- Apa Itu Pterygium?
- Perbedaan Pterygium dan Pseudopterygium
- Mengapa Pterygium Terjadi? Memahami Patogenesis
- Faktor Risiko Pterygium
- Gejala dan Keluhan
- Klasifikasi Pterygium
- Pemeriksaan dan Diagnosis
- Penatalaksanaan Pterygium
- Perawatan Pasca Operasi
- Komplikasi Operasi
- Rekurensi Pterygium
- Pencegahan Pterygium
- Prognosis
- Pertimbangan Khusus untuk Indonesia
- Kesimpulan
Pernahkah Anda melihat seseorang dengan pertumbuhan jaringan seperti selaput berwarna kemerahan atau keputihan yang tumbuh dari sudut mata menuju bagian tengah kornea? Atau mungkin Anda sendiri mengalaminya? Kondisi ini dikenal sebagai pterygium (dibaca: terij-ium), yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut “daging tumbuh” atau “selaput mata”.
Di Indonesia yang beriklim tropis dengan paparan sinar matahari tinggi sepanjang tahun, pterygium merupakan salah satu kondisi mata yang cukup sering dijumpai. Mari kita bahas secara mendalam tentang apa itu pterygium, mengapa terjadi, dan bagaimana penanganannya berdasarkan keilmuan medis terkini.
Apa Itu Pterygium?
)
Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular (mengandung jaringan ikat dan pembuluh darah) yang berbentuk seperti segitiga atau baji, dimulai dari konjungtiva (selaput bening yang melapisi bagian putih mata) di area limbus (perbatasan antara kornea dan sklera) dan meluas ke permukaan kornea (lapisan transparan di bagian depan mata).
Karakteristik Pterygium:
Penampilan Khas:
- Berbentuk triangular (segitiga) dengan pangkal di konjungtiva dan ujung mengarah ke kornea
- Berwarna kemerahan, merah muda, atau keputihan
- Memiliki gambaran pembuluh darah yang jelas (fibrovaskular)
- Biasanya tumbuh dari sisi nasal (dekat hidung), meski bisa juga dari sisi temporal (dekat pelipis)
Karakteristik Pertumbuhan:
- Dapat tumbuh secara lambat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun
- Beberapa kasus bisa progresif dan terus tumbuh
- Ada juga yang stasioner (tidak bertambah besar setelah mencapai ukuran tertentu)
- Bisa terjadi bilateral (di kedua mata) pada 30-40% kasus
Karena penampilannya yang sangat khas, pterygium sering disebut sebagai diagnosis yang “unequivocal” (tidak meragukan)—artinya dokter dapat dengan mudah mengenalinya hanya dengan melihat. Diagnosis banding pterygium sangat terbatas, salah satunya adalah pseudopterygium.
Perbedaan Pterygium dan Pseudopterygium
| Karakteristik | Pterygium | Pseudopterygium |
|---|---|---|
| Penyebab | Degenerasi dan proliferasi jaringan | Akibat perlekatan konjungtiva ke kornea setelah trauma/ulkus |
| Perlekatan | Melekat erat pada kornea | Dapat dimasuki probe (sonde) di bawahnya |
| Pembuluh darah | Pembuluh darah aktif, meluas hingga ke kepala pterygium | Tidak ada pembuluh darah aktif menuju kornea |
| Lokasi | Biasanya nasal, bisa temporal | Bisa di lokasi mana saja |
| Bentuk | Segitiga dengan apex mengarah ke pupil | Bentuk tidak khas |
Mengapa Pterygium Terjadi? Memahami Patogenesis
Meskipun pterygium sudah lama dikenal, mekanisme pasti terjadinya masih terus diteliti. Penelitian terkini menunjukkan bahwa pterygium adalah kondisi multifaktorial yang melibatkan berbagai proses patologis.
Teori Patogenesis Terkini
Menurut penelitian yang dipublikasikan di PubMed, pterygium melibatkan beberapa mekanisme patologis (DOI: 10.1016/j.exer.2024.109900):
1. Degenerasi Elastotik Kolagen: Paparan kronis terhadap berbagai faktor lingkungan menyebabkan degenerasi (kerusakan) pada jaringan kolagen di area limbus, yang memicu proliferasi fibrovaskular abnormal.
2. Kerusakan Lapisan Bowman: Lapisan Bowman kornea mengalami kerusakan, yang diduga menjadi faktor penting dalam progresivitas pterygium. Ini menjelaskan mengapa pterygium dapat terus tumbuh memasuki kornea.
3. Disfungsi Sel Punca Limbus: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pterygium mungkin terkait dengan gangguan pada sel punca limbus kornea, yang normalnya berperan menjaga integritas permukaan mata.
4. Stres Oksidatif dan Inflamasi Kronis: Radiasi UV dan faktor lingkungan lainnya menyebabkan peningkatan stres oksidatif dan peradangan kronis yang memicu pertumbuhan abnormal jaringan.
5. Perubahan Ekspresi Gen: Ditemukan adanya penurunan ekspresi gen supresor tumor p53 dan peningkatan ekspresi berbagai growth factors (faktor pertumbuhan) seperti VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor), yang mempromosikan pertumbuhan pembuluh darah dan proliferasi sel.
6. Peran Mikrobioma Okular: Studi metagenomik terbaru yang dipublikasikan di Microbiology Spectrum menemukan bahwa pasien dengan pterygium memiliki disbiosis mikrobioma (ketidakseimbangan bakteri) pada permukaan mata, dengan peningkatan keanekaragaman mikroba dan keberadaan spesies bakteri tertentu yang terkait dengan virulensi dan resistensi antibiotik (DOI: 10.1128/spectrum.01730-25). Ini membuka pemahaman baru tentang peran mikrobioma dalam patogenesis pterygium.
Faktor Risiko Pterygium
Faktor Lingkungan
1. Radiasi Ultraviolet (UV)
Ini adalah faktor risiko paling signifikan untuk pterygium. Paparan sinar UV, terutama UVA dan UVB, merupakan penyebab utama:
- Orang yang tinggal di daerah ekuator atau tropis memiliki prevalensi lebih tinggi
- Populasi yang bekerja outdoor (petani, nelayan, pekerja konstruksi) lebih berisiko
- Di Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa, kasus pterygium sangat umum
Penelitian terbaru di Jerman mengonfirmasi bahwa pterygium memiliki prevalensi lebih tinggi pada populasi dengan paparan UV tinggi (DOI: 10.1007/s00347-024-02167-6).
2. Polusi Udara dan Partikulat
Studi time-series di Shanghai, China yang dipublikasikan di Journal of Global Health menemukan bahwa PM2.5 (Particulate Matter <2.5 μm) dan polutan udara lainnya (ozon, nitrogen dioksida) meningkatkan risiko pterygium secara signifikan (DOI: 10.7189/jogh.15.04110). Penelitian ini menemukan:
- PM2.5 memiliki efek lag paling signifikan, dengan risiko tertinggi pada hari ke-13 setelah paparan
- Wanita dan orang berusia 55-65 tahun lebih rentan terhadap konsentrasi PM2.5 yang sangat tinggi
- Radiasi solar dan PM2.5 adalah dua faktor lingkungan paling penting
3. Faktor Iklim Lainnya:
- Kekeringan mata akibat kelembaban rendah
- Angin yang membawa debu dan iritan
- Ketinggian (altitude) – prevalensi lebih tinggi di daerah dataran tinggi
4. Iritasi Kronis:
- Paparan debu berulang
- Asap (rokok, polusi industri)
- Bahan kimia di udara
Faktor Individu
1. Usia: Pterygium lebih sering terjadi pada usia 20-40 tahun, meskipun bisa terjadi pada usia berapa pun.
2. Jenis Kelamin: Beberapa studi menunjukkan prevalensi sedikit lebih tinggi pada pria, kemungkinan karena paparan outdoor lebih sering. Namun, penelitian tentang polusi udara menunjukkan wanita lebih rentan terhadap efek PM2.5.
3. Etnis dan Lokasi Geografis:
- Prevalensi tinggi di daerah “pterygium belt” (zona 37° utara dan 37° selatan ekuator)
- Populasi Asia, Amerika Latin, dan Afrika lebih berisiko
4. Predisposisi Genetik: Penelitian menunjukkan adanya komponen genetik dalam pterygium—individu dengan riwayat keluarga pterygium memiliki risiko lebih tinggi.
5. Kondisi Mata Kering (Dry Eye Disease): Menurut review terbaru, ada korelasi antara pterygium dan mata kering kronis (DOI: 10.1016/j.exer.2024.109900).
6. Infeksi Viral: Penelitian di Turki menemukan prevalensi HPV (Human Papillomavirus) sebesar 32,6% pada sampel pterygium, dengan HPV tipe 16 sebagai subtipe paling umum. Pasien HPV-positif memiliki risiko rekurensi 6,18 kali lebih tinggi (DOI: 10.1007/s10792-023-02791-2). Namun, penelitian menekankan bahwa HPV mungkin berperan bersama dengan kofaktor lain dalam proses multistage pterygium.
Gejala dan Keluhan
Tahap Awal (Pterygium Kecil)
Pada tahap awal, banyak pasien tidak merasakan gejala apapun atau hanya keluhan minimal:
- Gangguan Kosmetik:
- Mata tampak merah atau ada “selaput” yang mengganggu penampilan
- Ini seringkali menjadi alasan utama pasien mencari pengobatan
- Sensasi Benda Asing:
- Rasa seperti ada pasir atau debu di mata
- Rasa mengganjal atau tidak nyaman
- Mata Kering dan Iritasi:
- Mata terasa kering
- Iritasi ringan, terutama di lingkungan berangin atau berdebu
- Kemerahan:
- Area pterygium bisa tampak kemerahan, terutama saat iritasi atau inflamasi
Tahap Lanjut (Pterygium Besar/Progresif)
Jika pterygium terus tumbuh dan apex (ujung) memasuki area pupil, gejala menjadi lebih signifikan:
1. Gangguan Penglihatan:
- Astigmatisme kornea yang parah: Tekanan pterygium pada kornea mengubah kelengkungan kornea, menyebabkan astigmatisme irregular yang tidak bisa dikoreksi dengan kacamata biasa
- Obstruksi aksis visual: Jika ujung pterygium menutupi area pupil, pandangan menjadi kabur atau terhalang langsung
2. Gangguan Motilitas Mata:
- Pterygium yang sangat besar dapat mengganggu gerakan bola mata
- Pasien bisa mengalami diplopia (pandangan ganda) saat melihat ke samping (abduksi)
- Ini terjadi karena jaringan pterygium yang menebal menghalangi pergerakan otot mata
3. Inflamasi Berulang:
- Episode kemerahan dan iritasi yang berulang
- Nyeri atau ketidaknyamanan yang lebih intens
Klasifikasi Pterygium
Untuk membantu dalam manajemen dan prediksi prognosis, pterygium diklasifikasikan berdasarkan beberapa sistem:
Klasifikasi Berdasarkan Ukuran (T-grading)
- T1: Pterygium meluas < 2 mm dari limbus
- T2: Pterygium meluas 2-4 mm dari limbus (paling umum)
- T3: Pterygium meluas > 4 mm dari limbus
- T4: Pterygium mencapai atau melewati tepi pupil
Klasifikasi Berdasarkan Vaskularisasi (G-grading)
- G1: Pembuluh darah episklera di bawah pterygium masih terlihat jelas
- G2: Pembuluh darah episklera sebagian tersamar
- G3: Pembuluh darah episklera sama sekali tidak terlihat (pterygium tebal dan opak)
Klasifikasi Berdasarkan Status
- Primary pterygium: Pterygium yang baru pertama kali tumbuh
- Recurrent pterygium: Pterygium yang tumbuh kembali setelah operasi eksisi
Pemeriksaan dan Diagnosis
Anamnesis
Dokter akan menanyakan:
- Riwayat paparan sinar matahari dan lingkungan kerja
- Keluhan yang dirasakan dan kapan pertama kali muncul
- Riwayat trauma atau operasi mata sebelumnya
- Riwayat keluarga dengan pterygium
- Gejala mata kering atau iritasi kronis
Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Visus: Mengukur ketajaman penglihatan untuk mendeteksi apakah ada gangguan penglihatan akibat astigmatisme atau obstruksi visual.
2. Pemeriksaan Slit Lamp: Pemeriksaan dengan biomikroskop slit lamp (mikroskop khusus mata) memberikan detail yang sangat baik tentang:
- Ukuran dan lokasi pterygium
- Tingkat vaskularisasi
- Keterlibatan kornea
- Ada tidaknya inflamasi aktif
- Kondisi permukaan mata secara keseluruhan
3. Keratometri/Topografi Kornea: Untuk mengukur kelengkungan kornea dan mendeteksi astigmatisme yang disebabkan oleh pterygium.
4. Fotodokumentasi: Penting untuk mendokumentasikan dengan foto ukuran pterygium pada setiap kunjungan, sehingga progresivitas dapat dinilai secara objektif.
Diagnosis Banding
Meskipun pterygium memiliki penampilan khas, beberapa kondisi perlu dipertimbangkan:
- Pseudopterygium: Perlekatan konjungtiva ke kornea akibat trauma
- Pinguekula: Penebalan konjungtiva kekuningan di area limbus, tapi TIDAK meluas ke kornea
- Konjungtival Intraepithelial Neoplasia (CIN): Lesi prakanker yang bisa menyerupai pterygium
- Dermoid limbal: Massa kongenital yang mengandung jaringan dermis
Penelitian terbaru menunjukkan pentingnya membedakan pterygium dengan Conjunctival Squamous Intraepithelial Neoplasia (CSIN), yang merupakan lesi prakanker. Pemeriksaan dengan high-resolution OCT dan indocyanine green angiography dapat membantu identifikasi (DOI: 10.1097/ICO.0000000000003549).
Penatalaksanaan Pterygium
Manajemen pterygium bersifat individual dan tergantung pada ukuran, gejala, progresivitas, dan preferensi pasien.
Observasi (Watchful Waiting)
Sebagian besar kasus pterygium yang kecil, stasioner, dan tanpa gejala hanya memerlukan observasi:
Indikasi Observasi:
- Pterygium kecil (T1-T2) tanpa gejala
- Tidak ada gangguan penglihatan
- Tidak ada inflamasi atau iritasi berulang
- Pasien tidak terganggu secara kosmetik
Tindakan Selama Observasi:
- Pemeriksaan berkala (setiap 6-12 bulan)
- Fotodokumentasi untuk menilai progresivitas
- Edukasi tentang proteksi UV
Terapi Medikamentosa (Non-Bedah)
1. Air Mata Buatan (Artificial Tears):
- Produk yang paling sering direkomendasikan
- Membantu melumasi mata dan mengurangi iritasi
- Tersedia bebas di apotek
- Gunakan 3-4 kali sehari atau sesuai kebutuhan
- Pilih yang bebas pengawet untuk penggunaan jangka panjang
2. Obat Tetes Vasokontriktor:
- Mengurangi kemerahan pada pterygium yang mengalami inflamasi ringan
- Contoh: tetrahydrozoline, naphazoline
- Catatan: Jangan digunakan jangka panjang karena bisa menyebabkan rebound hyperemia
3. Kortikosteroid Topikal:
- Untuk pterygium yang mengalami inflamasi
- Harus dengan resep dokter
- Contoh: fluorometholone 0,1%, prednisolone acetate 1%
- Perhatian: Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menyebabkan:
- Peningkatan tekanan intraokular (glaukoma)
- Katarak subkapsular posterior
- Infeksi oportunistik
- Harus di bawah pengawasan dokter mata
4. NSAID Topikal:
- Alternatif kortikosteroid untuk anti-inflamasi
- Contoh: ketorolac, diclofenac
- Efek samping lebih sedikit dibanding kortikosteroid
Catatan Penting: Terapi medikamentosa TIDAK dapat menghilangkan pterygium yang sudah terbentuk, hanya mengurangi gejala dan inflamasi.
Terapi Bedah (Eksisi Pterygium)
Operasi adalah satu-satunya cara definitif untuk menghilangkan pterygium.
Indikasi Operasi:
- Gangguan Penglihatan:
- Astigmatisme kornea yang signifikan
- Pterygium mendekati atau memasuki zona pupil
- Gejala yang Mengganggu:
- Iritasi kronis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa
- Kemerahan berulang
- Rasa tidak nyaman persisten
- Gangguan Motilitas Mata:
- Pterygium yang sangat besar mengganggu gerakan mata
- Alasan Kosmetik:
- Pasien merasa terganggu dengan penampilan mata
- Pertimbangan: Bekas luka operasi juga bisa menjadi pertimbangan kosmetik
- Pterygium Progresif:
- Pterygium yang terus tumbuh meskipun ukurannya masih kecil
Teknik Pembedahan Terkini
Penelitian 30 tahun terakhir menunjukkan evolusi teknik pembedahan pterygium dengan fokus pada minimalisasi rekurensi.
1. Eksisi Pterygium dengan Conjunctival Autograft (CAG)
Ini adalah teknik gold standard saat ini berdasarkan berbagai studi besar.
Prosedur:
- Pterygium dieksisi (diangkat) secara lengkap, termasuk kepala dan badannya
- Kornea dibersihkan hingga halus
- Defek konjungtiva ditutup dengan graft (cangkok) konjungtiva yang diambil dari area konjungtiva sehat pasien sendiri (biasanya dari area superior/atas)
- Graft difiksasi dengan fibrin glue (lem fibrin) atau jahitan
Keunggulan:
- Tingkat rekurensi sangat rendah
- Studi di Filipina (9.219 mata) melaporkan rekurensi hanya 1% dengan teknik CAG (DOI: 10.1186/s12886-025-04196-4)
- Penelitian di UK menunjukkan rekurensi 1,3% dengan CAG (DOI: 10.7759/cureus.62440)
- Hasil kosmetik baik
Fiksasi dengan Fibrin Glue vs Jahitan:
- Fibrin glue lebih disukai karena:
- Prosedur lebih cepat
- Lebih nyaman untuk pasien
- Rekurensi lebih rendah (5,92% dengan glue vs 8,99% dengan jahitan)
- Tidak perlu pengangkatan jahitan
2. Limbal Conjunctival Autograft (LCAG)
Prosedur: Mirip CAG, namun graft diambil dari area limbus, sehingga mengandung sel punca limbus yang membantu regenerasi kornea.
Keunggulan:
- Rekurensi lebih rendah lagi: 5,50% secara global, 2,56% jika menggunakan fibrin glue
- Terutama efektif untuk pterygium rekuren
3. Amniotic Membrane Graft (AMG/AMT)
Prosedur: Menggunakan membran amnion (selaput ketuban) sebagai graft untuk menutup defek.
Keunggulan:
- Tidak perlu mengambil jaringan konjungtiva pasien (konjungtiva preservation)
- Bermanfaat jika konjungtiva pasien terbatas (misalnya pada pterygium bilateral, pterygium double-headed, atau pasien yang akan menjalani operasi glaukoma di masa depan)
- Membran amnion memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-angiogenik
Kekurangan:
- Tingkat rekurensi lebih tinggi jika digunakan sendiri (9,0% global, 23% jika dijahit)
- Namun jika menggunakan fibrin glue, rekurensi turun drastis menjadi 3,60%
Review komprehensif 30 tahun menyimpulkan bahwa AMG adalah opsi yang reasonable, terutama jika menggunakan fibrin glue (DOI: 10.1007/s40123-023-00689-x).
4. Teknik Kombinasi
CAG/LCAG + AMG: Beberapa studi menunjukkan kombinasi teknik memberikan hasil terbaik dengan tingkat rekurensi hanya 1,83%.
Simple Conjunctival Epithelial Transplantation (SCET): Teknik inovatif di mana fragmen konjungtiva kecil ditempel pada membran amnion dan ditempelkan ke area defek. Fragmen ini kemudian berkembang in vivo (di dalam mata pasien) membentuk epitel konjungtiva lengkap dalam 6-13 hari (DOI: 10.1136/bmjophth-2022-EEBA.22).
5. Adjuvan Terapi
Mitomycin C (MMC):
- Agen kemoterapi yang menghambat proliferasi fibroblas
- Diaplikasikan intraoperatif (konsentrasi 0,02-0,04% selama 2-3 menit) atau postoperatif
- Mengurangi rekurensi terutama pada pterygium rekuren
- Risiko: Dapat menyebabkan komplikasi serius seperti nekrosis sklera, glaukoma, atau katarak jika tidak digunakan dengan hati-hati
Beta Radiation (Strontium-90):
- Plakat radioaktif yang diaplikasikan intraoperatif
- Menekan pertumbuhan kembali pembuluh darah
- Jarang digunakan saat ini karena kekhawatiran efek samping jangka panjang
5-Fluorouracil (5-FU):
- Alternatif MMC
- Bisa digunakan sebagai injeksi subkonjungtiva postoperatif untuk pterygium rekuren
Algoritma Manajemen Pterygium
Berdasarkan studi besar di India (9.219 mata) yang dipublikasikan di Romanian Journal of Ophthalmology, berikut algoritma yang disederhanakan (DOI: 10.22336/rjo.2024.21):
Primary Single-Head Pterygium:
- Pilihan utama: CAG dengan fibrin glue
- Alternatif (jika CAG kontraindikasi): Inferior CAG, CTG-P (Conjunctival Tissue Graft from Pterygium), atau AMG
Primary Double-Head Pterygium:
- Vertical/horizontal split CAG
- Inferior + Superior CAG
- CAG + CTG-P
- CAG + AMG
Recurrent Single-Head Pterygium:
- Extended Resection (ER) + LCAG
- LCAG + MMC
- CAG + MMC
Recurrent Double-Head Pterygium:
- Split LCAG
- CAG + SLET (Simple Limbal Epithelial Transplantation)
Perawatan Pasca Operasi
Minggu 1-2 (Kritis):
- Obat-obatan:
- Antibiotik tetes mata (4x sehari) untuk mencegah infeksi
- Kortikosteroid tetes mata (4x sehari, tapering off) untuk mengurangi inflamasi
- Air mata buatan (sesering mungkin) untuk kenyamanan
- Proteksi Mata:
- Mata ditutup dengan eye pad selama 24-48 jam pertama
- Gunakan kacamata pelindung saat keluar rumah
- Hindari menggosok mata
- Aktivitas:
- Istirahat cukup
- Hindari aktivitas berat, mengangkat beban, atau mengejan
- Hindari berenang, sauna, atau paparan air kotor
- Higiene:
- Jangan biarkan air sabun, shampo, atau air kotor masuk ke mata
- Cuci tangan sebelum meneteskan obat
Minggu 2-4:
- Kontrol rutin untuk evaluasi penyembuhan
- Pengurangan bertahap dosis kortikosteroid
- Mulai aktivitas ringan jika sudah diizinkan dokter
Bulan 1-6:
- Pemantauan berkala untuk mendeteksi rekurensi dini
- Proteksi UV dengan kacamata hitam
- Lanjutkan air mata buatan jika perlu
Jangka Panjang:
- Kontrol berkala setiap 6-12 bulan
- Fotodokumentasi untuk deteksi rekurensi
- Proteksi UV konsisten
Komplikasi Operasi
Meskipun umumnya aman, operasi pterygium dapat menimbulkan komplikasi:
Komplikasi Minor (Lebih Umum)
- Conjunctival Granuloma (2-3%):
- Benjolan kecil di lokasi graft
- Studi 11 tahun di AS menemukan ini lebih umum daripada rekurensi (DOI: 10.1097/ICL.0000000000001190)
- Penanganan: eksisi sederhana jika mengganggu
- Wound Dehiscence:
- Graft terlepas sebagian
- Lebih sering dengan jahitan dibanding fibrin glue
- Residual Pterygium:
- Sisa jaringan pterygium yang tidak terangkat sempurna
- Bisa dieksisi ulang jika simptomatik
- Kemerahan dan Iritasi Berkepanjangan:
- Bisa berlangsung > 1 bulan
- Biasanya membaik dengan air mata buatan
Komplikasi Sedang
- Diplopia (Pandangan Ganda):
- Akibat gangguan otot mata selama operasi
- Biasanya transien
- Astigmatisme Kornea:
- Bisa meningkat atau menurun pasca operasi
- Biasanya membaik dalam 3-6 bulan
- Subconjunctival Hemorrhage:
- Perdarahan di bawah konjungtiva
- Self-limiting, akan hilang dalam 2-3 minggu
Komplikasi Berat (Jarang)
Komplikasi serius yang memerlukan manajemen agresif
- Infeksi:
- Konjungtivitis bakterial
- Keratitis
- Endophthalmitis (sangat jarang)
- Nekrosis Sklera:
- Terutama terkait penggunaan MMC berlebihan
- Perforasi Bola Mata:
- Sangat jarang
- Bisa terjadi pada operasi yang sulit atau pterygium rekuren dengan jaringan parut luas
- Ablasio Retina:
- Komplikasi yang sangat jarang
- Vitreous Hemorrhage:
- Sangat jarang
Rekurensi Pterygium
Rekurensi (tumbuh kembali) adalah komplikasi paling ditakuti dari operasi pterygium.
Tingkat Rekurensi Berdasarkan Teknik
Berdasarkan data terkini dari berbagai studi besar:
| Teknik | Rekurensi Global | Dengan Fibrin Glue | Dengan Jahitan |
|---|---|---|---|
| CAG | 7,61% | 5,92% | 8,99% |
| LCAG | 5,50% | 2,56% | 6,03% |
| AMG | 9,0% | 3,60% | 23,0% |
| CAG/LCAG + AMG | 1,83% | – | – |
Faktor Risiko Rekurensi
1. Usia Muda: Pasien < 40 tahun memiliki risiko rekurensi signifikan lebih tinggi (DOI: 10.7759/cureus.62440). Ini kemungkinan karena aktivitas proliferatif sel lebih tinggi.
