Seorang pemuda pribumi yang pandai berbahasa Belanda jatuh cinta pada anak seorang gundik, lalu mendapati bahwa cinta pun tunduk pada pasal hukum yang tidak ditulis untuk dirinya. Dari satu kisah rumah tangga yang tampak kecil, Bumi Manusia membuka seluruh bangunan kolonial: sekolah, pengadilan, perusahaan, dan cara orang menilai manusia dari warna kulitnya.
Ulasan Buku #3
Tentang Buku
| Judul | Bumi Manusia (terjemahan Inggris: This Earth of Mankind, oleh Max Lane) |
| Penulis | Pramoedya Ananta Toer |
| Terbit (tahun asli) | 1980 |
| Penerbit | Hasta Mitra (edisi pertama, Jakarta) |
| Bidang | Sastra, novel sejarah |
| Edisi Indonesia | Terbit ulang oleh Lentera Dipantara; buku pertama Tetralogi Buru |
Isi Buku Sekilas
Tokoh utamanya, Minke, adalah pemuda Jawa dari keluarga bangsawan rendahan yang bersekolah di HBS, sekolah menengah Belanda yang pada zamannya hanya menerima sedikit anak pribumi. Ia pandai, suka menulis, dan memuja segala yang datang dari Eropa. Suatu hari seorang kawan Belanda mengajaknya berkunjung ke rumah besar milik Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang menjadi gundik seorang pengusaha Belanda. Di sana Minke bertemu Annelies, putri sang nyai, dan perlahan jatuh cinta.
Cerita bergerak dari romansa ke benturan. Status Nyai Ontosoroh, hak atas anak, harta, dan nama baik, semuanya dipertaruhkan ketika hukum Belanda berhadapan dengan adat pribumi. Saya sengaja tidak menceritakan bagaimana persoalan itu berakhir. Cukup dikatakan bahwa bagian pengadilan di akhir buku adalah salah satu adegan yang paling sulit dilupakan dalam sastra Indonesia.
Mengapa Buku Ini Penting
Sebelum buku semacam ini ada, sejarah kolonial lebih sering dibaca dari atas: pergantian gubernur jenderal, perang, perjanjian, tanam paksa. Orang kebanyakan hadir sebagai angka. Bumi Manusia membalik arah pandang itu. Kolonialisme tidak lagi tampak sebagai peristiwa besar di kejauhan, melainkan sebagai sesuatu yang menentukan siapa boleh mengasuh anaknya, siapa dianggap sah sebagai istri, dan siapa percaya bahwa dirinya layak dihormati. Pramoedya memperlihatkan bahwa penjajahan bekerja paling dalam justru lewat hal-hal sehari-hari.

Perubahan cara pandang yang kedua menyangkut tokoh. Nyai, sosok yang dalam wacana kolonial lazim dipandang rendah, di tangan Pramoedya menjadi guru kehidupan bagi Minke. Ia mengelola perusahaan, membaca, berpikir, dan menolak diperlakukan sebagai barang. Banyak pembaca mengenang Nyai Ontosoroh lebih lama daripada tokoh utamanya, dan itu bukan kebetulan: buku ini menggeser pusat martabat dari pejabat dan sarjana ke perempuan yang tidak diakui hukum.
Bukti dampaknya dapat ditelusuri dari nasib bukunya sendiri. Menurut catatan Wikipedia, cetakan pertama terbit pada 25 Agustus 1980, dan Jaksa Agung melarangnya lewat keputusan bertanggal 29 Mei 1981 dengan alasan dianggap berhaluan komunis. Laporan yang dimuat Indoleft pada 2015 menyebut keempat novel Tetralogi Buru pernah dilarang pada masa Orde Baru. Setelah larangan itu hilang, Lentera Dipantara mencetak ulang tetralogi tersebut pada Juli 2015 dan, menurut laporan yang sama, terjual sepuluh ribu eksemplar dalam dua pekan. Wikipedia juga mencatat adaptasi film yang tayang di bioskop Indonesia pada Agustus 2019 serta terjemahan ke puluhan bahasa. Buku yang pernah disingkirkan dari rak ternyata menjadi bacaan lintas generasi.
Yang membuatnya bermakna bagi pembaca hari ini adalah latar kelahirannya. Pramoedya menulis tetralogi ini saat ditahan di Pulau Buru. Ceritanya lebih dulu dituturkan secara lisan kepada sesama tahanan, kemudian ditulis, dan menurut Wikipedia naskah awalnya sempat disita sehingga harus disusun kembali. Sastra di sini bukan kemewahan. Ia cara bertahan, sekaligus cara menolak dilupakan. Itu sebabnya Bumi Manusia sering dibaca bukan hanya sebagai novel, tetapi juga sebagai tindakan.
Cara Buku Ini Membaca Kehidupan
Pendidikan tidak otomatis membebaskan. Minke terpelajar dan mengagumi Eropa, tetapi kepandaiannya tidak melindunginya ketika ia berhadapan dengan hukum yang dibuat bukan untuknya. Buku ini mengajak kita bertanya apakah ijazah, bahasa, dan gelar benar-benar memberi kuasa, atau hanya memberi tempat duduk yang lebih nyaman di ruang tunggu.
Hukum bisa sah dan tetap tidak adil. Konflik tentang status Nyai Ontosoroh menunjukkan bahwa sistem yang berjalan sesuai prosedur dapat menghasilkan keputusan yang menyakitkan, karena prosedurnya sudah memihak sejak awal. Pembaca yang bekerja di bidang hukum, kesehatan, atau birokrasi akan mengenali pola ini: aturan yang netral di atas kertas kerap terasa berbeda bagi mereka yang berada di bawah.
Menulis adalah cara melawan. Minke menulis di surat kabar, dan tulisan itu menjadi satu-satunya senjata yang ia punya. Gagasan ini menggemakan nasib pengarangnya sendiri, yang menulis dalam kurungan.
Kritik dan Batasan
Hal pertama yang perlu diingat: ini novel, bukan buku sejarah. Peristiwa dan tokohnya dirangkai untuk kebutuhan cerita, jadi pembaca yang ingin memahami masa itu sebaiknya mendampinginya dengan karya sejarah. Kedua, kisah dituturkan dari sudut pandang Minke, seorang laki-laki terdidik dari kalangan atas, sehingga suara perempuan dan rakyat kecil sampai kepada kita lewat penglihatannya. Ketiga, sebagian pembaca merasa nada buku ini terlalu bersemangat memuliakan tokoh-tokohnya, sementara yang lain justru menilai itulah kekuatan cerita yang ingin membangkitkan harga diri.
Perdebatan politik di sekitar pengarangnya juga perlu dibedakan dari isi buku. Alasan resmi pelarangan pada 1981 adalah tuduhan berhaluan komunis, sedangkan Wikipedia mencatat bahwa pelarangan itu dinilai bermotif politik. Pembaca dipersilakan menilai sendiri dengan membaca teksnya, bukan hanya cerita di sekelilingnya.
Relevansi untuk Pembaca Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, buku ini bukan sejarah bangsa lain. Soal bahasa yang menentukan kelas, sekolah sebagai pintu naik tangga sosial, serta perempuan yang hak-haknya bergantung pada status perkawinan, semuanya masih terasa. Pengalaman saya sebagai dokter mengingatkan bahwa di ruang rawat pun kita sering melihat orang diperlakukan berbeda karena asal usul, bahasa, atau cara bicara. Bumi Manusia melatih kita melihat bahwa ketimpangan jarang tampil sebagai kekejaman terang-terangan; lebih sering ia hadir sebagai prosedur yang dianggap wajar.
Buku ini juga berguna sebagai pintu masuk bagi pelajar dan guru yang ingin membahas sejarah dengan cara yang bertumpu pada manusia, tidak hanya pada tanggal dan tokoh besar. Nama Pramoedya, kini diterjemahkan ke banyak bahasa, juga menjadi alasan bagi pembaca luar negeri untuk menengok sastra dari Nusantara.
Siapa yang Cocok Membaca
Buku ini cocok untuk pembaca remaja akhir hingga dewasa yang menyukai kisah sejarah, perhatian pada keadilan, atau ingin mengenal sastra Indonesia modern. Tidak perlu pengetahuan sejarah mendalam; latar belakang yang dibutuhkan diberikan lewat cerita. Bagi yang baru mulai, bacalah dulu pertemuan Minke dengan keluarga Nyai Ontosoroh sampai Anda terikat pada tokoh-tokohnya, baru biarkan bagian hukum menghantam. Bila ingin melanjutkan, buku ini adalah gerbang menuju tiga buku berikutnya dalam tetralogi, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Baca Lebih Lanjut
Terkait di Rak Budaya
- Ulasan Seni Rupa: Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. Sama-sama membalik cara pandang kolonial atas peristiwa yang dialami orang Jawa.
- Ulasan Buku: Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire. Membahas pendidikan sebagai jalan menuju kesadaran kritis, tema yang juga mengalir dalam kisah Minke.
Sumber:
- Gramedia: Bumi Manusia (Lentera Dipantara)
- Indoleft: Reprint of Pram’s Buru Quartet sells 10 thousand copies in 2 weeks (10 Agustus 2015)
- Wikipedia: This Earth of Mankind





Tinggalkan Balasan