A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Perbincangan sore hari saya di antara hujan bersama narablog Dani Iswara, membuat saya sedikit kecipratan tentang bagaimana memanfaatkan fitur shutter speed yang ada pada sebuah kamera. Apa saya paham? Nah, itu belum tentu. Tapi setidaknya ada beberapa bagian sudah masuk dalam logika saya yang cukup dangkal.  Jika mengambil gambar dengan shutter speed yang lebih cepat, maka kemungkinan menangkap gerak statis objek akan lebih detil, sedangkan jika lebih lambat maka gerak dinamis objek akan lebih terikuti. Ah, kecuali analoginya dibalik dan bukan objek yang bergerak.

Gambar pertama ini diambil oleh Bli Dani, dengan shutter speed (moh lupa) sekitar 1:250, hanya saja karena saat mengunggah ke Flirck ada sedikit masalah, jadi separuh gambarnya mengalami abnormalitas warna.

Air Mancur - FS

Dan gambar kedua ini, saya sendiri yang mengambilnya dengan shutter speed yang lebih lambat. Ha ha…, sayang sekali tangannya gemetaran, sepertinya memang tidak berbakat dalam fotografi.

Air Mancur - SS

Nah, kira-kira, lain kali akan dapat ilmu apa lagi ya dari Bli Dani.

Artikel Baru Terbit

  • Kaki Gajah yang Tak Sekadar Bengkak: Mengurai Filariasis Limfatik dari Cacing hingga Perawatan Diri
    Filariasis limfatik atau kaki gajah bukan sekadar bengkak biasa, melainkan hasil kerusakan sistem getah bening bertahun-tahun akibat cacing yang ditularkan nyamuk. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis, manajemen limfedema tujuh tahap, dan tantangan unik Indonesia sebagai satu-satunya negara dengan tiga spesies cacing filaria sekaligus.
  • Debu, Bor, dan Bangsal Pasien: Mengelola Risiko Infeksi Selama Konstruksi Rumah Sakit
    Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
  • Kenapa Pindah ke Linux Terasa Sulit di Awal? (dan Siapa yang Justru Cepat Beradaptasi)
    Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
  • Ketika Amarah Pasien Berubah Jadi Ruang Belajar: Menata Keluhan sebagai Bagian dari Mutu Layanan Kesehatan
    Keluhan pasien bukan ancaman, melainkan peluang mutu. Artikel ini mengulas asal-usul kerangka L.E.A.S.T dan L.A.T.T.E dari ilmu manajemen jasa, bukti bahwa pelatihan komunikasi saja tak cukup mengatasi hambatan sistemik dan burnout staf, serta bagaimana hak mengadu pasien dalam UU 17/2023 perlu diimbangi sistem pendukung di faskes Indonesia.
  • Apakah Rumah Sakit Wajib Melakukan Penetration Test? Menelusuri Dasar Hukumnya
    Tidak ada pasal tunggal yang mewajibkan pentest bagi rumah sakit di Indonesia — tetapi UU PDP, kategorisasi risiko sistem elektronik, status Infrastruktur Informasi Vital, dan ekspektasi akreditasi bersama-sama menciptakan kewajiban de facto yang sulit dihindari. Artikel ini memetakan empat jalur regulasi tersebut dan memberi rekomendasi realistis sesuai skala fasilitas.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar - H -
    – H –

    pake kamera apa ini bli?

    1. Avatar Cahya

      Ini pakai poket kamera Mas, Canon PowerShot SX30 IS Pak Huang :).

      1. Avatar - H -
        – H –

        tampaknya kamera saya gak punya fasilitas itu yg poket. saya pake fuji film a220.

      2. Avatar Cahya

        Tapi kan tetep bisa bernarsis ria toh Pak :D.

  2. Avatar Nuralief
    Nuralief

    punya bli kayaknya kurang fokus ya?
    🙂

    1. Avatar Cahya

      Kalau shutter speed-nya dilambatkan hingga beberapa detik, sepertinya akan jadi begitu. CMIIW.

  3. Avatar julie

    itu ada spesifikasi kameranya gak cahya?

    1. Avatar Cahya

      Julie, coba saja diklik gambarnya,nanti ada jenis kamera yang digunakan, dan selanjutnya bisa dilihat spesifikasinya.

  4. Avatar H Hanila
    H Hanila

    Kerenlah..kalau setiap tetes air bisa terlihat detail dan jelas…..seperti riakan air di sungai atau laut misalnya….jadi saya ingin memiliki kameranya dulu dech….heheheh

    1. Avatar Cahya

      Kalau saya masih belum sampai ke sana, hanya amatir saja :).

  5. Avatar Jeng Tt
    Jeng Tt

    jadi bisa motret hujan ya Cahya?? Pengeeeen banget motret hujan….

    1. Avatar Cahya

      Ada Jeng, tapi agak susah karena berusaha menangkap fokus pada tetes air hujan yang jatuh, jadinya agak balapan begitu biar dapat pas tetes airnya mengambang di udara.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca