A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika dokter mencurigai ada bakteri jahat yang bersemayam di lambung, salah satu cara paling andal untuk memastikannya adalah dengan meminta pasien meniup sebuah alat — bukan untuk mengukur kadar alkohol, melainkan untuk mendeteksi Helicobacter pylori. Tes ini dikenal dengan nama urea breath test (UBT), atau dalam bahasa yang lebih mudah dipahami: tes napas urea.

Mengenal Helicobacter pylori

Helicobacter pylori adalah bakteri berbentuk spiral yang hidup di lapisan mukosa lambung. Infeksi bakteri ini bukan hal yang langka — World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari separuh populasi dunia membawa bakteri ini, dengan prevalensi yang lebih tinggi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian dari Universitas Airlangga yang diterbitkan di jurnal Helicobacter (2025) menunjukkan bahwa karakteristik genetik H. pylori di Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang berkaitan dengan tingkat keparahan gastritis lokal.

Bakteri ini bertanggung jawab atas sebagian besar kasus ulkus peptikum (tukak lambung dan usus dua belas jari), gastritis kronis, dan merupakan faktor risiko penting kanker lambung. Karena itulah, mendeteksi keberadaannya secara tepat menjadi langkah krusial dalam penanganan gangguan pencernaan bagian atas.

Mengapa Urea Breath Test?

Ada beberapa cara untuk mendeteksi H. pylori: endoskopi dengan biopsi jaringan lambung (metode paling akurat namun invasif), tes serologi dari darah, tes antigen dari tinja, dan UBT. Di antara metode non-invasif, UBT menempati posisi istimewa karena kelebihannya yang menonjol: tidak membutuhkan prosedur endoskopi, nyaman bagi pasien, dan tingkat akurasinya sangat tinggi.

Meta-analisis yang diterbitkan di World Journal of Gastroenterology (2024) merangkum data dari 60 studi dengan ribuan peserta dan menemukan bahwa UBT dengan isotop karbon-13 (13C-UBT) memiliki sensitivitas 96,60% dan spesifisitas 96,93% — artinya, kemampuannya untuk mendeteksi keberadaan sekaligus ketidakhadiran bakteri mendekati sempurna. Sebagai perbandingan, tes serologi dan tes antigen tinja memiliki akurasi yang lebih rendah secara statistik. Tinjauan sistematis Cochrane yang mencakup lebih dari 11.000 peserta juga menegaskan superioritas UBT dibanding metode non-invasif lainnya untuk diagnosis awal infeksi H. pylori.

Prinsip Kerja: Memanfaatkan Senjata Bakteri Itu Sendiri

Kecerdikan UBT terletak pada cara ia “memancing” bakteri menggunakan kemampuannya sendiri. H. pylori menghasilkan enzim yang disebut urease dalam jumlah besar — enzim inilah yang memungkinkan bakteri bertahan di lingkungan asam lambung dengan memecah urea menjadi amonia dan karbon dioksida (CO₂).

Dalam UBT, pasien meminum kapsul atau larutan yang mengandung urea berlabel isotop karbon — bisa karbon-13 (13C, isotop stabil, tidak radioaktif) atau karbon-14 (14C, isotop radioaktif ringan). Jika H. pylori ada di lambung, ia akan langsung memecah urea berlabel tersebut. CO₂ yang dihasilkan diserap dinding lambung, masuk ke aliran darah, dan dilepaskan melalui paru-paru saat bernapas. Sampel napas yang dikumpulkan sebelum dan sesudah minum kapsul kemudian dianalisis: jika ditemukan peningkatan CO₂ berlabel isotop, hasil tes dinyatakan positif.

Dua varian UBT yang beredar secara klinis adalah 13C-UBT dan 14C-UBT. Varian 13C lebih disukai karena menggunakan isotop stabil yang tidak memancarkan radiasi, sehingga aman untuk semua kelompok usia termasuk ibu hamil dan anak-anak, meski harganya cenderung lebih tinggi. Varian 14C menggunakan isotop radioaktif, namun dosis radiasinya sangat kecil sehingga dalam panduan klinis tetap dianggap aman untuk orang dewasa.

Kapan Tes Ini Digunakan?

UBT digunakan dalam dua konteks utama. Pertama, sebagai alat diagnosis awal pada pasien dengan gejala dispepsia (nyeri atau tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual) yang belum pernah menjalani endoskopi. Pendekatan ini dikenal dengan strategi test-and-treat — deteksi dulu dengan UBT, lalu berikan terapi eradikasi jika hasilnya positif. Strategi ini direkomendasikan oleh berbagai panduan internasional karena terbukti efektif dan efisien, terutama di wilayah dengan prevalensi H. pylori yang tinggi.

Kedua, dan ini sangat penting, UBT digunakan untuk konfirmasi keberhasilan terapi eradikasi. Setelah pasien menyelesaikan rangkaian antibiotik, UBT dilakukan ulang — idealnya minimal empat minggu setelah antibiotik terakhir dan dua minggu setelah proton pump inhibitor (PPI) dihentikan — untuk memastikan bakteri benar-benar telah diberantas. Jika tes ulang negatif, terapi dinyatakan berhasil.

Persiapan Sebelum Tes

Akurasi UBT sangat dipengaruhi oleh persiapan yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani tes ini. Pasien tidak boleh mengonsumsi antibiotik dalam empat minggu sebelum tes, karena antibiotik akan menekan populasi bakteri sementara sehingga hasil bisa false negative (hasil negatif palsu padahal bakteri masih ada). Obat-obatan golongan proton pump inhibitor seperti omeprazol atau lansoprazol, serta senyawa bismut, harus dihentikan minimal dua minggu sebelumnya karena juga dapat menekan aktivitas urease bakteri.

Pasien biasanya diminta berpuasa selama setidaknya empat jam sebelum tes. Jika sedang dalam pengobatan rutin, konsultasikan dengan dokter mengenai obat mana yang boleh tetap diminum — umumnya dibolehkan diminum dengan sedikit air. Pasien yang sedang hamil sebaiknya menggunakan varian 13C yang tidak mengandung radioaktif.

Prosedur yang Sederhana

Prosedur UBT tergolong mudah dan tidak memerlukan persiapan khusus yang merepotkan. Pada awal tes, petugas akan mengambil sampel napas pertama sebagai baseline — biasanya dengan cara meniup balon khusus atau mengembuskan napas ke dalam tabung. Pasien kemudian meminum kapsul atau larutan berisi urea berlabel isotop. Setelah menunggu sekitar 15 hingga 30 menit (tergantung protokol laboratorium yang digunakan), sampel napas kedua diambil. Kedua sampel lalu dianalisis menggunakan alat spektroskopi massa atau alat inframerah yang dapat mendeteksi perbedaan konsentrasi isotop karbon dalam CO₂ napas.

Tidak ada komplikasi yang diketahui dari prosedur ini. Tes berlangsung cepat, hasilnya biasanya tersedia dalam waktu singkat, dan pasien bisa langsung beraktivitas normal setelahnya.

Batasan dan Konteks di Indonesia

Meski UBT merupakan tes non-invasif terbaik untuk H. pylori, ada beberapa keterbatasan yang perlu dipahami. Faktor teknis seperti dosis urea yang digunakan, waktu pengambilan sampel napas, dan jenis alat analisis dapat memengaruhi akurasi hasil — ini sebabnya standardisasi protokol di tiap laboratorium menjadi penting. Di sisi lain, ketersediaan alat UBT di Indonesia masih belum merata; banyak fasilitas kesehatan di daerah masih mengandalkan pemeriksaan serologi atau endoskopi.

Peningkatan resistensi antibiotik H. pylori juga menjadi perhatian global. Data dari The Lancet Microbe (2025) menunjukkan tingkat resistensi klaritromisin yang tinggi di kawasan Asia Tenggara, mencapai lebih dari 50% di beberapa wilayah. Ini menegaskan pentingnya tidak hanya mendeteksi keberadaan bakteri, tetapi juga mempertimbangkan uji sensitivitas antibiotik dalam penentuan terapi — sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh UBT sendirian.

UBT adalah alat deteksi dan konfirmasi eradikasi, bukan alat yang memberikan informasi tentang jenis strain bakteri atau pola resistensinya. Untuk pasien dengan gejala alarm (penurunan berat badan bermakna, muntah darah, sulit menelan, atau usia di atas 45-50 tahun dengan gejala baru), endoskopi tetap menjadi pilihan utama karena sekaligus memungkinkan evaluasi langsung kondisi mukosa lambung.


Referensi

Abd Rahim, M. A., Johani, F. H., Shah, S. A., Hassan, M. R., & Abdul Manaf, M. R. (2019). ¹³C-urea breath test accuracy for Helicobacter pylori infection in the Asian population: A meta-analysis. Annals of Global Health, 85(1), 110. https://doi.org/10.5334/aogh.2570

Best, L. M., Takwoingi, Y., Siddique, S., Selladurai, A., Gandhi, A., Low, B., Yaghoobi, M., & Gurusamy, K. S. (2018). Non-invasive diagnostic tests for Helicobacter pylori infection. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2018(3), CD012080. https://doi.org/10.1002/14651858.CD012080.pub2

Godbole, G., Mégraud, F., & Bessède, E. (2020). Review: Diagnosis of Helicobacter pylori infection. Helicobacter, 25(Suppl 1), e12735. https://doi.org/10.1111/hel.12735

Lemos, F. F. B., de Castro, C. T., Silva Luz, M., Rocha, G. R., Correa Santos, G. L., de Oliveira Silva, L. G., Calmon, M. S., Souza, C. L., Zarpelon-Schutz, A. C., Teixeira, K. N., Queiroz, D. M. M., & Freire de Melo, F. (2024). Urea breath test for Helicobacter pylori infection in adult dyspeptic patients: A meta-analysis of diagnostic test accuracy. World Journal of Gastroenterology, 30(6), 579–598. https://doi.org/10.3748/wjg.v30.i6.579

Martínez-Martínez, F. J., Chiner-Oms, Á., Furió, V., Yamaoka, Y., Dekker, J. P., Mégraud, F., Bénejat, L., Ducournau, A., Giese, A., Jehanne, Q., Jauvain, M., Camargo, M. C., Comas, I., & Lehours, P. (2025). Genomic determinants of antibiotic resistance for Helicobacter pylori treatment: A retrospective phenotypic and genotypic observational study. The Lancet Microbe, 7(1), 101217. https://doi.org/10.1016/j.lanmic.2025.101217

Savitri, C. M. A., Matsumoto, T., Fauzia, K. A., Alfaray, R. I., Waskito, L. A., Rezkitha, Y. A. A., Uchida, T., Miftahussurur, M., & Yamaoka, Y. (2025). Helicobacter pylori pathogenic factors and their interactions with the gastric microbiome. Helicobacter, 30(5), e70072. https://doi.org/10.1111/hel.70072

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar