- Mengapa Kehamilan Mempengaruhi Tiroid?
- Gejala: Sulit Dibedakan dengan Kehamilan Normal
- Bahaya yang Mengintai
- Strategi Pengobatan Terkini (Guideline 2024/2025)
- Pemantauan Janin dan Pasca Melahirkan
- Kesimpulan
Kehamilan adalah periode “uji stres” alami bagi kelenjar tiroid. Perubahan hormon yang drastis seringkali membuat diagnosa penyakit tiroid menjadi tantangan tersendiri bagi para klinisi. Salah satu kondisi yang memerlukan perhatian khusus adalah Hipertiroidisme, yaitu kondisi di mana kelenjar tiroid terlalu aktif memproduksi hormon.
Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bukan hanya mengancam nyawa ibu, tetapi juga masa depan janin yang dikandungnya. Artikel ini akan mengupas tuntas hipertiroidisme pada kehamilan berdasarkan bukti medis terkini.
Mengapa Kehamilan Mempengaruhi Tiroid?
Sebelum membahas penyakitnya, kita harus memahami fisiologi normalnya. Pada awal kehamilan, tubuh ibu memproduksi hormon kehamilan yang disebut Human Chorionic Gonadotropin (hCG)1.
Secara struktur molekuler, hCG sangat mirip dengan TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Akibatnya, kelenjar tiroid bisa “tertipu” dan bekerja lebih keras seolah-olah diperintah oleh TSH. Hal ini menyebabkan fenomena yang disebut Tirotoksikosis2 Gestasional Transien (TGT).
TGT vs. Penyakit Graves: Serupa Tapi Tak Sama
Ini adalah poin paling krusial dalam diagnosis. Tidak semua kadar hormon tiroid yang tinggi di kehamilan adalah penyakit berbahaya.
- Tirotoksikosis Gestasional Transien (TGT):
- Sering terjadi pada ibu dengan hiperemesis gravidarum (mual muntah hebat).
- Bersifat sementara (biasanya sembuh sendiri setelah trimester pertama usai).
- Bukan penyakit autoimun.
- Umumnya tidak memerlukan obat antitiroid.
- Penyakit Graves (Graves’ Disease):
- Penyebab utama hipertiroidisme patologis pada kehamilan.
- Merupakan penyakit autoimun (tubuh memproduksi antibodi yang menyerang tiroid).
- Berisiko tinggi dan wajib diobati.
Gejala: Sulit Dibedakan dengan Kehamilan Normal
Banyak gejala hipertiroidisme yang mirip dengan keluhan ibu hamil biasa, seperti sering merasa gerah (heat intolerance), cepat lelah, dan jantung berdebar. Namun, waspadalah jika muncul tanda-tanda berikut:
- Berat badan gagal naik atau justru turun drastis meskipun makan banyak.
- Muntah yang sangat hebat dan berkepanjangan.
- Tremor (tangan gemetar) yang nyata.
- Oftalmopati3: Mata melotot atau menonjol keluar.
- Adanya benjolan (struma)4 di leher.
Bahaya yang Mengintai
Jika hipertiroidisme (khususnya Graves) tidak terkontrol, risikonya sangat serius:
Bagi Ibu:
- Preeklampsia (keracunan kehamilan dengan tensi tinggi).
- Gagal jantung kongestif.
- Krisis Tiroid (Thyroid Storm): Kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa dengan demam tinggi dan gangguan kesadaran, seringkali dipicu saat persalinan.
Bagi Janin:
- Kelahiran prematur.
- Pertumbuhan janin terhambat (IUGR – Intrauterine Growth Restriction).
- Hipertiroidisme Neonatal: Antibodi dari ibu (TRAb) bisa menembus plasenta dan merangsang kelenjar tiroid bayi, menyebabkan bayi lahir dengan hipertiroid.
Strategi Pengobatan Terkini (Guideline 2024/2025)
Prinsip pengobatan hipertiroidisme pada kehamilan adalah “menyeimbangkan risiko”. Obat tiroid bisa menembus plasenta, sehingga tujuannya adalah memberikan dosis serendah mungkin untuk menjaga kadar hormon ibu di batas atas normal, guna mencegah bayi kekurangan hormon (hipotiroid).
1. Trimester Pertama: Propiltiourasil (PTU)
Pada 3 bulan pertama, organ-organ janin sedang dibentuk. Obat pilihan utama adalah PTU.
- Alasan: Obat lain (Methimazole) dikaitkan dengan risiko cacat lahir langka yang disebut embriopati (seperti kulit kepala tidak terbentuk sempurna atau aplasia cutis).
- Oleh karena itu, jika ibu sudah mengonsumsi Methimazole sebelum hamil, dokter akan segera menggantinya dengan PTU begitu kehamilan terdeteksi positif.
2. Trimester Kedua dan Ketiga: Pertimbangan Methimazole
Setelah fase pembentukan organ selesai, dokter mungkin akan menyarankan untuk beralih kembali ke Methimazole (MMI) atau tetap melanjutkan PTU dengan pemantauan ketat.
- Alasan: Penggunaan PTU jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan hati (hepatotoksisitas) pada ibu. Methimazole dianggap lebih aman bagi hati ibu untuk penggunaan jangka panjang.
3. Pembedahan (Tiroidektomi)
Operasi pengangkatan tiroid saat hamil sangat jarang dilakukan. Opsi ini hanya diambil jika obat-obatan gagal total atau pasien alergi berat terhadap obat antitiroid. Waktu paling aman untuk operasi adalah di trimester kedua (minggu ke 14-24).
4. Larangan Keras: Yodium Radioaktif
Terapi radioactive iodine (nuklir) KONTRAINDIKASI MUTLAK (dilarang keras) pada kehamilan karena dapat menghancurkan kelenjar tiroid janin secara permanen.
Pemantauan Janin dan Pasca Melahirkan
- Cek Antibodi (TRAb)5: Dokter akan memeriksa kadar antibodi reseptor TSH (TRAb). Jika kadarnya tinggi (3x lipat batas normal), janin harus dipantau ketat dengan USG untuk melihat adanya gondok pada janin atau detak jantung yang terlalu cepat.
- Menyusui: Kabar baik! Ibu dengan hipertiroidisme boleh menyusui. Obat PTU dan Methimazole dalam dosis moderat terbukti aman dan hanya masuk ke ASI dalam jumlah sangat kecil yang tidak membahayakan bayi.
Kesimpulan
Hipertiroidisme pada kehamilan bukanlah halangan untuk memiliki bayi yang sehat. Kuncinya adalah disiplin. Disiplin meminum obat, disiplin kontrol rutin, dan disiplin memantau tanda bahaya.
Jangan pernah menghentikan atau mengubah dosis obat tiroid tanpa instruksi dokter, karena keseimbangan hormon Anda adalah nyawa bagi janin Anda.
Catatan Kaki:
- HCG (Human Chorionic Gonadotropin): Hormon yang diproduksi oleh plasenta setelah implantasi, hormon inilah yang dideteksi oleh alat test pack. ↩︎
- Tirotoksikosis: Kumpulan gejala klinis akibat kelebihan hormon tiroid di dalam tubuh. ↩︎
- Oftalmopati: Kelainan pada mata yang sering menyertai penyakit Graves, bola mata tampak menonjol. ↩︎
- Struma: Istilah medis untuk pembesaran kelenjar tiroid (gondok). ↩︎
- TRAb (TSH Receptor Antibody): Antibodi spesifik yang ditemukan pada penyakit Graves; penanda aktivitas penyakit. ↩︎
Referensi:
- Alexander, E. K., et al. (2017). 2017 Guidelines of the American Thyroid Association for the Diagnosis and Management of Thyroid Disease During Pregnancy and the Postpartum. Thyroid, 27(3).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kelainan Tiroid.
- Lazarus, J., et al. (2014). 2014 European Thyroid Association Guidelines for the Management of Subclinical Hypothyroidism in Pregnancy and in Children.
- Nguyen, C. T., & Mestman, J. H. (2019). Graves’ Hyperthyroidism in Pregnancy. Current Opinion in Endocrinology, Diabetes and Obesity.
Penafian Medis (Medical Disclaimer):
Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi ilmiah populer, bukan sebagai pengganti saran medis profesional, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter kandungan untuk masalah kesehatan Anda. Kondisi medis setiap individu berbeda, dan penanganan harus disesuaikan dengan pemeriksaan langsung.

Tinggalkan komentar