A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Nyeri adalah pengalaman yang universal. Hampir setiap orang pernah merasakan nyeri dalam hidupnya, mulai dari sakit kepala ringan hingga nyeri punggung yang melumpuhkan aktivitas. Namun di balik pengalaman yang tampak sederhana itu, tersimpan berbagai kesalahpahaman yang sudah beredar lama di masyarakat — bahkan di kalangan medis sekalipun. Artikel ini menelaah kembali beberapa mitos dan fakta seputar nyeri kronis berdasarkan pemahaman ilmu pengetahuan terkini, sebagian memperbarui apa yang sempat ditulis di sini lebih dari satu dekade lalu.

Nyeri kronis didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan, melampaui masa penyembuhan jaringan yang wajar. Berbeda dengan nyeri akut yang berfungsi sebagai sinyal peringatan, nyeri kronis kerap menjadi penyakit tersendiri dengan mekanisme yang kompleks dan multidimensional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui nyeri kronis sebagai masalah kesehatan global yang signifikan, dan International Association for the Study of Pain (IASP) pada 2020 memperbarui definisi nyeri menjadi “pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan, atau menyerupai kerusakan jaringan aktual atau potensial” — menegaskan bahwa nyeri selalu merupakan pengalaman personal dengan komponen biologis, psikologis, dan sosial.


Cuaca Mempengaruhi Nyeri Sendi — Fakta yang Lebih Kompleks dari yang Disangka

Banyak penderita artritis atau nyeri sendi kronis melaporkan bahwa keluhan mereka memburuk saat cuaca dingin, menjelang hujan, atau ketika tekanan udara berubah. Ini bukan sekadar sugesti. Penelitian yang dipublikasikan dalam BMJ Open oleh Smedslund dan kolega (2021) melakukan analisis sistematis terhadap sejumlah studi observasional dan menemukan hubungan yang tidak konsisten antara cuaca dan intensitas nyeri — sebagian studi menunjukkan efek signifikan, sebagian lainnya tidak.

Yang menarik, sebuah studi besar dari University of Manchester yang menggunakan data smartphone dari ribuan partisipan menemukan bahwa hujan dan kelembaban tinggi memang berkorelasi dengan peningkatan nyeri pada penderita arthritis dan fibromialgia, meskipun efeknya bervariasi antar individu (Dixon et al., 2019). Mekanisme yang paling banyak dihipotesiskan adalah perubahan tekanan barometrik yang memengaruhi tekanan di dalam sendi, serta efek suhu terhadap viskositas cairan sendi dan kepekaan ujung saraf. Jadi meski hubungannya nyata, respons setiap orang terhadap cuaca bersifat sangat individual dan tidak dapat digeneralisasi.


Perempuan Lebih Tahan Nyeri daripada Laki-laki — Mitos yang Perlu Diluruskan

Anggapan lama bahwa perempuan “lebih kuat” menghadapi nyeri karena kemampuan melahirkan perlu dikaji ulang secara kritis. Penelitian terkini justru menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan dalam Pain Management Nursing (He et al., 2025), studi cross-sectional terhadap lebih dari 1.600 orang dewasa di Tiongkok menemukan bahwa laki-laki justru melaporkan prevalensi dan intensitas nyeri kronis yang lebih tinggi dibandingkan perempuan — sebuah temuan yang menantang asumsi tradisional bahwa nyeri kronis lebih dominan pada perempuan.

Penelitian lain yang diterbitkan di Zhurnal Nevrologii i Psikhiatrii (Kicherova et al., 2024) menunjukkan bahwa perbedaan persepsi nyeri antara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor hormonal, anatomis, dan psikososial yang saling berinteraksi. Perempuan memang cenderung lebih aktif mencari bantuan medis untuk nyeri dan menggunakan lebih banyak strategi coping, namun ini tidak berarti mereka merasakan nyeri lebih ringan. Studi lain menemukan bahwa perempuan pasca-menopause justru menunjukkan respons yang lebih baik terhadap modalitas terapi tertentu seperti spinal cord stimulation dibandingkan laki-laki seusianya (Hani Abdullah et al., 2024).

Kesimpulannya: nyeri adalah pengalaman yang sangat personal dan tidak bisa dinilai berdasarkan jenis kelamin semata. Asumsi bahwa salah satu jenis kelamin “lebih kuat” menghadapi nyeri berpotensi menghambat penanganan yang tepat, terutama pada laki-laki yang cenderung mengabaikan nyerinya.


Istirahat Total Baik untuk Nyeri Punggung — Mitos yang Sudah Lama Terbantahkan

Ini adalah salah satu mitos yang paling bertahan di masyarakat, padahal sudah dibantah sejak akhir 1990-an. Istirahat total atau tirah baring (bed rest) untuk nyeri punggung bawah (low back pain) justru terbukti memperburuk kondisi dalam jangka panjang. Panduan klinis dari berbagai organisasi medis internasional, termasuk European Spine Society dan American College of Physicians, secara konsisten merekomendasikan bahwa pasien dengan nyeri punggung bawah tidak spesifik sebaiknya tetap aktif dan menghindari tirah baring berkepanjangan.

Systematic review oleh Dahm dan kolega yang dimuat dalam Cochrane Database menunjukkan bahwa aktivitas fisik terpandu menghasilkan pemulihan lebih cepat dibandingkan istirahat. Dari perspektif neurosains nyeri, inaktivitas justru meningkatkan sensitivitas sistem saraf pusat melalui mekanisme central sensitization, sehingga respons nyeri terhadap stimulus yang sama menjadi lebih kuat. Prinsip yang kini dianjurkan adalah “tetap bergerak secara aman” — batasi gerakan yang memicu nyeri akut, namun lanjutkan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi dan kembalilah berolahraga secara bertahap.


Berat Badan Berlebih Memperburuk Nyeri Kronis — Fakta dengan Bukti Kuat

Hubungan antara obesitas dan nyeri kronis adalah dua arah. Kelebihan berat badan memberikan beban mekanis tambahan pada sendi penopang tubuh, terutama lutut dan punggung bawah. Namun lebih dari sekadar beban mekanis, jaringan lemak (adipose tissue) menghasilkan mediator inflamasi seperti sitokin dan adipokin yang dapat meningkatkan sensitivitas jalur nyeri secara sistemik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penurunan berat badan sebesar 10% saja sudah memberikan pengurangan nyeri yang bermakna klinis pada penderita osteoartritis lutut.

Panduan dari IASP dan berbagai guideline nasional kini memasukkan manajemen berat badan sebagai komponen integral dari tata laksana nyeri kronis muskuloskeletal, bukan sekadar rekomendasi sampingan.


Olahraga Mengurangi Nyeri Kronis — Fakta yang Kini Didukung Bukti Sangat Kuat

Dari semua intervensi non-farmakologis untuk nyeri kronis, olahraga adalah yang paling kuat didukung oleh bukti ilmiah. Penelitian yang dipublikasikan dalam Health Psychology and Behavioral Medicine (Maas et al., 2026) mengevaluasi terapi nyeri multimodal interdisipliner selama empat minggu pada 308 pasien nyeri muskuloskeletal kronis, dan menemukan penurunan signifikan pada intensitas nyeri dan disabilitas yang bertahan hingga enam bulan setelah pengobatan. Program tersebut mengombinasikan latihan fisik, terapi manual, dan terapi kognitif-perilaku.

Olahraga bekerja melalui berbagai mekanisme: meningkatkan produksi endorfin endogen, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi inflamasi sistemik, dan yang sangat penting — membalikkan central sensitization melalui modulasi jalur nyeri di sistem saraf pusat. Olahraga aerobik intensitas sedang seperti jalan kaki, berenang, dan bersepeda; latihan kekuatan; serta yoga dan tai chi semuanya terbukti bermanfaat untuk berbagai kondisi nyeri kronis. Kuncinya adalah konsistensi dan progresivitas, bukan intensitas tinggi sejak awal.


Jika Tidak Ada Penyebab Organik, Nyeri Hanya Ada di Kepala — Mitos yang Berbahaya

Ini mungkin mitos yang paling merugikan pasien. Selama bertahun-tahun, pasien dengan nyeri yang tidak ditemukan penyebabnya secara organik sering dianggap berpura-pura atau mengalami gangguan psikiatri. Pemahaman modern tentang neurosains nyeri telah sepenuhnya mengubah paradigma ini.

Nyeri kronis tanpa penyebab struktural yang jelas kini dipahami sebagai manifestasi dari perubahan nyata pada sistem saraf pusat — sebuah kondisi yang disebut nociplastic pain atau central sensitization. Pada kondisi ini, sistem saraf menjadi hypersensitive dan menghasilkan sinyal nyeri bahkan tanpa adanya kerusakan jaringan. Ini adalah proses biologis yang nyata, bukan rekayasa mental. Kondisi seperti fibromialgia, nyeri kronik setelah trauma, dan sebagian nyeri punggung kronis masuk dalam kategori ini.

IASP pada 2021 secara resmi mengakui nociplastic pain sebagai mekanisme nyeri ketiga, di samping nyeri nosiseptif (akibat kerusakan jaringan) dan nyeri neuropatik (akibat kerusakan saraf). Dengan pemahaman ini, ketiadaan temuan pada pencitraan atau pemeriksaan laboratorium bukan berarti pasien tidak merasakan nyeri — justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa mekanisme nyerinya terletak di tingkat pemrosesan sistem saraf, bukan di jaringan perifer.


Nyeri Ringan Tidak Perlu Dikhawatirkan — Mitos yang Perlu Nuansa

Meski setiap nyeri tidak harus langsung memerlukan penanganan medis, mengabaikan nyeri yang berlangsung terus-menerus adalah keliru. Nyeri akut yang tidak ditangani dengan baik memiliki risiko berkembang menjadi nyeri kronis melalui proses central sensitization. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi dini pada nyeri akut yang intens — misalnya pasca-operasi atau pasca-trauma — dapat secara bermakna mengurangi risiko kronifikasi.

Panduan umum yang masih relevan adalah: konsultasikan nyeri yang berlangsung lebih dari dua minggu, nyeri yang progresif memberat, nyeri yang disertai gejala lain (demam, penurunan berat badan, kelemahan anggota gerak), atau nyeri yang secara bermakna mengganggu fungsi dan kualitas hidup.


Sikap dan Kondisi Mental Memengaruhi Nyeri — Fakta yang Kini Memiliki Dasar Neurobiologis

Hubungan antara kondisi psikologis dan nyeri bukan sekadar “pikiran positif membantu” — ini memiliki dasar neurobiologis yang solid. Depresi, kecemasan, dan catastrophizing (kecenderungan melebih-lebihkan ancaman nyeri) secara konsisten terbukti meningkatkan intensitas nyeri yang dirasakan dan memperburuk disabilitas. Studi Maas et al. (2026) menunjukkan bahwa perbaikan dalam kesejahteraan subjektif dan kesehatan mental berkorelasi lebih kuat dengan penurunan intensitas nyeri dibandingkan perbaikan fungsi fisik yang terukur secara objektif.

Ini berarti pendekatan biopsikososial — yang mempertimbangkan faktor biologis, psikologis, dan sosial secara bersamaan — bukan sekadar tren, melainkan standar tata laksana nyeri kronis yang direkomendasikan secara internasional. Psikoterapi, khususnya cognitive behavioral therapy (CBT) untuk nyeri, telah terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan fungsi pada berbagai kondisi nyeri kronis.


No Pain, No Gain — Mitos yang Bisa Berbahaya jika Disalahartikan

Prinsip “tidak sakit tidak ada hasil” mungkin memiliki tempat dalam pelatihan atletik intensif, namun sama sekali tidak berlaku untuk manajemen nyeri kronis. Memaksakan aktivitas melampaui batas toleransi nyeri justru dapat memperparah sensitization sistem saraf dan memperpanjang masa pemulihan. Pendekatan yang direkomendasikan dalam rehabilitasi nyeri kronis adalah pacing — pemecahan aktivitas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan dapat ditoleransi, dengan peningkatan bertahap seiring waktu.

Yang penting dibedakan adalah antara “nyeri yang aman” (hurt tanpa harm) yang mungkin muncul saat tubuh beradaptasi dengan latihan, dengan nyeri yang menandakan kerusakan jaringan aktual (harm). Seorang dokter atau fisioterapis dapat membantu membedakan keduanya dan merancang program latihan yang aman dan progresif.


Nyeri Kronis adalah Bagian Wajar dari Penuaan — Mitos

Bertambahnya usia memang meningkatkan risiko kondisi yang menyebabkan nyeri, seperti osteoartritis, osteoporosis, dan neuropati. Namun nyeri kronis yang membatasi fungsi dan kualitas hidup bukanlah konsekuensi yang tak terelakkan dari penuaan. Banyak lansia yang menjalani kehidupan aktif dan relatif bebas nyeri. Penelitian menunjukkan bahwa manajemen nyeri yang efektif, bahkan pada usia lanjut, dapat secara signifikan meningkatkan fungsi dan kualitas hidup.

Sayangnya, ageisme dalam praktik medis sering menyebabkan nyeri pada lansia kurang ditangani secara serius karena dianggap “normal untuk usianya.” Ini adalah kesalahan klinis yang merugikan pasien. Setiap nyeri yang mengganggu fungsi pada usia berapapun layak mendapatkan evaluasi dan tata laksana yang tepat.


Obat Antinyeri Menyebabkan Kecanduan — Mitos dengan Nuansa Penting

Kekhawatiran tentang kecanduan obat pereda nyeri adalah nyata dan relevan, terutama untuk opioid — namun sering disalahartikan hingga menyebabkan pasien menolak pengobatan yang sebenarnya mereka butuhkan. Penting untuk membedakan tiga konsep yang berbeda: toleransi (tubuh membutuhkan dosis lebih tinggi untuk efek yang sama), ketergantungan fisik (munculnya gejala putus obat jika dihentikan mendadak), dan adiksi atau ketergantungan sejati (penggunaan kompulsif meski menimbulkan dampak negatif).

Ketergantungan fisik pada analgesik opioid dapat terjadi pada penggunaan jangka panjang dan bukan merupakan adiksi. Adiksi sejati pada pasien nyeri yang menggunakan opioid secara tepat dosis dan tepat indikasi relatif tidak umum, meski risikonya nyata pada individu dengan riwayat gangguan penggunaan zat. Krisis opioid yang melanda Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir lebih banyak disebabkan oleh peresepan yang berlebihan dan tidak tepat, bukan oleh penggunaan medis yang terkontrol (Vowles et al., 2015).

Di Indonesia, kekhawatiran yang lebih relevan justru seringkali berada di sisi sebaliknya: akses terhadap analgesik opioid untuk nyeri kronis sedang hingga berat masih sangat terbatas, sehingga banyak pasien yang justru tidak mendapatkan penanganan nyeri yang adekuat.


Kesimpulan: Nyeri Kronis Layak Mendapatkan Perhatian Serius

Pemahaman kita tentang nyeri kronis telah berkembang pesat selama dua dekade terakhir. Nyeri bukan sekadar gejala yang menunggu penyebab organiknya ditemukan dan diterapi, melainkan sebuah kondisi kompleks yang melibatkan sistem saraf, pikiran, emosi, dan konteks sosial. Pendekatan yang efektif adalah pendekatan multimodal — mengombinasikan terapi fisik, farmakologis, dan psikososial — yang disesuaikan dengan kebutuhan individual setiap pasien.

Jika Anda atau orang-orang di sekitar Anda mengalami nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan, atau nyeri yang membatasi aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Nyeri kronis adalah kondisi medis yang nyata, dapat diterapi, dan bukan sesuatu yang harus “diterima begitu saja.”


Referensi

Dixon, W. G., Beukenhorst, A. L., Yimer, B. B., Cook, L., Jorge, A., McBeth, J., & Sergeant, J. C. (2019). How the weather affects the pain of citizen scientists using a smartphone app. NPJ Digital Medicine, 2(1), 1–10. https://doi.org/10.1038/s41746-019-0180-3

Hani Abdullah, U. E., Kelly, S., Ricker, A., Nabage, M., Khazen, O., Telkes, I., DiMarzio, M., Wilson, C., & Pilitsis, J. G. (2024). Perceptions of pain in aging females undergoing spinal cord stimulation. Pain Management, 13(12), 701–708. https://doi.org/10.2217/pmt-2023-0100

He, J., Tse, M. M. Y., Kwok, T. T. O., Wu, T. C. M., Kwan, T. S., Fan, Y., Qi, C., Chen, T., & Huang, L. (2025). Sex, income, and education as determinants of chronic pain in mainland China. Pain Management Nursing, 27(1), e63–e71. https://doi.org/10.1016/j.pmn.2025.09.009

International Association for the Study of Pain. (2020). IASP announces revised definition of pain. https://www.iasp-pain.org/resources/terminology/#pain

International Association for the Study of Pain. (2021). Nociplastic pain. https://www.iasp-pain.org/resources/terminology/#nociplastic-pain

Kicherova, O. A., Klimov, G. J., Reikhert, L. I., & Skrjabin, E. G. (2024). Features of pain syndrome in vertebrogenic pathology in women. Zhurnal Nevrologii i Psikhiatrii imeni S.S. Korsakova, 124(5), 14–21. https://doi.org/10.17116/jnevro202412405114

Maas, J., Vinzelberg, S., Kolodziejczak-Krupp, K., Wilhelm, L. O., & Fleig, L. (2026). Outpatient interdisciplinary multimodal pain therapy for chronic musculoskeletal pain: Examining patient-reported and performance-based correlates of treatment outcomes. Health Psychology and Behavioral Medicine, 14(1), 2627698. https://doi.org/10.1080/21642850.2026.2627698

Treede, R. D., Rief, W., Barke, A., Aziz, Q., Bennett, M. I., Benoliel, R., Cohen, M., Evers, S., Finnerup, N. B., First, M. B., Giamberardino, M. A., Kaasa, S., Kosek, E., Lavand’homme, P., Nicholas, M., Perrot, S., Scholz, J., Schug, S., Smith, B. H., … Wang, S. J. (2019). Chronic pain as a symptom or a disease: The IASP classification of chronic pain for the International Classification of Diseases (ICD-11). PAIN, 160(1), 19–27. https://doi.org/10.1097/j.pain.0000000000001384

Vowles, K. E., McEntee, M. L., Julnes, P. S., Frohe, T., Ney, J. P., & van der Goes, D. N. (2015). Rates of opioid misuse, abuse, and addiction in chronic pain: A systematic review and data synthesis. PAIN, 156(4), 569–576. https://doi.org/10.1097/01.j.pain.0000460357.01998.f1

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Cahya Avatar

    Pak Aldy,

    Saya juga sempat mengalaminya pas naik ke tempat yang lebih tinggi, dan saat itu musim hujan, walau tidak parah, tapi sedikit linu kadang bikin gregetan.

    Suka

  2. Aldy Avatar

    Kalau nyeri jarang dialami.

    Dingin yang berlebihan bisa menyebabkan linu/nyeri, itu yang sering dirasakan. Apalagi perubahan cuaca yang ekstrim.

    Suka

Tinggalkan komentar