Bayangkan seorang pasien datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada hebat, lengkap dengan ekspresi kesakitan dan narasi yang meyakinkan. Pemeriksaan fisik dilakukan, elektrokardiogram direkam, laboratorium dipesan. Hasilnya? Semua normal. Tidak ditemukan kelainan apapun. Namun pasien terus bersikeras bahwa ia benar-benar menderita.
Situasi seperti ini bukan hal asing bagi dokter yang bekerja di lini depan pelayanan kesehatan. Di sinilah malingering — praktik berpura-pura atau melebih-lebihkan gejala penyakit untuk mendapatkan keuntungan tertentu — menjadi tantangan klinis yang nyata dan kompleks.
Apa Sebenarnya Malingering Itu?
Malingering bukan sebuah diagnosis penyakit dalam arti klinis, melainkan sebuah kondisi yang dikodekan secara tersendiri dalam sistem klasifikasi. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-5), malingering didefinisikan sebagai produksi gejala fisik atau psikologis yang sengaja dibuat-buat atau secara berlebihan dilebih-lebihkan, yang dimotivasi oleh insentif eksternal. Motivasi ini bisa beragam: menghindari wajib militer, mengelak dari tuntutan hukum, mendapatkan kompensasi finansial, memperoleh obat-obatan tertentu, atau sekadar mendapatkan surat keterangan sakit untuk menghindari pekerjaan.

Yang membedakan malingering dari kondisi lain seperti gangguan somatoform atau factitious disorder terletak pada satu kata kunci: motivasi eksternal yang dapat diidentifikasi. Pada factitious disorder, seseorang memalsukan sakit tanpa keuntungan eksternal yang jelas — motivasinya lebih bersifat psikologis internal, yakni keinginan untuk menjalani peran sebagai orang sakit. Sementara pada gangguan somatoform, pasien sungguh-sungguh meyakini bahwa dirinya sakit, meski secara objektif tidak ditemukan kelainan organik.
Seberapa Sering Ini Terjadi?
Angka prevalensi malingering sulit dipastikan karena sifatnya yang tersembunyi, namun data dari berbagai penelitian memberikan gambaran yang cukup bermakna. Sebuah studi yang dilakukan di unit gawat darurat psikiatri di Chicago, Amerika Serikat, menemukan prevalensi malingering sekitar 5,6 hingga 7,1% dari seluruh pasien psikiatri yang datang (Park et al., 2021). Studi ini juga menemukan bahwa pasien yang dicurigai melakukan malingering lebih cenderung berjenis kelamin laki-laki, berusia di atas 45 tahun, tidak memiliki tempat tinggal tetap, dan merupakan pengguna berulang layanan gawat darurat.
Angka ini mungkin terlihat kecil, namun dalam konteks fasilitas kesehatan yang sibuk, bahkan persentase kecil pun berarti sejumlah sumber daya yang terbuang dan pasien lain yang mungkin tidak mendapat perhatian yang semestinya.
Mengapa Seseorang Berpura-pura Sakit?
Pemahaman modern tentang malingering tidak lagi sekadar melihatnya sebagai tindakan curang atau bermoral buruk. Penelitian Park et al. (2021) menunjukkan bahwa pada sekitar 75% kasus malingering, pasien ternyata memiliki diagnosis psikiatri yang nyata. Dengan kata lain, banyak dari mereka yang “berpura-pura sakit” sebenarnya memang membutuhkan bantuan — hanya saja cara mereka mengekspresikan kebutuhan itu tidak sesuai dengan norma klinis.
Model adaptasional dalam memahami malingering menyatakan bahwa perilaku ini sering kali merupakan respons terhadap tekanan sosial, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau ketidakberdayaan dalam mengakses sistem layanan kesehatan dengan cara yang “benar”. Seseorang yang tidak memiliki asuransi, tidak mampu membeli obat, atau tidak tahu cara mengakses layanan kesehatan yang sesuai mungkin akan menggunakan strategi yang tampak seperti malingering sebagai jalan keluar dari situasi yang terasa buntu.
Hubungan antara gangguan kepribadian antisosial dan malingering sendiri telah lama dikenal dalam literatur psikiatri. Studi Park et al. (2021) mengkonfirmasi hal ini, dengan menemukan bahwa diagnosis gangguan kepribadian antisosial meningkatkan kemungkinan malingering hingga delapan kali lipat (OR = 8,03). Gangguan penggunaan zat juga merupakan prediktor yang signifikan.
Tantangan Diagnosis bagi Dokter
Mendeteksi malingering adalah salah satu tantangan paling rumit dalam praktik klinis, karena bertabrakan langsung dengan dua prinsip dasar kedokteran: asas beneficence (berbuat baik) dan asas non-maleficence (tidak merugikan). Di satu sisi, dokter tidak boleh menuduh pasien berpura-pura sakit tanpa bukti yang kuat karena risiko salah diagnosis bisa fatal — kondisi nyata bisa terlewatkan. Di sisi lain, membiarkan malingering tanpa teridentifikasi menghabiskan sumber daya yang semestinya tersedia untuk pasien yang benar-benar membutuhkan.
DSM-5 menyebutkan empat kondisi yang seharusnya memunculkan kecurigaan klinis terhadap malingering: konteks medikolegal (misalnya pasien yang sedang terlibat kasus hukum atau klaim asuransi), adanya kesenjangan bermakna antara keluhan subyektif dengan temuan objektif, kurangnya kerja sama dalam proses evaluasi dan pengobatan, serta adanya gangguan kepribadian antisosial.
Namun penting untuk dipahami bahwa keempat kondisi ini hanyalah petunjuk, bukan bukti. Proses penegakan malingering membutuhkan evaluasi yang cermat dan menyeluruh, bukan sekadar dugaan berdasarkan kesan pertama.
Instrumen dan Metode Deteksi Modern
Dunia neuropsikologi forensik telah mengembangkan berbagai instrumen terstandar untuk mendeteksi respons yang tidak valid, yang secara umum dibagi dalam dua kategori besar: Performance Validity Tests (PVT) untuk mengevaluasi validitas performa kognitif, dan Symptom Validity Tests (SVT) untuk menilai kredibilitas laporan gejala.
Ulasan komprehensif oleh Young et al. (2025) menggambarkan bagaimana penelitian PVT telah berkembang pesat, mencakup berbagai aplikasi klinis dan forensik, mulai dari evaluasi cedera psikologis hingga penilaian pada kondisi ekstrem. Prinsip dasarnya adalah bahwa pasien yang berpura-pura memiliki gangguan kognitif cenderung menunjukkan performa yang secara paradoks lebih buruk daripada yang seharusnya — bahkan lebih buruk dari pasien dengan gangguan kognitif nyata — karena mereka secara aktif berusaha gagal.
Untuk gejala psikiatri, instrumen seperti Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2-Restructured Form (MMPI-2-RF) menjadi salah satu alat yang paling banyak diteliti dan divalidasi. Penelitian Childers et al. (2025) pada populasi militer aktif menggunakan Response Bias Scale (RBS) dari MMPI-2-RF dan menemukan bahwa instrumen ini efektif mendeteksi respons yang tidak valid, meski dengan nuansa yang perlu diperhatikan tergantung pada konteks pemeriksaan.
Bahkan penelitian terbaru mulai mengeksplorasi teknologi yang lebih inovatif. Braw et al. (2025) mengujicoba penggunaan eye-tracker yang terintegrasi dengan skala nyeri numerik untuk mendeteksi nyeri yang dipalsukan. Hasilnya menunjukkan bahwa meski pergerakan mata tidak cukup sensitif sebagai indikator validitas, skor penilaian nyeri sendiri menunjukkan potensi sebagai skrining awal yang sederhana.
Di sisi deteksi pelaporan gejala berlebihan, Soble et al. (2025) memvalidasi nilai ambang batas dari Beck Depression Inventory-II (BDI-II) dan Beck Anxiety Inventory (BAI) sebagai embedded symptom validity tests — artinya, instrumen yang sudah rutin digunakan dalam evaluasi klinis bisa sekaligus berfungsi sebagai alat skrining awal untuk kecurigaan pelaporan gejala yang tidak kredibel.
Malingering dan Keadilan Sosial
Salah satu dimensi yang sering terlewatkan dalam diskusi tentang malingering adalah konteks sosial dan struktural yang melingkupinya. Data Park et al. (2021) menunjukkan bahwa pasien yang dicurigai malingering di instalasi gawat darurat cenderung berasal dari kelompok yang lebih rentan secara sosial-ekonomi. Kebutuhan utama yang mendorong perilaku ini sering kali bukan keinginan untuk berbuat curang, melainkan kebutuhan klinis yang tidak terpenuhi — akses terhadap layanan psikiatri, tempat berlindung, atau obat-obatan.
Dalam konteks Indonesia, di mana akses terhadap layanan spesialis — terutama psikiatri — masih sangat terbatas di daerah terpencil dan fasilitas kesehatan tingkat pertama masih menjadi garda terdepan pelayanan, pemahaman tentang dimensi sosial malingering ini menjadi semakin relevan. Seseorang yang datang ke puskesmas dengan keluhan yang tidak jelas bisa jadi bukan penipu, melainkan seseorang yang tidak tahu cara lain untuk mendapatkan pertolongan.
Sikap Klinis yang Tepat
Bagi dokter yang menghadapi kecurigaan malingering, beberapa prinsip berikut patut dijadikan panduan. Pertama, jangan terburu-buru menyimpulkan. Kecurigaan malingering tidak boleh menghalangi evaluasi klinis yang menyeluruh — diagnosis organik tetap harus disingkirkan terlebih dahulu. Kedua, dokumentasikan secara objektif. Catat ketidaksesuaian antara keluhan dengan temuan, bukan interpretasi subjektif tentang kejujuran pasien. Ketiga, libatkan spesialis bila diperlukan. Evaluasi malingering yang komprehensif sering membutuhkan kolaborasi dengan psikiater atau psikolog klinis, terutama untuk kasus dengan implikasi medikolegal. Keempat, tetaplah berempati. Bahkan bila malingering akhirnya terkonfirmasi, pertanyaan klinis yang perlu dijawab bukan hanya “apakah pasien berbohong?” melainkan juga “apa yang sebenarnya dibutuhkan pasien ini?”
Malingering memang menyusahkan — menyita waktu, energi, dan sumber daya. Namun pada akhirnya, ia adalah pengingat bahwa di balik setiap interaksi klinis, ada manusia dengan kebutuhan yang kompleks dan kadang tersembunyi di balik cara yang tidak selalu mudah dipahami.
Daftar Referensi
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Braw, Y., Goor-Aryeh, I., & Ratmansky, M. (2025). Detecting feigned pain using an eye-tracker integrated numerical pain rating scale (NPRS). Pain Practice: The Official Journal of World Institute of Pain, 25(7), e70074. https://doi.org/10.1111/papr.70074
Childers, L. G., Ingram, P. B., Schmidt, A. T., & Piña-Watson, B. (2025). The Response Bias Scale and Response Bias Scale-19 of the MMPI-2-RF: Cross validation and comparison in an active-duty neuropsychological sample. Archives of Clinical Neuropsychology, 40(6), 1237–1247. https://doi.org/10.1093/arclin/acaf034
Park, L., Costello, S., Li, J., Lee, R., & Jacobson, K. C. (2021). Race, health, and socioeconomic disparities associated with malingering in psychiatric patients at an urban emergency department. General Hospital Psychiatry, 71, 121–127. https://doi.org/10.1016/j.genhosppsych.2021.05.009
Soble, J. R., Finley, J.-C. A., Phillips, M. S., Abalos, S. A., Valencia, V. A., Jennette, K. J., & Pliskin, N. H. (2025). Using depression and anxiety self-report inventory cutoffs to screen for invalid psychiatric symptom overreporting during diagnostic evaluations for attention-deficit/hyperactivity disorder. Journal of Psychiatric Practice, 31(4), 201–208. https://doi.org/10.1097/PRA.0000000000000865
Young, G., Soble, J. R., Erdodi, L. A., & Giromini, L. (2025). One hundred and ten fundamentals of performance validity tests in neuropsychological forensic disability and related assessment II: Literature review. Applied Neuropsychology: Adult, 1–14. https://doi.org/10.1080/23279095.2025.2563677
Referensi PubMed diambil dari basis data PubMed/MEDLINE; DOI tercantum di masing-masing entri referensi.

Tinggalkan komentar