Saya teringat beberapa pagi yang lalu saya tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan salah satu adegan anime tentang kesalahan taksonomi dua spesies kepiting. Entah apakah kesalahannya ada pada tingkat gena, keluarga atau ordo, yang jelas dinyatakan bahwa nasib salah satu kepiting seperti nasib si Pluto, terbuang dari kumpulannya – mengingatkan bait kedua dari pusi “Aku” karya Chairil Anwar.
Ya, insiden itu sudah lama, namun masih tetap membuat saya tergelitik sering kali sampai saat ini. Karena mungkin di negeri ini tidak banyak yang tahu apalagi peduli dengan apa yang disepakati IAU sekitar 5 tahun yang lalu. Meski sebenarnya itu bukan insiden tentu saja.
Pengetahuan modern sangat cepat berubah, mungkin itu sebabnya buku teks memerlukan pembaharuan yang lumayan cepat. Siapa yang sangka, setelah beberapa tahun meninggalkan bangku sekolah, ternyata sampai saat ini kita hanya memiliki 8 planet saja, 4 teristerial dan 4 lagi gas raksasa.
Nah, saya rasa itu lebih bagus daripada nanti anak-anak sekolah terancam menghapalkan ratusan nama planet baru di tata surya kita. Dan seperti juga tidak akan ada rencana untuk melakukan terraforming pada Pluto nantinya.
Banyak hal terjadi seperti nasib si Pluto, apalagi di dunia yang perkembangan ilmu pengetahuannya selalu memiliki potensi memunculkan lompatan kuantum. Kita mungkin belajar tentang A hari, dan besok sudah menjadi B. Hal-hal seperti ini tidak banyak, namun sering kali menempati celah yang penting.
Tidak lucu jika Anda seorang guru sekolah dasar kemudian mengajukan pertanyaan pada para siswanya yang imut “Anak-anak, siapa yang tahu nama planet kita yang kesembilan?” – jangan heran jika murid-muridnya yang manis kemudian hanya bisa melongo. Yah, kadang pembaharuan pengetahuan memang kejam, siapa tahu kita yang berikutnya bernasib seperti Pluto.
Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
17 tanggapan
santidiwyarthi
Membayangkan…. gak cuma sinetron cengeng dan aneh yg diputar terus menerus di tepe kita…. HIks….
Benar Mas, kalau kita meniru Discovery atau National Geographic, kadang kesannya terlalu serius, sedikit penambahan edukasi dengan video animasi yang lucu akan menarik minat masyarakat untuk belajar :).
jadi ingat di tahun 90an akhir heboh terdapat planet baru dan kita pada sibuk menunggu nama baru planet tersebut 😀 eh sampe sekarang engga masuk tuh planet tersebut di buku 😀 ..
Mas Rangga, mungkin itu Cedna atau Eris ya (atau mungkin juga bukan keduanya), karena sejak tahun 90-an banyak ditemukan badan celestial, maka jika semuanya dijadikan planet, berarti tata surya kita akan punya ratusan planet :lol:. Sehingga ya, untuk meminimal jumlah planet, terpaksa Pluto dikorbankan, biar yang lain ndak iri kalau ndak dapat predikat sebagai planet :D.
Ilmu pasti berkembang dan selalu menemukan adanya perubahan. Kalau kayak saya yang sudah melewati masa2 sekolah ya harus terus mengikuti perkembangan supaya gak bingung saat ditanya anak nanti.
Yang udah lepas dari bangku pendidikan dengan cekokan 9 planet itu sudah terlanjur melekat mas, namun gimana lagi, ilmu semakin diperbarui… Dunia astronomi mmang terlalu luas untuk dijelajahi.. bahkan mungkin tata surya kita cuma sekecil semut diluar sana…
Hahha..iya nih, pembaharuan teknologi dan informasi (biarin kebalik) kadang ada bagus dan tidaknya.
Contohnya ya kayak pluto itu.
Bagus sih ngapalnya jadi lebih dikit, cuma 8 planet.
Gak enaknya ya buat yang kayak kita2 ini, yang udah hapal planet ada 9 jumlahnya 😀
Mesti belajar ulang pastinya 😆
Serba salah, yang sudah ujur seperti saya mana sempat belajar astronomi lagi 😀
Untungnya ada yang sudah besar, jadi kalau ada pertanyaan dari sikecil yang tidak saya ketahui, saya meminta kakaknya untuk menjawab.
Ini bukan lompatan quantum pengetahuan, tetapi inilah salah satu keuntungan kalau sudah punya anak yang besar (*….*).
Tinggalkan Balasan