Suatu ketika, Krishna pura-pura menderita sakit kepala yang begitu parah dan nyaris tak tertahankan. Peran-Nya ini dimainkan dengan begitu bersungguh-sungguh. Kepala-Nya dibalut dengan kain hangat serta berguling gelisah di atas perbaringan. Mata-nya merah serta dengan raut wajah yang begitu pucat dan tampak bengkak. Rukmini, Sathyabhama serta para ratu yang lainnya hilir mudik mencari dan membawakan berbagai macam obat, namun tidak satu pun dari yang dilakukan tampaknya bermanfaat. Akhirnya mereka meminta nasihat Narada, dan Narada dengan bijaksana datang pada Krishna untuk menanyakan kira-kira apa yang bisa menyembuhkannya.
Krishna memberi tahu Narada agar membawa debu dari kaki seorang bhakta yang sejati – itulah obatnya. Dalam sekejap Narada telah muncul di hadapan beberapa bhakta Krishna yang ternama di berbagai belahan bumi; namun mereka merasa terlalu rendah untuk mempersembahkan debu kaki mereka agar digunakan oleh Krishna sebagai obat.
Mungkin inilah sebentuk egoisme, tidak hanya berkata bahwa kita tinggi, namun juga berkata kita rendah adalah sebentuk egoisme – sehingga orang sering menyalahkan baik pada sesama maupun diri sendiri. Ketika tiada egoisme, maka tiada yang lebih tinggi maupun rendah.
Akhirnya tiada seorang pun yang bersedia memberikan debu yang dibutuhkan Tuhan; mereka merasa begitu tidak berharga.
Dengan kecewa Narada kembali pada Krishna, dan menceritakan apa yang terjadi. Krishna bertanya, “Apakah engkau sudah mencoba di Brindawan, tempat para gopi tinggal?”
Para ratu tertawa dengan saran tersebut, dan bahkan Narada bertanya dengan putus asa, “Apa yang mereka ketahui tentang bhakti?” Walau demikian orang bijaksana itu pun harus cepat ke Brindawan.
Ketika para gopi mendengar bahwa Krishna sakit dan bahwa debu di kaki mereka mungkin dapat menyembuhkan-Nya, tanpa berpikir apa pun mereka bergegas mengumpulkan debu di telapak kaki mereka dan memberikannya kepada Narada.
Ketika Narada tiba di Dwaraka – Ibu Kota kerjaan Krishna, sakit kepala itu telah lenyap. Ini hanya drama lima hari, dan mengajarkan bahwa merendahkan diri juga merupakan egoisme. Mungkin orang yang terlalu terpelajar sering kali tidak menyadari hal ini.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
hmmm.. menarik juga walaupun saya tidak bisa mencerna seratus 100%. Tapi menurut saya, kita merendah adalah untuk menunjukkan bahwa kita tidak ingin terlihat lebih tinggi dan sombong dihadapan orang lain, dan ketika semua orang bisa bersikap seperti itu, semua akan tampak rendah, dan ketika semua rendah, apakah ada lagi bedanya tinggi dan rendah?
Mungkin sebenarnya bukan merendah dalam makna denotatif Bli Wira.
Kalau orang tidak meninggikan hati – biasanya juga disebut merendah – walau dia tidak merendah dalam makna sesungguhnya. Begitu mungkin istilah masyarakat.
Merendahkan diri dengan maksud pakewuh kan juga suatu budaya, karena ada normanya di sana(?). Tapi jika ada kesempatan berbakti, apapun bentuknya, mestinya juga disikapi sebagai suatu persembahan dharma. Beh dija kaden maan nuduk jawaban kene. 😀
.-= dani´s last blog ..Rolling Release Distro Linux =-.
Monggo Bli, memang tidak ada budaya yang mengajarkan tinggi hati? Namun bagaimana dengan rendah diri?
Dulu seorang rakyat bersikap sopan dan santun pada para Raja karena rasa sayang dan hormat, bukan karena merasa rendah, dan raja pun santun pada rakyat karena hal yang sama, bukan karena merasa orang berkedudukan tinggi mesti bijak.
Mungkin ini yang sering diinterpretasikan sebagai orang mesti merendah?
Tinggalkan Balasan