A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dalam sebuah petuah kuno disampaikan bahwa jika batin terlarut dalam kemelekatan duniawi, meski seseorang selalu berbicara tentang kebijaksanaan maka di situ sama sekali tiada kebebasan sejati yang menjadi bunga dari kebenaran. Anda seperti pekebun yang memiliki semua buku terbaik mengenai berkebun, namun kebun yang Anda tanam sendiri layu dan menyedihkan – mungkin seperti itulah gambarannya.

Ini adalah kisah tentang seorang raja yang memiliki kegemaran unik. Kepada setiap tamu yang datang ke istinanya, ia selalu menyempatkan diri untuk bertanya tentang bagaimana jalan yang benar untuk mencapai kesadaran akan Tuhan. Dan setiap orang dengan dasar yang diketahuinya dari naskah standar atau apa yang diceritakan oleh orang tua, biasanya menyampaikan pada raja tentang jalan tertentu yang dapat ditempuh untuk mencapai kebebasan sejati, lepas dari belenggu lingkaran kelahiran dan kematian.

Sementara hal ini terus berlangsung dan berulang, salah satu pelayan setia raja secara kebetulan jadinya memiliki kesempatan untuk turut mendengarkan setiap apa yang disampaikan para tamu raja tentang hal-hal ini. Ia tahu raja selalu mendengarkan berbagai cara untuk mencapai moksha, namun tidak satu pun dari cara itu yang dilakoni oleh sang raja.

Suatu hari si pelayan bermaksud memberikan pelajaran pada sang raja. Saat raja sedang menghadiri percakapan dengan banyak orang penting, si pelayan datang dengan tergopoh-gopoh sambil berteriak. Raja sontan bertanya mengapa si pelayan ini tampak begitu panik.

Pelayannya menyampaikan bahwa banyak keledai berusaha naik ke balairung istana. Tentu saja raja kaget, bagaimana bisa keledai yang biasanya di luar kompleks istana kini berusaha untuk naik hingga ke pusat istananya, dalam kekagetannya ia bertanya pada pelayanan, bagaimana semua itu mungkin terjadi?

Dengan kesal si pelayan menjawab, jika ada seorang raja yang bergelimang harta dan begitu gila akan hal-hal duniawi ingin mencapai kebebasan sejati namun tak pernah bergerak sama sekali menuju kebebasan – maka ia tak perlu heran jika banyak keledai yang ingin naik ke balairung istana. Si pelayan pun kemudian pergi.

Adaptasi dari Chinna Katha I.28

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar Dwipa
    Dwipa

    jangan lupa sebatang batu-bata yg pongek (patah)pun ada maknanya.

  2. Avatar imadewira

    jujur saja, saya belum ngerti maksudnya, khususnya paragraf terakhir

  3. Avatar Vicky Laurentina

    Menurut saya, di dalam istana itu banyak rumputnya sampai keledai mau berduyun-duyun ke situ..

    *lebih semangat ngomongin keledai ketimbang filosofi*

    1. Avatar Cahya

      Vicky Laurentina,

      Bisa jadi juga demikian 🙂

  4. Avatar suzan
    suzan

    kayaknya rajanya OOT deh

  5. Avatar didot

    untuk mencapai sesuatu emang perlu bergerak ,gak bisa diam aja. bagaimana bisa bebas jika melekat kepada hal2 duniawi??

    btw jadi inget om mario teguh bilang : manusia harus belajar dari cacing,cacing jika ada sumber panas bergerak menjauh,sementara manusia sibuk mengeluh ,jadi panasnya tetap disitu2 aja 😀

  6. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Cukup dalam juga pengantar kisahnya. Tapi saya mengerti kok maknanya. Lingkaran kelahiran dan kematian ibarat reinkarnasi dalam kepercayaan tertentu. Manusia sebenarnya tidak pernah mati. Yang mati adalah jasadnya, namun jiwanya tetap hidup. Pada masa berikutnya, ia akan lahir kembali ke jasad dengan wujud berbeda. Dengan membawa karma berbeda pula untuk kehidupan selanjutnya.

    Itu dulu komen saya. Nggak nyambung banget kan dengan kisah keledai masuk istananya? 🙂

    1. Avatar Cahya

      Mas Is,

      Sebenarnya saya juga tidak paham kalau serumit itu. Tapi sederhana saja, katakanlah ada seseorang yang selalu mengikuti ceramah-ceramah publik para motivator seperti Mario Teguh, Gede Prama – membicarakan menjadi insan yang lebih, atau ke pembicara dan saresehan-saresehan lainnya, tapi dia sama sekali tak mengikuti cara-cara itu dan tetap saja bertindak sesuka hatinya. Kalau Mas Is punya teman seperti itu, mungkin tindakan spontannya tidak akan beda dengan si tokoh pembantu dalam cerita ini.

  7. Avatar Decy
    Decy

    postingan ini sangat ” menyadarkan ” ku

    🙂

  8. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Pesan moralnya sangat menyentuh makna akan keberadaan diri sebagai bagian dari Ciptaan-NYA. Selama masih ada keterikatan atau terbelenggu dengan masalah duniawi, maka kebebasan seperti apapun yang diharapkan raja itu tidak akan pernah tercapai. Kebebasan sejati berada dalam kesadaran diri untuk selalu bersikap tulus dan tunduk hati menerapkan ajaran Dharma Kebenaran-NYA.
    TERIMAKASIH telah memberikan pencerahan yang sangat berarti.

  9. Avatar christin

    duh saya kok masi bingung menarik pesan moralnya ya 🙁

    1. Avatar Cahya

      christin,

      Saya tidak menyematkan bahwa kisah ini ada pesan moralnya lho 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca