Suatu ketika, Krishna pura-pura menderita sakit kepala yang begitu parah dan nyaris tak tertahankan. Peran-Nya ini dimainkan dengan begitu bersungguh-sungguh. Kepala-Nya dibalut dengan kain hangat serta berguling gelisah di atas perbaringan. Mata-nya merah serta dengan raut wajah yang begitu pucat dan tampak bengkak. Rukmini, Sathyabhama serta para ratu yang lainnya hilir mudik mencari dan membawakan berbagai macam obat, namun tidak satu pun dari yang dilakukan tampaknya bermanfaat. Akhirnya mereka meminta nasihat Narada, dan Narada dengan bijaksana datang pada Krishna untuk menanyakan kira-kira apa yang bisa menyembuhkannya.
Krishna memberi tahu Narada agar membawa debu dari kaki seorang bhakta yang sejati – itulah obatnya. Dalam sekejap Narada telah muncul di hadapan beberapa bhakta Krishna yang ternama di berbagai belahan bumi; namun mereka merasa terlalu rendah untuk mempersembahkan debu kaki mereka agar digunakan oleh Krishna sebagai obat.
Mungkin inilah sebentuk egoisme, tidak hanya berkata bahwa kita tinggi, namun juga berkata kita rendah adalah sebentuk egoisme – sehingga orang sering menyalahkan baik pada sesama maupun diri sendiri. Ketika tiada egoisme, maka tiada yang lebih tinggi maupun rendah.
Akhirnya tiada seorang pun yang bersedia memberikan debu yang dibutuhkan Tuhan; mereka merasa begitu tidak berharga.
Dengan kecewa Narada kembali pada Krishna, dan menceritakan apa yang terjadi. Krishna bertanya, “Apakah engkau sudah mencoba di Brindawan, tempat para gopi tinggal?”
Para ratu tertawa dengan saran tersebut, dan bahkan Narada bertanya dengan putus asa, “Apa yang mereka ketahui tentang bhakti?” Walau demikian orang bijaksana itu pun harus cepat ke Brindawan.
Ketika para gopi mendengar bahwa Krishna sakit dan bahwa debu di kaki mereka mungkin dapat menyembuhkan-Nya, tanpa berpikir apa pun mereka bergegas mengumpulkan debu di telapak kaki mereka dan memberikannya kepada Narada.
Ketika Narada tiba di Dwaraka – Ibu Kota kerjaan Krishna, sakit kepala itu telah lenyap. Ini hanya drama lima hari, dan mengajarkan bahwa merendahkan diri juga merupakan egoisme. Mungkin orang yang terlalu terpelajar sering kali tidak menyadari hal ini.
Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
hmmm.. menarik juga walaupun saya tidak bisa mencerna seratus 100%. Tapi menurut saya, kita merendah adalah untuk menunjukkan bahwa kita tidak ingin terlihat lebih tinggi dan sombong dihadapan orang lain, dan ketika semua orang bisa bersikap seperti itu, semua akan tampak rendah, dan ketika semua rendah, apakah ada lagi bedanya tinggi dan rendah?
Mungkin sebenarnya bukan merendah dalam makna denotatif Bli Wira.
Kalau orang tidak meninggikan hati – biasanya juga disebut merendah – walau dia tidak merendah dalam makna sesungguhnya. Begitu mungkin istilah masyarakat.
Merendahkan diri dengan maksud pakewuh kan juga suatu budaya, karena ada normanya di sana(?). Tapi jika ada kesempatan berbakti, apapun bentuknya, mestinya juga disikapi sebagai suatu persembahan dharma. Beh dija kaden maan nuduk jawaban kene. 😀
.-= dani´s last blog ..Rolling Release Distro Linux =-.
Monggo Bli, memang tidak ada budaya yang mengajarkan tinggi hati? Namun bagaimana dengan rendah diri?
Dulu seorang rakyat bersikap sopan dan santun pada para Raja karena rasa sayang dan hormat, bukan karena merasa rendah, dan raja pun santun pada rakyat karena hal yang sama, bukan karena merasa orang berkedudukan tinggi mesti bijak.
Mungkin ini yang sering diinterpretasikan sebagai orang mesti merendah?
Tinggalkan Balasan