A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saat saya menggunakan openSUSE (dan distribusi Linux lain secara umum), si kadal hijau sudah dilengkapi dengan pemutar musik yang kaya fitur seperti Banshee untuk Gnome dan Amarok untuk KDE. Saya ingin mendapatkan sebuah pemutar musik yang lebih sederhana, mudah digunakan, yah seperti Winamp untuk Linux.

Dulu ada XMMS, namun nasib buruk menimpa pemutar musik open source berbasis GTK 1 ini, ia dijual ke pihak ketiga oleh pihak sponsor tanpa terlebih dahulu memberitahukan, apalagi meminta persetujuan pada pihak pengembang. Kabarnya tidak pernah terdengar lagi, namun saat ini muncul penerusnya yang bernama Audacious.

Audacious memiliki fitur minimalis yang saya inginkan, dan tentu saja sangat ringan untuk dijalankan pada komputer tua saya.

Audacious is an open source audio player. A descendant of XMMS, Audacious plays your music how you want it, without stealing away your computer’s resources from other tasks. Drag and drop folders and individual song files, search for artists and albums in your entire music library, or create and edit your own custom playlists. Listen to CD’s or stream music from the Internet. Tweak the sound with the graphical equalizer or experiment with LADSPA effects. Enjoy the modern GTK-themed interface or change things up with Winamp classic skins. Use the plugins included with Audacious to fetch lyrics for your music, to set an alarm in the morning, and more.

Audacious.ORG

Untuk memutar sebuah lagu yang disobek ke dalam bentuk MP3, dibutuhkan kinerja RAM hanya sebear 15 MB, dan nyaris tidak membuat lonjakkan berarti pada kinerja prosesor.

Tampilan Audacious Media Player pada Gnome – openSUSE Asparagus.

Audacious dapat dijalankan pada Linux dan turunan BSD, juga tentu saja pada Microsoft Windows. Pada semua distro besar sudah bisa digunakan, dan terdapat pada repositori masing-masing, sehingga bisa langsung dipasang dengan instan termasuk melalui perintah terminal “install audacious“.

Untuk informasi yang lebih lengkap, silakan menuju halaman Audacious Media Player, termasuk bagi pengguna Windows yang ingin mengunduhnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Asop Avatar

    Audacity?
    Eh bukan ya? 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Audacity itu untuk menyunting berkas multimedia, kalau yang ini untuk memutar :).

      Suka

  2. rusydi hikmawan Avatar
    rusydi hikmawan

    edubuntu saya masih pake banshee. dan mesti update cache-nya dulu. entar dah nyoba audicousnya

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Sepertinya ndak perlu di-update, tinggal gunakan perintah apt-get install audacious saja Pak :).

      Suka

  3. gadgetboi Avatar

    patut dicoba nih 😀 … mengingat saya malas sekali untuk memutar satu lagu baru harus berurusan dengan loading lagu di banshee … ini engga perlu pembaharuan (refresh) setiap mau masuk ke lagu kan bli? …

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Ndak kok, seperti gampang sekali pakainya, ya seperti XMMS itu dulu Mas Rangga :).

      Suka

  4. Andhy Avatar
    Andhy

    Ga mirip winamp, malah lebih mirip VLC 😀
    Support sync dengan IPOD seperti bashee juga ga?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Kalau untuk sinkronisasi, sekalian saja pakai Banshee Mas, lebih klop :).

      Suka

  5. iskandaria Avatar
    iskandaria

    Jadi teringat pas temen saya nanya dengan pertanyaan polosnya (usai saya instalkan Ubuntu di laptopnya). “Winamp untuk Linux apa ya namanya?”, tanya dia. Langsung aja saya rekomendasikan Audacious (yang punya tampilan tidak jauh berbeda dengan Winamp)..he..he..

    Tapi tak lupa juga saya rekomendasikan Banshee. Kalau saya pribadi sih lebih suka menggunakan Banshee (tapi menurut pengalaman banyak pengguna Ubuntu 11.10, Banshee-nya sering hang/crash). Untung saya nggak pakai Ubuntu 11.10 lagi 😆

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mas Is, Banshee memang enak, saya dari dulu suka menggunakannya, hanya saja kadang kalau mau mendengarkan satu atau dua lagu saja, kok malah boros sumber daya komputer ya… – makanya kadang kalau lagi insyaf buat green computing, saya pakai yang lebih ringan :lol:.

      Suka

  6. honeylizious Avatar

    nggak menggunakan linux, nggak ngerti sama sekali

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Lha, kan bisa dicoba pada Windows Mbak :).

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Andhy Batalkan balasan