Di tangga sebuah rumah residen di Magelang, seorang pangeran berjubah putih dan bersorban hijau menatap lurus ke depan. Perwira-perwira berseragam mengelilinginya, kepala mereka terlalu besar untuk badannya, dan cahaya jingga turun pelan di ufuk. Orang yang berdiri di depan kanvas ini biasanya diam dulu, lalu bertanya siapa sebenarnya yang kalah di sana.

Ulasan Seni Rupa #1

Tentang Karya

JudulPenangkapan Pangeran Diponegoro
SenimanRaden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880)
Tahun1857
Medium dan ukuranCat minyak di atas kanvas, sekitar 112 x 178 cm
LokasiMuseum Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung); sebagian rujukan masih menyebut Istana Negara atau Galeri Nasional di Jakarta
Aliran/tradisiLukisan sejarah gaya Eropa abad ke-19, dikerjakan oleh pelukis Jawa
AsalHindia Belanda (Jawa), dilukis setelah masa belajar panjang di Eropa

Konteks dan Kisah di Balik Karya

Peristiwa yang dilukis terjadi pada 28 Maret 1830. Setelah lima tahun Perang Jawa (1825-1830), Pangeran Diponegoro datang ke perundingan di Magelang dan ditahan oleh Jenderal De Kock. Ingatan Jawa menyebutnya jebakan, karena penahanan itu terjadi di tengah pembicaraan damai. Perang itu menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar; sumber yang saya baca menyebut lebih dari 200.000 orang Jawa dan sekitar 15.000 serdadu Belanda. Diponegoro kemudian diasingkan ke Makassar dan wafat di sana pada 1855.

Raden Saleh tidak menyaksikan adegan itu. Ia berangkat ke Eropa pada 1829 dengan dukungan pemerintah Belanda dan tinggal sekitar dua puluh lima tahun di sana, hingga namanya dikenal di lingkungan bangsawan dan istana. Ketika ia kembali ke Jawa, kisah penangkapan itu sudah punya versi resmi dalam bentuk cat minyak. Nicolaas Pieneman melukisnya sekitar 1830-1835, kemungkinan atas pesanan De Kock atau keluarganya, dan lukisan itu kini tersimpan di Rijksmuseum, Amsterdam.

Raden Saleh mulai mengerjakan versinya pada 1856, setelah Diponegoro wafat, dengan sketsa awal yang masih dekat dengan komposisi Pieneman. Lukisan jadinya selesai pada 1857 dan ia serahkan kepada Raja Willem III sebagai tanda terima kasih atas pendidikan yang dibiayai Belanda selama hampir dua puluh tiga tahun. Lukisan itu sempat tergantung di istana di Den Haag, lalu di Bronbeek, rumah para veteran militer kolonial, sebelum kembali ke Indonesia pada 1978 berdasarkan perjanjian kerja sama kebudayaan kedua negara.

Latar hidup sang pelukis ikut menentukan arah lukisan ini. Raden Saleh lahir dari keluarga bangsawan di pesisir Jawa bagian utara-tengah, ayahnya seorang bupati. Sewaktu kecil ia belajar di Bogor pada pelukis Belgia Antoine Payen, yang saat itu mendokumentasikan alam Jawa untuk raja Belanda. Di Eropa ia memainkan citra “pangeran dari Timur” yang memikat para pelindung bangsawan. Ia fasih di dua dunia, dan lukisan Diponegoro adalah tempat kedua dunia itu bertemu dan saling menawar.

Mengapa Karya Ini Penting

Sebelum lukisan ini, gambar tentang penangkapan Diponegoro ditulis oleh pihak yang menang. Versi Pieneman memperlihatkan pangeran yang sedikit lebih rendah dari De Kock, para pengikutnya menaruh senjata di tanah, dan bendera Belanda berkibar di atas rumah. Lukisan itu menyajikan penyerahan diri yang tertib, hampir seperti upacara. Judul Belandanya pun menyebut onderwerping, ketundukan.

Raden Saleh memindahkan pusat berat adegan. Diponegoro berdiri di tengah, tegak, dengan wajah yang oleh banyak penafsir dibaca sebagai marah dan menolak tunduk. Bendera Belanda tidak ada. Langit yang cerah dalam versi Pieneman berganti suasana muram dengan semburat jingga. Perubahan itu tampak kecil bila kita hanya membandingkan dua foto, tetapi artinya besar: peristiwa yang sama dapat dilihat sebagai pengkhianatan di tengah perundingan, bukan kemenangan yang rapi. Pergeseran sudut pandang inilah yang membuat lukisan ini sering dibicarakan sebagai tonggak seni rupa modern Indonesia.

Meja pelukis dengan dua tumpukan kanvas kosong, sisi kiri disinari cahaya siang yang terang dan sisi kanan cahaya senja jingga
Peristiwa yang sama bisa dilukis dengan cahaya yang berbeda. Ilustrasi konseptual buatan sendiri, bukan reproduksi lukisan yang diulas.

Bukti dampaknya bisa ditelusuri lewat cara orang menggunakannya kemudian. Sejarawan seni John Clark pada 1998 membaca lukisan ini sebagai pesan kepada Belanda: “kamu melakukan ini pada kami, tetapi kami tetap kami”. Peneliti Werner Krauss mengaitkannya dengan luka keluarga sang pelukis; menurut ulasan yang saya baca, ayah dan saudara Raden Saleh diasingkan pada 1825 karena dukungan mereka kepada Diponegoro. Pada abad ke-21 gambar ini diparodikan oleh Rudi Winarso (2001), dijadikan layar raksasa dalam pementasan opera Sardono W. Kusumo (2010), diadaptasi ke panggung (2012), dan menjadi pusat cerita film Mencuri Raden Saleh (2022). Karya yang terus dipakai ulang oleh generasi berikutnya jelas punya daya yang melampaui zamannya.

Bagi pembaca hari ini, lukisan ini mengajarkan hal yang sederhana tetapi jarang dilakukan: sebelum menerima sebuah gambar sejarah, tanyakan siapa yang memesannya dan untuk siapa. Sebuah peristiwa bisa tampak sebagai ketundukan atau penangkapan, tergantung tempat juru gambarnya berdiri. Kebiasaan bertanya seperti itu berguna juga di ruang periksa, di ruang rapat, dan di linimasa media sosial kita.

Cara Karya Ini Bekerja

Cobalah melihat pelan-pelan, dalam tiga tahap. Pertama, ikuti garis dari anak tangga ke tengah. Diponegoro berjubah putih dengan sorban hijau, warna yang paling terang di kanvas, sehingga mata langsung mendarat padanya. Ia tidak tunduk dan tidak bergeser dari sumbu tengah. De Kock di sisi kiri menunjuk ke arah kereta yang menunggu, tanda pengasingan, sementara tatapannya mengarah keluar, ke penonton, seakan meminta persetujuan.

Kedua, perhatikan para pengikut di sisi kanan. Sebagian berlutut, sebagian menunduk atau menatap kosong. Raden Saleh menyelipkan potret dirinya di antara mereka; sumber berbeda menyebutnya dua atau tiga kali, dan ia digambarkan menunduk atau mengamati dengan tangan di dagu. Kehadirannya menjadikan pelukis sebagai saksi, bukan sekadar juru catat.

Ketiga, lihat kepala para perwira Belanda. Proporsinya terlalu besar bagi tubuh mereka. Kritikus H.J. de Graaf menganggap itu kelemahan teknik, sedangkan Krauss membacanya sebagai ejekan halus terhadap kekuasaan yang tampak kokoh tetapi kosong. Anda boleh memilih penafsiran mana yang lebih meyakinkan setelah melihat sendiri. Di latar, langit biru dan semburat jingga menciptakan suasana yang bukan pesta kemenangan. Peter Carey membaca cahaya pagi itu sebagai isyarat pembebasan di masa depan.

Dalam pelajaran seni rupa, kita biasa menilai lukisan dari teknik dan gaya. Karya ini mengingatkan bahwa penilaian juga perlu menimbang siapa yang bicara dan dalam posisi apa. Raden Saleh memakai keahlian yang ia pelajari di Eropa, yaitu komposisi lukisan sejarah, pencahayaan dramatis, dan penggambaran banyak tokoh dalam satu adegan, untuk menyampaikan pandangan yang tidak ada dalam lukisan sejarah buatan Belanda. Alatnya milik sang penguasa, isinya jawaban dari pihak yang dikalahkan. Kombinasi itu yang membuat lukisan ini sulit dikotakkan sebagai karya kolonial atau karya perlawanan saja.

Kritik dan Kontroversi

Tidak semua penafsir sepakat bahwa ini lukisan perlawanan. Raden Saleh membuatnya sebagai hadiah untuk raja Belanda, dan ia hidup dari patronase kalangan istana. Pada 1946 pelukis Sudjojono mempertanyakan kesetiaan Raden Saleh kepada kekuasaan kolonial, dan pada 1976 Harsja Bachtiar menggambarkan hubungannya dengan para pelindung seperti hubungan pelayan dengan tuan. Astri Wright mengajukan kemungkinan bahwa lukisan ini justru dipesan pihak Belanda, dan Susie Protschky membacanya sebagai pengakuan atas kekuasaan Belanda. Setelah lukisan kembali ke Indonesia, pembacaan yang lebih umum adalah bahwa ia mencerminkan sikap antikolonial sang pelukis, tetapi perdebatannya belum selesai.

Ada juga soal ketepatan sejarah. De Graaf mencatat bahwa ruangan dan galeri yang dilukis tidak cocok dengan rumah yang sebenarnya. Selain itu, soal fisik: lukisan ini sempat bermasalah dengan lapisan pernis yang menguning kehijauan dan tepi kanvas yang rapuh, lalu direstorasi pada 2012 oleh konservator Susanne Erhards dari Köln Group, atas upaya Goethe-Institut dan Yayasan Ansari Djojohadikusumo. Pada 2014 lukisan ini ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Gema di Indonesia

Bagi Indonesia, lukisan ini bukan hanya karya tentang sejarah, melainkan juga bagian dari sejarah pengembalian benda budaya. Kepulangannya pada 1978 melalui perjanjian kebudayaan menunjukkan bahwa restitusi bisa ditempuh lewat diplomasi dan kerja sama, tidak selalu lewat sengketa. Dari lukisan yang sama kita belajar bahwa menyimpan karya di istana berarti juga merawatnya: restorasi 2012 memerlukan konservator, analisis pernis, dan pembiayaan swasta.

Dalam pendidikan seni, karya ini cocok dipakai untuk melatih murid membandingkan dua gambar atas satu peristiwa, seperti yang kita lakukan di atas. Film Mencuri Raden Saleh membuktikan bahwa penonton muda pun bisa tertarik pada lukisan abad ke-19 bila kisahnya dihadirkan dengan cara yang sesuai zaman. Pekerjaan rumah kita sekarang adalah memastikan perhatian itu berlanjut ke museum, buku, dan sejarah yang lebih utuh.

Cara Mengunjungi atau Mempelajarinya

Menurut keterangan Sekretariat Kabinet, lukisan ini dipasang di Ruang Pamer Utama Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta, di kompleks Gedung Agung. Periksa jadwal kunjungan terbaru sebelum berangkat, karena akses ke kompleks istana dapat berubah. Saat berdiri di depannya, cari tiga hal: posisi Diponegoro terhadap De Kock, wajah-wajah pengikut di kanan, dan semburat jingga di ufuk.

Untuk pembanding, lihat lukisan Pieneman di koleksi Rijksmuseum (nomor SK-A-2238), yang halaman daringnya ada di Google Arts & Culture. Dua lukisan itu paling baik dilihat berdampingan.

  • Lukisan Pieneman tentang penangkapan Diponegoro, sebagai lawan bicara langsung karya ini.
  • Karya Raden Saleh yang lain di koleksi museum Indonesia dan Eropa, untuk melihat bagaimana pelukis yang sama bekerja di luar tema sejarah.
  • Film Mencuri Raden Saleh (2022), sebagai pintu masuk populer.

Lihat Karyanya

Informasi kunjungan dan keterangan lokasi: Setkab, Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan. Lukisan pembanding: Pieneman di Google Arts & Culture.

Terkait di Rak Budaya

Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca