A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Suatu ketika, Krishna pura-pura menderita sakit kepala yang begitu parah dan nyaris tak tertahankan. Peran-Nya ini dimainkan dengan begitu bersungguh-sungguh. Kepala-Nya dibalut dengan kain hangat serta berguling gelisah di atas perbaringan. Mata-nya merah serta dengan raut wajah yang begitu pucat dan tampak bengkak. Rukmini, Sathyabhama serta para ratu yang lainnya hilir mudik mencari dan membawakan berbagai macam obat, namun tidak satu pun dari yang dilakukan tampaknya bermanfaat. Akhirnya mereka meminta nasihat Narada, dan Narada dengan bijaksana datang pada Krishna untuk menanyakan kira-kira apa yang bisa menyembuhkannya.

Krishna memberi tahu Narada agar membawa debu dari kaki seorang bhakta yang sejati – itulah obatnya. Dalam sekejap Narada telah muncul di hadapan beberapa bhakta Krishna yang ternama di berbagai belahan bumi; namun mereka merasa terlalu rendah untuk mempersembahkan debu kaki mereka agar digunakan oleh Krishna sebagai obat.

Mungkin inilah sebentuk egoisme, tidak hanya berkata bahwa kita tinggi, namun juga berkata kita rendah adalah sebentuk egoisme – sehingga orang sering menyalahkan baik pada sesama maupun diri sendiri. Ketika tiada egoisme, maka tiada yang lebih tinggi maupun rendah.

Akhirnya tiada seorang pun yang bersedia memberikan debu yang dibutuhkan Tuhan; mereka merasa begitu tidak berharga.

Dengan kecewa Narada kembali pada Krishna, dan menceritakan apa yang terjadi. Krishna bertanya, “Apakah engkau sudah mencoba di Brindawan, tempat para gopi tinggal?”

Para ratu tertawa dengan saran tersebut, dan bahkan Narada bertanya dengan putus asa, “Apa yang mereka ketahui tentang bhakti?” Walau demikian orang bijaksana itu pun harus cepat ke Brindawan.

Ketika para gopi mendengar bahwa Krishna sakit dan bahwa debu di kaki mereka mungkin dapat menyembuhkan-Nya, tanpa berpikir apa pun mereka bergegas mengumpulkan debu di telapak kaki mereka dan memberikannya kepada Narada.

Ketika Narada tiba di Dwaraka – Ibu Kota kerjaan Krishna, sakit kepala itu telah lenyap. Ini hanya drama lima hari, dan mengajarkan bahwa merendahkan diri juga merupakan egoisme. Mungkin orang yang terlalu terpelajar sering kali tidak menyadari hal ini.

  This blog post has been Digiproved © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar wira

    hmmm.. menarik juga walaupun saya tidak bisa mencerna seratus 100%. Tapi menurut saya, kita merendah adalah untuk menunjukkan bahwa kita tidak ingin terlihat lebih tinggi dan sombong dihadapan orang lain, dan ketika semua orang bisa bersikap seperti itu, semua akan tampak rendah, dan ketika semua rendah, apakah ada lagi bedanya tinggi dan rendah?

    **jawaban ngelantur ndak jelas, hehe
    .-= wira´s last blog ..Cara Mengecek Page Rank =-.

    1. Avatar Cahya

      Mungkin sebenarnya bukan merendah dalam makna denotatif Bli Wira.

      Kalau orang tidak meninggikan hati – biasanya juga disebut merendah – walau dia tidak merendah dalam makna sesungguhnya. Begitu mungkin istilah masyarakat.

      Selanjutnya kembali seperti pendapat Bli Wira 🙂

  2. Avatar dani
    dani

    Merendahkan diri dengan maksud pakewuh kan juga suatu budaya, karena ada normanya di sana(?). Tapi jika ada kesempatan berbakti, apapun bentuknya, mestinya juga disikapi sebagai suatu persembahan dharma. Beh dija kaden maan nuduk jawaban kene. 😀
    .-= dani´s last blog ..Rolling Release Distro Linux =-.

    1. Avatar Cahya

      Monggo Bli, memang tidak ada budaya yang mengajarkan tinggi hati? Namun bagaimana dengan rendah diri?

      Dulu seorang rakyat bersikap sopan dan santun pada para Raja karena rasa sayang dan hormat, bukan karena merasa rendah, dan raja pun santun pada rakyat karena hal yang sama, bukan karena merasa orang berkedudukan tinggi mesti bijak.

      Mungkin ini yang sering diinterpretasikan sebagai orang mesti merendah?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca