A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Rasa belas kasih adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki setiap bentuk kehidupan, termasuk manusia di dalam lingkarannya. Beberapa orang berkata bahwa kita harus bisa mengekspresikannya dalam kebebasan yang tidak terikat. Namun kadang tanpa sebuah kebijaksanaan yang meletup kuat dan mencerahkan dalam diri seseorang, rasanya welas asih hanya bisa menjadi pajangan di etalase ego semata.

Ah, mungkin tulisan itu terlalu keras. Mari kita lupakan saja.

Suatu hari seseorang sedang berjalan di tepi sungai yang sedang dilanda pasang karena banjir bandang, arus sungai yang kuat mengerus segala sesuatu yang dilaluinya tanpa ampun.

Setelah cukup lama berjalan, arus mulai melemah. Orang tersebut menemukan seekor ikan yang menggelepar malang di kubangan kecil di pinggir sungai. Orang itu merasa iba melihat ikan yang malang tersebut. Dengan pelan & lembut, diangkatnya ikan tersebut, dan diletakkannya di atas kain yang halus.

Ikan tersebut dibawanya pulang, diletakkannya secara perlahan dan diselimuti dengan kain hangat dan tebal, sedemikian hingga orang ini berharap ikan tersebut tidak kedinginan. Kemudian, ia menuangkan kopi panas ke mulut si ikan untuk menghangatkan tubuh ikan itu. Namun, tentu saja tidak perlu waktu lama untuk mengetahui bahwa ikan malang itu pun akhirnya mati.

Padahal, dengan sederhana orang ini sebenarnya memiliki kesempatan menyelamatkan ikan tersebut dengan langsung mengembalikannya ke sungai begitu ia menemukannya.

Ya, kadang belas kasih yang terikat dengan ego menumpulkan sisi kecerdasan manusia itu sendiri.

Adaptasi dari Chinna Katha II.52

  Copyright secured by Digiprove © 2010

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

11 tanggapan

  1. Avatar ganda
    ganda

    Ya, kadang belas kasih yang ter­ikat dengan ego menum­pulkan sisi kecerdasan manusia itu sendiri.

    Couldn't agree more.

  2. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Seringkali bertindak sederhana, menerima sesuai realitanya, akan lebih bermanfaat. 🙂

  3. Avatar Mr,Kem
    Mr,Kem

    ketika seseorang panik biasanya memang sisi2 kecerdasan tidak berfungsi dengan baik..

  4. Avatar Jarwadi
    Jarwadi

    ngngng … tema yang berat untuk saya baca sebagai sarapan 🙂

    1. Avatar Cahya

      Pak Jarwadi,

      Jika demikian dilupakan saja Pak :).

  5. Avatar aldy
    aldy

    Belas kasihan ada tempatnya. Pemberian belas kasihan yang salah tempat justru mematikan bukannya menyelamatkan.

    1. Avatar aldy
      aldy

      OOT,
      emailnya nyasar kemana, mas?

    2. Avatar Cahya

      Pak Aldy,

      Namun kita sendiri masih banyak kekurangannya, karena kadang kita tidak tahu apa yang terbaik atau baik diberikan sebagai bantuan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca