The Last Airbender: Ketika Ekspektasi Bertemu Kenyataan
Hibernasi blog ini seharusnya berlanjut lebih lama, namun ada yang “menodong” saya dengan cara paling efektif: mentraktir tiket nonton. Maka jadilah ulasan amatiran ini sebagai bentuk terima kasih.
Harapan yang Terlalu Tinggi
Film adaptasi M. Night Shyamalan dari serial animasi legendaris Avatar: The Last Airbender ini datang dengan beban ekspektasi yang berat. Shyamalan, yang pernah menghasilkan The Happening dan Lady in the Water, kali ini mencoba menerjemahkan dunia yang diciptakan Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko ke layar lebar.
Saya berharap banyak. Mungkin terlalu banyak.
Kekecewaan yang muncul serupa dengan yang saya rasakan saat menonton Avatar karya James Cameron atau film kontroversial 2010 – bedanya, kali ini lebih dalam. Namun saya harus adil: untuk anak-anak yang ingin melihat dunia animasi favoritnya “hidup”, film ini tetap menawarkan sesuatu.
Lima Sumber Kekecewaan
1. Karakter yang Kehilangan Ruh
Serial animasi Avatar: The Last Airbender membangun karakter-karakter unik yang membawa nilai moral budaya Timur dengan sangat kuat. Di film ini, karakter-karakter tersebut seperti kehilangan ruh mereka.
Yang saya saksikan hanyalah aktor-aktor baru dengan nama yang familiar, namun tanpa esensi yang membuat tokoh-tokoh tersebut spesial. Rasanya seperti menonton dunia paralel – mirip, tapi tidak sama. Jika Anda mengharapkan animasi itu hidup di layar lebar, bersiaplah kecewa. Namun jika Anda datang tanpa ekspektasi dan mencari sesuatu yang segar, mungkin Anda akan terhibur.
2. Alur Cerita yang Tercerabut
Kekuatan serial animasinya terletak pada jalan cerita yang dinamis, tidak monoton, dan memiliki kedalaman yang membuat penonton bisa menonton berkali-kali tanpa bosan. Film ini? Hampir sepenuhnya berbeda.
Bagi yang tidak pernah menonton serial animasinya, bersiaplah kebingungan. Saya bahkan mendengar percakapan di tempat parkir – seseorang berusaha keras menjelaskan alur cerita pada temannya yang tampak bingung.
Film ini hanya berbagi titik awal dan akhir dengan animasinya. Selebihnya? Perjalanan yang sama sekali berbeda. Pejuang Kyoshi? Tidak ada. Pertemuan dengan Raja Bumi – anggota penting Ordo Lotus Putih yang seharusnya mengarahkan Aang mencari guru pengendalian buminya? Tidak ada. Pertempuran udara melawan armada Negara Api saat Aang mencoba bertemu Avatar Roku? Juga tidak ada.
Yang disajikan malah narasi gerilya membebaskan desa-desa Kerajaan Bumi, hingga akhirnya Aang bertemu roh naga yang menuntunnya ke Suku Air Utara. Berbeda jauh dengan animasi yang sejak awal memang mengisahkan perjalanan mencari guru pengendalian air.
Bahkan kemampuan Aang pun diubah. Di film ini, Katara justru lebih berbakat mengendalikan air dibanding Aang – kebalikan total dari animasinya. Pembalikan ini jelas untuk memangkas alur agar pas dalam durasi dua jam, tapi tetap saja terasa janggal.
3. Cakupan yang Terbatas
Film ini hanya memuat Buku Pertama (Water) dari tiga buku dalam serial animasi lengkap – belum termasuk Earth dan Fire. Konsekuensinya, fokus terlalu banyak pada pengenalan tokoh dan elemen air.
Dari sisi teknik bela diri, gerakan yang ditampilkan tampak diambil dari Taijiquan (tai chi chuan). Bagi yang pernah membaca komik Kenji di era akhir 80-an hingga 90-an, gerakan-gerakan ini akan terasa familiar.
Namun eksekusinya tidak matang. Menguasai tai chi tidak bisa dilakukan dalam setahun atau dua – kecuali mungkin Anda dididik langsung oleh Zhang Sanfeng secara ajaib. Saya membayangkan betapa hebatnya jika Guru Pakku diperankan Jet Li, mengingat kemahirannya dalam Tai Chi Master. Tapi Francis Guinan yang memerankan Guru Pakku sudah cukup baik, meski perannya hanya sekadar figuran.
4. Efek Khusus yang Setengah Hati
Jika film ini sepenuhnya menggunakan CGI, mungkin bisa lebih menyerupai animasinya. Sayangnya, efek khusus yang disajikan masih memiliki beberapa kekurangan mencolok.
Terutama dalam pertempuran antara pengendali air dan pengendali api. Ketika kedua elemen menggunakan efek digital, kekurangannya tidak terlalu kentara. Namun ketika elemen statis muncul – misalnya api nyata (bukan visualisasi) berhadapan dengan air yang divirtualisasi – hasilnya terlihat aneh. Bayangkan: api kecil yang tidak padam meski disiram banyak air.
5. Trailer yang Menipu
Ternyata tidak semua yang ada di trailer muncul dalam filmnya. Pembohongan publik? Entahlah, saya tidak mau ikut campur dalam perdebatan itu.
Yang jelas, sejak awal sudah ada ketidakcocokan, sehingga sulit memberi nilai bagus. Saya hanya bisa memberi 2,5 dari 5 bintang.
Catatan Penutup
Meski film ini secara unik “menghancurkan” hampir seluruh kesan hebat yang ada dalam animasinya, saya tidak bisa bilang ini buruk sepenuhnya. Ada banyak detail kecil yang tetap saya sukai.
Atau mungkin, film ini bisa dijadikan hiburan sambil menunggu kelanjutan serial animasinya? Avatar: Legend of Korra, siapa yang menanti?
Rating: ⭐⭐½ (2.5/5)

Tinggalkan Balasan ke TuSuda Batalkan balasan