Diterbitkan pada Februari 2026 sebagai pembaruan artikel “Obatnya Kok Tidak Mempan?” (2010)
Pernahkah Anda merasa sudah patuh berobat, rutin meminum obat sesuai anjuran dokter, namun kondisi kesehatan Anda seperti tidak kunjung membaik? Atau justru sebaliknya — ada seseorang yang tampaknya mengonsumsi obat seadanya namun lekas pulih, sementara Anda yang lebih teliti justru tertinggal? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar dan sering muncul di klinik maupun ruang periksa. Jawabannya, ternyata, jauh lebih kompleks dari sekadar soal “obatnya bagus atau tidak.”
Artikel ini mencoba menguraikan mengapa terapi medis — khususnya pengobatan dengan obat — bisa berhasil pada seseorang namun gagal pada orang lain, dan apa saja yang sesungguhnya menentukan keberhasilan sebuah pengobatan.
Obat dan Efek Terapeutiknya: Sebuah Perkenalan
Setiap obat yang kita konsumsi bekerja dengan cara berinteraksi dengan tubuh untuk menghasilkan efek yang diinginkan — inilah yang disebut efek terapeutik. Namun, tidak ada obat yang benar-benar “netral.” Setiap zat aktif dalam obat memiliki potensi menghasilkan manfaat sekaligus risiko, tergantung pada dosis, kondisi tubuh, dan berbagai faktor lainnya.
Prinsip dasar ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Paracelsus, filsuf dan dokter abad ke-16 yang menyatakan bahwa “dosis sola facit venenum” — hanya dosislah yang membuat sesuatu menjadi racun. Air pun, yang merupakan kebutuhan paling mendasar manusia, bila dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan elektrolit berbahaya. Oksigen yang menjadi bahan bakar kehidupan, dalam konsentrasi berlebihan, justru dapat merusak jaringan paru.
Di sinilah konsep indeks terapeutik (therapeutic index) menjadi penting. Indeks terapeutik adalah rasio yang menggambarkan rentang antara dosis obat yang menghasilkan efek terapi dengan dosis yang mulai menyebabkan efek toksik. Obat dengan indeks terapeutik yang sempit — seperti warfarin, digoksin, atau litium — memerlukan pemantauan lebih ketat karena batas antara dosis manjur dan dosis berbahaya sangatlah tipis.
Namun, di luar soal dosis, ada begitu banyak hal lain yang menentukan apakah sebuah terapi akan berhasil atau tidak.

Mengapa Respons Setiap Orang Terhadap Obat Berbeda?
Salah satu hal yang paling sering menimbulkan kebingungan adalah kenyataan bahwa obat yang sama, diberikan dengan dosis yang sama, bisa memberikan respons yang sangat berbeda pada orang yang berbeda. Seorang pasien mungkin merasakan perbaikan signifikan dalam dua hari, sementara pasien lain dengan kondisi serupa tidak merasakan perubahan apa pun meski telah minum obat selama seminggu.
Fenomena ini dijelaskan oleh bidang ilmu yang disebut farmakogenomik — cabang ilmu yang mempelajari bagaimana variasi genetik seseorang mempengaruhi respons tubuhnya terhadap obat. Gen-gen tertentu menentukan seberapa cepat tubuh memetabolisme (memroses) suatu obat, seberapa efektif reseptor pada sel-sel tubuh merespons obat tersebut, dan seberapa besar risiko seseorang mengalami efek samping.
Selain faktor genetik, variasi biologis lainnya juga berperan, antara lain usia (sistem metabolisme anak-anak dan lansia berbeda dengan orang dewasa muda), fungsi organ (terutama hati dan ginjal yang menjadi “pabrik” dan “penyaring” utama obat dalam tubuh), kondisi penyakit penyerta, interaksi dengan obat lain yang dikonsumsi bersamaan, serta bahkan jenis kelamin biologis seseorang yang dapat mempengaruhi distribusi obat dalam tubuh.
Dengan demikian, ketika seorang dokter meresepkan obat, ia sesungguhnya sedang melakukan estimasi terbaik berdasarkan rata-rata respons populasi — namun setiap pasien adalah individu unik yang mungkin berespons berbeda dari rata-rata tersebut.
Kepatuhan Minum Obat: Masalah yang Lebih Besar dari yang Kita Kira
Seandainya semua pasien meminum obat mereka persis sesuai anjuran, angka keberhasilan terapi tentu akan jauh lebih tinggi. Sayangnya, kenyataannya tidak demikian.
Kepatuhan minum obat (medication adherence) — didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku pasien dalam mengonsumsi obat sesuai dengan rekomendasi yang disepakati bersama tenaga kesehatan — merupakan salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan terapi. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpatuhan minum obat merupakan masalah global yang berdampak serius, baik bagi kesehatan individu maupun sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Schnorrerova et al., 2024).
Di Indonesia, masalah ini sangat nyata. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 60% masyarakat mendapatkan obat tanpa resep di apotek atau toko obat berizin — sebuah indikasi bahwa praktik penggunaan obat yang tidak terpandu oleh tenaga kesehatan masih sangat umum (Kemenkes RI, 2023). Temuan lain dari SKI 2023 juga mengungkap bahwa penggunaan antibiotik oral mencapai 22,1%, dengan 41% di antaranya diperoleh tanpa resep dokter — sebuah tantangan besar bagi upaya pengendalian resistensi antimikroba.
Pada penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes mellitus, tantangan kepatuhan menjadi lebih kompleks. Banyak penelitian di Indonesia menemukan tingkat ketidakpatuhan yang mengkhawatirkan. Sebuah kajian di Jakarta Selatan menemukan bahwa 57,4% pasien diabetes mellitus tergolong tidak patuh dalam menjalani pengobatan (Apsari & Sartika, 2024). Fenomena serupa ditemukan pada pasien hipertensi di berbagai daerah — banyak yang hanya meminum obat ketika merasakan gejala, bukan secara rutin sesuai anjuran dokter.
Mengapa hal ini terjadi? Kajian terhadap program Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) di Indonesia mengidentifikasi lima kategori hambatan utama: kendala infrastruktur dan ketenagaan, rendahnya cakupan dan partisipasi, hambatan sosial-ekonomi dan biaya, hambatan literasi kesehatan dan budaya, serta gangguan yang ditimbulkan oleh pandemi (Febriyanti et al., 2025). Ini menunjukkan bahwa ketidakpatuhan bukan sekadar “salah pasien” — melainkan hasil dari interaksi kompleks antara sistem kesehatan, kondisi sosial, dan faktor individu.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan
Dari sisi pasien, sejumlah faktor sangat berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan. Pemahaman tentang penyakit dan tujuan pengobatan memainkan peran sentral — pasien yang memahami mengapa mereka harus minum obat cenderung lebih patuh dibandingkan mereka yang hanya diperintahkan tanpa penjelasan memadai. Ini adalah dimensi literasi kesehatan (health literacy), yaitu kemampuan seseorang untuk mendapatkan, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan untuk membuat keputusan yang tepat.
Beban pengobatan juga berpengaruh signifikan. Semakin banyak jenis obat yang harus diminum, semakin rumit jadwal pemberian, dan semakin panjang durasi terapi, semakin besar risiko ketidakpatuhan. Bayangkan seorang penderita tuberkulosis yang harus meminum empat hingga enam jenis obat setiap hari selama minimal enam bulan — kelelahan terapi (treatment fatigue) adalah respons yang sangat manusiawi dalam kondisi ini.
Efek samping obat juga menjadi alasan umum pasien menghentikan atau melewatkan pengobatan. Mual, pusing, gangguan tidur, atau rasa tidak nyaman lainnya sering menjadi alasan pasien berhenti minum obat tanpa sepengetahuan dokter. Penelitian terbaru tentang obat golongan GLP-1 receptor agonist yang saat ini populer untuk diabetes dan obesitas menunjukkan bahwa efek samping seperti mual dan muntah secara nyata mempengaruhi keberlangsungan pengobatan (Jalleh et al., 2026).
Dukungan lingkungan — terutama dari keluarga — juga terbukti secara konsisten mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang memiliki anggota keluarga yang mendukung dan mengingatkan jadwal minum obat cenderung memiliki kepatuhan yang lebih baik. Ini relevan khususnya untuk lansia dan pasien dengan kondisi kronis yang memerlukan pengawasan jangka panjang.
Hubungan Dokter–Pasien dan Kesinambungan Perawatan
Salah satu faktor yang sering diremehkan dalam keberhasilan terapi adalah kualitas hubungan antara dokter dan pasien, serta kesinambungan perawatan oleh tenaga kesehatan yang sama.
Sebuah studi kohort besar dari Korea Selatan yang meneliti hampir 400.000 pasien dewasa menemukan bahwa pasien dengan tingkat kesinambungan perawatan primer yang tinggi — artinya, mereka konsisten bertemu dokter yang sama — mengalami penundaan rata-rata 303 hari dalam memulai terapi opioid untuk nyeri non-kanker dibandingkan pasien dengan kesinambungan rendah (Jo et al., 2026). Studi ini menegaskan bahwa hubungan dokter-pasien yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kepatuhan, tetapi juga mendorong pengambilan keputusan klinis yang lebih hati-hati dan tepat sasaran.
Dalam konteks kepatuhan, kepercayaan pasien kepada dokter dan sistem kesehatan sangat menentukan. Pasien yang merasa dipahami, mendapat penjelasan yang jelas, dan merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan terapinya cenderung lebih berkomitmen terhadap rencana pengobatan yang disusun bersama.
Di sinilah pentingnya komunikasi yang efektif dalam konsultasi medis. Dokter tidak cukup hanya menuliskan resep — ia perlu memastikan pasien memahami nama obat, cara minum, kapan diminum, berapa lama harus diminum, apa yang diharapkan dari pengobatan, dan tanda-tanda yang harus segera dilaporkan. Apoteker pun memainkan peran krusial dalam proses ini, sebagai jembatan antara resep dokter dan pemahaman pasien.
“Saya Mau Pindah Dokter Saja” — Apakah Tepat?
Banyak pasien, ketika merasa pengobatan tidak memberikan hasil yang diharapkan dalam beberapa hari, memilih berpindah ke dokter lain. Secara psikologis, ini dapat dipahami — ada dorongan alami untuk mencari solusi ketika merasa tidak ada kemajuan. Namun, kebiasaan ini justru sering memperburuk situasi.
Setiap kali pasien menemui dokter baru tanpa membawa riwayat pengobatan sebelumnya, dokter tersebut harus memulai penilaian dari nol. Terapi yang diberikan bisa serupa, atau bahkan berinteraksi dengan obat yang masih tersisa dari dokter sebelumnya. Selain itu, dokter yang pertama kali menangani pasien biasanya yang paling memahami perjalanan penyakitnya — melalui catatan rekam medis yang terdokumentasi, ia dapat mengidentifikasi apakah kegagalan terapi disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien, perlunya penyesuaian dosis, adanya penyebab yang sebelumnya belum teridentifikasi, atau memang dibutuhkan rujukan ke spesialis.
Jika merasa ingin mendapatkan pandangan kedua (second opinion), itu adalah hak pasien yang sah. Namun, secara etis dan klinis, ada baiknya menginformasikan hal tersebut kepada dokter yang menangani Anda, dan membawa serta semua catatan pengobatan yang ada.
Obat Generik vs. Obat Bermerek: Apakah Ada Perbedaan Efek?
Pertanyaan ini hingga hari ini masih sering muncul. Beberapa pasien menganggap obat generik “kurang manjur” dibandingkan obat bermerek, sehingga merasa kecewa ketika dokter meresepkan generik.
Secara ilmiah, obat generik mengandung zat aktif yang sama dengan obat bermerek, dengan standar bioekuivalensi yang berarti ketersediaan hayati (bioavailability) zat aktif dalam tubuh harus ekuivalen. Regulasi obat generik di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan standar yang ketat. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa obat generik secara sistematis lebih rendah efektivitasnya dibandingkan obat bermerek untuk kandungan aktif yang identik.
Memilih obat generik ketika tersedia adalah keputusan medis yang rasional — dan dalam banyak kasus, ini juga merupakan keputusan yang lebih meringankan beban biaya pasien.
Antibiotik dan Tantangan Resistensi: Mengapa Harus Tuntas?
Satu topik yang layak mendapat perhatian khusus adalah penggunaan antibiotik. Di Indonesia, masalah konsumsi antibiotik tanpa resep masih menjadi tantangan besar — data SKI 2023 menunjukkan bahwa 41% antibiotik yang dikonsumsi masyarakat diperoleh tanpa resep dokter (Kemenkes RI, 2023).
Menghentikan antibiotik di tengah jalan karena merasa sudah “enakan” adalah salah satu penyebab utama berkembangnya resistensi antimikroba. Ketika antibiotik tidak diminum hingga tuntas sesuai anjuran, bakteri yang belum mati mendapatkan kesempatan untuk berkembang biak dan bermutasi menjadi lebih resisten. Akibatnya, pada infeksi berikutnya, antibiotik yang sama mungkin tidak lagi efektif — sebuah masalah kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran — misalnya untuk infeksi virus di mana antibiotik tidak bekerja sama sekali — juga berkontribusi pada masalah ini. Antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri, bukan virus. Flu biasa, misalnya, disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik.
Apa yang Dapat Dilakukan Pasien?
Memahami bahwa keberhasilan terapi adalah hasil dari kolaborasi antara dokter, pasien, dan lingkungan adalah langkah pertama yang penting. Beberapa hal praktis yang dapat dilakukan sebagai pasien:
Pertama, sampaikan informasi selengkap mungkin kepada dokter — riwayat penyakit, obat-obatan yang sedang dikonsumsi (termasuk suplemen dan jamu), alergi, dan gaya hidup Anda. Semakin lengkap informasi yang dimiliki dokter, semakin tepat terapi yang dapat direncanakan.
Kedua, pastikan Anda memahami resep yang diterima — nama obat, dosis, jadwal minum, durasi pengobatan, dan apa yang harus dilakukan jika muncul efek yang tidak diinginkan. Jangan sungkan bertanya kepada dokter atau apoteker jika ada yang kurang jelas.
Ketiga, patuhi jadwal kontrol ulang. Dokter biasanya meminta pasien kembali dalam 3–5 hari jika kondisi tidak membaik, atau lebih cepat jika kondisi memburuk. Kontrol ulang bukan tanda kegagalan terapi — melainkan mekanisme penting untuk mengevaluasi dan menyesuaikan pengobatan.
Keempat, jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan obat secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter, meskipun Anda merasa sudah lebih baik.
Kelima, jika Anda memperoleh informasi kesehatan dari internet atau sumber lain, diskusikan dengan dokter Anda sebelum mengambil keputusan apapun. Informasi yang beredar di media sosial tentang pengobatan — termasuk penggunaan suplemen atau terapi alternatif — tidak selalu berbasis bukti ilmiah yang kuat.
Sistem Kesehatan dan Perannya
Keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada pasien secara individual. Sistem kesehatan yang tersedia turut menentukan — mulai dari aksesibilitas layanan, ketersediaan obat, mutu pelayanan di fasilitas kesehatan, hingga program pendampingan pasien kronis.
Di Indonesia, program Prolanis yang diselenggarakan melalui BPJS Kesehatan merupakan upaya terstruktur untuk meningkatkan kepatuhan dan pengelolaan penyakit kronis di tingkat layanan primer. Meski masih menghadapi berbagai tantangan implementasi — termasuk kendala sumber daya, hambatan geografis, dan kesenjangan literasi kesehatan — program ini merupakan salah satu jalur penting bagi pasien penyakit kronis untuk mendapat pemantauan berkala (Febriyanti et al., 2025).
Penutup
Obat yang “tidak mempan” jarang semata-mata karena obatnya yang buruk. Di balik kegagalan terapi, hampir selalu ada cerita yang lebih kompleks: variasi respons biologis yang unik pada setiap individu, ketidakpatuhan yang muncul dari berbagai hambatan nyata, komunikasi yang kurang optimal antara pasien dan tenaga kesehatan, atau kondisi medis yang membutuhkan penyesuaian pendekatan.
Kesembuhan bukanlah produk dari obat semata. Ia adalah hasil dari sinergi antara ilmu kedokteran yang terus berkembang, kepercayaan dan kerja sama pasien, peran aktif keluarga, serta sistem kesehatan yang mendukung. Mengenali kompleksitas ini adalah langkah pertama menuju pengelolaan kesehatan yang lebih bijak dan efektif.
Referensi
Apsari, N., & Sartika, R. A. D. (2024). Hubungan persepsi hambatan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Pasar Minggu Jakarta Selatan. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 7(5), 1281–1293. https://doi.org/10.56338/mppki.v7i5.5114
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/
Febriyanti, R. M., Irawan, A. A., Anggriani, N., Andriyana, Y., & Abdulah, R. (2025). Challenges in implementing Indonesia’s community-based chronic disease management program (Prolanis): A scoping review. AIMS Public Health, 12(3), 890–915. https://doi.org/10.3934/publichealth.2025045
Jalleh, R. J., Talley, N. J., Horowitz, M., & Nauck, M. A. (2026). The science of safety: Adverse effects of GLP-1 receptor agonists as glucose-lowering and obesity medications. The Journal of Clinical Investigation, 136(4). https://doi.org/10.1172/JCI194740
Jo, A. J., Choo, E., Kim, S., Je, N. K., & Lee, I. H. (2026). Continuity of primary care and delayed opioid initiation in non-cancer pain: A cohort study. European Journal of Pain, 30(2), e70226. https://doi.org/10.1002/ejp.70226
Margiati, R., & Panma, Y. (2026). The relationship between family support and medication compliance in hypertension patients: Literature review. Maternal & Neonatal Health Journal, 7(1), 55–66. https://doi.org/10.37010/mnhj.v7i1.2212
Schnorrerova, P., Matalova, P., & Wawruch, M. (2024). Medication adherence: Measurement methods and approaches. Bratislavske Lekarske Listy, 125(4), 264–273. https://doi.org/10.4149/BLL_2024_40
Solihah, D. B., Wahyono, D., & Hapsari, I. (2025). Narrative review: Dampak kepatuhan minum obat terhadap kesehatan dan efisiensi biaya pengobatan. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia, 22(2), 77–83. http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/PHARMACY/article/view/26283
World Health Organization. (2023). Medication adherence and treatment outcomes: Global perspectives. https://www.who.int/
Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan “Obatnya Kok Tidak Mempan?” yang pertama kali diterbitkan pada 17 Oktober 2010. Informasi medis dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang berwenang.

Tinggalkan komentar