Seorang penebang kayu berteduh di bawah gerbang tua yang nyaris roboh, hujan deras mengguyur, dan tiga orang yang saling asing mulai membicarakan sebuah kejahatan di hutan. Setiap orang yang terlibat punya cerita sendiri, dan tak satu pun cocok dengan yang lain. Rashomon hanya berdurasi 88 menit, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya masih dipakai hingga kini: kalau semua saksi jujur menurut dirinya sendiri, siapa yang memegang kebenaran?

Ulasan Film #1 | Bebas bocoran: tulisan ini tidak membuka akhir cerita maupun versi mana yang paling dekat dengan kenyataan.

Tentang Karya

JudulRashomon (Jepang: 羅生門)
SutradaraAkira Kurosawa (naskah bersama Shinobu Hashimoto)
Rilis1950 (tayang di Jepang 26 Agustus 1950)
FormatFilm layar lebar, hitam putih
Rumah produksiDaiei
GenreDrama misteri kriminal
Durasi88 menit
AsalJepang, berbahasa Jepang

Cerita dan Konteks Singkat

Latarnya Jepang abad ke-11. Di bawah gerbang Rashomon yang rusak di pintu selatan Kyoto, beberapa orang menunggu hujan reda sambil menceritakan peristiwa yang baru terjadi: seorang bangsawan samurai tewas, dan istrinya diserang. Pengadilan mendengar empat kesaksian dari penebang kayu, sang bandit, sang istri, dan arwah korban yang berbicara lewat perantara. Empat kesaksian itu tidak bisa dipersatukan.

Naskahnya digubah dari dua cerita pendek Ryunosuke Akutagawa. Peristiwa utamanya datang dari In a Grove (1922), sedangkan judul dan bingkai gerbangnya dari cerita Rashomon (1915). Kurosawa membuatnya pada 1950 saat sedang bekerja di luar studio asalnya, Toho. Daiei, studio yang membiayai, ragu terhadap proyek ini. Keraguan itu tidak sepenuhnya tanpa alasan: di Jepang film ini tidak langsung meledak, dan kritikus setempat terbelah.

Para pemerannya antara lain Toshiro Mifune sebagai bandit, Machiko Kyo sebagai sang istri, Masayuki Mori sebagai samurai, dan Takashi Shimura sebagai penebang kayu. Pengambilan gambar dipegang Kazuo Miyagawa, musiknya digarap Fumio Hayasaka.

Mengapa Karya Ini Penting

Sebelum Rashomon, film kriminal lazimnya bekerja dengan janji sederhana: ada kejahatan, ada penyelidikan, lalu kebenaran terungkap. Penonton diajak percaya bahwa di ujung cerita ada satu versi yang benar. Kurosawa memutus janji itu. Ia memperlihatkan kejadian yang sama beberapa kali, dari mulut orang yang berbeda, dan tidak memberi penonton hakim yang bisa dipercaya. Yang diubah bukan sekadar teknik bercerita. Film ini menyatakan bahwa ingatan, kepentingan, dan harga diri ikut membentuk apa yang disebut fakta.

Ilustrasi empat bayangan siluet anonim yang jatuh ke arah berbeda di lantai batu yang sama, melambangkan banyak versi atas satu peristiwa
Satu peristiwa, banyak bayangan: gambaran gagasan inti karya ini (ilustrasi orisinal).

Dampaknya terdokumentasi dalam beberapa lapis. Pertama, pengakuan internasional. Rashomon memenangi Golden Lion di Festival Film Venesia 1951, dan menurut esai Criterion, kemenangan itu memperkenalkan Kurosawa serta sinema Jepang kepada khalayak dunia yang lebih luas. Di Amerika Serikat, RKO mengedarkannya pada Desember 1951, dan BFI mencatatnya sebagai film Jepang pertama dari studio besar yang dirilis di sana. Pada 1952 Kurosawa menerima Oscar kehormatan untuk film berbahasa asing terbaik. Penonton Barat mendapati bahwa film dari Jepang bisa dibicarakan sebagai seni, bukan sekadar barang eksotis.

Kedua, bahasa. Istilah “efek Rashomon” dipakai untuk menyebut keadaan ketika beberapa orang memberi laporan yang bertentangan tentang peristiwa yang sama. Esai Criterion mencatat istilah itu dipakai dalam dunia hukum untuk kesaksian saksi mata yang saling bertolak belakang. Ada pula kajian akademik tentang fungsi sosial-hukum film ini, misalnya tulisan Orit Kamir yang dirujuk dalam entri Wikipedia. Sebuah film yang melahirkan istilah yang dipakai di luar bioskop sudah membuktikan daya jangkaunya.

Ketiga, pengaruh pada pembuat film lain. Menurut BFI, pendekatan naratifnya terlihat pada Pulp Fiction (1994), The Usual Suspects (1995), Tape (2001), dan Hero (2002). Hollywood sendiri membuat versi western bernama The Outrage (1964), disutradarai Martin Ritt. Esai Criterion menempatkannya pula di antara karya penting sinema seni 1950-an, sejajar dengan sutradara seperti Bergman, Fellini, Antonioni, dan Satyajit Ray.

Bagi saya sebagai dokter, gagasan ini terasa dekat. Setiap hari kami mendengar pasien dan keluarga menceritakan satu kejadian yang sama dengan urutan, penekanan, dan kesimpulan yang berbeda. Anamnesis yang baik berangkat dari kesadaran bahwa cerita bukan data mentah. Ia sudah lewat saringan rasa takut, harapan, dan ingatan. Rashomon mengajarkan kerendahan hati itu tanpa satu pun khotbah. Bila ingin membaca sisi lain dari cara paradigma berubah, tulisan terkait di bawah bisa menjadi teman.

Cara Karya Ini Bekerja

Strukturnya adalah bingkai bersarang: percakapan di bawah gerbang membungkus persidangan, dan persidangan membungkus kisah di hutan. Penonton selalu mendengar cerita dari mulut orang lain, jadi sejak awal jaraknya sudah terasa. Kurosawa tidak berusaha mengakali penonton dengan kejutan. Ia ingin penonton ikut ragu.

Secara visual, ia ingin menghidupkan kembali kualitas film bisu, ketika gambar, bunyi sekitar, dan musik yang bercerita lebih dulu daripada dialog. Miyagawa membidik kamera langsung ke arah matahari sehingga muncul kilau lensa, memantulkan cahaya dengan cermin, dan membiarkan cahaya jatuh bercak-bercak di antara dedaunan hutan. Criterion menyebut gerakan kamera panjang yang mengikuti penebang kayu masuk ke hutan sebagai salah satu pengambilan gambar bergerak terbaik dalam sejarah sinema. Hutan yang terang sekaligus gelap itu seperti pikiran manusia: kelihatan jelas di satu sisi, buram di sisi lain.

Hayasaka menulis irama bolero untuk kisah sang istri atas permintaan Kurosawa. Pilihan itu membuat tiap kesaksian punya warna emosinya sendiri. Istilah teknis yang perlu diketahui hanya satu: mise-en-scène, yaitu segala sesuatu yang ditata di dalam bingkai gambar. Di sini setiap kesaksian ditata berbeda, sehingga kita bisa merasakan bahwa pencerita sedang membela dirinya.

Kritik dan Kontroversi

Penerimaannya tidak seragam. Di Jepang, kritikus terbelah. Sebagian menilai adaptasinya terlalu rumit, sebagian memuji kamera dan keberanian eksperimennya. BFI mencatat bahwa anggapan film ini gagal secara kritis di dalam negeri keliru: majalah Kinema Junpo menempatkannya di peringkat kelima film terbaik tahun itu, walau penjualan tiketnya tidak mengesankan.

Kemenangan di Venesia juga memicu perdebatan. Sebagian kritikus Jepang membaca penghargaan itu sebagai bukti ketertarikan Barat pada eksotisme Timur. Kurosawa sendiri kemudian menyebut pandangan itu keliru dan menyedihkan. BFI menambahkan bahwa layar di Venesia hanya memakai teks Italia, dan sebagian kritikus asing membacanya lewat bingkai yang mereka kenal, misalnya membandingkannya dengan kabuki. Ulasan Amerika yang memakai teks bahasa Inggris lebih banyak membahas cara filmnya bercerita.

Ada pula tuduhan bahwa musiknya meminjam banyak dari Boléro karya Ravel, seperti dicatat dalam ulasan majalah Time yang juga menyebut film ini bertele-tele. Di sisi lain, agregat ulasan modern sangat tinggi: sekitar 98 persen positif di Rotten Tomatoes dan skor 98 di Metacritic. Perbedaan pandangan itu sendiri terasa pas dengan pokok filmnya.

Gema di Indonesia

Saya tidak menemukan sumber yang memadai tentang sejarah penayangan Rashomon di bioskop atau komunitas film Indonesia, sehingga saya tidak mengklaimnya di sini. Yang bisa saya sampaikan adalah tafsiran pribadi tentang relevansinya. Kita hidup di negeri dengan banyak sengketa yang dituturkan dalam versi berbeda: perselisihan tanah, kecelakaan lalu lintas yang direkam dari tiga sudut, atau kabar viral di media sosial yang berubah makna setiap kali dibagikan. Pada semua itu, pertanyaan Rashomon tetap berguna: apa yang dilihat, apa yang diingat, dan apa yang ditambahkan untuk membela diri?

Di ruang periksa pun begitu. Keluarga pasien yang cemas dan petugas yang kelelahan bisa menceritakan satu kejadian dengan nada berlainan. Mengakui bahwa kedua versi lahir dari kondisi batin yang berbeda sering lebih menolong daripada buru-buru mencari siapa yang salah.

Cara Menontonnya

Tontonlah dengan teks terjemahan yang baik, dan perhatikan bagaimana tiap pencerita memandang dirinya sendiri, serta bagaimana kamera memperlakukan cahaya di hutan. Film ini hitam putih dan bergaya akting yang kuat pada masanya, jadi beri waktu beberapa menit untuk menyesuaikan ritme. Sebagai pendamping, The Outrage (1964) memperlihatkan bagaimana ceritanya dipindahkan ke latar western, The Usual Suspects (1995) menunjukkan warisannya pada film kriminal modern, dan Hero (2002) memakai gagasan serupa dalam film silat. Peringatan: ceritanya menyangkut kekerasan seksual dan pembunuhan. Meski tidak digambarkan secara grafis, film ini lebih cocok untuk penonton dewasa.

Tonton atau Pelajari Lebih Lanjut

Halaman Criterion menyebut film ini tersedia di Criterion Channel, Apple TV, Fandango at Home, dan Prime Video, serta dalam edisi Blu-ray dan DVD. Ketersediaan bisa berbeda di tiap negara, jadi periksa layanan yang sah di wilayah Anda.

Terkait di Rak Budaya


Sumber:

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] Ulasan Film: Rashomon karya Akira Kurosawa: satu peristiwa yang diceritakan dari beberapa sudut pandang, seperti dua lukisan tentang penangkapan yang sama. […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca