A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dalam sebuah petuah kuno disampaikan bahwa jika batin terlarut dalam kemelekatan duniawi, meski seseorang selalu berbicara tentang kebijaksanaan maka di situ sama sekali tiada kebebasan sejati yang menjadi bunga dari kebenaran. Anda seperti pekebun yang memiliki semua buku terbaik mengenai berkebun, namun kebun yang Anda tanam sendiri layu dan menyedihkan – mungkin seperti itulah gambarannya.

Ini adalah kisah tentang seorang raja yang memiliki kegemaran unik. Kepada setiap tamu yang datang ke istinanya, ia selalu menyempatkan diri untuk bertanya tentang bagaimana jalan yang benar untuk mencapai kesadaran akan Tuhan. Dan setiap orang dengan dasar yang diketahuinya dari naskah standar atau apa yang diceritakan oleh orang tua, biasanya menyampaikan pada raja tentang jalan tertentu yang dapat ditempuh untuk mencapai kebebasan sejati, lepas dari belenggu lingkaran kelahiran dan kematian.

Sementara hal ini terus berlangsung dan berulang, salah satu pelayan setia raja secara kebetulan jadinya memiliki kesempatan untuk turut mendengarkan setiap apa yang disampaikan para tamu raja tentang hal-hal ini. Ia tahu raja selalu mendengarkan berbagai cara untuk mencapai moksha, namun tidak satu pun dari cara itu yang dilakoni oleh sang raja.

Suatu hari si pelayan bermaksud memberikan pelajaran pada sang raja. Saat raja sedang menghadiri percakapan dengan banyak orang penting, si pelayan datang dengan tergopoh-gopoh sambil berteriak. Raja sontan bertanya mengapa si pelayan ini tampak begitu panik.

Pelayannya menyampaikan bahwa banyak keledai berusaha naik ke balairung istana. Tentu saja raja kaget, bagaimana bisa keledai yang biasanya di luar kompleks istana kini berusaha untuk naik hingga ke pusat istananya, dalam kekagetannya ia bertanya pada pelayanan, bagaimana semua itu mungkin terjadi?

Dengan kesal si pelayan menjawab, jika ada seorang raja yang bergelimang harta dan begitu gila akan hal-hal duniawi ingin mencapai kebebasan sejati namun tak pernah bergerak sama sekali menuju kebebasan – maka ia tak perlu heran jika banyak keledai yang ingin naik ke balairung istana. Si pelayan pun kemudian pergi.

Adaptasi dari Chinna Katha I.28

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Dwipa Avatar
    Dwipa

    jangan lupa sebatang batu-bata yg pongek (patah)pun ada maknanya.

    Suka

  2. imadewira Avatar

    jujur saja, saya belum ngerti maksudnya, khususnya paragraf terakhir

    Suka

  3. Vicky Laurentina Avatar

    Menurut saya, di dalam istana itu banyak rumputnya sampai keledai mau berduyun-duyun ke situ..

    *lebih semangat ngomongin keledai ketimbang filosofi*

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Vicky Laurentina,

      Bisa jadi juga demikian 🙂

      Suka

  4. suzan Avatar
    suzan

    kayaknya rajanya OOT deh

    Suka

  5. didot Avatar

    untuk mencapai sesuatu emang perlu bergerak ,gak bisa diam aja. bagaimana bisa bebas jika melekat kepada hal2 duniawi??

    btw jadi inget om mario teguh bilang : manusia harus belajar dari cacing,cacing jika ada sumber panas bergerak menjauh,sementara manusia sibuk mengeluh ,jadi panasnya tetap disitu2 aja 😀

    Suka

  6. iskandaria Avatar
    iskandaria

    Cukup dalam juga pengantar kisahnya. Tapi saya mengerti kok maknanya. Lingkaran kelahiran dan kematian ibarat reinkarnasi dalam kepercayaan tertentu. Manusia sebenarnya tidak pernah mati. Yang mati adalah jasadnya, namun jiwanya tetap hidup. Pada masa berikutnya, ia akan lahir kembali ke jasad dengan wujud berbeda. Dengan membawa karma berbeda pula untuk kehidupan selanjutnya.

    Itu dulu komen saya. Nggak nyambung banget kan dengan kisah keledai masuk istananya? 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mas Is,

      Sebenarnya saya juga tidak paham kalau serumit itu. Tapi sederhana saja, katakanlah ada seseorang yang selalu mengikuti ceramah-ceramah publik para motivator seperti Mario Teguh, Gede Prama – membicarakan menjadi insan yang lebih, atau ke pembicara dan saresehan-saresehan lainnya, tapi dia sama sekali tak mengikuti cara-cara itu dan tetap saja bertindak sesuka hatinya. Kalau Mas Is punya teman seperti itu, mungkin tindakan spontannya tidak akan beda dengan si tokoh pembantu dalam cerita ini.

      Suka

  7. Decy Avatar
    Decy

    postingan ini sangat ” menyadarkan ” ku

    🙂

    Suka

  8. TuSuda Avatar
    TuSuda

    Pesan moralnya sangat menyentuh makna akan keberadaan diri sebagai bagian dari Ciptaan-NYA. Selama masih ada keterikatan atau terbelenggu dengan masalah duniawi, maka kebebasan seperti apapun yang diharapkan raja itu tidak akan pernah tercapai. Kebebasan sejati berada dalam kesadaran diri untuk selalu bersikap tulus dan tunduk hati menerapkan ajaran Dharma Kebenaran-NYA.
    TERIMAKASIH telah memberikan pencerahan yang sangat berarti.

    Suka

  9. christin Avatar

    duh saya kok masi bingung menarik pesan moralnya ya 😦

    Suka

    1. Cahya Avatar

      christin,

      Saya tidak menyematkan bahwa kisah ini ada pesan moralnya lho 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan ke christin Batalkan balasan