Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang ibu berusia 58 tahun di Klaten mengeluh begah dan cepat kenyang selama bertahun-tahun. Ia sudah berulang kali minum obat maag dan merasa membaik sebentar. Pemeriksaan darah rutin kemudian menunjukkan anemia, dan endoskopi memperlihatkan lapisan lambung yang tipis dan pucat. Diagnosisnya: gastritis atrofik. Kondisi ini jarang disadari karena berkembang pelan-pelan, tetapi penting dikenali sebab dapat menjadi bagian dari rangkaian perubahan sel menuju kanker lambung.

Apa itu gastritis atrofik?

Gastritis atrofik adalah peradangan kronis pada lambung yang membuat kelenjar-kelenjar lambung perlahan menyusut dan hilang. Kelenjar inilah yang menghasilkan asam lambung, enzim pencernaan, dan faktor intrinsik (zat yang dibutuhkan untuk menyerap vitamin B12). Ketika kelenjar berkurang, lapisan lambung menipis, produksi asam menurun, dan fungsi pencernaan terganggu.

Berbeda dengan gastritis biasa yang dapat sembuh dalam beberapa hari, gastritis atrofik adalah proses jangka panjang yang berlangsung bertahun-tahun, sering tanpa gejala yang khas. Diagnosis pastinya ditegakkan lewat biopsi saat endoskopi, bukan sekadar dari keluhan.

Ilustrasi lambung dalam penampang dengan bakteri kecil di sekitar lapisan mukosa pada gastritis atrofik
Gastritis atrofik: peradangan kronis yang perlahan menipiskan lapisan lambung.

Dua penyebab utama

JenisMekanismeBagian lambung yang terutama terkenaDampak khas
Akibat infeksi Helicobacter pyloriInfeksi bakteri menahun memicu radang yang merusak kelenjarAntrum (bagian bawah), dapat meluas ke korpusRisiko tukak dan kanker lambung
Gastritis autoimunSistem imun menyerang sel parietal penghasil asam dan faktor intrinsikKorpus dan fundus (bagian atas dan tengah)Kekurangan zat besi dan vitamin B12, anemia pernisiosa

Selain itu, faktor lain seperti asupan garam tinggi, makanan diawetkan atau diasap, merokok, dan refluks empedu dapat ikut memperburuk kerusakan lapisan lambung. Bakteri yang sudah kita bahas di artikel Helicobacter pylori tetap menjadi penyebab terbanyak di dunia.

Gejala: sering samar, kadang tanpa keluhan

Banyak penderita tidak merasakan apa-apa. Bila ada, keluhannya mirip dispepsia: nyeri ulu hati ringan, begah, cepat kenyang, mual, atau sendawa berlebih. Pada gastritis autoimun, tanda yang lebih menonjol sering datang dari akibat kekurangan nutrisi, yaitu lemas, pucat, lidah licin dan perih, serta kesemutan di kaki atau tangan akibat kekurangan vitamin B12.

Karena gejalanya tidak spesifik, gastritis atrofik sering ditemukan secara kebetulan: saat endoskopi karena keluhan lambung, atau saat pemeriksaan anemia yang tidak jelas sebabnya.

Mengapa perlu dipantau: kaitannya dengan kanker lambung

Para ahli menggambarkan perjalanan kanker lambung jenis usus sebagai sebuah rangkaian yang dikenal sebagai kaskade Correa: lambung normal, gastritis kronis, atrofi, metaplasia intestinal (sel lambung berubah menyerupai sel usus), displasia, lalu kanker. Tidak semua orang akan menempuh seluruh rangkaian ini, dan prosesnya memakan waktu bertahun-tahun, tetapi atrofi dan metaplasia adalah tahap yang menandai risiko meningkat.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2026 terhadap sepuluh studi (21.006 pasien) menemukan bahwa atrofi lambung dikaitkan dengan risiko kanker lambung yang jauh lebih tinggi, dengan rasio insidensi terstandar sekitar 20,7 kali dibanding populasi umum. Risikonya lebih tinggi pada atrofi yang luas dibanding atrofi yang terbatas di antrum. Para penulisnya juga mengingatkan bahwa bukti dari negara berinsidens rendah masih terbatas, sehingga rekomendasi pemantauan perlu diterapkan dengan bijak.

Perlu diingat, angka ini adalah risiko relatif pada kelompok tertentu, bukan kepastian. Sebagian besar penderita gastritis atrofik tidak akan mengalami kanker lambung. Namun karena kanker lambung sering baru terdeteksi pada stadium lanjut, mengenali kelompok berisiko membantu menemukannya lebih dini.

Bagaimana diagnosis ditegakkan?

Dokter umumnya melakukan endoskopi saluran cerna atas disertai biopsi dari beberapa lokasi di lambung, karena kerusakan bisa berbercak. Hasil patologi kemudian dinilai, misalnya dengan sistem penilaian tahap seperti OLGA atau OLGIM, untuk menentukan seberapa luas atrofi dan metaplasia. Pemeriksaan pendukung meliputi deteksi H. pylori (misalnya tes napas urea atau pemeriksaan tinja), kadar hemoglobin, zat besi, vitamin B12, dan pada kecurigaan autoimun, antibodi sel parietal atau faktor intrinsik.

Pengelolaan

Belum ada obat yang terbukti mengembalikan kelenjar lambung yang sudah hilang secara utuh, sehingga fokus pengelolaan adalah menghentikan penyebab, mencegah komplikasi, dan memantau. Prinsip umumnya sebagai berikut.

  • Periksa dan obati H. pylori. Eradikasi dapat menghentikan peradangan lebih lanjut dan dianjurkan pada pasien yang positif.
  • Koreksi kekurangan nutrisi. Zat besi dan vitamin B12 perlu diperiksa dan diganti; pada anemia pernisiosa, vitamin B12 sering diberikan melalui suntikan atau dosis tinggi sesuai petunjuk dokter.
  • Kurangi faktor risiko. Berhenti merokok, batasi makanan asin, diasap, atau diawetkan, dan perbanyak sayur dan buah.
  • Pemantauan endoskopi berkala. Interval ditentukan dokter berdasarkan luas atrofi, adanya metaplasia, dan riwayat keluarga kanker lambung.

Sebuah rangkuman bukti tahun 2026 yang menelaah tujuh pedoman, empat konsensus pakar, dan satu tinjauan sistematis menyimpulkan bahwa tindak lanjut sebaiknya mencakup eradikasi H. pylori, edukasi gaya hidup, strategi surveilans endoskopi, penilaian stadium, dan penanganan penyakit penyerta. Penelitian di Spanyol juga mencatat bahwa kepatuhan terhadap rekomendasi pemantauan lesi prakanker masih belum ideal, sehingga pasien dan dokter perlu sama-sama disiplin menjalankannya.

Kapan sebaiknya ke dokter?

Segera periksakan diri bila keluhan lambung berlangsung lebih dari beberapa minggu atau terus kambuh, terutama bila disertai tanda bahaya: penurunan berat badan tanpa sebab jelas, muntah berulang, sulit menelan, tinja hitam atau muntah darah, pucat dan mudah lelah, atau anggota keluarga dekat pernah menderita kanker lambung. Jangan hanya mengandalkan obat maag yang dibeli sendiri berulang kali tanpa pemeriksaan; penggunaan penekan asam jangka panjang dapat menutupi keluhan tanpa menangani penyebabnya.

Pesan penutup

Gastritis atrofik bukan sekadar “maag yang tidak sembuh”. Ia adalah kondisi kronis yang tenang, tetapi dapat dikenali, diobati penyebabnya, dan dipantau. Dengan pemeriksaan yang tepat, dukungan nutrisi, dan kontrol rutin, sebagian besar penderita dapat hidup baik dan risiko komplikasi serius dapat ditekan. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta saran dokter Anda.

Rujukan

  • Burke E, Harkins P, Arumugasamy M. Gastric atrophy and gastric cancer: a meta-analytical assessment of risk and the influence of topographical distribution. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2026;38(9):1041-1051. doi:10.1097/MEG.0000000000003191
  • Li S, Zhao L, Zhang X, dkk. Follow-up management in patients with chronic atrophic gastritis: an evidence-based summary. Patient Prefer Adherence. 2026;20:623616. doi:10.2147/PPA.S623616
  • Prat R, Llach J, Montori S, dkk. Tackling post-endoscopy gastric cancer in a low-risk area. United European Gastroenterol J. 2025;13(10):2057-2065. doi:10.1002/ueg2.70096
  • Buchner AM, Huang RJ, Lauwers GY, El-Serag HB. AGA Clinical Practice Update on management of gastric polyps: expert review. Clin Gastroenterol Hepatol. 2026;24(4):893-905. doi:10.1016/j.cgh.2026.01.007

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan