Sang kala sedang duduk termenung, letih dan peluh sudah cukup menetes membasahi jejaknya selama perjalanan ini. Tubuhnya yang sudah renta bagi banyak makhluk yang melahirkannya bersandar di pohon tua yang disebut orang sebagai dirinya. Ia menarik dalam-dalam napasnya yang disimpan dari munculan harapan yang ditabur dalam angin kehidupan dan kematian. Seakan ia menahan agar dirinya berhenti mengalir sejenak dan memberikan keabadian yang sekejap pada rerumputan dan taburan embun yang tak pernah berhenti mengganti kesegaran duniawi yang memahkotainya.
Ia menatap jalan yang panjang di hadapannya, dan seakan tak akan pernah berakhir hingga dirinya sendiri berakhir.


Tinggalkan Balasan ke Mr, Kem Batalkan balasan