Seorang polisi Dallas tewas ditembak di pinggir jalan pada 1976, seorang pria dihukum mati, dan bertahun-tahun kemudian seorang pembuat film datang membawa kamera dan banyak pertanyaan. The Thin Blue Line (1988) tidak meminta kita percaya pada satu suara. Film ini mengajak kita menimbang siapa yang bicara, kapan, dan dengan kepentingan apa.
Ulasan Film #3 · Mengandung bocoran terbatas: bagian utama bebas bocoran; akhir kasus dan perkembangan hukumnya hanya dibahas di bagian bertanda “Bagian Berbocoran” menjelang akhir tulisan.
Tentang Karya
| Judul | The Thin Blue Line |
| Sutradara | Errol Morris (musik: Philip Glass; produser: Mark Lipson) |
| Rilis | 1988 (tayang perdana 18 Maret 1988 di San Francisco; rilis Amerika Serikat 25 Agustus 1988) |
| Format | Film dokumenter layar lebar |
| Rumah produksi | American Playhouse; distributor Miramax Films |
| Genre | Dokumenter kriminal dan peradilan |
| Durasi | Sekitar 101 sampai 103 menit (tergantung sumber) |
| Asal | Amerika Serikat, berbahasa Inggris |
Cerita dan Konteks Singkat
Pada 1976, seorang polisi Dallas bernama Robert W. Wood ditembak setelah menghentikan sebuah mobil. Randall Dale Adams dihukum mati atas pembunuhan itu. Film ini mengurai bagaimana pengadilan sampai pada vonis tersebut: siapa saksinya, apa yang mereka lihat atau mengaku lihat, dan apa yang dikatakan polisi serta jaksa.
Errol Morris awalnya tidak berniat membuat film ini. Menurut Wikipedia, ia sedang menyiapkan dokumenter tentang seorang psikiater forensik di Texas yang kesaksiannya dipakai dalam lebih dari seratus perkara berujung hukuman mati. Psikiater itu menyarankan Morris menemui para terpidana yang pernah ia hadapi. Dari situ Morris bertemu Adams, mulai meragukan kasusnya, dan mengubah arah proyek. Sebelumnya Morris sudah membuat dokumenter yang ganjil dan penuh humor, Gates of Heaven dan Vernon, Florida, jadi ia bukan juru kamera kasus kriminal pada umumnya.
Judulnya diambil dari kalimat penutup jaksa penuntut yang menyebut polisi sebagai “garis biru tipis” antara masyarakat dan kekacauan, plesetan dari “garis merah tipis” milik Kipling.
Mengapa Karya Ini Penting
Sebelum film ini, dokumenter arus utama banyak dipengaruhi gaya cinéma vérité, yaitu kamera yang mengamati peristiwa seapa adanya tanpa narator dan tanpa penataan. Morris menolak itu. Dalam esai Criterion, ia dikutip menilai gaya vérité menghambat dokumenter puluhan tahun. Ia memilih menyusun film seperti penyidik menyusun perkara: wawancara yang direncanakan, rekonstruksi adegan, musik, dan penyuntingan yang menempatkan klaim saksi berhadapan satu sama lain. Hasilnya adalah dokumenter yang berani mengaku punya sudut pandang dan argumen.
Perubahan kedua menyangkut apa yang dianggap pantas untuk dokumenter. Kim Munro dalam esai ACMI menilai film ini membantu melahirkan subgenre kejahatan nyata yang mempersoalkan salah vonis, dan menyebut Making a Murderer serta Serial sebagai penerus. Esai Criterion menyebut film ini mengilhami trilogi dokumenter Paradise Lost karya Berlinger dan Sinofsky dan ikut menjadikan dokumenter ruang sidang sebagai genre tersendiri. Dua sumber itu sejalan soal pengaruhnya pada pembuat film berikutnya, meski keduanya menyatakannya sebagai penilaian, bukan catatan kausal yang bisa diukur.

Ketiga, pengakuan resmi. Film ini dipilih Library of Congress untuk National Film Registry pada 2001 dan menempati urutan kelima dalam jajak pendapat dokumenter terbaik Sight & Sound 2014, menurut Wikipedia. Sumber yang sama mencatat bahwa pada 1988 ia muncul di lebih banyak daftar sepuluh film terbaik para kritikus daripada film lain. Ironisnya, Academy Awards tidak menimbangnya di kategori dokumenter, menurut Wikipedia karena rekonstruksi adegannya. Roger Ebert menyalahkan ketidakmampuan pemilih menghargai pembaruan, dan kasus itu masih sering dikutip dalam debat tentang batas dokumenter.
Bagi penonton hari ini, nilai paling praktis film ini adalah latihan skeptis. Di tengah banjir video, podcast, dan serial kriminal yang meyakinkan, The Thin Blue Line mengajarkan bahwa cerita yang rapi belum tentu benar, dan bahwa penonton berhak bertanya siapa yang menyusun ceritanya.
Cara Karya Ini Bekerja
Pertama, wawancara. Orang-orang bicara langsung ke kamera tanpa keterangan nama di layar, sehingga penonton menyusun sendiri siapa polisi, siapa saksi, siapa pengacara. Tidak ada narator yang menjelaskan. Kesaksian saling bersilang lewat penyuntingan, dan di situlah kejanggalan terlihat.
Kedua, rekonstruksi. Film ini memeragakan beberapa versi malam penembakan berdasarkan keterangan saksi. Rekonstruksi di sini bukan klaim “beginilah kejadiannya”, melainkan visualisasi tentang apa yang dikatakan seseorang. Esai Criterion membacanya seperti visualisasi ala ruang sidang. Gambar yang berulang dengan sedikit perbedaan justru memperlihatkan betapa rapuh sebuah kesaksian.
Ketiga, musik Philip Glass. Skornya mengiringi wawancara dan memberi suasana noir yang tidak lazim bagi dokumenter. Morris, menurut Wikipedia, mula-mula menyunting film ini dengan musik Glass sebagai pemandu, lalu membujuk Glass menulis skor khusus. Esai Criterion juga mencatat pemakaian warna yang sarat makna dan perbandingan dengan film noir. Semua pilihan ini membuat sebuah film tentang berkas pengadilan terasa seperti cerita misteri, dan itulah yang membuat penonton awam bertahan duduk.
Kritik dan Kontroversi
Perdebatan terbesar menyangkut rekonstruksi. Menurut Far Out, sebagian insan film menilai gaya itu mengaburkan batas antara fakta dan fiksi dan tidak pantas dalam dokumenter; sebagian lain menganggapnya perluasan sah alat bercerita. Wikipedia juga mencatat bahwa klaim Morris sebagai penemu rekonstruksi dokumenter tidak benar, karena teknik itu lebih tua. Yang baru adalah cara ia memakainya sebagai argumen.
Ada pula pembacaan pascamodern yang menekankan bahwa film ini sendiri membangun narasi yang meyakinkan lalu bersandar pada satu pengakuan di akhir. Pakar hukum Richard Sherwin, menurut Wikipedia, berpendapat bahwa film kembali ke cerita yang mudah dipercaya, sementara beberapa pertanyaan, misalnya tentang saudara Adams, tidak terjawab. Morris menolak label pascamodern dan berpegang bahwa ada dunia fisik tempat peristiwa benar-benar terjadi.
Esai ACMI mencatat sisi lain: Morris menyatakan penyesalan pada Desember 2020 karena orang kini mengira dokumenter harus memecahkan kasus. Tidak semua dokumenter bisa, atau seharusnya, berhasil seperti ini. Ada juga sengketa hak atas kisah Adams antara Adams dan Morris yang kemudian diselesaikan di luar pengadilan, menurut Wikipedia.
Bagian Berbocoran
Peringatan: bagian ini membuka akhir kasus. Lewati bila ingin menonton dulu.
Film ini menunjuk David Ray Harris, yang saat itu masih remaja, sebagai penembak sebenarnya. Dalam adegan penutup, suara Harris terdengar tanpa wajah; menurut Wikipedia, adegan itu tidak direncanakan, karena kamera rusak sehingga wawancara hanya direkam dengan alat perekam suara. Esai ACMI menempatkan pengakuan itu sebagai bukti baru.
Setelah film beredar, Pengadilan Banding Kriminal Texas membatalkan vonis Adams pada 1989. Kejaksaan Dallas kemudian menggugurkan dakwaan dan Adams dibebaskan setelah lebih dari sepuluh tahun dipenjara. Wikipedia mencatat Harris kemudian dihukum dan dieksekusi dalam perkara pembunuhan lain. Adams aktif menentang hukuman mati dan meninggal pada 2010. Karena ia bebas lewat pencabutan dakwaan, bukan pengampunan, ia tidak mendapat kompensasi dari Texas. Film ini sering disebut sebagai contoh langka ketika sebuah dokumenter ikut mengubah nasib seseorang, tetapi menghubungkan pembebasan itu semata-mata pada film perlu hati-hati, sebab proses hukumnya sendiri panjang.
Gema di Indonesia
Saya tidak menemukan catatan yang menjelaskan bagaimana film ini diterima di Indonesia, jadi saya tidak akan mengarangnya. Tetapi persoalannya tidak asing bagi kita. Sengkon dan Karta, dua petani dari Bojongsari, Bekasi, dihukum pada 1977 dengan pidana 12 dan 7 tahun atas pembunuhan pasangan Sulaiman dan Siti Haya, menurut artikel Dandapala. Di penjara, seorang narapidana bernama Gunel mengaku sebagai pelakunya. Keduanya mengajukan peninjauan kembali pada 3 November 1980 dan keluar dari Cipinang sehari kemudian. Artikel itu juga mencatat bahwa kasus ini melahirkan PERMA Nomor 1 Tahun 1980 tentang tata cara peninjauan kembali, yang kemudian diadopsi KUHAP 1981.
Kemiripannya dengan kisah Adams terletak pada pola: terdakwa yang lemah posisinya, kebenaran yang baru muncul lewat pengakuan orang lain, dan koreksi yang datang terlambat. Bedanya, pada kasus Indonesia itu sistem hukum yang mengoreksi diri lewat mekanisme baru, sedangkan di Amerika sebuah film ikut mendorong. Pertanyaan yang tersisa untuk kita sebagai penonton: seberapa sering koreksi semacam itu bergantung pada kebetulan?
Cara Menontonnya
Perhatikan siapa yang tidak muncul di layar dan bagaimana tiap saksi bicara tentang hal yang sama dengan nada berbeda. Jangan terburu-buru menganggap rekonstruksi sebagai kenyataan; anggap sebagai ilustrasi omongan seseorang. Karya pendamping yang layak: Rashomon (Kurosawa, 1950) untuk gagasan kesaksian yang bertentangan, trilogi dokumenter Paradise Lost sebagai penerus menurut Criterion, dan Making a Murderer untuk melihat bagaimana gaya ini berkembang. Film ini membahas pembunuhan dan hukuman mati, sehingga lebih cocok untuk penonton dewasa.
Tonton atau Pelajari Lebih Lanjut
Criterion Channel tampaknya memerlukan langganan dan menyertakan tiga bonus komentar dan wawancara, termasuk dari Morris.
Terkait di Rak Budaya
- Ulasan Film: Rashomon karya Akira Kurosawa: sama-sama memeriksa satu kejahatan lewat kesaksian yang saling bertentangan.
- Ulasan Buku: Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: memperlihatkan bagaimana hukum kolonial dapat tidak adil bagi pihak yang lemah.
Sumber
- Wikipedia: The Thin Blue Line (1988 film)
- Criterion Collection: The Thin Blue Line
- Criterion: The Thin Blue Line, A Radical Classic
- Criterion Channel: The Thin Blue Line
- ACMI: The unintended consequences of Errol Morris’s The Thin Blue Line
- Far Out: The Thin Blue Line
- Dandapala: Kisah salah tangkap Sengkon dan Karta dan PK pertama di Indonesia





Tinggalkan Balasan