A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Hari ini mengenang kembali perjalanan dari masa lalu, menginjakkan pelajaran di bangku sekolah. Salah satu ilmu yang tak akan didapatkan dengan mudah di rumah (membaca dan berhitung terkadang bisa dipelajari di luar sekolah) adalah tentang jagat raya (kecuali mereka yang besar dilingkungan yang dekat dengan per-astronomi-an).

 

Jika malam tiba di pedesaan yang sederhana, langit pada saat cerah akan menunjukkan pagelaran yang sungguh luar biasa. Saat itu belum banyak cahaya buatan yang mencuri keindahan langit malam, setidaknya tidak seperti saat ini. Tentu saja ketika sang surya tak lagi menegakkan ‘kuasa’, berbagai cahaya menghiasi langit malam.

 

Secara umum kita menyebut mereka bintang (kecuali satu benda yang disebut bulan ^^), jika bersama teman, mungkin ia akan menyampaikan banyak cerita tentang bintang-bintang tersebut, layaknya setiap bintang memiliki kisahnya sendiri. Bintang-bintang itu berkumpul membentuk formasi-formasi yang unik, yang kita kenal sebagai rasi bintang. Dan sayangnya aku bukanlah orang yang ahli dalam mengamati rasi bintang, jadi jangan bertanya padaku tentang rasi ‘A’ atau rasi ‘B’.

 

Jika engkau punya cukup panjang waktu untuk duduk di bawah keindahan malam, untuk beberapa kali yang teratur. Mungkin engkau menemukan pertama kalinya, bahwa di bintang-bintang yang bersinar itu, ada yang berpindah dari rasinya, dan mungkin akan ada beberapa yang seperti itu. Para pendahulu kita di Yunani sana, menyebutnya sebagai bintang pengelana, dan hingga saat ini umum disebut planet (ya.. sehingga asal kata planet sendiri berarti pengelana).

 

Dahulu di sekolah aku belajar tentang kesembilan planet yang berada dalam tata surya kita (kebanyakan orang hingga kini tahu tentang hal ini), bahkan kini banyak buku pelajaran dan atlas juga masih memuat tata surya dan sembilan planet ini. Adakah yang salah? Tidak, setidaknya tidak jika mereka memang tak tahu, perubahan toh wajar, dan ilmu pengetahuan memang berubah selalu untuk beberapa hal karena kita telah mengetahui lebih banyak (dan lebih banyak tidak tahu ^^).

 

Mungkin sistem tata surya kita telah mengalami revolusi (baca: revolusi tata surya), sebuah organisasi internasional yang disebut sebagai IAU (International Astronomical Union) pada tahun 2006 telah membahas dan mendefinisikan ulang tentang planet dalam tata surya kita. Sehingga saat ini dalam tata surya kita terdapat 12 planet dengan 8 planet klasik dan 4 pluton. Jika saya tidak salah ini terdapat pada “Resolution B5: Definition of A Planet in Solar System” dan “Resolution B6: Pluto” (baca: tanya jawab tentang definisi planet). Intinya terdapat tiga resolusi pada B5, yaitu tentang

1.   Planet: Venus, Merkurius, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus

2.   Dwarf planet (planet kerdil/katai/pluton): Pluto, Charon (dulunya dianggap satelit Pluto, namun karena barycentre mereka ada diantaranya, jadi dianggap planet ganda), Ceres (dulunya sempat masuk planet, trus jadi asteroid, sekarang planet lagi), dan Eris (sempat menggemparkan sebagai planet ke-10, penemunya memberi nama Xena, namun nama sementara resminya 2003 UB313 sebelum nama resmi saat ini – Eris).

3.   Semua obyek lain kecuali satelit yang mengelilingi matahari akan disebut secara kolektif sebagai benda-benda tata surya kecil (Small Solar System Bodies).

Pada resolusi B6, Pluto menjadi apa yang disebut pluton atau planet kerdil yang merupkan prototipe sebuah katagori baru, dari apa yang kemudian dikenal sebagai “Trans-Neptunian Objects”, yaitu benda-benda angkasa (planet?) yang kala revolusinya lebih lama dari 200 tahun, dan itu diketahui umum ada di luar garis edar Neptunus. Beberapa penjelasan lain tentang planet akan mudah didapatkan melalui wikipedia.

 

Apa pun yang diperharui tentang pengetahuan planet dan tata surya ini, memandang langit malam yang cerah memiliki cita rasa tersendiri, mungkin engkau akan bertemu rekan yang menemanimu berkelana di atas sana. Ha.. ha…, sepanjang itu bukan Hercolubus tentunya, dan pastinya bukan ^_^

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca