A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mereka yang penggemar burung kicau atau burung petarung pasti mengenal Burung Decu, jika di tempat saya dinamakan Crucuk Tanah (jika tidak salah ingat). Tubuhnya mungil dengan warna dasar gelap, dan sedikit warna putih di bagian tubuh bawah termasuk di bawah saya terujung.

Saya bukan penggemar burung, saya lebih suka hanya mendengarkan kicauan mereka sepanjang hari di alam bebas. Sayangnya, karena ekspansi populasi manusia dan kerusakan lingkungan hidup yang dikarenakan oleh ulah kita, serta perburuan yang tak henti-hentinya berlangsung. Banyak populasi burung semakin langka, termasuk burung Decu ini.

Kadang mereka akan beterbangan ke pemukiman manusia untuk mencari makanan, meski mereka semakin terancam. Apalagi di pemukiman manusia justru lebih banyak predator dibandingkan alam liar sendiri, dan manusia bisa jadi predator yang paling perlu diwaspadai.

Decu

Kebetulan ada seekor Decu di sekitar saya yang beberapa waktu lalu singgah, ah sebenarnya dia baru pulang dari liburannya. Dia kadang meninggalkan kandangnya untuk sehari penuh, atau beberapa hari, dan kemudian pulang kembali. Mungkin karena sulit mencari makan di alam liar, dia akan pulang kembali ke kandangnya di mana tersedia makanan dan air minum bersih.

Sayangnya, mungkin karena terlalu dimanjakan, Decu seperti ini akan tergantung sepenuhnya pada manusia.

Decu

Dia akan cukup senang mendapatkan waktu liburannya, karena bisa bebas terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan sama menyenangkannya melihat Decu kecil ini berlompatan bebas di luar kandangnya.

Decu

Jika sudah waktunya untuk makan dan kesulitan mendapatkan makanannya di alam, dia akan kembali pulang sebelum melanjutkan lagi tamasya-nya di lain kesempatan. Kami harus menutup kandangnya sepanjang malam, menghindari tikus atau ular datang memangsa. Dia akan mengenali kandangnya dengan mudah, dan bukan kandang burung-burung lainnya, meski kandang lain kosong ditinggal pemiliknya pergi berlibur juga.

Decu

Sayang sekali lingkungan di sekitar tempat saya sudah begitu rusak, meski dikatakan alam area tropis di sini cukup asri, namun tampaknya tidak cukup untuk membuat burung-burung ini bisa melangsungkan kehidupannya di alam bebas. Semakin langkanya Decu membuktikan hal itu, dan jika hidup di luar cukup memberikan mereka makanan untuk bertahan hidup, saya rasa tidak akan ada banyak burung yang datang ke rumah ini hanya untuk mendapatkan makanan tambahan buatan.

Dengan laju pertambahan penduduk dan kerusakan lingkungan pun juga perburuan dan jual beli burung-burung ini, maka mungkin di masa depan, beberapa generasi mendatang, anak cucu kita hanya akan mendengar kisah tentang burung-burung ini tanpa pernah melihatnya lagi.

Banyak orang yang datang menawar burung ini, tentu saja karena langka, harganya menjadi cukup mahal di pasaran. Ah, tapi si Decu ini cuma datang singgah di sini, jadi dia tidak dijual. Saya juga bingung, kalau dilepas-pun, besok atau lusa akan balik lagi. Jika dia tidak balik lagi berarti sudah dimangsa predator atau ditangkap pemburu. Di sini terlalu banyak burung yang datang dan pergi untuk sekadar berlibur saja.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar Bayu Santoso
    Bayu Santoso

    Saya Penggemar Burung Om, sebenarnya saya jg ga mau ngurung burung peliharaan saya, ingin rasanya mo ngelepasin, tp mo gmn lagi klo ntr saya lepasin eh yg ada burung itu malah mati (terbiasa dgn manusia) ato diburu ma manusia jg akhirnya masuk kandang lagi :'( tp decu emang Top deh, kecil2 cabe rawit, burung kecil tp suara melengking+ petarung handal sama halnya tledekan 😀

  2. Avatar Joko Sutarto

    Foto-fotonya cantik sekali, Mas. Saya juga bukan penghobi burung jadi lebih senang melihat dan mendengar kicauan mereka hidup liar di alam bebas.

    Berarti burungnya setengah jinak ini karena sering pergi dan balik lagi seperti Merpati. Ini ada di mana lokasinya, Mas?

    1. Avatar Cahya

      Ndak jinak juga Pak, burung ini hanya kebetulan terperangkap di pemukiman manusia saja. Jadi masih membawa sifatnya yang liar, kalau sejenis punglor atau crucuk tanah (pentet) bisa jadi lebih jinak sih, saking jinaknya sampai tidak segan mematuk jari-jari tangan kita. Kalau merpati kan biasanya pasti, pergi pagi/siang, tidak jauh kemudian sore sudah balik lagi, dan biasanya pasti selalu balik. Sedangkan burung decu seperti ini tidak selalu pasti, kapan pergi dan kapan baliknya, kadang bisa sampai 3 hari tidak balik. He he…, mungkin dia punya banyak rumah persinggahan :D.

      Silakan klik masing-masing foto Pak, di Flickr saya sudah sertakan data lokasi masing-masing foto :).

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca