Les pèlerins au-dessus des nuages

Dari jauh, yang terbaca lebih dulu adalah ombaknya: cakar putih yang menggantung di atas tiga perahu kecil. Baru beberapa detik kemudian mata menemukan Gunung Fuji, mungil dan tenang, terjepit di lekuk gelombang. Banyak orang yang berdiri di depan karya ini, atau menatapnya di layar ponsel, merasakan hal yang sama: ancaman dan keindahan datang bersamaan, dan tak ada yang rela dilewatkan.

Ulasan Seni Rupa #2

Tentang Karya

JudulKanagawa-oki nami-ura (Di Bawah Ombak di Lepas Pantai Kanagawa), dikenal sebagai Gelombang Besar
Seniman/pembuatKatsushika Hokusai (1760-1849); blok diukir pengukir profesional, diterbitkan Nishimuraya Eijudo
Tahun/periodeSekitar 1830-1832 (British Museum menyebut 1831, kemungkinan akhir tahun); periode Edo
Medium dan ukuranCetak kayu berwarna (nishiki-e, format oban yoko-e), sekitar 25,7 x 37,9 cm
LokasiBanyak koleksi, antara lain The Metropolitan Museum of Art (JP1847), British Museum (2008,3008.1), dan Museum of Fine Arts, Boston
Aliran/tradisiUkiyo-e (“gambar dunia yang mengambang”), seri Fugaku sanjūrokkei (Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji)
AsalEdo (kini Tokyo), Jepang

Konteks dan Kisah di Balik Karya

Hokusai membuat karya ini ketika usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Ia telah memakai lebih dari tiga puluh nama seniman sepanjang hidupnya, salah satunya Gakyojin, “orang yang gila melukis”. Pada masa itu Fuji dipandang sebagai lambang umur panjang, dan kekaguman Hokusai pada gunung itulah yang melahirkan seri Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji. Menurut British Museum, seri ini adalah rangkaian cetakan pertama yang seluruhnya berisi pemandangan, bukan potret aktor atau perempuan penghibur yang biasa memenuhi pasar ukiyo-e.

Perlu diingat bahwa Hokusai tidak mengerjakan semuanya sendirian. Ia merancang gambar, pengukir ahli memotong blok kayu ceri, dan bengkel cetak terpisah mencetaknya satu lapis warna demi satu lapis. Penerbitnya, Nishimuraya Eijudo, mencetak sebanyak yang bisa dijual, dengan perkiraan antara beberapa ribu sampai sekitar delapan ribu lembar per rancangan. Harga selembar kira-kira setara semangkuk mi, sehingga cetakan ini dibeli wisatawan domestik sebagai oleh-oleh, bukan dikoleksi sebagai benda sakral. Fakta ini penting: salah satu gambar paling terkenal di dunia lahir sebagai barang dagangan yang murah dan mudah diperbanyak.

Adegannya sendiri sederhana. Tiga perahu nelayan, yang mengangkut ikan segar ke pasar Edo, ditelan ombak yang melengkung seperti cakar. Para pendayung menunduk, hampir tak tampak, sementara buih jatuh seperti salju di dekat puncak Fuji yang jauh.

Mengapa Karya Ini Penting

Ada tiga perubahan yang bisa dirunut dengan bukti. Yang pertama menyangkut warna. Biru Prusia (juga disebut biru Berlin), pigmen kimia stabil pertama yang ditemukan di Eropa sekitar 1705, baru murah dan mudah didapat oleh penerbit Jepang pada masa ini. Berbeda dengan biru alami dari indigo atau tanaman dayflower yang cepat pudar, biru Prusia tidak memudar dan bisa dibuat sangat pekat. Hokusai termasuk perupa Jepang pertama yang memakainya dengan berani, dan cetakan ini sering disebut sebagai pemicu “revolusi biru” dalam ukiyo-e tahun 1830-an. Sebelum itu cetak kayu Jepang didominasi warna-warna lembut. Sesudahnya, cetakan berlatar biru (aizuri-e) menjadi tren tersendiri.

Ilustrasi mangkuk kecil berisi serbuk pigmen biru Prusia dan kuas, di samping potongan kain celup indigo yang memudar
Ilustrasi buatan sendiri: pigmen biru yang stabil membuka kemungkinan warna baru pada cetak kayu.

Perubahan kedua menyangkut cara memandang lanskap. Lanskap dalam tradisi sebelumnya sering menjadi latar. Di sini alam menjadi pelaku utama, dan manusia dalam posisi paling rentan. Hokusai juga memakai perspektif gaya Eropa yang ia pelajari lewat cetakan yang dibawa pedagang Belanda, lalu memadukannya dengan garis dan bidang datar khas Jepang. Hasilnya adalah ruang yang terasa dalam sekaligus rata, seperti desain grafis, dan itu yang membuat seniman Barat terpukau.

Perubahan ketiga menyangkut arah pengaruh. Sesudah Jepang membuka diri kepada dunia luar, cetakan Jepang membanjiri Eropa, dan para seniman Prancis merayakan Hokusai sejak akhir 1870-an. Gejala ini kemudian disebut Japonisme. Monet disebut memiliki cetakan-cetakan Hokusai, Van Gogh mengoleksi ratusan cetakan Jepang, dan Camille Claudel membuat patung La Vague (1897) yang mengganti perahu dengan sosok penari. Sampul edisi pertama partitur La Mer karya Debussy (1905) memakai adaptasi detail dari ombak ini, dan sebuah cetakan konon tergantung di dinding sang komponis. Pierre Bonnard bahkan memparodikan cipratan buihnya dalam iklan sampanye. Jadi pengaruh karya ini terbukti lewat benda-benda konkret: lukisan, patung, sampul musik, iklan.

Dampaknya belum berhenti. Siluet ombak ini kini hadir di emoji gelombang, di kaus dan kaus kaki, dan Bank of Jepang mengumumkan pemakaiannya pada desain uang kertas baru yang mulai beredar pada 2024. Satu cetakan terjual sekitar 2,8 juta dolar AS pada 2023. Ironisnya, benda yang dulu setara semangkuk mi itu kini menjadi lambang yang dipakai untuk menjual hampir apa saja. Bagi pembaca hari ini, karya ini mengingatkan bahwa gambar yang paling bertahan sering lahir dari teknologi perbanyakan, bukan dari kelangkaan.

Cara Karya Ini Bekerja

Cobalah melihat pelan-pelan, dalam tiga tahap. Mulai dari ombak: perhatikan garis lengkungnya yang menyerupai jari-jari yang terbuka, dan titik-titik buih yang terlepas seperti kuku. Garis itu tegas dan tebal, sehingga bentuknya terbaca bahkan dalam ukuran kecil di layar ponsel. Lalu geser ke Fuji. Gunung itu kecil, berada di bawah lengkung ombak, dan puncaknya yang putih menggemakan warna buih. Mata dipaksa mondar-mandir di antara dua bentuk yang mirip, dan gerakan itulah yang menciptakan ketegangan.

Tahap ketiga adalah perahu. Tiga perahu yang rendah dan memanjang itu menciptakan irama diagonal ke arah kiri bawah, sementara ombak menekan dari kiri atas. Warna dibatasi: gradasi biru pada air (British Museum mencatat tiga blok untuk nuansa biru), kuning pada sisi perahu, abu-abu pucat dan hitam pada langit, dan merah muda samar pada awan yang pada banyak cetakan nyaris hilang. Pada cetakan awal berkualitas tinggi, langit gelap di sisi Fuji menampilkan pola serat kayu yang halus. Itu jejak balok ukiran yang ikut tercetak, sehingga permukaan kayu seolah menjadi bagian dari langit.

Kritik dan Kontroversi

Salah kaprah paling umum adalah menyebut ombak ini tsunami. Judul aslinya menyebut posisi “di bawah ombak di lepas pantai Kanagawa”, dan penafsiran yang lebih diterima adalah gelombang raksasa atau gelombang liar di laut lepas, bukan gelombang akibat gempa. Sebagian penafsir bahkan membaca ombak itu sebagai sosok monster atau hantu, dan tafsir seperti ini tetap spekulatif.

Ada pula perdebatan tentang “keaslian”. Karena dicetak dari blok kayu dalam jumlah besar, ratusan cetakan masih bertahan, dan kualitasnya berbeda-beda sesuai kapan blok dipakai. Timothy Clark dari British Museum menilai koleksi mereka sebagai impresi awal yang sangat baik, mungkin termasuk dua puluhan terbaik yang dikenal. Catatan lain: karya ini tak lepas dari soal kepemilikan. Salinannya tersebar di museum-museum Barat dan di pasar lelang, dan satu salinan dari Okada Museum of Art dijual di Sotheby’s Hong Kong pada 2025 terkait sengketa utang pemiliknya. Itu mengingatkan bahwa cetakan murah dua abad lalu kini menjadi aset berharga yang diperebutkan.

Gema di Indonesia

Jejaknya di Nusantara terlihat pada batik. Kirana Mahadewi dan Dwi Wulandari dari Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta, dalam artikel di jurnal Sungging (2024), membuat lima batik tulis yang memadukan ikon Cirebon seperti Mega Mendung dengan ikon Jepang, termasuk Gelombang Besar, untuk menceritakan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Mereka memakai teknik batik tradisional: pemindahan sketsa, canting, pewarnaan colet, dan pelorodan lilin. Artikel yang sama mencatat batik Hokokai dari Pekalongan yang muncul pada masa pendudukan Jepang. Dua motif ombak dari dua kepulauan bertemu di selembar kain.

Ada pelajaran lain bagi kita. Cetakan Hokusai menunjukkan bahwa karya kerja kolaboratif (perancang, pengukir, pencetak, penerbit) bisa tetap menyandang satu nama seniman. Pelajaran ini relevan bagi pendidikan seni rupa dan kriya di sini, tempat kerja bengkel sering anonim. Seni grafis kita juga punya tradisi sendiri, dan di edisi sebelumnya seri ini membahas cara Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh membalik sudut pandang kolonial. Dua karya dari dua dunia itu sama-sama mengajarkan bahwa siapa yang menggambar menentukan apa yang dilihat orang.

Cara Mengunjungi atau Mempelajarinya

Cetakan kertas sangat rentan, sehingga museum jarang memajangnya terus-menerus. Saat tulisan ini disusun, halaman koleksi The Met dan British Museum sama-sama mencatat salinan mereka tidak sedang dipamerkan, jadi cara paling pasti adalah melihat gambar beresolusi tinggi di koleksi daring yang berstatus domain publik, lalu memeriksa jadwal pameran sebelum berkunjung. Museum of Fine Arts, Boston (Huntington Avenue 465) juga menyimpan salah satu salinan dan beberapa kali membuat pameran Hokusai. Saat menatap gambar, perhatikan garis tepi ombak, gradasi biru, dan pola serat kayu di langit.

Untuk pendamping, lihat dua karya lain dari seri yang sama, yaitu Fuji Merah (Gaifū kaisei) yang berwarna merah-oranye pada pagi cerah, dan buku sketsa Hokusai Manga yang memperlihatkan keragaman pengamatannya. Bagi yang tertarik pada pengaruh lintas budaya, cari juga La Vague karya Camille Claudel.

Lihat Karyanya

Terkait di Rak Budaya

Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan