Kampung Halaman Tak Berhutan

Ketika kenangan saya kembali mengelana di antara novel dan tulisan tua berlatar era koloni pertama, saya terbayang bagaimana desa-desa kecil dibangun dengan begitu tenteram menghasilkan peternakan dan ranch yang cukup luas. Sesuatu yang sama yang mungkin bisa disaksikan di negeri tersebut saat ini.

EasternWA

Saya rasa itu sungguh menjadi potret yang luar biasa menarik, membawa bayang sanubari ke negeri asing di benua yang asing.

Namun, sungguh berbeda dengan kampung-kampung kecil di negeri kepulauan – tanah air saya, meski bukan ladang gandum dan peternakan membentang, kita memiliki sawah yang menguning dan hutan yang mengapit dan memisah pedesaan.

Dan saya rasa ini – adalah – keindahan negeri kita, dengan kehijauan yang begitu asri. Mungkin suatu saat jika saya berkesempatan, saya akan mengunjungi negeri asing itu, tempat di mana orang-orangnya memiliki kampung halaman yang tak berhutan.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

5 tanggapan untuk “Kampung Halaman Tak Berhutan

  1. Hohoho…saya kira itu satu tempat impian yang memang benar-benar akan didatangi.
    Di Bali juga mulai jarang hujan, sekali hujan nggak bisa kemana-mana seharian. hehe..

    Suka

    1. Oh, saya kurang tahu, mungkin di common state yang berinisial WA 😀 – asal comot saja dari Bing. Kalau di Karangasem sih, bukan gersang lagi, tapi berdebu juga, pas serasa di Jogja kalau lagi musim kering begini, sudah dua bulanan tidak hujan.

      Suka

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: