Saat saya menggunakan openSUSE (dan distribusi Linux lain secara umum), si kadal hijau sudah dilengkapi dengan pemutar musik yang kaya fitur seperti Banshee untuk Gnome dan Amarok untuk KDE. Saya ingin mendapatkan sebuah pemutar musik yang lebih sederhana, mudah digunakan, yah seperti Winamp untuk Linux.
Dulu ada XMMS, namun nasib buruk menimpa pemutar musik open source berbasis GTK 1 ini, ia dijual ke pihak ketiga oleh pihak sponsor tanpa terlebih dahulu memberitahukan, apalagi meminta persetujuan pada pihak pengembang. Kabarnya tidak pernah terdengar lagi, namun saat ini muncul penerusnya yang bernama Audacious.
Audacious memiliki fitur minimalis yang saya inginkan, dan tentu saja sangat ringan untuk dijalankan pada komputer tua saya.
Audacious is an open source audio player. A descendant of XMMS, Audacious plays your music how you want it, without stealing away your computer’s resources from other tasks. Drag and drop folders and individual song files, search for artists and albums in your entire music library, or create and edit your own custom playlists. Listen to CD’s or stream music from the Internet. Tweak the sound with the graphical equalizer or experiment with LADSPA effects. Enjoy the modern GTK-themed interface or change things up with Winamp classic skins. Use the plugins included with Audacious to fetch lyrics for your music, to set an alarm in the morning, and more.
Audacious.ORG
Untuk memutar sebuah lagu yang disobek ke dalam bentuk MP3, dibutuhkan kinerja RAM hanya sebear 15 MB, dan nyaris tidak membuat lonjakkan berarti pada kinerja prosesor.
Tampilan Audacious Media Player pada Gnome – openSUSE Asparagus.
Audacious dapat dijalankan pada Linux dan turunan BSD, juga tentu saja pada Microsoft Windows. Pada semua distro besar sudah bisa digunakan, dan terdapat pada repositori masing-masing, sehingga bisa langsung dipasang dengan instan termasuk melalui perintah terminal “install audacious“.
Untuk informasi yang lebih lengkap, silakan menuju halaman Audacious Media Player, termasuk bagi pengguna Windows yang ingin mengunduhnya.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
patut dicoba nih 😀 … mengingat saya malas sekali untuk memutar satu lagu baru harus berurusan dengan loading lagu di banshee … ini engga perlu pembaharuan (refresh) setiap mau masuk ke lagu kan bli? …
Jadi teringat pas temen saya nanya dengan pertanyaan polosnya (usai saya instalkan Ubuntu di laptopnya). “Winamp untuk Linux apa ya namanya?”, tanya dia. Langsung aja saya rekomendasikan Audacious (yang punya tampilan tidak jauh berbeda dengan Winamp)..he..he..
Tapi tak lupa juga saya rekomendasikan Banshee. Kalau saya pribadi sih lebih suka menggunakan Banshee (tapi menurut pengalaman banyak pengguna Ubuntu 11.10, Banshee-nya sering hang/crash). Untung saya nggak pakai Ubuntu 11.10 lagi 😆
Mas Is, Banshee memang enak, saya dari dulu suka menggunakannya, hanya saja kadang kalau mau mendengarkan satu atau dua lagu saja, kok malah boros sumber daya komputer ya… – makanya kadang kalau lagi insyaf buat green computing, saya pakai yang lebih ringan :lol:.
Tinggalkan Balasan