2. Pterygium Primer vs Rekuren: Pterygium rekuren memiliki tingkat rekurensi lebih tinggi lagi jika dioperasi ulang.
3. Ukuran dan Grading: Pterygium T3-T4 dan G3 (tebal, opak) memiliki risiko rekurensi lebih tinggi.
4. Teknik Fiksasi: Fibrin glue superior dibanding jahitan dalam hal rekurensi.
5. Infeksi HPV: HPV-positif meningkatkan risiko rekurensi 6,18 kali (DOI: 10.1007/s10792-023-02791-2).
6. Paparan UV Postoperatif: Pasien yang tidak memakai proteksi UV setelah operasi lebih berisiko rekurensi.
Waktu Rekurensi
Mayoritas rekurensi terjadi dalam 6-12 bulan pertama pasca operasi, meskipun bisa terjadi hingga bertahun-tahun kemudian. Median waktu rekurensi adalah sekitar 3 bulan.
Manajemen Rekurensi
Jika terjadi rekurensi:
- Re-eksisi dengan teknik yang lebih agresif (extended resection)
- Penggunaan LCAG (mengandung sel punca limbus)
- Adjuvan MMC atau 5-FU
- Beberapa kasus mungkin memerlukan keratoplasti (transplantasi kornea) jika ada kerusakan ekstensif pada lapisan Bowman
Pencegahan Pterygium
Karena pterygium sangat terkait dengan faktor lingkungan, pencegahan fokus pada modifikasi paparan:
Proteksi Ultraviolet
Ini adalah strategi pencegahan PALING PENTING:
- Kacamata Hitam:
- Gunakan kacamata dengan UV protection 100% atau minimal UV400
- Pilih kacamata wraparound (membungkus) yang melindungi dari samping
- Gunakan setiap kali keluar rumah, terutama jam 10.00-16.00
- Topi/Payung:
- Topi bertepi lebar memberikan proteksi tambahan
- Payung saat berjalan di bawah matahari terik
- Hindari Paparan Langsung:
- Minimalisir aktivitas outdoor di jam-jam puncak sinar UV
- Gunakan pelindung tambahan jika bekerja outdoor
Proteksi dari Polutan dan Debu
- Kacamata Pelindung:
- Saat bekerja di lingkungan berdebu
- Saat berkendara motor (wind shield)
- Saat menggunakan alat yang menghasilkan partikulat
- Hindari Asap Rokok:
- Berhenti merokok
- Hindari paparan asap rokok pasif
- Kualitas Udara:
- Gunakan masker di area dengan polusi tinggi
- Pasang air purifier di rumah jika tinggal di area polusi tinggi
Manajemen Mata Kering
- Air Mata Buatan:
- Gunakan secara rutin jika ada kecenderungan mata kering
- Terutama di lingkungan AC atau banyak layar
- Hidrasi Cukup:
- Minum air yang cukup setiap hari
- Istirahat Mata:
- Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik
- Blink lebih sering saat menggunakan komputer
Pemeriksaan Rutin
Jika Anda berisiko tinggi (pekerja outdoor, riwayat keluarga, tinggal di daerah tropis):
- Pemeriksaan mata rutin setiap 1-2 tahun
- Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih awal
Prognosis
Dengan Observasi:
- Pterygium kecil dan stasioner memiliki prognosis baik
- Tidak semua pterygium akan tumbuh progresif
- Monitoring berkala diperlukan
Dengan Operasi:
- Prognosis secara umum sangat baik
- Dengan teknik modern (CAG/LCAG dengan fibrin glue), tingkat rekurensi <5%
- Mayoritas pasien mengalami perbaikan gejala dan penampilan yang signifikan
- Penglihatan biasanya membaik atau kembali normal, terutama jika operasi dilakukan sebelum pterygium sangat besar
Rekurensi:
- Meskipun mengecewakan, pterygium rekuren masih bisa ditangani
- Operasi ulang dengan teknik yang lebih agresif dan adjuvan dapat memberikan hasil baik
- Proteksi UV postoperatif sangat penting untuk mencegah rekurensi
Pertimbangan Khusus untuk Indonesia
Indonesia memiliki prevalensi pterygium yang tinggi karena:
- Lokasi Geografis: Berada di garis khatulistiwa dengan paparan UV sangat tinggi sepanjang tahun
- Pekerjaan Outdoor: Banyak populasi bekerja sebagai petani, nelayan, atau pekerja outdoor lainnya
- Iklim Tropis: Panas, lembab, dan sering berdebu
Rekomendasi Spesifik:
- Edukasi Publik: Kampanye tentang pentingnya proteksi UV
- Akses Kacamata UV: Subsidi atau kemudahan akses kacamata pelindung UV untuk pekerja outdoor
- Skrining Komunitas: Program skrining mata di area dengan prevalensi tinggi
- Pelatihan Tenaga Kesehatan: Memastikan dokter di fasilitas primer dapat mendiagnosis dan merujuk pterygium dengan tepat
Kesimpulan
Pterygium adalah kondisi mata yang umum di Indonesia, sangat terkait dengan paparan sinar ultraviolet dan polusi lingkungan. Meskipun seringkali hanya menimbulkan gangguan kosmetik ringan pada tahap awal, pterygium dapat berkembang menjadi kondisi yang mengganggu penglihatan jika tidak ditangani.
Penelitian terkini telah memberikan pemahaman lebih baik tentang patogenesis pterygium, termasuk peran mikrobioma, polusi udara, dan faktor genetik. Kemajuan teknik pembedahan, terutama dengan penggunaan conjunctival autograft dan fibrin glue, telah menurunkan tingkat rekurensi secara dramatis, menjadikan operasi pterygium prosedur yang sangat aman dan efektif.
Pencegahan melalui proteksi UV yang konsisten dan minimalisasi paparan polutan adalah kunci untuk mengurangi insidensi pterygium. Bagi mereka yang sudah memiliki pterygium, konsultasi dengan dokter spesialis mata akan membantu menentukan strategi manajemen yang tepat—apakah observasi, terapi medikamentosa, atau pembedahan.
Dengan kesadaran yang baik tentang faktor risiko, proteksi yang tepat, dan akses ke layanan kesehatan mata yang berkualitas, beban pterygium di masyarakat Indonesia dapat dikurangi secara signifikan.
Catatan Penting: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Jika Anda mengalami pterygium atau gejala terkait, konsultasikan dengan dokter spesialis mata (oftalmolog) untuk evaluasi dan penanganan yang tepat.
Referensi:
Artikel ini dikembangkan berdasarkan literatur medis terkini yang diakses melalui PubMed, dengan referensi utama meliputi:
- Yuan Q, et al. Exploring the ocular microecology and its role in pterygium based on metagenomics. Microbiol Spectr. 2025. DOI: 10.1128/spectrum.01730-25
- Zeng H, et al. The nonlinear impact of air pollutants and solar radiation exposure on the risk of hospitalisation for pterygium. J Glob Health. 2025. DOI: 10.7189/jogh.15.04110
- Schilcher AV, Geerling G. Climate change and ocular surface diseases. Ophthalmologie. 2025. DOI: 10.1007/s00347-024-02167-6
- Ding P, et al. Risk factors for pterygium: Latest research progress on major pathogenesis. Exp Eye Res. 2024. DOI: 10.1016/j.exer.2024.109900
- Nergiz D, et al. The role of HPV in the etiopathogenesis of pterygium and the relationship with recurrence. Int Ophthalmol. 2023. DOI: 10.1007/s10792-023-02791-2
- Alves M, et al. TFOS Lifestyle Report: Impact of environmental conditions on the ocular surface. Ocul Surf. 2023. DOI: 10.1016/j.jtos.2023.04.007
- Noguera SI, et al. Clinical outcomes of pterygium surgery over a ten-year period. BMC Ophthalmol. 2025. DOI: 10.1186/s12886-025-04196-4
- Fearon KH, et al. Conjunctival Granulomas More Common than Recurrence in an 11-year Series of Pterygium Surgery. Eye Contact Lens. 2025. DOI: 10.1097/ICL.0000000000001190
- Kodavoor SK, et al. Management of pterygium: our experience and a simplified treatment algorithm. Rom J Ophthalmol. 2024. DOI: 10.22336/rjo.2024.21
- Arun K, et al. Primary Pterygium Excision Surgery: Analysis of Risk Factors and Clinical Outcomes. Cureus. 2024. DOI: 10.7759/cureus.62440
- Paganelli B, et al. Conjunctival and Limbal Conjunctival Autograft vs. Amniotic Membrane Graft in Primary Pterygium Surgery: A 30-Year Comprehensive Review. Ophthalmol Ther. 2023. DOI: 10.1007/s40123-023-00689-x
- Stöckl V, et al. Corneal Microaneurysm-A Vascular Feature of Conjunctival Squamous Intraepithelial Neoplasia. Cornea. 2024. DOI: 10.1097/ICO.0000000000003549
- Bertolin M, et al. Renewal of conjunctival epithelium over amniotic membrane to perform autologous simple conjunctival epithelial transplantation (SCET). BMJ Open Ophthalmol. 2022. DOI: 10.1136/bmjophth-2022-EEBA.22

Tinggalkan Balasan ke aldy Batalkan balasan