak penelitian yang menyatakan khasiat buah mengkudu. Namun penelitian itu menggunakan bahan dasar buah mengkudu alami.

      Jadi ketika ditanya, saya akan menyarankan menggunakan buah mengkudu alami. Lagi pula negeri kita yang di daerah tropis ini menjadi tempat yang baik untuk tumbuhan mengkudu yang perawatannya tidak sulit.

      Ketika mengkampanyekan kesehatan pada msyarakat, selayaknya masyarakat diberikan solusi yang paling mudah, terjangkau dan aman. Menanam sendiri mengkudu di pekarangan rumah jauh lebih baik daripada menggunakan suplemen makanan mengkudu.

      Setidaknya tubuh akan bergerak sehat dengan merawat tanaman dan menjamin ketersediaan sumber nutrisi alami yang sehat dari buah mengkudu.

      Ingat, para ahli kesehatan selalu menyampaikan, tidak ada sumber nutrisi yang lebih baik daripada sumber alami. Lebih menyarankan sumber alami dibandingkan suplemen olahan, karena tidak ada bukti kuat suplemen dapat melawan kerusakan tubuh lebih baik dibandingkan nutrisi alami. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi kemandirian di bidang kesehatan tumbuh dalam masyarakat kita. Seperti saat pemerintah dulu menyarankan masyarakat menyisihkan pekarangannya untuk ditanami apotek hidup 🙂

      Oh ya, saya tidak melakukan tukaran link. Lebih jelasnya untuk alasannya, ada di Blogroll, Backlink dan Guestpost oleh Made Wira 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca