Les pèlerins au-dessus des nuages

Bu Wayan, 34 tahun, seorang pengrajin tenun di Klungkung, Bali, mendapati bintik-bintik merah keunguan sebesar ujung jarum di kedua tungkai bawahnya. Dua hari sebelumnya gusinya berdarah saat menyikat gigi, dan haidnya terasa lebih deras dari biasanya. Ia tidak demam dan tidak sedang minum obat apa pun. Di puskesmas, pemeriksaan darah menunjukkan trombosit 18.000/µL (normalnya 150.000–400.000/µL). Dokter mencurigai demam berdarah dengue, tetapi hasil NS1 negatif, dan ia akhirnya dirujuk ke dokter penyakit dalam. Diagnosisnya: imunotrombositopenia primer, yang selama bertahun-tahun dikenal dengan nama idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP).

Apa itu imunotrombositopenia?

Imunotrombositopenia (ITP) adalah penyakit autoimun yang membuat jumlah trombosit (keping darah) turun di bawah 100.000/µL. Sistem imun keliru membentuk antibodi yang menempel pada trombosit, sehingga trombosit dihancurkan terutama di limpa. Pada saat yang sama, produksi trombosit di sumsum tulang juga tidak optimal. Karena trombosit berperan menyumbat luka pada pembuluh darah, jumlahnya yang rendah membuat tubuh lebih mudah berdarah.

Istilah “primer” berarti tidak ada penyakit lain yang memicunya. Bila ITP muncul bersama penyakit lain, misalnya lupus, infeksi HIV, hepatitis C, infeksi Helicobacter pylori, sindrom antifosfolipid, atau akibat obat, ia disebut ITP sekunder. Karena itu ITP termasuk diagnosis eksklusi: dokter harus lebih dulu menyingkirkan penyebab lain dari trombosit rendah.

Ilustrasi trombosit dalam pembuluh darah yang diserang antibodi pada imunotrombositopenia (ITP)
Pada ITP, antibodi menandai trombosit untuk dihancurkan, terutama di limpa.

Berdasarkan lamanya penyakit, ITP dibagi menjadi tiga fase menurut konsensus internasional: ITP baru didiagnosis (kurang dari 3 bulan), ITP persisten (3–12 bulan), dan ITP kronik (lebih dari 12 bulan). Pada anak, penyakit ini umumnya muncul beberapa minggu setelah infeksi virus dan sering sembuh sendiri. Pada orang dewasa, terutama perempuan usia produktif, ITP lebih sering menahun.

Gejala: dari tanpa keluhan sampai perdarahan berat

Banyak penderita ITP tidak bergejala dan baru ketahuan saat cek darah rutin. Bila bergejala, tanda khasnya adalah perdarahan kulit dan selaput lendir: bintik merah keunguan seukuran kepala jarum (petekie), lebam besar tanpa sebab jelas (purpura), mimisan, gusi berdarah, haid yang sangat deras, dan darah di urine atau tinja. Perdarahan di dalam kepala atau saluran cerna yang berat jarang terjadi, tetapi inilah yang paling ditakuti.

TrombositKemungkinan keluhanSikap umum
Di atas 50.000/µLBiasanya tanpa gejala, perdarahan spontan jarangUmumnya cukup dipantau
20.000–50.000/µLLebam dan petekie lebih mudah munculTerapi dipertimbangkan sesuai gejala dan risiko
Di bawah 20.000–30.000/µLRisiko perdarahan spontan meningkatSering diterapi, terutama pada orang dewasa dengan gejala
Perdarahan di otak atau perdarahan yang mengganggu hemodinamikNyeri kepala hebat, muntah, kejang, lemah satu sisi tubuh, syokKegawatan, harus ke IGD
Angka ambang bersifat umum; keputusan terapi selalu memperhatikan gejala, usia, penyakit penyerta, dan obat yang diminum.

Bagaimana ITP didiagnosis?

Tidak ada satu tes yang memastikan ITP. Dokter menilai riwayat dan pemeriksaan fisik, lalu memeriksa darah lengkap dengan apusan darah tepi untuk memastikan trombosit benar-benar rendah (bukan sekadar bergerombol di tabung sampel, yang disebut pseudotrombositopenia) dan sel darah lain normal. Pada ITP, hemoglobin dan leukosit umumnya normal, kecuali bila ada perdarahan banyak. Pemeriksaan tambahan pada orang dewasa biasanya mencakup skrining HIV, hepatitis C, dan H. pylori, serta pemeriksaan untuk lupus dan sindrom antifosfolipid bila ada kecurigaan. Pemeriksaan sumsum tulang tidak rutin dilakukan, tetapi dipertimbangkan pada usia lanjut, bila ada kelainan sel darah lain, atau bila terapi awal gagal. Jika trombosit rendah disertai anemia dan sel darah putih rendah, kemungkinan anemia aplastik atau penyakit sumsum tulang lain perlu dipikirkan. Pada demam dengan trombosit turun, tentu dengue harus disingkirkan lebih dulu.

Pengobatan: tidak semua trombosit rendah harus “dinaikkan”

Prinsip pengobatan ITP adalah mencegah perdarahan bermakna, bukan mengejar angka trombosit normal. Pada anak yang baru terdiagnosis tanpa perdarahan berat, pemantauan tanpa obat (watchful waiting) sering menjadi pilihan karena sebagian besar akan pulih sendiri dalam hitungan minggu hingga bulan. Pada orang dewasa, terapi biasanya dimulai bila trombosit sangat rendah atau ada perdarahan.

TahapPilihanCatatan
Lini pertamaKortikosteroid (prednison atau deksametason) jangka pendek; imunoglobulin intravena (IVIG) bila perlu kenaikan cepatSteroid tidak dianjurkan berkepanjangan karena efek sampingnya; IVIG bekerja cepat tetapi efeknya sementara
Lini keduaAgonis reseptor trombopoietin (eltrombopag, romiplostim, avatrombopag), rituximab, fostamatinibAgonis reseptor trombopoietin merangsang sumsum tulang membuat trombosit; perlu dipakai terus dan dipantau
Lini lanjutSplenektomi (pengangkatan limpa), imunosupresan lainDipertimbangkan setelah penyakit menahun dan terapi lain gagal; perlu vaksinasi dan edukasi risiko infeksi
Penyebab yang bisa dikoreksiEradikasi H. pylori bila positif; hentikan obat pemicuPada sebagian pasien trombosit ikut membaik
Ringkasan pilihan terapi ITP pada orang dewasa; pemilihan obat disesuaikan dengan ketersediaan dan penanggungan di tiap fasilitas.

Bagaimana bila terjadi perdarahan kritis, seperti perdarahan di otak? Pedoman McMaster ITP Emergency Management yang terbit pada Agustus 2026 memberi rekomendasi kuat, meski berdasar bukti berkepastian rendah, untuk menggabungkan kortikosteroid dosis tinggi, IVIG dosis tinggi, transfusi trombosit, asam traneksamat, dan agonis reseptor trombopoietin pada orang dewasa maupun anak. Splenektomi darurat dipertimbangkan bersyarat bila terapi lain gagal, sedangkan faktor VIIa rekombinan tidak dianjurkan karena risiko trombosis1. Gambaran ini penting dipahami keluarga: perdarahan hebat pada ITP adalah kegawatan yang ditangani bersamaan dengan beberapa obat, di rumah sakit yang mampu.

Obat-obatan baru terus berkembang. Hetrombopag, agonis reseptor trombopoietin oral yang saat ini disetujui di Tiongkok, menunjukkan respons trombosit pada sekitar 59–64% pasien ITP dewasa pada minggu ke-8 dibandingkan 6% pada plasebo dalam uji fase III di sana, tetapi tinjauan kritis November 2026 mengingatkan bahwa belum ada uji banding langsung dengan obat sejenis dan data lintas etnis masih terbatas2. Di Indonesia, ketersediaan tiap obat bergantung pada izin edar dan formularium nasional, sehingga sebaiknya dikonfirmasi langsung dengan dokter yang merawat.

Hati-hati dengan dua sisi koin: berdarah dan membeku

Meski dikenal sebagai penyakit yang mudah berdarah, ITP bisa berjalan beriringan dengan risiko pembekuan, terutama bila disertai antibodi antifosfolipid atau saat memakai agonis reseptor trombopoietin. Laporan kasus tahun 2026 dari Inggris menggambarkan seorang perempuan dengan ITP yang kambuh, memakai avatrombopag, lalu mengalami emboli paru dan akhirnya sindrom antifosfolipid katastropik. Penulisnya menekankan perlunya kewaspadaan terhadap sindrom antifosfolipid pada penderita ITP yang mengalami kejadian trombosis3. Satu kasus tidak menggambarkan kejadian umum, tetapi menjadi pengingat bahwa tungkai bengkak sebelah, nyeri dada mendadak, atau sesak napas pada penderita ITP tetap harus segera diperiksa.

ITP pada anak dan kehamilan

Pada anak, ITP biasanya muncul mendadak, sering seminggu dua minggu setelah infeksi virus atau imunisasi, dan banyak yang sembuh sendiri. Studi dari uji acak TIKI yang melibatkan 176 anak dengan ITP baru dan trombosit ≤20.000/µL mendapati bahwa antibodi antinuklear (ANA) tidak membantu memprediksi ITP kronik, respons IVIG, maupun pemulihan spontan. Karena itu, pemeriksaan ANA rutin saat diagnosis awal pada anak belum bermanfaat4. Pada ibu hamil, ITP memerlukan pemantauan bersama dokter kandungan dan hematolog, terutama menjelang persalinan, dan obat dipilih dengan mempertimbangkan keamanan janin.

Hidup dengan ITP: apa yang bisa dilakukan sehari-hari

  • Hindari obat antiradang nonsteroid (ibuprofen, aspirin, natrium diklofenak) dan jamu atau suplemen yang belum jelas keamanannya, kecuali atas anjuran dokter, karena dapat memperberat perdarahan.
  • Saat trombosit rendah, hindari olahraga kontak dan aktivitas yang berisiko jatuh atau benturan keras. Pakai sikat gigi berbulu lembut.
  • Beri tahu setiap dokter atau dokter gigi yang menangani Anda tentang ITP sebelum tindakan apa pun, termasuk cabut gigi dan suntikan.
  • Jangan menghentikan atau mengurangi steroid sendiri. Penghentian mendadak berbahaya.
  • Segera ke IGD bila muncul nyeri kepala hebat yang mendadak, muntah menyemprot, kejang, penglihatan kabur, muntah atau buang air besar berdarah, atau perdarahan yang tidak berhenti setelah ditekan 10–15 menit.

Dari sisi pengalaman pasien, tinjauan tahun 2026 yang memuat kisah dua penderita bersama ulasan dua ahli hematologi mengingatkan bahwa banyak pasien ITP kehilangan respons seiring waktu atau tidak mampu mempertahankannya setelah obat dihentikan, sehingga terapi kerap berlanjut dan berganti-ganti5. Dukungan keluarga dan komunikasi terbuka dengan dokter menjadi bagian dari pengobatan.

Kembali ke Bu Wayan

Bu Wayan mendapat prednison jangka pendek, hasil skrining infeksinya negatif, dan trombositnya naik ke 70.000/µL dalam dua minggu. Dokter menjelaskan bahwa tujuan terapi bukan angka 150.000/µL, melainkan aman dari perdarahan sambil tetap bisa menenun, bekerja, dan mengurus keluarga. Ia diminta kontrol berkala dan tidak membeli pereda nyeri sembarangan. Kisah ini fiktif, tetapi pola kecurigaannya nyata: bintik merah yang tak biasa, gusi berdarah, dan trombosit rendah tanpa demam layak diperiksa lebih lanjut. Dan bila hasil laboratorium Anda menunjukkan trombosit rendah, jangan buru-buru menyimpulkan penyebabnya sendiri; pemeriksaan pembekuan darah dan pemeriksaan penunjang lain membantu dokter memilah.

Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dokter. Angka ambang dan pilihan obat dalam artikel bersifat umum dan diputuskan secara individual.

Rujukan

  1. Chowdhury SR, Sirotich E, Guyatt G, dkk. Guideline on the emergency management of critical bleeding in patients with immune thrombocytopenia. Blood Adv. 2026;10(16):5558-75. doi:10.1182/bloodadvances.2025018818
  2. Chao F, Li R. Hetrombopag in China: expanding indications, comparative positioning, and risk management. Hematology. 2026;31(1):2755117. doi:10.1080/16078454.2026.2755117
  3. Banerjee P, Allsup D, Uglow E, dkk. A case of immune thrombocytopenia complicated by catastrophic antiphospholipid antibody syndrome and subsequent intramuscular haemorrhage. J Med Case Rep. 2026;20(1). doi:10.1186/s13256-026-06291-6
  4. Muse Z, Schmidt DE, Heitink-Pollé KMJ, dkk. Prognostic re-evaluation of antinuclear antibodies in childhood immune thrombocytopenia. TH Open. 2026;10:a29386571. doi:10.1055/a-2938-6571
  5. Hsu A, Fassett T, Pallagi S, Panch SR. Patient and physician experiences in immune thrombocytopenia. Adv Ther. 2026;43(3):935-47. doi:10.1007/s12325-025-03438-7

Definisi, klasifikasi fase (baru terdiagnosis, persisten, kronik), tahapan terapi, dan anjuran gaya hidup dalam artikel ini disarikan dari pengetahuan klinis umum dan konsensus internasional ITP (Rodeghiero 2009; Provan 2019; ASH 2019), yang teks lengkapnya tidak dibaca ulang untuk artikel ini. Sumber di atas diambil dari PubMed.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan