A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Perjodohan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di seluruh muka bumi dengan berbagai tradisi dan kebudayaannya. Di mana-mana kita bisa menemukan ini terjadi dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Dari jodoh-jodohan sederhana anak-anak sekolah, walau mungkin hanya beberapa yang serius – dan aku teringat betapa konyolnya kami ketika masa-masa itu di antara murid-murid yang berlarian di halaman sekolah. Perjodohan antar keluarga yang telah berkesepakatan. Atau pun mereka yang mencari pasangannya lewat biro jodoh. Bahkan beberapa waktu belakangan ini, biro jodoh juga masuk ke dalam tahap yang meluas, seperti melalui media televisi maupun internet.

Perjodohan mempertemukan banyak jiwa sehingga dapat berpasangan dan menghadirkan keharmonisan di muka bumi. Walau tentu tidak semua kisah berjalan sesuai dengan harapan baik salah satu maupun kedua pihak. Ada hal-hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan manusia.

Lalu, bagaimana dengan pendapatku sendiri?

Selama aku masih memiliki ego ini, kurasa aku akan selalu memandang dunia dalam dua hal yang berbeda. Ada yang baik ada yang buruk, ada menyedihkan ada yang membahagiakan. Ikatan emosi dan segala yang berbaur di dalamnya.

Orang bilang manusia hanya memiliki satu hati, dan itu begitu rapuh meski ia mampu menahan hujan badai kehidupan. Dan aku yang membawa hati ini dalam setiap langkahku, begitu mengenal apa-apa yang menjadikan berdegup kencang, yang menjadikannya tenggelam, atau pun menjadikannya berlari dengan begitu gigih.

Aku suka berjalan-jalan di tengah hutan kecil yang mulai bergeser batasnya oleh persawahan dari masyarakat kita yang agraris. Berjalan di bawah dedaunan yang rimbun dan di atas tumpukan dedaunan yang telah mengering setelah terjatuh dari dahannya. Dengan kicauan burung-burung yang menunggu para petani meninggalkan padi-padinya yang hijau, sehingga mereka dapat mencari makan tanpa ketakutan. Aku tidak tahu bagaimana alam menciptakan perjodohan di antara mereka, bagaimana burung-burung dan hewan-hewan lain menemukan pasangan mereka, bagaimana pohon-pohon tetap merindangkan dunia kecil ini walau mereka semakin menyempit.

Dalam hutan kecil yang tak seberapa itu, aku bisa menyentuh kesederhanaan dan keharmonisannya. Seakan mereka tak memaksa untuk selalu bersama, namun ketika bersama, mereka memberikan ketenteraman bagi sesamanya. Sementara di dunia ketika kulangkahkan kaki keluar dari keceriaan yang sunyi itu, aku menemukan hiruk pikuk dunia. Mereka yang memburu kebersamaan, mereka yang takut kesepian, sebagaimana diriku yang selalu bertanya pada hatiku, apakah ini jua yang menjadi cerminan asamu? Aku yang manusia ini bisa berkata tidak takut akan apapun, namun akankah ia berani menghadapi kesendirian?

Bayangku akan kehidupan bisa memudar dengan cepat. Ketika lari dari kesendirian ke dalam keramaian, tidak ada yang berubah, aku rindu pada kesahajaan yang tak merunduk oleh hasrat manusia akan kesempurnaan kehidupan. Mengapa menyeret waktu kita ke dalam kebersamaan ketika kita tak memahami maknanya. Mengapa takut kesepian menghampiri hidup yang sekejap ini, sehingga kita mengekang diri kita dalam kurungan dan memajang figur-figur yang membuat kita merasa aman di tembok-tembok yang telah menghapus nurani dari pandangan kita.

Kita telah memancang ketakutan dan air mata kita di bawah jeruji penolakan akan kesepian itu, dan menjadikan kita manusia yang buta dan tuli akan kesederhanaan kenyataan. Dan ketika tembok itu rubuh dan jeruji itu terhempas oleh suatu kehilangan, barulah orang membuka diri terhadap betapa ia tidak melihat dan mendengar suara kehidupan yang selama ini bersamanya.

Karenanya…

Aku tak dapat berlari begitu saja menuju kebersamaan ketika aku sadar waktu dan kesepian menjadi bayangku. Aku tak akan memburu diriku membangun benteng yang megah ketika kulihat sendiri aku serapuh debu yang akan dengan mudah terhempas oleh hembusan kesendirian.

Karenanya…

Aku bukannya tak setuju dengan perjodohan, namun aku ingin tetap memahami kehidupan ini. Sehingga siapa pun yang kan mendampingiku nanti, aku akan memahaminya karena ia adalah bagian dari kehidupanku. Aku menerimanya bukan karena aku lari dari kesendirian karena akulah kesepian itu, dan aku menerimanya karena ia jugalah bagian dari kehidupan ini yang sesungguhnya satu dan utuh, ya, karena hidup ini adalah kasih, dan kasih itu selalu menyatukan.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
  • Sebelum Kelas Pertama Dibuka: Cara Kemenkes Menimbang Program Studi Kesehatan Baru
    Keputusan Menteri Kesehatan 294/2026 mengatur syarat rekomendasi untuk membuka program studi kesehatan baru, mencakup kajian kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan, kerja sama dengan fasilitas terakreditasi, dan penjaminan mutu. Tujuan utama adalah menyeimbangkan jumlah lulusan dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pemerataan tenaga medis.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar imadewira

    bagaimana kalau menjodohkan diri sendiri?
    .-= imadewira´s last blog ..Cara Membuat Blog Gratis di WordPress =-.

    1. Avatar Cahya

      Hmmm…, bagaimana ya Bli, kalau sudah tiba dengan sendirinya, tidak ada yang bisa membendung perasaan itu untuk muncul ke permukaan.

      Kalau memang berjodoh mau dijodohkan orang lain atau diri sendiri, saya rasa pasti akan bertemu di kehidupan ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca