A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diterbitkan pertama kali Juli 2011; diperbarui Februari 2026


Ketika artikel ini pertama kali diterbitkan pada 2011, perdebatan tentang pemanis buatan masih berkutat pada pertanyaan yang relatif sederhana: apakah pengganti gula ini aman dan bisakah mereka membantu menurunkan berat badan? Lebih dari satu dekade kemudian, pemahaman ilmiah tentang topik ini telah berubah secara signifikan — dan tidak sepenuhnya ke arah yang diperkirakan. WHO mengeluarkan pedoman baru pada 2023 yang mengejutkan banyak pihak, erythritol yang selama ini dianggap aman tiba-tiba menjadi subjek penelitian serius terkait risiko kardiovaskular, dan IARC mengklasifikasikan ulang aspartame dalam kategori yang memicu kontroversi luas. Artikel ini merangkum perkembangan terkini tersebut agar pembaca dapat membuat pilihan yang lebih cerdas dan berbasis bukti.

Sekilas Tentang Pengganti Gula: Lebih Dari Sekadar “Bebas Kalori”

Pengganti gula adalah istilah luas yang mencakup semua zat yang digunakan untuk memberikan rasa manis sebagai alternatif sukrosa (gula pasir). Dalam bahasa ilmiah, mereka sering disebut non-sugar sweeteners (NSS) atau non-nutritive sweeteners (NNS) — pemanis yang tidak atau hanya sedikit menyumbang kalori.

Secara umum, pengganti gula dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Pertama adalah pemanis buatan sintetis (artificial sweeteners) seperti aspartame, saccharin, sucralose, acesulfame potassium, dan neotame yang memberikan rasa manis intensif tanpa kalori. Kedua adalah gula alkohol atau polyol seperti xylitol, sorbitol, erythritol, dan maltitol yang mengandung kalori lebih rendah dari gula biasa. Ketiga adalah pemanis alami seperti stevia dan ekstrak buah biksu (monk fruit extract). Selain itu, ada pula pemanis alami berkalori seperti madu, sirup maple, dan nektar agave yang sering dianggap lebih “sehat” meski tidak selalu demikian dari sudut pandang ilmiah.

Kompleksitas perdebatan tentang pengganti gula sebagian besar muncul dari fakta bahwa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda tergantung pada jenis pemanis, dosis, durasi konsumsi, kondisi kesehatan individu, dan bahkan komposisi microbiome usus masing-masing orang. Tidak ada satu jawaban universal yang berlaku untuk semua jenis pemanis terhadap semua individu.

Pemanis Buatan Sintetis: Apa yang Kita Ketahui Sekarang

Aspartame dan Kontroversi IARC 2023

Aspartame adalah pemanis buatan yang paling banyak diperbincangkan. Tersusun dari dua asam amino — fenilalanin dan asam aspartat — ia memberikan rasa manis sekitar 200 kali lebih kuat dari gula biasa. Ditemukan secara tidak sengaja pada 1965, aspartame hingga kini digunakan dalam ribuan produk makanan dan minuman di seluruh dunia, dari minuman bersoda berlabel “diet” hingga permen karet.

Pada Juli 2023, Badan Penelitian Kanker Internasional di bawah WHO (IARC) mengklasifikasikan aspartame sebagai karsinogen Kelompok 2B — yang berarti “kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia” berdasarkan bukti terbatas. Keputusan ini memicu kehebohan global. Namun penting untuk dipahami nuansanya: Kelompok 2B adalah kategori dengan tingkat kepastian terendah, yang juga mencakup bahan-bahan seperti aloe vera extract dan biji kopi yang diminum sangat panas. Ini bukan berarti aspartame terbukti menyebabkan kanker, melainkan bahwa ada bukti yang tidak memadai namun cukup mengisyaratkan potensi risiko untuk ditelaah lebih lanjut.

Yang lebih signifikan secara praktis, JECFA (Komite Ahli FAO/WHO untuk Bahan Tambahan Pangan) yang mengevaluasi secara bersamaan tetap mempertahankan Asupan Harian yang Dapat Diterima (Acceptable Daily Intake/ADI) aspartame sebesar 40 mg per kilogram berat badan per hari — sebuah ambang batas yang tidak berubah sejak penetapan awalnya. JECFA menyimpulkan bahwa “bukti epidemiologi tidak meyakinkan” dan tidak ada hubungan yang konsisten antara aspartame dan risiko kanker. Seorang peneliti dari Global Epidemiology Journal bahkan berpendapat bahwa IARC seharusnya menempatkan aspartame dalam Kelompok 3 (“tidak dapat diklasifikasikan sebagai karsinogenik”) alih-alih Kelompok 2B, karena hal ini menimbulkan kebingungan yang tidak perlu di tengah masyarakat (Goodman et al., 2023).

Untuk perspektif praktis: seseorang dengan berat badan 70 kilogram perlu meminum lebih dari 9–14 kaleng minuman bersoda “diet” berukuran standar setiap hari, terus-menerus, untuk mendekati batas ADI aspartame. Artinya, konsumsi wajar dalam kehidupan sehari-hari masih berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan.

Sucralose, Saccharin, Acesulfame K, dan Lainnya

Sucralose adalah pemanis buatan yang dihasilkan dari modifikasi kimiawi sukrosa. Sekitar 600 kali lebih manis dari gula dan tidak diserap secara signifikan oleh tubuh. Saccharin, pemanis buatan tertua yang pernah dilarang dan kemudian direhabilitasi, tetap digunakan secara luas. Acesulfame potassium (Ace-K) sering dikombinasikan dengan pemanis lain untuk menutupi rasa pahit sisa. Neotame dan advantame adalah generasi terbaru dari keluarga pemanis berbasis asam amino yang memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi sehingga digunakan dalam jumlah sangat kecil.

Secara kolektif, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanis buatan sintetis ini tidak menaikkan kadar glukosa darah secara akut. Sebuah tinjauan sistematis dan network meta-analysis dari 36 uji klinis yang melibatkan 472 peserta menemukan bahwa minuman yang mengandung pemanis non-gizi tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa darah, insulin, GLP-1, maupun hormon lapar-kenyang lainnya dalam waktu singkat setelah konsumsi, setara dengan efek air putih (Zhang et al., 2023). Ini adalah kabar baik bagi mereka yang menggunakannya sebagai alternatif jangka pendek dari minuman bergula.

Namun, penelitian jangka panjang memberikan gambaran yang lebih kompleks.

Gula Alkohol (Polyol): Dari “Alternatif Aman” Hingga Peringatan Kardiovaskular

Gula alkohol secara historis dianggap sebagai kelas pemanis yang lebih aman karena berasal dari sumber alami dan kandungan kalorinya lebih rendah (sekitar 2 kcal per gram dibandingkan 4 kcal per gram pada gula). Jenis yang paling umum ditemukan dalam produk pangan modern adalah xylitol, sorbitol, maltitol, dan erythritol.

Erythritol dan Temuan Mengejutkan dari Nature Medicine

Pada Februari 2023, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine mengguncang dunia ilmu gizi. Sekelompok peneliti dari Cleveland Clinic yang dipimpin oleh Dr. Stanley Hazen menemukan bahwa kadar erythritol dalam darah yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular mayor — termasuk serangan jantung, stroke, dan kematian — dalam tiga tahun follow-up (Witkowski et al., 2023).

Studi ini menggunakan pendekatan metabolomics yang canggih, diawali pada 1.157 pasien yang menjalani penilaian risiko kardiovaskular, kemudian divalidasi pada dua kohort independen di Amerika Serikat (2.149 pasien) dan Eropa (833 pasien). Hasilnya konsisten: pasien pada kuartil tertinggi kadar erythritol darah memiliki risiko kejadian kardiovaskular 1,8 hingga 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan pasien pada kuartil terendah.

Lebih jauh, studi mekanistik menemukan bahwa erythritol meningkatkan reaktivitas dan agregasi trombosit — keping darah yang berperan dalam pembekuan — baik pada model in vitro maupun hewan percobaan. Ketika delapan sukarelawan sehat meminum minuman yang mengandung 30 gram erythritol, kadar erythritol dalam darah mereka melonjak hingga 1.000 kali lipat dan tetap tinggi selama beberapa hari, cukup untuk memicu perubahan fungsi trombosit. Pada tahun 2024, kelompok yang sama mempublikasikan uji intervensi pada manusia yang mengkonfirmasi bahwa konsumsi erythritol meningkatkan reaktivitas trombosit secara signifikan dibandingkan glukosa — sebuah hasil yang mendorong seruan untuk evaluasi keamanan kardiovaskular lebih mendalam terhadap pemanis gula alkohol.

Temuan ini perlu dipahami dengan nuansa. Pertama, populasi yang diteliti adalah pasien dengan risiko kardiovaskular yang sudah tinggi, bukan populasi umum yang sehat. Kedua, kadar erythritol yang tinggi di dalam darah kemungkinan juga merupakan penanda kondisi metabolik yang buruk (seperti diabetes dan obesitas) yang sendirinya meningkatkan produksi endogen erythritol. Ketiga, studi ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Beberapa peneliti menilai bahwa batas kadar erythritol yang digunakan dalam model laboratorium terlalu tinggi dibandingkan kadar yang dicapai pada kondisi alami konsumsi manusia (Cramer et al., 2023). Meski demikian, temuan ini cukup kuat untuk mendorong komunitas ilmiah meninjau ulang rekomendasi penggunaan erythritol, khususnya pada populasi berisiko tinggi kardiovaskular.

Situasi yang serupa, meski belum sekuat erythritol, juga mulai ditemukan pada xylitol. Uji klinis jangka panjang yang mengkonfirmasi keamanan kardiovaskular gula alkohol pada manusia masih sangat terbatas — sebuah celah besar dalam bukti ilmiah yang selama ini menutupi potensi risiko nyata.

Dampak Terhadap Mikrobioma Usus: Dimensi yang Tidak Ada di Tahun 2011

Salah satu perkembangan ilmu terpenting dalam satu dekade terakhir adalah pemahaman tentang peran microbiome usus — komunitas triliunan bakteri yang mendiami saluran pencernaan — dalam kesehatan metabolik secara keseluruhan. Dan ternyata, pengganti gula berinteraksi dengan ekosistem ini dengan cara yang kompleks.

Sebuah tinjauan dari Nutrients (2023) yang merangkum hasil studi pra-klinis dan klinis selama 10 tahun terakhir menemukan bahwa pemanis non-gizi — terutama saccharin, sucralose, dan aspartame — dapat mengubah komposisi microbiome usus (dysbiosis) pada beberapa model hewan percobaan (Conz et al., 2023). Namun, hasilnya pada manusia tidak konsisten: beberapa uji klinis terkontrol acak menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada komposisi microbiome, sementara yang lain menunjukkan pergeseran pada spesies bakteri tertentu.

Yang menarik, stevia (khususnya Reb M, salah satu glikosida steviol) dikaitkan dengan peningkatan prevalensi bakteri Lachnospiraceae — kelompok bakteri yang dikaitkan dengan metabolisme yang lebih sehat — dalam sebuah studi in vivo jangka panjang selama 20 minggu (Rathaus et al., 2024). Ini menjadikan stevia sebagai salah satu pemanis yang paling menjanjikan dari perspektif kesehatan microbiome, meski penelitian pada manusia masih perlu diperluas.

Microbiome yang terganggu telah dikaitkan dengan resistensi insulin, peradangan sistemik, dan bahkan gangguan mood — semua kondisi yang pada akhirnya berkontribusi pada risiko penyakit metabolik. Oleh karena itu, dampak pengganti gula terhadap microbiome bukan sekadar masalah pencernaan, melainkan menyentuh inti kesehatan metabolik jangka panjang.

Pengganti Gula dan Berat Badan: Lebih Kompleks dari yang Tampak

Argumen utama yang selama ini mendorong popularitas pemanis buatan adalah premis sederhana: mengurangi kalori berarti mengurangi berat badan. Namun bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa realitasnya jauh lebih rumit.

Sebuah umbrella review (tinjauan komprehensif dari meta-analisis yang ada) yang diterbitkan di Advances in Nutrition (2023) menganalisis data dari 51 studi kohort dan menemukan bahwa konsumsi minuman manis buatan (artificially sweetened beverages) dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, kematian semua penyebab, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular — dengan bukti yang dikategorikan sebagai “sangat sugestif” (Diaz et al., 2023). Paradoks ini — pemanis tanpa kalori justru dikaitkan dengan obesitas — bisa dijelaskan oleh beberapa mekanisme: kompensasi kalori dari makanan lain, perubahan sinyal rasa lapar-kenyang, atau reverse causation (orang yang mengalami masalah berat badan cenderung memilih produk “diet”).

Di sisi lain, uji klinis acak jangka pendek secara konsisten menunjukkan bahwa menggantikan minuman bergula dengan minuman berpemanis buatan menurunkan asupan kalori total dan membantu pengelolaan berat badan jangka pendek. Sebuah studi in vivo selama 20 minggu menemukan bahwa konsumsi pemanis non-gizi jangka panjang tidak menginduksi efek metabolik yang merugikan, dan sucralose serta Reb M bahkan dikaitkan dengan sensitivitas insulin yang lebih baik dalam kondisi obesitas yang diinduksi diet tinggi lemak (Rathaus et al., 2024).

Kontradiksi antara studi observasional jangka panjang dan uji klinis jangka pendek inilah yang menjadi inti ketidaksepakatan ilmiah hingga hari ini.

Pedoman WHO 2023: Peringatan yang Mengguncang Konsensus

Pada Mei 2023, WHO merilis pedoman baru tentang penggunaan pemanis non-gizi (non-sugar sweeteners/NSS) yang berbunyi: “WHO menyarankan agar pemanis non-gizi tidak digunakan sebagai cara untuk mencapai pengendalian berat badan atau mengurangi risiko penyakit tidak menular (rekomendasi kondisional).” Rekomendasi ini berlaku untuk semua orang kecuali penderita diabetes yang sudah terdiagnosis (World Health Organization, 2023).

Rekomendasi ini bersifat “kondisional” — artinya tingkat kepastian buktinya tidak cukup tinggi untuk menjadi rekomendasi mutlak, dan implementasinya memerlukan pertimbangan kontekstual sesuai kondisi lokal. WHO sendiri mengakui bahwa hubungan antara NSS dan hasil kesehatan yang buruk “mungkin dipengaruhi oleh karakteristik dasar peserta studi dan pola penggunaan NSS yang kompleks.”

Rekomendasi ini tidak serta-merta berarti pemanis buatan berbahaya bagi semua orang. WHO tidak merekomendasikan untuk kembali mengonsumsi gula; sebaliknya, mendorong masyarakat untuk mengurangi keinginan akan rasa manis secara keseluruhan, dengan mengutamakan air putih, buah segar, dan makanan yang secara alami tidak manis. Pedoman ini tidak mencakup gula alkohol (polyol) dan tidak dimaksudkan sebagai evaluasi toksikologi individual terhadap keamanan masing-masing pemanis.

Beberapa peneliti dari Universitas Toronto mengkritik pedoman WHO ini karena hanya mengandalkan studi kohort observasional dengan metodologi prevalent analysis yang rentan terhadap bias reverse causation, sementara mengabaikan data dari studi kohor yang menggunakan analisis substitusi (menggantikan minuman bergula dengan NSS) yang justru menunjukkan manfaat terhadap berat badan dan risiko kardiovaskular (Khan et al., 2023). Ini menegaskan bahwa diskusi ilmiah tentang pemanis non-gizi masih terus berkembang dan belum sepenuhnya tertutup.

Pengganti Gula dan Risiko Kardiovaskular: Membaca Sinyal yang Muncul

Penyakit kardiovaskular adalah salah satu kekhawatiran paling baru dalam literatur pemanis buatan. Selain erythritol, sejumlah penelitian observasional pada pemanis sintetis juga mulai mengisyaratkan potensi risiko.

Sebuah tinjauan dari Cardiology in Review (2025) yang merangkum data dari studi in vitro, hewan, dan klinis menyimpulkan bahwa beberapa pemanis — termasuk aspartame, sucralose, dan saccharin — dikaitkan dengan peradangan sistemik, disfungsi endotel, dan gangguan microbiome yang secara teoritis dapat memperburuk kondisi metabolik seperti diabetes dan obesitas, keduanya merupakan faktor risiko kardiovaskular utama (Huang et al., 2025). Namun para penulis menekankan bahwa bukti jangka panjang dari uji klinis pada manusia masih sangat terbatas sehingga tidak dapat memberikan kesimpulan definitif tentang kausalitas.

Bagi penderita diabetes, situasinya menjadi lebih kompleks. Meskipun pemanis buatan tidak menaikkan glukosa darah secara akut, penggunaan jangka panjang dikaitkan dengan perubahan microbiome yang berpotensi memengaruhi sensitivitas insulin. Tinjuan dari Frontiers in Nutrition (2024) menyimpulkan bahwa pemanis buatan mungkin berinteraksi dengan microbiome usus dengan cara yang mempersulit pengelolaan diabetes jangka panjang, dan merekomendasikan pendekatan yang dipersonalisasi berdasarkan kondisi metabolik individu (Angelin et al., 2024).

Dampak terhadap Kanker: Apa yang Sebenarnya Kita Ketahui?

Kekhawatiran tentang kanker dan pemanis buatan telah ada sejak tahun 1970-an ketika saccharin dikaitkan dengan kanker kandung kemih pada tikus percobaan — sebuah hubungan yang kemudian terbukti tidak relevan dengan manusia karena perbedaan fisiologis mendasar. Bukti terkini, berdasarkan tinjauan komprehensif klinis yang diterbitkan di Cureus (2023), menyimpulkan bahwa “sebagian besar data penelitian tidak menunjukkan hubungan yang terbukti antara penggunaan pemanis buatan dan risiko kanker,” meski pemanis buatan dikaitkan dengan berbagai penyakit lain yang memerlukan penelitian lebih lanjut (Ghusn et al., 2023).

Tentang aspartame dan kanker hati (hepatokarsinoma), IARC mengklasifikasikannya dalam Kelompok 2B hanya berdasarkan “bukti terbatas” — yang dalam terminologi IARC berarti hubungan positif ditemukan tetapi bias, confounding, atau kebetulan tidak dapat disingkirkan. Ini berbeda jauh dari bukti yang cukup seperti yang dimiliki rokok atau asbes dalam Kelompok 1. Dengan kata lain, pemanis buatan pada dosis wajar tidak memiliki bukti yang meyakinkan sebagai penyebab kanker pada manusia.

Lebih menarik, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanis tertentu dan metabolitnya mungkin memiliki efek antiproliferatif pada sel kanker saluran cerna melalui jalur apoptosis dan penghentian siklus sel, meskipun mekanisme ini baru dipelajari di tingkat laboratorium dan belum cukup untuk menjadi rekomendasi terapeutik (Al-Ishaq et al., 2023).

Pemanis Alami: Benarkah Lebih Sehat?

Stevia adalah bintang dalam kategori ini — ekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana yang berasal dari Amerika Selatan. Glikosida steviol, senyawa aktif dalam stevia, tidak memberikan kalori dan tidak menginduksi respons glukosa darah akut. FDA Amerika Serikat dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia mengizinkan penggunaannya. Stevia memiliki profil keamanan yang baik dalam studi ilmiah hingga saat ini, dan hasil terbaru bahkan menunjukkan potensi efek menguntungkan pada microbiome usus — sebuah keunggulan dibandingkan pemanis buatan sintetis lainnya.

Monk fruit extract (Luo Han Guo) adalah pemanis alami lain yang semakin populer, terutama di produk kesehatan. Mengandung mogrosides yang memberikan rasa manis 150–200 kali lebih kuat dari gula tanpa kalori, dan hingga saat ini tidak menunjukkan efek samping bermakna dalam penelitian yang tersedia.

Madu, sirup maple, gula kelapa, dan nektar agave sering dipromosikan sebagai alternatif “lebih sehat” dari gula putih. Kenyataannya, dari perspektif metabolik, semua pemanis alami berkalori ini tetap berujung pada glukosa dan fruktosa di dalam tubuh. Kandungan mineral dan antioksidan pada madu atau gula kelapa memang ada, tetapi jumlahnya terlalu kecil untuk memberi manfaat kesehatan bermakna pada dosis yang wajar. Kadar fruktosa yang tinggi dalam nektar agave bahkan bisa memperburuk kadar trigliserida darah dan perlemakan hati jika dikonsumsi berlebihan — bertolak belakang dari klaimnya sebagai pemanis low-glycemic yang aman untuk penderita diabetes.

Regulasi di Indonesia: BPOM dan Kebijakan Pangan

Di Indonesia, BPOM mengatur penggunaan pemanis buatan dan pemanis pengganti gula melalui Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, yang menggantikan aturan lama. Regulasi ini menetapkan daftar pemanis yang boleh digunakan, batas maksimal penggunaan dalam berbagai kategori pangan, dan mewajibkan pencantuman nama pemanis pada label produk.

Peraturan BPOM juga melarang penggunaan pemanis buatan dalam produk pangan yang diperuntukkan bagi bayi, balita, dan ibu hamil atau menyusui. Ketentuan ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian mengingat populasi tersebut memiliki kerentanan metabolik dan toksikologis yang berbeda dari orang dewasa sehat.

Salah satu tantangan dalam konteks Indonesia adalah kebiasaan mengonsumsi minuman manis — baik teh manis, minuman bersoda, maupun minuman kemasan — yang sangat tinggi, terutama di kalangan anak muda dan masyarakat perkotaan. Data Survei Kesehatan Indonesia (d/h Riskesdas) menunjukkan prevalensi konsumsi minuman manis yang berlebihan masih menjadi faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2 dan obesitas, yang keduanya sudah mencapai angka yang memprihatinkan. Dalam konteks ini, pemanis buatan mungkin berguna sebagai alat transisi — bukan solusi permanen — untuk membantu masyarakat secara bertahap mengurangi kebergantungan pada rasa manis.

Perspektif Praktis: Panduan untuk Konsumen Cerdas

Berdasarkan seluruh bukti ilmiah yang tersedia saat ini, beberapa prinsip panduan dapat dirumuskan untuk penggunaan pengganti gula secara bijak.

Pertama, air putih dan minuman tanpa pemanis tetap menjadi pilihan terbaik untuk hidrasi sehari-hari. Tidak ada pemanis — alami maupun buatan — yang bebas sepenuhnya dari pertanyaan ilmiah. Jika tujuannya adalah mengurangi asupan gula, langkah paling efektif adalah melatih selera agar perlahan-lahan tidak bergantung pada rasa manis yang kuat, seperti yang dianjurkan oleh pedoman gizi WHO.

Kedua, penderita diabetes yang membutuhkan pengganti gula sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Secara akut, pemanis non-gizi tidak menaikkan kadar glukosa darah dan bisa berguna sebagai strategi transisi. Namun, bukti tentang interaksi jangka panjang dengan metabolisme insulin dan microbiome masih berkembang, sehingga monitoring tetap diperlukan.

Ketiga, hindari memilih pemanis berdasarkan klaim pemasaran semata, termasuk klaim “alami”, “herbal”, atau “rendah kalori”. Madu dan gula kelapa, misalnya, pada dasarnya tetap merupakan gula tambahan yang meningkatkan beban kalori dan dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Pilihlah berdasarkan tujuan spesifik dan kondisi kesehatan Anda.

Keempat, perhatikan kandungan erythritol dalam produk makanan — khususnya produk berlabel “keto”, “rendah gula”, atau “tanpa gula” yang semakin marak. Mengingat bukti yang muncul tentang potensi risiko kardiovaskular, kehati-hatian ekstra dianjurkan terutama bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko jantung.

Kelima, konsumsi gula alkohol dalam jumlah besar — umumnya di atas 10–50 gram per hari tergantung jenis dan individu — dapat menyebabkan efek laksatif, kembung, dan diare. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan ringan, melainkan sinyal bahwa saluran cerna tidak menyerap senyawa ini sepenuhnya.

Keenam, pada bayi dan anak-anak, jauhi pengganti gula. Pedoman BPOM Indonesia melarang penggunaannya pada produk untuk bayi dan balita, dan kebiasaan makan manis di usia dini dapat membentuk preferensi selera jangka panjang yang sulit diubah.

Penutup: Ilmu yang Terus Bergerak

Kita kini berada di titik yang jauh berbeda dari 2011. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah pemanis buatan menyebabkan kanker?” — yang jawabannya hingga saat ini masih “tidak terbukti secara meyakinkan” — tetapi telah berkembang menjadi pertanyaan yang lebih halus: bagaimana pengganti gula ini berinteraksi dengan ekosistem kompleks tubuh kita, termasuk microbiome usus, sistem koagulasi, dan metabolisme jangka panjang?

Bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa tidak ada pengganti gula yang benar-benar netral secara biologis, tetapi juga tidak ada yang terbukti berbahaya pada dosis wajar bagi kebanyakan orang sehat. Paradoks inilah yang membuat rekomendasi ilmiah paling jujur adalah rekomendasi sederhana yang sudah lama diketahui: kurangi rasa manis secara keseluruhan, dari sumber manapun.

Sains terus berkembang. Apa yang kita pahami hari ini akan kembali direvisi oleh penelitian esok hari. Itulah mengapa literasi sains — kemampuan membaca bukti dengan kritis, memahami keterbatasan studi, dan tidak mudah terbawa oleh judul berita yang sensasional — adalah keterampilan paling berharga yang dimiliki konsumen modern.


Daftar Referensi

Al-Ishaq, R. K., Kubatka, P., & Büsselberg, D. (2023). Sweeteners and the gut microbiome: Effects on gastrointestinal cancers. Nutrients, 15(17), 3675. https://doi.org/10.3390/nu15173675

Angelin, M., Kumar, J., Vajravelu, L. K., Satheesan, A., Chaithanya, V., & Murugesan, R. (2024). Artificial sweeteners and their implications in diabetes: A review. Frontiers in Nutrition, 11, 1411560. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1411560

Conz, A., Salmona, M., & Diomede, L. (2023). Effect of non-nutritive sweeteners on the gut microbiota. Nutrients, 15(8), 1869. https://doi.org/10.3390/nu15081869

Cramer, T., Gonder, U., & Kofler, B. (2023). Plasma erythritol and cardiovascular risk: Is there evidence for an association with dietary intake? Frontiers in Nutrition, 10, 1195521. https://doi.org/10.3389/fnut.2023.1195521

Diaz, C., Rezende, L. F. M., Sabag, A., Lee, D. H., Ferrari, G., Giovannucci, E. L., & Rey-Lopez, J. P. (2023). Artificially sweetened beverages and health outcomes: An umbrella review. Advances in Nutrition, 14(4), 710–717. https://doi.org/10.1016/j.advnut.2023.05.010

Ghusn, W., Naik, R., & Yibirin, M. (2023). The impact of artificial sweeteners on human health and cancer association: A comprehensive clinical review. Cureus, 15(12), e51299. https://doi.org/10.7759/cureus.51299

Goodman, J. E., Boon, D. N., & Jack, M. M. (2023). Perspectives on recent reviews of aspartame cancer epidemiology. Global Epidemiology, 6, 100117. https://doi.org/10.1016/j.gloepi.2023.100117

Huang, L., Huhulea, E., Aifuwa, E., Frishman, W. H., & Aronow, W. S. (2025). Sugar-free but not risk-free? Exploring artificial sweeteners and cardiovascular disease. Cardiology in Review. https://doi.org/10.1097/CRD.0000000000000873

Khan, T. A., Lee, J. J., Ayoub-Charette, S., & Noronha, J. C. (2023). WHO guideline on the use of non-sugar sweeteners: A need for reconsideration. European Journal of Clinical Nutrition, 77, 1009–1013. https://doi.org/10.1038/s41430-023-01314-7

Rathaus, M., Azem, L., Livne, R., Ron, S., Ron, I., Hadar, R., Efroni, G., Amir, A., Braun, T., Haberman, Y., & Tirosh, A. (2024). Long-term metabolic effects of non-nutritive sweeteners. Molecular Metabolism, 88, 101985. https://doi.org/10.1016/j.molmet.2024.101985

Warner, J. O. (2024). Artificial food additives: Hazardous to long-term health? Archives of Disease in Childhood, 109(11), 882–885. https://doi.org/10.1136/archdischild-2023-326565

Witkowski, M., Nemet, I., Alamri, H., Wilcox, J., Gupta, N., Nimer, N., Haghikia, A., Li, X. S., Wu, Y., Saha, P. P., Demuth, I., König, M., Steinhagen-Thiessen, E., Cajka, T., Fiehn, O., Landmesser, U., Tang, W. H. W., & Hazen, S. L. (2023). The artificial sweetener erythritol and cardiovascular event risk. Nature Medicine, 29, 710–718. https://doi.org/10.1038/s41591-023-02223-9

World Health Organization. (2023). Use of non-sugar sweeteners: WHO guideline. https://www.who.int/publications/i/item/9789240073616

Zhang, R., Noronha, J. C., Khan, T. A., McGlynn, N., Back, S., Grant, S. M., Kendall, C. W. C., & Sievenpiper, J. L. (2023). The effect of non-nutritive sweetened beverages on postprandial glycemic and endocrine responses: A systematic review and network meta-analysis. Nutrients, 15(4), 1050. https://doi.org/10.3390/nu15041050


Artikel ini diperbarui berdasarkan tinjauan literatur terkini dari PubMed dan sumber pedoman kesehatan global. Informasi dalam artikel bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran medis profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau ahli gizi terdaftar.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

11 tanggapan

  1. Asop Avatar

    Informasi yang bagus, Mas Cahya. 🙂

    Saya sih nggak begitu masalah tanpa rasa manis. 🙂
    Nggak sampe harus menggantikan manisnya gula asli. 😀

    Suka

  2. wigati Avatar
    wigati

    Hooo, iya, orang2 rumah jg sudah mulai pilih2 gula..emg hrs pilih2 makanan sih ya

    Suka

  3. Zippy Avatar
    Zippy

    Entah sudah berapa banyak pemanis buatan yang masuk ke tubuh saya mas, kadang susah sih kalo dibedain.

    Paling banter sih jajanan di luaran yang getol menggunakan pemanis buatan, ya..walau gak semuanya sih 😀

    Suka

  4. gadgetboi Avatar

    oiya bli, kalau xilitol itu termasuk pemanis buatan juga bukan?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mas Rangga, kalau dibilang begitu sih susah juga, biasanya xilitol tidak digolongkan sebagai pemanis buatan, namun gula alkohol. Karena pengganti gula yang satu ini juga ada secara alami di alam.

      Suka

  5. gadgetboi Avatar

    di rumah saya sekarang sedang ada program mengurangi gula dan garam. jadi serba salah nih, kalau gurih, kurang baik bagi kesehatan, kalau dikurangin kayak makanan rumah sakit :mrgreen: … *ini mah bukan komen, tapi curhat hehehe*

    Suka

  6. indobrad Avatar
    indobrad

    jadi sebenarnya benang merah dari postingan ini adalah: jangan terlalu banyak mengonsumsi gula. bukan begitu bli?! hehehe

    Suka

    1. Cahya Avatar

      He he, begitulah Pak :).

      Suka

  7. jarwadi Avatar

    Jaman dulu, saya kadang kadang minum extra joss. Dalam komposisi yg tercantum pada sampul disebutkan kalau mengandung aspartame sekian mg. Batas aman konsumsi bagi tubuh perhari sekian mili gram. Berarti, kesimpulan saya dulu, aspartame tidak benar benar aman digunakan manusia.

    Saat ini saya bertanya tanya akan iklan tropicana slim. Secara tidak langsung iklan ini menyasar pada orang dewasa menjelang tua. Pertanyaannya, bukankah orang tua itu makin perlu bahan pangan alami? 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Pak Jarwadi, apapun yang berlebihan tidak akan baik, meski itu makanan sehat bernutrisi nan alami sekalipun. Zaman sekarang serba susah, apalagi buat mahasiswa seperti saya, yang setiap hari nongkrong di warteg, tidak tahu mana sayur yang mungkin masih ada kandungan pestisidanya, atau daging yang disembelih dari hewan yang mendapat suntikan hormon pertumbuhan. Tidak ada yang aman di dunia ini secara absolut :).

      Tidak hanya orang tua menurut hemat saya Pak, bahkan dari kecil-pun mesti dibiasakan dan dididik untuk makan makanan alami. Bayangkan saja kalau punya anak tiap hari pinginnya makan junk food di restoran asal negeri Paman Sam, kan susah.

      Pendapatnya adalah, jika sesuatu saat usia kita menua di mana mungkin metabolisme gula di dalam tubuh tidak sebaik masa muda, maka untuk membuat secangkir teh akan ada baiknya tidak ditambahkan kalori. Sekarang orang mesti memilih, apakah akan menginginkan rasa manis atau bisa tanpa rasa manis? Kalau bisa tanpa rasa manis ya kan tidak perlu tambahan kalori, jika ingin rasa manis, ingin yang alami atau buatan? Yang alami berpotensi menambah gula yang berpotensi merusak kesehatan, yang buatan-pun mungkin aman di sisi kalori, tapi belum tentu aman jika dikonsumsi berlebih.

      Intinya, jika kita ingin lebih, seperti rasa manis di dalam teh, apapun langkahnya, selalu menimbulkan konsekuensi bagi kesehatan.

      Suka

  8. @zizydmk Avatar

    Ibu saya penderita diabet dan pakai pemanis buatan utk menjaga. Tapi sejak beberapa thn terakhir, saya anjurkan pakai gula jagung saja yg utk diabet. Saya jg rutin selama dua tahun ini pakai gula jagung. Ya untuk jaga2 saja…

    Suka

Tinggalkan Balasan ke gadgetboi Batalkan balasan