Saya sedang mencari aplikasi klien twitter yang pas pada openSUSE Asparagus yang saya gunakan, dulu saya masih bisa memilih Tweetdeck karena dukungan AdobeAIR untuk Linux masih berlangsung dan meruapakan aplikasi resmi dari Twitter. Namun dengan berhentinya pengembangan AdobeAIR untuk Linux, tentu saja aplikasi seperti Tweetdeck dan sejenisnya yang memanfaatkan mesin serupa akan sangat riskan digunakan pada Linux.
Jadi saya harus memilih aplikasi yang menggunakan mesin yang berbeda, lalu saya menemukan Turpial – sebuah aplikasi ringan menggunakan bahasa pemprograman Phyton. Beberapa distribusi Linux telah memuat Turpial pada mirror mereka, Fedora salah satunya, dan kebetulan openSUSE juga memilikinya.
Jadi saya memutuskan untuk mencoba aplikasi ini, ukurannya kecil dengan beberapa dependencies yang juga cukup kecil, bisa langsung dipasang dari software management yang ada di YaST. Jadi bisa dibilang aplikasi ini “rendah lemak”, cukup sehat dijalankan pada desktop kita.
Untuk sebuah aplikasi ringan, saya rasa Turpial sudah memenuhi semua kebetuhan yang diperlukan dalam memanfaatkan layanan twitter. Mulai dari fungsi mempublikasikan status, membalas/menanggapi status, menggunggah gambar, pemendek URL, suara notifikasi, daftar teman untuk melakukan penyebutan (mention), dan lain sebagainya. Saya rasa ini bisa disebut sebagai aplikasi twitter all-in-one.
Sekilas tampilannya mirip dengan Gwibber, yang entah mengapa menghilang dari peredaran, saya tidak begitu tahu. Namun tentu saja Anda bisa menyesuaikannya agar tampil seperti Tweetdeck.
Jangan lupa deretan ikon mini yang berada di bawah kolom juga sangat membantu memunculkan fungsi-fungsi yang diperlukan guna mengoptimalkan penggunaan Turpial. Anda bisa melakukan eksplorasi sendiri tentu saja.
Saya suka kesan pertama dalam menjelajahi penggunaan aplikasi ini, hanya satu hal yang masih agak kurang pas bagi saya, yaitu fonta yang digunakan. Karena sepertinya fonta pesan menyesuaikan dengan fonta tema adwaita yang diusung oleh Gnome 3 pada openSUSE saya, dan ukuran fontanya relatif kecil, sehingga ada kesan kurang nyaman dalam membaca tweet di dalamnya.
Aplikasi ini tentu masih dalam pengembangan, dan saya harap ada cukup banyak kemajuan signifikan ke depannya, seperti yang dicapai oleh Tweetdeck.

Tinggalkan Balasan ke nubitux Batalkan balasan