Suatu ketika, Krishna pura-pura menderita sakit kepala yang begitu parah dan nyaris tak tertahankan. Peran-Nya ini dimainkan dengan begitu bersungguh-sungguh. Kepala-Nya dibalut dengan kain hangat serta berguling gelisah di atas perbaringan. Mata-nya merah serta dengan raut wajah yang begitu pucat dan tampak bengkak. Rukmini, Sathyabhama serta para ratu yang lainnya hilir mudik mencari dan membawakan berbagai macam obat, namun tidak satu pun dari yang dilakukan tampaknya bermanfaat. Akhirnya mereka meminta nasihat Narada, dan Narada dengan bijaksana datang pada Krishna untuk menanyakan kira-kira apa yang bisa menyembuhkannya.
Krishna memberi tahu Narada agar membawa debu dari kaki seorang bhakta yang sejati – itulah obatnya. Dalam sekejap Narada telah muncul di hadapan beberapa bhakta Krishna yang ternama di berbagai belahan bumi; namun mereka merasa terlalu rendah untuk mempersembahkan debu kaki mereka agar digunakan oleh Krishna sebagai obat.
Mungkin inilah sebentuk egoisme, tidak hanya berkata bahwa kita tinggi, namun juga berkata kita rendah adalah sebentuk egoisme – sehingga orang sering menyalahkan baik pada sesama maupun diri sendiri. Ketika tiada egoisme, maka tiada yang lebih tinggi maupun rendah.
Akhirnya tiada seorang pun yang bersedia memberikan debu yang dibutuhkan Tuhan; mereka merasa begitu tidak berharga.
Dengan kecewa Narada kembali pada Krishna, dan menceritakan apa yang terjadi. Krishna bertanya, “Apakah engkau sudah mencoba di Brindawan, tempat para gopi tinggal?”
Para ratu tertawa dengan saran tersebut, dan bahkan Narada bertanya dengan putus asa, “Apa yang mereka ketahui tentang bhakti?” Walau demikian orang bijaksana itu pun harus cepat ke Brindawan.
Ketika para gopi mendengar bahwa Krishna sakit dan bahwa debu di kaki mereka mungkin dapat menyembuhkan-Nya, tanpa berpikir apa pun mereka bergegas mengumpulkan debu di telapak kaki mereka dan memberikannya kepada Narada.
Ketika Narada tiba di Dwaraka – Ibu Kota kerjaan Krishna, sakit kepala itu telah lenyap. Ini hanya drama lima hari, dan mengajarkan bahwa merendahkan diri juga merupakan egoisme. Mungkin orang yang terlalu terpelajar sering kali tidak menyadari hal ini.


Tinggalkan komentar