Bayangkan sebuah ilmu yang selama puluhan tahun terasa mantap, lalu satu per satu temuan yang tidak cocok mulai menumpuk, dan para pakarnya terbelah: sebagian membela kerangka lama, sebagian menawarkan cara melihat yang sama sekali baru. Itulah drama yang diurai Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions, buku tipis yang mengubah cara banyak orang membayangkan apa itu kemajuan ilmu.

Ulasan Buku #1 | Seri Rak Budaya

Tentang Buku

JudulThe Structure of Scientific Revolutions
PenulisThomas S. Kuhn
Terbit1962 (edisi ulang tahun ke-50 terbit 2012 dengan pengantar Ian Hacking)
PenerbitUniversity of Chicago Press
BidangFilsafat dan sejarah sains
Edisi IndonesiaBelum dapat saya verifikasi dari sumber yang terbuka pada saat penulisan

Isi Buku Sekilas

Kuhn memulai kariernya sebagai fisikawan. Ia meraih gelar doktor pada 1949 dengan penelitian tentang penerapan mekanika kuantum pada fisika zat padat. Perkenalannya dengan sejarah sains terjadi ketika ia mengajar mata kuliah sains untuk mahasiswa humaniora di Harvard, dan dari sana ia bergeser ke sejarah, lalu filsafat sains. Buku ini terbit pada 1962 dalam seri International Encyclopedia of Unified Science.

Tesis utamanya sederhana untuk dikatakan, tetapi berat konsekuensinya: sains tidak berkembang sebagai garis lurus yang pelan-pelan menumpuk fakta. Ia bergerak dalam dua fase yang bergantian. Pada fase pertama, yang disebut Kuhn sains normal, para ilmuwan bekerja di dalam satu kerangka bersama, yaitu paradigma, dan menyelesaikan teka-teki yang diizinkan kerangka itu. Temuan yang tidak cocok, atau anomali, biasanya diabaikan atau dijelaskan sambil lalu. Ketika anomali menumpuk dan kepercayaan pada kerangka lama retak, muncul krisis. Bila ada kerangka saingan yang akhirnya menggantikan yang lama, terjadilah revolusi ilmiah.

Mengapa Buku Ini Penting

Sebelum Kuhn, gambaran populer tentang sains kurang lebih begini: ilmuwan mengumpulkan data, menguji gagasan, membuang yang salah, dan dengan sabar mendekati kebenaran. Sejarah sains dalam gambaran itu adalah kisah akumulasi. Kuhn menawarkan pembacaan lain. Menurutnya, lompatan terbesar justru datang dari luar rutinitas sains normal, ketika sebuah komunitas mengganti cara memandang dunianya. Setelah revolusi, para ilmuwan tidak hanya punya jawaban baru; mereka juga mengajukan pertanyaan yang berbeda dan menilai bukti dengan ukuran yang berbeda.

Peta bintang dengan dua belahan: kiri lingkaran konsentris mengelilingi bola kecil, kanan planet mengitari matahari, dipertemukan oleh sambungan garis yang terkoyak dan tersambung kembali
Dua peta langit yang bertemu pada satu sambungan: gambaran pergeseran paradigma.

Jejak dampaknya dapat didokumentasikan. Halaman resmi penerbitnya mengutip The Guardian yang menyebutnya “salah satu buku paling berpengaruh abad ke-20”, dan mencatat bahwa buku ini mengubah cara orang memikirkan upaya terorganisasi manusia untuk memahami dunia. Menurut ensiklopedia filsafat Stanford, buku ini ikut mendorong lahirnya kajian sains (science studies) dan sosiologi pengetahuan ilmiah, serta menarik minat ilmuwan sosial yang mencari pengakuan sebagai ilmuwan. Ia juga memicu perdebatan panjang dengan Karl Popper dan para pengikutnya. Popper memandang satu anomali yang dapat diulang sudah cukup untuk menolak teori; Kuhn menjawab bahwa ilmuwan sains normal tidak memperlakukan anomali sebagai pemalsu teori pegangan mereka. Perdebatan itu dilanjutkan dalam kumpulan makalah Criticism and the Growth of Knowledge (1970).

Istilah “pergeseran paradigma” kini dipakai jauh di luar laboratorium, untuk bisnis, pendidikan, bahkan agama. Di Indonesia, misalnya, para peneliti memakai kerangka Kuhn untuk membaca perkembangan tafsir Al-Qur’an dan pembaruan pemikiran Islam. Makna bagi pembaca hari ini lebih luas dari urusan sains: buku ini mengajarkan bahwa kerangka berpikir yang kita pakai menentukan apa yang tampak sebagai masalah, apa yang dianggap bukti, dan apa yang diabaikan sebagai gangguan.

