Mereka yang penggemar burung kicau atau burung petarung pasti mengenal Burung Decu, jika di tempat saya dinamakan Crucuk Tanah (jika tidak salah ingat). Tubuhnya mungil dengan warna dasar gelap, dan sedikit warna putih di bagian tubuh bawah termasuk di bawah saya terujung.
Saya bukan penggemar burung, saya lebih suka hanya mendengarkan kicauan mereka sepanjang hari di alam bebas. Sayangnya, karena ekspansi populasi manusia dan kerusakan lingkungan hidup yang dikarenakan oleh ulah kita, serta perburuan yang tak henti-hentinya berlangsung. Banyak populasi burung semakin langka, termasuk burung Decu ini.
Kadang mereka akan beterbangan ke pemukiman manusia untuk mencari makanan, meski mereka semakin terancam. Apalagi di pemukiman manusia justru lebih banyak predator dibandingkan alam liar sendiri, dan manusia bisa jadi predator yang paling perlu diwaspadai.
Kebetulan ada seekor Decu di sekitar saya yang beberapa waktu lalu singgah, ah sebenarnya dia baru pulang dari liburannya. Dia kadang meninggalkan kandangnya untuk sehari penuh, atau beberapa hari, dan kemudian pulang kembali. Mungkin karena sulit mencari makan di alam liar, dia akan pulang kembali ke kandangnya di mana tersedia makanan dan air minum bersih.
Sayangnya, mungkin karena terlalu dimanjakan, Decu seperti ini akan tergantung sepenuhnya pada manusia.
Dia akan cukup senang mendapatkan waktu liburannya, karena bisa bebas terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan sama menyenangkannya melihat Decu kecil ini berlompatan bebas di luar kandangnya.
Jika sudah waktunya untuk makan dan kesulitan mendapatkan makanannya di alam, dia akan kembali pulang sebelum melanjutkan lagi tamasya-nya di lain kesempatan. Kami harus menutup kandangnya sepanjang malam, menghindari tikus atau ular datang memangsa. Dia akan mengenali kandangnya dengan mudah, dan bukan kandang burung-burung lainnya, meski kandang lain kosong ditinggal pemiliknya pergi berlibur juga.
Sayang sekali lingkungan di sekitar tempat saya sudah begitu rusak, meski dikatakan alam area tropis di sini cukup asri, namun tampaknya tidak cukup untuk membuat burung-burung ini bisa melangsungkan kehidupannya di alam bebas. Semakin langkanya Decu membuktikan hal itu, dan jika hidup di luar cukup memberikan mereka makanan untuk bertahan hidup, saya rasa tidak akan ada banyak burung yang datang ke rumah ini hanya untuk mendapatkan makanan tambahan buatan.
Dengan laju pertambahan penduduk dan kerusakan lingkungan pun juga perburuan dan jual beli burung-burung ini, maka mungkin di masa depan, beberapa generasi mendatang, anak cucu kita hanya akan mendengar kisah tentang burung-burung ini tanpa pernah melihatnya lagi.
Banyak orang yang datang menawar burung ini, tentu saja karena langka, harganya menjadi cukup mahal di pasaran. Ah, tapi si Decu ini cuma datang singgah di sini, jadi dia tidak dijual. Saya juga bingung, kalau dilepas-pun, besok atau lusa akan balik lagi. Jika dia tidak balik lagi berarti sudah dimangsa predator atau ditangkap pemburu. Di sini terlalu banyak burung yang datang dan pergi untuk sekadar berlibur saja.





Tinggalkan komentar