Dalam sebuah petuah kuno disampaikan bahwa jika batin terlarut dalam kemelekatan duniawi, meski seseorang selalu berbicara tentang kebijaksanaan maka di situ sama sekali tiada kebebasan sejati yang menjadi bunga dari kebenaran. Anda seperti pekebun yang memiliki semua buku terbaik mengenai berkebun, namun kebun yang Anda tanam sendiri layu dan menyedihkan – mungkin seperti itulah gambarannya.
Ini adalah kisah tentang seorang raja yang memiliki kegemaran unik. Kepada setiap tamu yang datang ke istinanya, ia selalu menyempatkan diri untuk bertanya tentang bagaimana jalan yang benar untuk mencapai kesadaran akan Tuhan. Dan setiap orang dengan dasar yang diketahuinya dari naskah standar atau apa yang diceritakan oleh orang tua, biasanya menyampaikan pada raja tentang jalan tertentu yang dapat ditempuh untuk mencapai kebebasan sejati, lepas dari belenggu lingkaran kelahiran dan kematian.
Sementara hal ini terus berlangsung dan berulang, salah satu pelayan setia raja secara kebetulan jadinya memiliki kesempatan untuk turut mendengarkan setiap apa yang disampaikan para tamu raja tentang hal-hal ini. Ia tahu raja selalu mendengarkan berbagai cara untuk mencapai moksha, namun tidak satu pun dari cara itu yang dilakoni oleh sang raja.
Suatu hari si pelayan bermaksud memberikan pelajaran pada sang raja. Saat raja sedang menghadiri percakapan dengan banyak orang penting, si pelayan datang dengan tergopoh-gopoh sambil berteriak. Raja sontan bertanya mengapa si pelayan ini tampak begitu panik.
Pelayannya menyampaikan bahwa banyak keledai berusaha naik ke balairung istana. Tentu saja raja kaget, bagaimana bisa keledai yang biasanya di luar kompleks istana kini berusaha untuk naik hingga ke pusat istananya, dalam kekagetannya ia bertanya pada pelayanan, bagaimana semua itu mungkin terjadi?
Dengan kesal si pelayan menjawab, jika ada seorang raja yang bergelimang harta dan begitu gila akan hal-hal duniawi ingin mencapai kebebasan sejati namun tak pernah bergerak sama sekali menuju kebebasan – maka ia tak perlu heran jika banyak keledai yang ingin naik ke balairung istana. Si pelayan pun kemudian pergi.
Adaptasi dari Chinna Katha I.28


Tinggalkan Balasan ke christin Batalkan balasan