Cara Buku Ini Membaca Kehidupan

Paradigma sebagai kacamata bersama. Kuhn memakai kata ini dalam dua arti: kerangka komitmen yang dianut sebuah komunitas, dan contoh-contoh capaian ilmiah yang dijadikan teladan untuk menyelesaikan soal berikutnya. Margaret Masterman mengkritik kelonggaran istilah ini, dan dalam catatan penutup 1970 Kuhn menegaskan arti kedua, yaitu teladan, sebagai bagian yang paling baru dan paling kurang dipahami dari bukunya. Bagi pembaca awam, pegangan praktisnya begini: paradigma adalah apa yang membuat sebuah komunitas sepakat tentang cara bertanya yang masuk akal.

Anomali yang disisihkan. Gagasan ini terasa dekat bagi dokter. Dalam praktik, kita sering menemui pasien atau data yang tidak cocok dengan pola pegangan kita, lalu menyebutnya kasus atipikal. Kuhn mengingatkan bahwa penyisihan semacam itu wajar dan bahkan perlu agar kerja rutin berjalan, tetapi ia menjadi berbahaya bila tidak pernah diperiksa ulang.

Ketidaksepadanan (incommensurability). Kuhn berpendapat teori dari paradigma berbeda tidak punya ukuran bersama yang netral. Ini menantang anggapan bahwa ilmu selalu sekadar membangun di atas ilmu terdahulu. Ia juga mengakui adanya “kerugian Kuhn”, yaitu penjelasan lama yang tidak ikut terbawa ke dalam paradigma baru. Rumusan gagasan ini berubah dari waktu ke waktu dalam tulisan Kuhn sendiri, dari bentuk metodologis dan persepsi menuju bentuk semantik dan kemudian taksonomis.

Kritik dan Batasan

Kritik paling sering menyangkut tuduhan relativisme dan irasionalisme. Karena Kuhn menolak bahwa ilmuwan mengikuti aturan baku yang mengikat, sebagian pembaca menyimpulkan bahwa sains hanyalah soal selera atau kekuasaan kelompok. Kuhn menolak pembacaan itu. Dalam tulisan-tulisan berikutnya ia menggambarkan kemajuan ilmu sebagai bertambahnya kemampuan memecahkan masalah, bukan mendekatnya teori pada kebenaran akhir, dan pada 1992 ia mengkritik Program Kuat dalam sosiologi pengetahuan ilmiah yang membaca karyanya secara konstruktivis.

Kritik lain datang dari kaum realis, yang berargumen bahwa rujukan sebuah istilah dapat bertahan melewati pergantian teori, sehingga teori yang kemudian tetap bisa lebih dekat pada kebenaran. Ada pula catatan bahwa tidak pernah lahir mazhab Kuhnian yang meneruskan program positifnya, dan bahwa karyanya sering dibaca lebih radikal daripada yang ia maksudkan. Pembaca sebaiknya juga berhati-hati: pergeseran paradigma bukan label yang tepat untuk setiap perubahan, dan menempelkannya pada bidang yang belum memiliki kesepakatan dasar seperti ilmu alam dewasa matang akan menyesatkan.

Relevansi untuk Pembaca Indonesia

Di perguruan tinggi Indonesia, kata “paradigma” sudah akrab, dan skripsi tentang Kuhn pun mudah ditemukan, misalnya kajian pustaka tentang paradigma dan revolusi ilmu di repositori UIN Raden Intan Lampung (2024). Itu menunjukkan bahwa gagasannya hidup di ruang kelas kita. Bagi dunia kesehatan, buku ini menjadi cermin yang berguna: pedoman klinis berganti, kebiasaan lama bertahan, dan perdebatan tentang kapan bukti baru cukup kuat untuk mengubah praktik adalah persoalan Kuhnian sehari-hari. Bagi pendidik, ia mengingatkan bahwa mengajar sains berarti melatih murid memakai sebuah kerangka sekaligus tahu bahwa kerangka itu bisa berubah.

Siapa yang Cocok Membaca

Buku ini cocok bagi mahasiswa, peneliti, tenaga kesehatan, guru, dan siapa pun yang penasaran bagaimana pengetahuan berubah. Untuk masuk dengan mulus, mulailah dari edisi ulang tahun ke-50, yang memuat pengantar Ian Hacking untuk menjelaskan istilah “paradigma” dan “ketidaksepadanan” serta kaitannya dengan sains masa kini. Baca pengantar itu dulu, lalu bab-bab tentang sains normal, anomali, dan krisis, dan simpan catatan penutup 1970 untuk bacaan akhir.

Baca Lebih Lanjut


Sumber:

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca